Aku Mau Pipis


Aku Mau Pipis

Oleh Widyaretna Buenastuti

Kala kusadari kaki-kaki ini telah menginjak di bumi tanah haram, tiada dapat kubendung tetesan haru akan kebesaran Allah yang mengijinkanku tuk kembali lagi. Semangat memperbaiki diri yang kubawa semenjak dari tanah air semakin berkobar. Rasa takjub, rasa penuh penantian akan nikmat-nikmat berikutnya yang akan kuterima selama di tanah suci bercampur aduk dengan haru yang memenuhi relung-relung hati.

Kusaksikan wajah-wajah malaikat-malaikat kecilku yang berpakaian ihram pun penuh dengan senyum dan aura yang penuh kegembiraan akan menjalankan umroh. Setelah semua rombongan jamaah berkumpul, dengan dibimbing oleh seorang ustadz, rombongan pun mulai berjalan dari pelataran masjid menuju ke Ka’bah untuk mulai berthawaf sebagai urutan pertama prosesi umroh. Lantai masjidil haram yang dingin menyejukan hati, serasa menyambut kedatangan kaki-kaki ini kembali. Allahuakbar.

Hanya dalam beberapa langkah, bangunan indah Ka’bah pun terlihat mataku. Degupan hati semakin kencang serasa akan melihat Baitullah. Dan, dari celah-celah lengkung masjidil haram pun bangunan Ka’bah mulai tampak terlihat di depan mata. Doa melihat ka’bah pun kulafalkan dengan penuh penghayatan.

Bangunan indah Ka’bah semakin utuh terlihat dan tak terasa diriku telah berada di tengah pusaran gerakan manusia-manusia yang mengelilinginya sembari melafalkan segala doa, memuji Allah, dan begitupun aku beserta suami dan anak-anak. Di tengah kekhusyukan menikmati thawaf diputaran ketiga dari tujuh putaran thawaf yang harus diselesaikan, tanganku tiba-tiba terasa ditarik oleh anakku sembari membisikan:

“Ma, aku mau pipis.”

Allahuakbar. Thawaf ini harus dihentikan. Kuberikan kode ke suamiku untuk keluar dari barisan perlahan. Letak toilet yang tidak dekat, harus membuat kami sekeluarga akhirnya menjalankan prosesi thawaf tidak bersama rombongan lagi.

Sedikit ada rasa sayang akan terputusnya kekhusyukan yang tengah aku nikmati. Namun, kusadari semua terjadi atas kehendak Allah dan pasti pula ada kebaikan di dalamnya.

Setelah kembali dari toiletpun akhirnya kami menyelesaikan prosesi thawaf, sholat di belakang maqam Ibrahim, minum air zam-zam, Sa’i menyusuri bukit shafa dan marwah dan ditutup dengan tahalul (mencukur rambut). Lengkaplah sudah prosesi umroh sesuai dengan sunnah Rasulullah. Lega rasanya, walau pembuluh-pembuluh darah di kaki serasa berteriak kelelahan dan menegang setelah membawa diri ini beraktifitas.

Kurebahkan diri di kamar hotel dengan menselonjorkan kaki-kakiku. Kebiasaan di Jakarta yang terlalu di manja dengan berkendaraan dan jarang berolahraga, membuat diri ini merasakan lemahnya kekuatan kaki yang tidak terlatih berjalan jauh.

Kupejamkan mataku menikmati rendaman air hangat pada kaki-kaki yang sedang kelelahan, dan tiba-tiba ada tangan-tangan mungil yang memijat kaki-kakiku. Masya Allah. Malaikat-malaikat kecilku yang tampak lebih lucu dari sebelumnya karena kepalanya kini pelontos licin tanpa rambut, semakin memperlihatkan wajah-wajah polos mereka.

“Ma, maafin aku yah tadi, gara-gara aku minta diantar pipis, kita jadi pisah dari rombongan.” Sambil memijat, anandaku yang duduk di bangku SMP menyampaikan curahan hatinya.

“Ya, ampun nak. Sama sekali gak apa-apa sayang.Kebutuhan buang hajat memang harus didahulukan bila sudah tak tertahankan dalam kita beribadah, supaya lebih khusyu bukan? Lagi pula kita juga tetap kumpul dan senang bisa selesai bareng kan?”

“Iya, tapi mama kakinya jadi tambah sakit karena harus antar aku ke toilet yang jauh dan naik turun tangga lagi. Semoga nanti kalau aku udah besar, aku juga sabar yah ngantar mama kalau mau pipis, kan kalau tambah tua sering pipis yah Ma?”

Hahahaha…. polosnya kata-kata yang meluncur keluar dari bibir mungilnya ini… Masya Allah, trenyuh hati ini. Mendengar kata-katanya itu, membuatku tergerak untuk bangun dari posisi tidur sehingga bisa duduk menatap wajahnya lebih jelas. Kubuka lebar tanganku mengisyaratkan kuingin memeluknya. Ia pun menghampiriku dan memelukku.

Dalam pelukanku, kubisikan di telinganya “Insya Allah Mama berdoa untuk tidak akan merepotkan anak-anak Mama yah dan semoga kita termasuk orang-orang yang sabar.”

Kulihat matanya berlinang dan ia pun memelukku dengan erat dan membisikan

“Aamiin. Terimakasih ya Ma, maafkan aku, ana ukhibukifilah.” (Aku mencintaimu karena Allah)

Indahnya perbincangan malam itu. Apapun yang terjadi di dunia ini, pasti ada hikmahnya asal kita sabar menjalani semuanya. Memang untuk ke toilet, dengan kaki yang rasanya tidak terlatih jalan jauh, rasanya ingin sekali menghemat langkah-langkah hanya untuk menjalankan prosesi umroh saja. Namun, bonus langkah-langkah tambahan yang harus mengantarkan ananda ke toilet, rupanya menyimpan suatu pelajaran berharga.

Masya Allah, anak usia SMP sudah berfikir panjang dan menyiapkan dirinya untuk bersabar menghadapi orang tuanya nanti yang akan bertambah tua dan mungkin akan kembali seperti anak-anak lagi. Tidak hanya dari segi kelakuan mungkin, tetapi kebutuhan biologis juga akan berputar kembali siklusnya.

Siklus proses penuaan yang tiada satupun manusia bisa mengendalikannya walau dengan kecanggihan penemuan riset dan teknologi yang telah ada atau akan ada. Tiada yang layak untuk diri ini sombongkan. Kekuatan melangkah akan berangsur berkurang. Kekuatan mengunyah makanan pun akan berangsur berkurang saat gigi-gigi mulai berguguran. Metabolisme tubuh yang terkendali menjadi tidak beraturan. Allahuakbar.

Saat anak-anak kecil, mereka lah yang meminta diantarkan untuk buang hajat. Kata-kata “Ma, aku mau pipis.” Yang disampaikan dengan suara murni mereka, suatu hari akan terbalik dengan kita sebagai orang tua yang mengatakan, “Nak, mama mau pipis.”
@WiDS Jakarta March 3, 2017

http://www.wbuenastuti.com

5 thoughts on “Aku Mau Pipis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s