Kacamataku Dimana?


 

Kacamataku Dimana?

Oleh Widyaretna Buenastuti

 

Mencari kacamata tanpa kacamata. Haduh. Perjuangan banget.

Perasaan tadi sebelum wudhu, kulepaskan kacamata bacaku dekat buku yang tengah kubaca. Tapi kok sekarang gak ada kelihatan warna batangnya yang ada kemerah-merahan. Minus mataku yang lumayan tinggi ditambah dengan kombinasi plus, membuat diriku hanya menghafal barang dari warna, karena itulah yang masih bisa kulihat dari mata rabun ini.

Sambil terus mencari, dalam hati aku berharap ada suatu aplikasi dari handphone buat Find My Eyeglasses. Jadi bisa ke track kacamatanya ada di mana. Ini ide terbersit dalam pemikiranku yang semoga beberapa tahun kedepan akan ada generasi generasi muda yang kreatif yang bisa mewujudkannya.

Sementara belum ada aplikasinya, metode praktis yang biasa aku terapkan adalah dengan Voice Command:

“Deeekk, tolong bantu carikan kacamata mama dong.”

Dan beberapa menit, ada kacamata yang diantarkan kehadapanku.

Namun, kali ini voice command pun tidak berfungsi karena the boys lagi pada ke masjid untuk sholat Isya dan tharawih. Akupun telah selesai sholat Isya dan aku butuh kaca mataku untuk membaca Quran sebelum memulai tharawihku. Dengan mukenah yang masih kupakai, rasanya seluruh isi rumah sudah kucoba untuk telusuri.

Mulai dari kamar mandi, saat aku berwudhu. Kemudian ke meja makan. Kesekitar kasur. Di sofa tempat aku tadi membaca buku. Kedapur, walau gak mungkin aku tadi mampir sana, tetep juga aku telusuri.

Astaghfirullohaladzim, susahnya bila diri ini tidak disiplin untuk menaruh kacamata pada tempatnya. Terlebih lagi bila semakin hari usia yang bertambah, tiada manusia yang dapat menolak akan datangnya rabun dekat. Badan boleh prima, wajah boleh terlihat muda, tapi kemampuan mata, gak akan mungkin bisa dilawan untuk tetap bisa 20/20. Sembari terus berdzikir kucoba mengingat ingat dimana kuletakan kacamataku.

Aku teringat saat memeriksakan mata ke dokter karena rasanya kacamata minus yang kupakai sudah tidak nyaman lagi untuk dipakai beraktifitas. Kebetulan yang memeriksa diriku adalah dokter muda yang dengan sabar mencoba mengganti-ganti lensa untuk memastikan tingkat kenyamanan diriku dalam melihat jauh. Ternyata ukuran kacamataku untuk rabun jauhnya masih benar. Kemudian iapun memeriksa data diriku, dan dengan senyum dan halus sekali ia pun mengatakan

“Ibu sudah tidak bisa menghindar, mendapatkan “plus” dari Allah sekarang.”

Dan aku pun tertegun. Penyangkalan diri langsung bergejolak.

“Masa sih, saya sudah harus pakai plus?”

Sang dokter pun hanya tersenyum dan memberikan resep +1.00 untuk kedua mata.

Selama ini cukup bangga tidak perlu pakai kacamata plus. Tapi rupanya ketetapan Allah memang tidak bisa di ganggu gugat lagi. Sejak itu, kaca mata baca pun menjadi salah satu item wajib yang harus ada dengan diriku, selain handphone dan uang bila hendak berpergian.

Saat harus mencari kacamata tanpa kacamata, benar-benar penuh perjuangan. Akhirnya kuputuskan untuk menunggu the boys aja pulang dari tharawih dan untuk sementara mencari kerjaan rumah yang bisa dikerjakan. Yang jelas, buku yang belum selesai kubacapun tidak mungkin kuselesaikan tanpa kaca mata bacaku.

Tak lama, terdengar suara pagar dibuka. Dan aku pun berlari ke pintu depan menyongsong suami dan anak-anak yang baru pulang dari masjid.

Setelah mengucapkan salam, suamiku bertanya, “Sayangku, seperti kehilangan sesuatu, ada apa?”

Padahal belum sempat aku bercerita, tapi sudah tertebak. Mungkin wajahku sudah mensiratkan butuh pertolongan dari para ksatriaku yang sekarang sudah berkumpul, sehingga suamiku bisa menebak kalau aku sedang mencari sesuatu.

“Aku cari kacamataku dari tadi.”

Dan mendadak mereka bertiga pun tertawa melihat diriku.

“Kok malah pada ketawa?”

Anakku yang paling kecil pun didaulat berbicara.

“Mama coba pegang kepala mama deh.”

Astaghfirullohaladzim. Ternyata kacamata bacaku dari tadi bertengger di atas kepalaku.

Hahaha… Serunya mencari kacamata tanpa kacamata. Alhamdulillahirrobil alamin sudah ketemu, dan aku tetap berdoa semoga Allah akan memberikan inspirasi kepada generasi muda untuk membuat aplikasi pencari kacamata yang tercecer, sehingga memudahkan orang-orang pelupa seperti diriku ini.

Allahuakbar, betapa ‘cerdas’nya diri ini. Geliku menertawakan diri sendiri.
Semoga bisa mendapatkan keberkahan hari-hari terakhir Ramadhan dan senantiasa bersyukur atas nikmat Allah.

 

@Wids 24 Ramadhan 1438 H

19 June 2017
http://www.wbuenastuti.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s