Pantas nggak?


Pantas nggak?

Oleh Widyaretna Buenastuti

Apakah aku pantas? Kulihat diriku dicermin, berulang kali kucoba mencari baju yang sesuai untuk menemaniku berkegiatan hari itu. Sudah kucoba mix and match antara baju dengan khimarnya. Dari warna yang ada kucoba untuk menselaraskannya. Ada yang biru. Ada yang merah muda atau kupilih yang hitam saja supaya mudah di gabungkan dengan warna apapun? Semua terasa tidak ada yang cocok.

Aneh. Kenapa kali ini tidak terasa pantas dengan mix and match yang kucoba kombinasikan?  Padahal kombinasi ini pernah kupakai. Ada yang lain yang membuatku gusar. Bukan dari bajunya sepertinya.

Baju hanyalah baju. Tidak pernah akan berubah mempunyai jiwa. Baju tak kan bisa membantu memutuskan. Aku lah yang berjiwa. Yang punya rasa, yang punya keinginan. Kali itu aku benar benar termenung melihat kombinasi baju yang kuletakan di atas tempat tidurku. Ada yang berbeda, tapi tak kutemukan jawabannya.

Tidak ada kegiatan khusus. Hanya mencari baju yang cocok untuk membungkus auratku beraktifitas. Biasanya aku akan mudah mengambil dari gantungan baju dan dengan percaya diri memakainya. Astaghfirullohaladzim…. kulafadzkan istighfar berkali kali.

Detik terus bergerak, menit berganti menit. Waktu tidak kan mundur. Aku harus segera pergi karena banyak yang menunggu. Harus kuputuskan. Bukan masalah besar. Hanya masalah baju.

Kriiinng. Hp ku berdering. Nama ibuku yang tertera.

“Assalamualaikum mbak. Kok belum berangkat?” Suaranya yang lembut seketika membuyarkan kegundahanku. Beliau sudah bisa tau kalau aku masih di rumah.

“Waalaikumsalam, ini lagi siap-siap kok sebentar lagi berangkat.
Doakan yah bu, saya diberikan kemudahan dalam setiap ikhtiar.”

Sepertinya ibuku bisa merasakan kegundahanku. Hati seorang ibu yang peka pasti kan bisa merasakan getaran suara anaknya.

“Kamu kenapa?” Gong… pertanyaan yang menyentaku.

“Gak kenapa kenapa sih bu, hanya ada beberapa hal yang harus saya putuskan.”

Kujawab senormatif mungkin karena tidak mau membebani beliau. Lagi pula kalau ditanya, jawabanku juga terasa gak penting. Hanya soal Mau Pakai Baju Yang Mana. Sepele banget kan?

“Ambil air wudhu dan sholatlah. Semoga yang kamu putuskan bermanfaat bagi orang lain.”

MasyaAllah…. Sederhana saja nasihat yang selalu beliau sampaikan. Tidak banyak tanya. Tidak terlalu kepo akan kegiatanku dan apa yang harus kuputuskan namun sarat akan makna.

Bagaimana bisa bermanfaat kalau hanya memikirkan baju yang mana yang mau dipakai? Benar juga. Pola pikirku yang harus dirubah. Manfaat apa untuk orang lain dari baju baju ini?

Kulihat tumpukan baju yang berserakan di atas tempat tidur dan kuputuskan untuk mengambil warna yang cerah merah muda dengan bunga dan khimar yang juga bernuansa merah muda dengan gradasi yang lebih lembut. Kuputuskan dengan harapan akan membawa suasana cerah bagi yang bertemu denganku nanti, sehingga akan ada banyak ide yang bisa terinspirasi dan semoga semua barokah.

Kutunaikan sholat sunnah dan menghela nafas lega akan kemudahan dan rejeki Allah yang masih mengijinkanku mendengar suara ibuku, masih mendapatkan doa dari ibuku, masih ditanya Kamu Kenapa oleh ibuku.

Sudah tidak penting lagi mana baju yang pantas atau tidak. Yang terpenting menutup aurat dan niatkan untuk manfaat. Siap berkarya dengan didoakan ibunda tercinta. Terlalu sibuk memikirkan apakah aku pantas atau tidak malah membuatku termenung dan mengulur waktu.

Get dressed, roll your sleeves up and make a difference that is meaningful for others.

Berpakaian, siap bekerja dan hadirkan yg berbeda yang memberi manfaat bagi orang lain.

Teringat akan hadits Rasulullah, Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia…” [HR. Thabrani dalam Al-Ausath]
Bukan dilihat dari baju yang dipakai atau jabatan yang dipegang. Pantas atau tidaknya bukan diri sendiri yang menilai. Allah yang akan memantaskan dengan RidhoNYA. Karya kita dan pengakuan orang yang membawa kepada apakah diri ini pantas menerimanya? Pantas mendapatkannya? Pantas mendudukinya?

“..Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi…” [QS. Ar-Ra’d : 17]

Astaghfirullohaladzim…. Bismillahirohmanirrohim….

@ WiDS 10 September 2017

19 Dzulhijah 1438H

http://www.wbuenastuti.com

2 thoughts on “Pantas nggak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s