Kucing Hilang


Kucing Hilang

Oleh Widyaretna Buenastuti

Kulihat wajah salah satu anggota tim proyekku yang tiba-tiba gelisah di tengah meeting setelah ia berbicara di telpon.

“Ada apa, Angga?”

“Maaf mbak, boleh ijin sebentar, ini ada urusan penting di rumah.”

Angga pun ijin keluar dari ruang meeting dan sepertinya melanjutkan telephonenya yang tadi ia putuskan terlebih dahulu. Kulanjutkan meeting dengan rekan-rekan yang lain dan berharap semoga urusan Angga cepat beres.

Kurang lebih 15 menit kemudian Angga kembali ke dalam ruang meeting. Tapi wajahnya masih menyimpan kegelisahan. Aku biarkan ia menata dirinya dan kulihat ia berusaha memfokuskan dirinya untuk kembali ke pekerjaannya.

“Angga, kalau butuh waktu menyelesaikan persoalanmu silahkan aja loh, atau kalau ada yang perlu mbak bantu, silahkan aja disampaikan.”

“Nggak kok mbak, hanya kucing di rumah hilang dan istri saya lagi nangis, tadi yang telpon anak saya yang paling kecil.”

Subhanallah. Permasalahan yang cukup penting dan wajar saja kalau Angga gelisah. Siapapun yang mempunyai binatang piaraan di rumahnya pasti sudah menganggapnya sebagai anggota keluarga. Angga baru pindahan dari luar kota dan sepertinya si kucing persia yang katanya bernama snowy masih beradaptasi dengan lingkungan barunya. Snowy sudah dipelihara oleh keluarga Angga sejak lahir. Sehari sebelumnya, kata Angga, si snowy juga menghilang dan ternyata bersembunyi di salah satu kamar mandi di rumahnya.

Kulihat jam di dinding ruang meeting sudah menunjukan pukul 17.30. Berarti 15 menit lagi waktunya berbuka puasa.

“Kita break dulu yuk teman-teman, sembari kita menggunakan kesempatan yang baik untuk berdoa menjelang buka puasa. Waktu yang mustajab nih, jangan di sia-siakan.”

Alhamdulillah ajakanku langsung disambut dengan suka cita oleh 5 orang timku yang sudah sejak pagi bersamaku di ruang meeting mengerjakan bisnis plan untuk suatu proyek yang cukup baru dan investasinya cukup tinggi. Kulihat Angga tidak beranjak dari tempat duduknya seperti yang lain, namun ia menundukan kepalanya dan sepertinya ia berdoa dengan khusyu’nya.

Detik demi detik menjelang waktu berbuka puasa serasa berjalan perlahan. Teh hangat dan sajian ta’jil telah tersedia di pantry dan siap untuk disantap. Namun bila belum saatnya terdengar adzan Maghrib tanda berbuka walau satu detikpun tidak ada yang berani memulai.

Adzan Maghrib yang ditunggu-tunggu pun berkumandang. Akhirnya waktu berbuka di hari Ramadhan yang ke 15 pun tiba dan kunikmati beberapa butir kurma kemudian melanjutkan untuk sholat Maghrib berjamaah di kantor. Kulihat Angga pun sudah bersiap-siap untuk berjamaah dan wajahnya sudah cerah kembali. Sepertinya sinar-sinar air wudhu dan aliran tegukan air yang telah ia nikmati membawa kecerahan itu, tapi in syaa Allah sepertinya kucingnya sudah ketemu. Rasanya aku sudah ingin menanyakannya saja, tapi kutahan hingga sholat Maghrib ini usai.
Kenikmatan sholat berjamaah tiada duanya. Kulipat perlahan sajadah yang terhampar sembari bershalawat, rasanya sudah ingin cepat pulang namun pekerjaanku tadi belum selesai. Tapi aku berencana membubarkannya saja dan memberi tugas masing-masing untuk besok dikumpulkan dan dikonsolidasikan setelahnya.

“Kita cukupkan saja hari ini supaya pada bisa mengejar sholat tharawihnya. Tapi besok pagi kita kumpul lagi dan kita usahakan bisa selesai sebelum jam 12 siang yah. Supaya kita bisa beri laporan ke bos besar sebelum jam 5 sore besok, setuju nggak dengan rencana ini?”

Semua setuju dan langsung beberes riang gembira seperti murid sekolah yang dibolehkan pulang Gurunya sebelum lonceng pulang berbunyi. Beberapa kemudian masih meminta petunjuk untuk menyelesaikan bagiannya, termasuk Angga.

“Mbak, kucingnya sudah ketemu. Ada di rumah Ibu RT. Kata istri, Ibu RT liat kucingnya berada di depan rumah, terus dipanggil dan dikasih makan sama Ibu RT.” Angga menyampaikan berita gembiranya setelah selesai mendapatkan arahan dariku untuk bagian pekerjaannya. Wajahnya sudah terlihat sumringah penuh kelegaan. “Sepertinya Allah mengingatkan saya dan istri untuk lapor diri ke rumah Pak RT, karena sejak pindah kami di awal puasa kami belum menyempatkan diri untuk datang ke rumah Pak RT, Mbak.”

“Alhamdulillahirrobil alamin. Mbak ikut lega dengarnya. Semua ada hikmahnya yah Angga.”

Masya Allah. Setiap kejadian selalu ada hikmahnya. Kalau saja kita senantiasa meresapinya dengan penuh rasa syukur dan tawaqal, kita akan bisa memetiknya. Hatiku serasa tersiramkan dengan air dingin yang menyejukan dan kurasakan kesyahduan serta kebesaran kuasa Allah yang luar biasa di malam ramadhan itu. Melalui seekor kucing, tersimpan pesan yang sungguh mendalam akan pentingnya untuk berkenalan dengan tetangga dan melaporkan diri sebagai warga baru di lingkungan yang baru.

Iqra. Bacalah. Perintah Allah yang pertama kali difirmankan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam melalui malaikat Jibril, Padahal Rasulullah adalah seorang yang buta huruf. Kini, semakin kuresapi perintah pertama Allah itu, semakin memahami bahwa arti Iqra mengandung makna yang cukup luas, tidak sekedar membaca huruf. Makna yang mendalami kebesaran Allah yang tiada tandingannya di alam semesta ini. Semua ciptaanNYA, semua kejadian yang kita alami sebenarnya terkandung pesan-pesan kebaikan untuk kita. Keterbatasan manusia lah yang seringkali tidak bisa menangkap pesan-pesan itu.

“Makasih yah mbak udah diberi kesempatan berdoa tadi sebelum berbuka puasa.” Angga terlihat sangat bersyukur dan lega.

“Cukup sampaikan rasa syukurmu hanya pada Allah yah Angga. Yuk kita beberes dan pulang.”

Kututup pintu ruang meeting dan melangkah keluar dari kantor. Kubawa pulang perasaan ringan penuh makna. Boleh saja kerjaanku belum beres, namun Allah telah memberikan pelajaran berharga melalui seekor kucing akan kekuasaan Allah yang luar biasa dan kejadian-kejadian yang penuh makna asal kita bisa mengambil hikmahnya. Tiada yang tidak mungkin bagi Allah. Allahuakbar.
@WiDS Jakarta June 29, 2016

http://www.wbuenastuti.com

4 thoughts on “Kucing Hilang

  1. Aku malah nangis waktu kucingku hilang, Wid… rasanya spt hilang anggota keluarga.
    Memang begitu ya… jika kita sayang pada binatang pasti berat saat hilang atau diambil kembali oleh Sang Pencipta.
    Mencoba ikhlas saat diri ini disadarkan bahwa kuving itu sebetulnya bukan milik kita tp milik Allah, kita cuma dititipi saja & semua kejadian pasti terjadi kar’na ijinNya..

  2. Makna lain dari Iqra bukan hanya membaca kitab ALLAH tetapi membaca hikmah yg ALLAH sampaikan melalui setiap kejadian di dalam hidup kita ya Bu.
    Smg hati dan pikiran kita bisa selalu mengambil hikmah dibalik semua peristiwa dalam hidup kita. Amin.
    Makasiy untuk ceritanya Bu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s