Selimut Tak Terlipat


Selimut Tak Terlipat

Oleh Widyaretna Buenastuti

Malam kian larut namun mata ini sungguh susah untuk dipejamkan. Masih teringat setiap moment indah yang kuhabiskan bersama putraku yang tengah menuntut ilmu di pesantren. Jatah kunjungan orang tua hanya diberikan setiap dua minggu sekali dan waktu untuk dibawa keluar dari pondok pun dibatasi hanya maksimal lima jam.

Endapan rasa rindu seorang ibu pada anaknya tentu tiada kan pernah cukup walau diberikan lebih dari jatah yang ada. Luapan rasa rindu yang masih membuncah membuatku susah untuk memejamkan mata seolah keindahan bersama sang mujahidku tercinta ingin kupeluk dan tak kulepas walau sebatas angan dan bayangan di pelupuk mataku.

Hari berkunjung pun tiba. Semua titipannya yang ia sampaikan melalui telepon pun sudah kupersiapkan sebelumnya. Hal-hal kecil tapi sangat berarti, sabun, shampoo, susu, madu, dan kudapan kudapan yang kubayangkan akan menemaninya dalam menghafalkan Quran untuk bisa ia nikmati bersama teman temannya.

Sebenarnya ini tahun kedua ia berada di pesantren. Namun entah kenapa kali ini rasa rinduku padanya sungguh luar biasa. Hingga perjalanan ke pondoknya pun berasa lama bagiku. Padahal suamiku juga sudah berusaha untuk memacu kendaraan secepatnya. Mulai dari jalan tol hingga masuk-masuk ke perkampungan dan menyusuri daerah pedesaan yang masih hijau semua terasa panjang sekali perjalanannya. Waktu tempuh memang sudah diperkirakan sekitar 90 menit. Namun aku merasakan berkali kali lipat lamanya.

Senyumanku mulai bisa berkembang saat memasuki pintu gerbang pondok yang memang berkontur menurun panjang hingga bertemu dengan Masjid pondok pesantren yang menjadi gerbang pertemuan antara dunia luar pesantren dan dalam pesantren. Doaku semakin kuat kepada Allah dan degup jantungku berdebar kencang menyongsong saat-saat pertemuan dengan anandaku tercinta yang telah kurindukan.

Doaku dikabulkan. Saat kupijakan kaki turun dari mobil, mataku langsung menangkap sosok mungil rupawan yang tengah berjalan dengan membawa sekaleng minuman di tangannya. Masya Allah. Senangnya melihat mujahidku sehat wal afiat. Pembawaannya yang pendiam, tanpa ekspresi tapi murah senyum membuat hatiku meleleh sekejap seperti marsh mallow yang dipanaskan.

Dua minggu, serasa bertahun tahun tidak bertemu dengannya. Kulihat perubahan pada dirinya. Kulihat wajahnya tersenyum merekah menyiratkan kerinduan namun badannya mendadak kaku. Rasa malu telah tumbuh di dirinya yang beranjak akil baligh. Kusiratkan adanya kebingungan antara memelukku atau tidak memelukku. Luar biasa. Sungguh suatu perkembangan yang indah. Pertanda anakku beranjak dewasa.

Kuhormati isyarat kekakuannya dan kurangkul saja sambil melangkah bersama ke arah mobil. Benar saja, sesampai di dalam mobil, bahasa kekakuan badannya pun melunak dan ia pun memelukku dengan erat melepas kerinduannya. Luluh lantah rasanya dinding pertahananku. Nyes. Air mataku pun tak terbendung menetes. Bahagia saat kupeluk badannya dan kurasakan detakan jantungnya menembus dadaku.

Sambil menikmati beberapa masakan kesukaannya yang kubawakan, cerita ibu dan anak mengalir begitu saja tiada henti. Tawa dan canda pun menghiasi. Ceritanya yang mengalir mengisyaratkan kenyamanannya ia bersekolah dan bermukim di pesantren ini. Lega hatiku.

“Teman sekamarnya baik-baik semua kan, Mas?” Kucoba menggali lebih mendalam. Dengan harapan akan mendapatkan suatu cerita lain darinya.

“Alhamdulillah baik semua, asyik-asyik semua.” Jawabnya dengan singkat.

“Ada yang suka bikin kamu sebel gak, Mas?”

“Nggak ada sih. Semua biasa aja kok. Ada sih yang agak nggak rapi tempat tidurnya. Selimutnya gak pernah dilipat, trus bajunya berantakan. Tapi nanti rapi juga sih. ”

“Oh ada juga yah teman mas yang gak rapi. Siapa mas?” Dengan spontan aku menanyakan kembali kepadanya.

Sambil memakan roti sandwich yang masih ada di tangannya, ia tersenyum dan tidak langsung menjawab. Aku pun menunggunya dengan sabar ia mengunyah makanan yang masih ada di dalam mulutnya. Kulihat ada keenganan menjawa pertanyaanku.

Setelah ia selesai dan meminum setegukan, wajahku yang menatapnya hanya ia berikan senyuman manisnya yang semakin membuatku penasaran.

Dengan senyumnya yang manis ia menjawab, “Nggak usah aku jawab yah Ma, itu namanya buka aib saudaraku. Nanti kita ghibah jadinya.”

Jleb. Astaghfirullahaladzim. Kerongkonganku seketika serasa tersekat mendengar jawaban yang anakku sampaikan dengan santun tapi cukup dalam mengenai relung hatiku. Tak kuasa aku menahan rasa haru di dalam dadaku menyadari putraku tercinta telah mengamalkan ajaran-ajaran Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam dalam menjaga kehormatan temannya.

Tempat tidur berantakan.
Selimut tak pernah terlipat rapi.
Bajunya berantakan.

Sederhana terdengarnya. Hal yang biasa terjadi di lingkungan rumah kita sekalipun. Bahkan terkadang kita berfikir ini bukan sesuatu aib yang perlu ditutupi. Namun, nama temannya tidak keluar dari bibir mungilnya. Padahal mungkin ia bisa saja dengan mudah menyebutkan satu nama yang telah ada di ujung lidah. Bahkan ke ibunya sendiri pun ia menahan diri untuk bercerita. Ia memilih untuk menelannya bersama air minum yang mendorong makanannya masuk ke dalam perutnya dan memberikan alasan yang membuatku memberhentikan rasa kepo ku berkelanjutan.

Cukup dengan senyuman manisnya yang memberikan beribu makna.

Sungguh luar biasa pelajaran yang kudapatkan dari putraku. Selimut yang tak terlipat di rumah saja seringkali membuat jengkel hati dan tanpa terasa lidah ini mungkin pernah berkeluh kesah betapa kamar anak-anak yang berantakan dan tak terasa meluncur deras hal – hal lainnya.

Bahkan, seringkali cerita keburukan yang ada di dalam rumah atau tentang siapa saja menjadi santapan yang luar biasa dalam suatu pertemuan. Tidak hanya berhenti sampai di cerita, bahkan kita bisa mentertawakan kekonyolan atau keteledoran siapapun yang kita ceritakan. Astaghfirullohaladzim.

Ya Allah, terimakasih Engkau sampaikan secercah ilmu padaku yang sekaligus juga sentilan halus pada akhlak dan kebiasaan diri ini yang masih banyak kekurangannya dan harus banyak diperbaiki.

Lidah yang tak tertahankan untuk berghibah.
Hati yang bahagia saat membicarakan keburukan seseorang.
Nafsu untuk menjadi pusat perhatian karena punya cerita tentang seseorang.
Astaghfirullohaladzim.

Benar juga nasehat anakku, “Belum tentu kita juga ikhlas kalau keburukan kita diomongin, Ma.”

Istighfar berulang kali menghiasi bibirku sembari tetesan air mata haru yang membasahi pipi kuusap perlahan. Sejuknya hati ini serasa air dingin menyirami diriku melihat mujahidku menikmati sandwichnya dan wajahnya yang mulai beranjak dewasa terlihat menyejukkan hati. Kusadari akan perubahan luar biasa yang telah terjadi pada dirinya.

Ya Allah kuatkan diriku, kuatkan dirinya dalam berjuang di jalanMU ya Allah. Jagalah lisan ini dari keburukan. Hiasi lisan ini dengan banyak menyebut namaMU, ya Allah.

Selimutku pun kutarik menyelimuti diriku, dan kupejamkan mata ini.

Sebuah cerita pelepas rindu yang akhirnya membuatku tertidur dengan senyum penuh rasa syukur dan rindu yang tiada henti. Teriring doa untuknya dan semua anak-anak yang tengah berjuang di jalan Allah. Semoga santri-santri yang tengah belajar Quran dan sunnah Rasulullah, mampu mengamalkannya dalam dunia nyata yang akan menambah keindahan Islam dan istiqomah untuk tegar di atas sunnah.

@WiDS September 3, 2016

http://www.wbuenastuti.com

8 thoughts on “Selimut Tak Terlipat

  1. Subhanallah… terkadang anak itu bisa menjadi guru kita ya, Widya…
    Ikut merasa diingatkan… hatur nuhun…
    Semoga ananda menjadi anak shaleh yg betul2 bisa membahagiakan orang tuanya dunia akherat, aamiin…😊

  2. MasyaAllah mba widya😘 bagus sekali cerita yang bs menjadi pelajaran berharga untuk diri sendiri dan semua yang masih belajar untuk menjadi yang lebih baik lagi.aamiin semoga Allah menjaga ananda dan menjadikannya anak yang shaleh yang berbakti kepada orang tua Aamiin Allahuma Aamiin

    • Alhamdulillah mbak Vodie. Bahagia bila setiap karya bisa bermanfaat bagi saudara tercinta dan siapapun. Segala puji hanya untuk Allah semata. Semoga kita senantiasa bisa menjadi insan yang lebih baik. Amin ya Robbal Alamin. Terima kasih sudah mampir dan memberikan koment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s