Karpet Merah


Karpet Merah

Oleh Widyaretna Buenastuti

Dalam suatu perhelatan nasional, gak sengaja aku mendengar percakapan dua orang ibu yang berjalan di depanku menuju pintu masuk tenda-tenda putih tempat acara yang kebetulan berada di tengah lapangan luas. Ada hamparan karpet merah yang telah disediakan panitia dari tempat drop off mobil ke pintu masuk tenda putih, tempat acara. Kebetulan, setelah memarkirkan kendaraan, saya tidak masuk lewat jalan dengan hamparan karpet merah. Dengan tanah yang rerumputan, memang sedikit tidak nyaman untuk sepatu berhak berjalan melewati area itu. Kemudian salah satu ibu di hadapanku mengajak temannya.

“Yuk kita lewat karpet merah sana saja biar jalannya gak susah.” Kain songket hijau yang ia kenakan pun ia jinjing agar tidak kotor terkena rerumputan yang masih basah oleh embun pagi.

“Gak mau ah, kita ini kan bukan siapa-siapa, kayaknya gak pantas untuk jalan di atas karpet merah.” Ibu dengan kerudung merah dan dandanan kebayanya yang sepadan menolak ajakan temannya, walau ia harus sedikit berjinjit dan menjinjing kainnya karena menghindari hak selopnya yang masuk kedalam rerumputan.

Saya yang berada di belakang mereka terkesima dengan pembicaraan yang tidak sengaja saya dengar itu dan semakin tertarik untuk menyimak apa yang akan mereka lakukan.

Mereka berdua pun terus melanjutkan perjalanan di atas lapangan rumput ke arah pintu masuk tempat acara dan sang ibu bersongket hijau pun tidak berusaha untuk berargumentasi merubah paradigma berfikir temannya untuk tidak perlu malu berjalan di atas karpet merah. Seakan ia pun setuju bahwa mereka bukan siapa-siapa dan tidak pantas untuk jalan di atas karpet merah.

Penggunaan pertama konsep red carpet ini tercatat pertama kali sekitar tahun 485 SM di sebuah cerita dari Yunani Kuno “Agamemnon” ,karya Aeschylus (penulis drama Yunani Kuno), dimana ketika dia kembali dari Troy, Agamemnon disambut oleh istrinya Clytemnestra dengan sebuah jalur warna merah. Namun, sang raja merasa ragu-ragu untuk berjalan di atas “jalan merah” yang disediakan untuk dirinya itu, karena menurut sang raja dia adalah “manusia biasa yang tidak abadi” dan bukannya dewa. “Saya tidak berani berjalan di atas keagungan ini tanpa merasa takut,” katanya.

Ternyata awal sejarah konsep red carpet aja bagi seorang raja cukup membuatnya ragu untuk bisa jalan di atasnya. Warna merah memang mempunyai arti simbolis yang luar biasa. Apakah yang membuat seorang manusia layak atau pantas untuk jalan di atas karpet merah di dunia? jabatan, ketenaran, undangan khusus, penerima penghargaan dan mungkin bisa alasan lainnya.

Mungkin kalau karpetnya hijau, kedua ibu itu akan tanpa sungkan dan malu untuk melewatinya. Hanya saja warnanya merah, yang membuat seorang manusia enggan untuk jalan di atasnya karena merasa bahwa ia tidak pantas. Lucu yah?

Karena tertarik mengamati mereka, saya pun mencoba terus mengikuti mereka saja dan tidak mengambil jalan di atas karpet merah. Dan ternyata mereka mencari jalur masuk melalui jalur yang bertuliskan “Untuk Umum” dan kami pun berpisah di situ, karena undangan yang saya bawa diarahkan oleh panitia ke pintu masuk yang berbeda.

Sayapun memasuki tempat acara dan diarahkan untuk duduk di barisan depan bersama VVIP lainnya berbekal undangan untuk institusi yang kuwakili. Perenungan akan pernyataan sang ibu “pantaskah diri ini berada di tempat ini” membuatku berintrospeksi. Kulihat kanan kiriku adalah wajah-wajah para pejabat dan orang-orang terkenal mewakili institusi mereka masing-masing dan kutahu karya yang telah mereka goreskan untuk bangsa ini.

Beberapa detik saya sempat menghela nafas dan merenungkan keberadaan diri. Apa yang sebenarnya membedakanku dengan kedua ibu yang memberikan inspirasi padaku di pagi hari? Kami sama-sama datang sebagai tamu. Namun dipisahkan karena diriku membawa Undangan.

Undangan yang mempertemukanku dengan beberapa orang-orang penting yang berada di deretan depan. Undangan yang bisa mendapatkan suguhan yang berbeda. Undangan yang membuatku juga akan lebih leluasa untuk mendapatkan foto-foto kegiatan di panggung tanpa perlu berdiri karena kehalang oleh kepala-kepala.

Sepanjang acara yang memang banyak pejabat-pejabat negara karena dihadiri oleh Bapak Presiden, pikiranku senantiasa melayang akan pertanyaan-pertanyaan, Apakah diri ini pantas? Amalan apa yang kuperbuat hingga bisa pantas mendapatkan Undangan untuk berada di sisiMU ya Allah?

Bayangan kenikmatan-kenikmatan ini seandainya kita dapatkan di akhirat, berseliweran di benakku. Undangan untuk bertemu dengan Rasulullah di telaga kautsarnya yang hanya orang-orang terpilih berhak untuk meminum air dari telaga itu setelah melewati Sirothol Mustaqim. Undangan untuk berkumpul dengan orang-orang sholeh. Undangan untuk lolos dari siksa api neraka. Masya Allah. Bulu kudukku pun berdiri membayangkan panasnya api neraka yang tidak perlu kurasakan seaindainya Allah memberikan Undangan itu kepadaku. Aamin Allohuma Aamin.

Karya-karya di dunia saja bisa mendapatkan undangan untuk berada di tempat yang lebih dari pada umumnya. Bagaimana seandainya karya-karya di dunia ini menjadi suatu amalan yang diperhitungkan di akhirat untuk berhak mendapatkan sisi yang mulia berada dekat dengan sang Maha Pencipta dan Rasulullah?

Ya Allah, Engkau berikan undangan kepada Uwais al Qarny, seorang yang tawadhu dan berbakti kepada orangtuanya.
Ya Allah, Engkau berikan undangan kepada Bilal yang dahulunya adalah seorang budak namun Engkau naikan derajatnya hingga terompahnya saja telah terdengar di langit surga bahkan sebelum ia wafat karena amalan yang ia sembunyikan dari wudhunya.
Ya Allah, Engkau berikan undangan kepada seorang wanita pelacur yang memberikan minum kepada seekor anjing.

Ya Allah, RidhoMu adalah hak prerogatifMU yang tiada seorangpun dapat menebak akan amalan-amalan apa di dunia ini yang akan Engkau perhitungkan sebagai UndanganMU bagi hambaMU bisa melewati jalur karpet merahMU menuju kenikmatan yang tiada duanya, yaitu bertemu dengan MU ya Allah.

Ampuni hamba ya Allah yang seringkali merasa sombong akan ibadah yang telah kujalani dan dengan bangga merasa bahwa diri ini telah layak mendapatkan Undangan Karpet Merah.

Astaghfirullohaladzim, tiada kuasa dan tiada daya diri ini tanpa hidayahMU ya Allah. Jauhkan hamba dari hembusan api neraka ya Allah yang pasti ku tak kan kuat menerimanya. Bimbing hamba yang lemah ini ya Allah tuk Engkau berikan undangan RidhoMU yang sungguh merupakan kenikmatan yang tiada sebanding dengan apapun yg ada di dunia ini.

Allahu Akbar.

Jakarta, Ahad, 8 Oktober 2017
http://www.wbuenastuti.com

8 thoughts on “Karpet Merah

  1. Masya Allah.. semoga Allah selalu menjaga kita hamba-Nya dari kesombongan dan tipuan dunia yang tidak seberapa..

    Baru sempat memberi komentar dan inspiring as always bu Widya 🙂 sorry it took so long..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s