Balada Lebaran


Balada Lebaran

Oleh Widyaretna Buenastuti

“Mbak, punya stok asisten gak? Ini mbak nya anakku rencana gak balik lagi selepas pulang lebaran nanti. Katanya mau nikah.” Selepas Subuh, Dinda sudah mengirimkan pesan pada whatsappku.

“Kok pakai kata stok sih Din? Kenapa gak coba hubungin biro jasa?” Kubalas whatsapp Dinda. Menurutku gak tepat penggunaan kata stok untuk tenaga manusia.

Tradisi musiman yang terus terjadi setiap mendekati lebaran selain harga-harga bahan makanan yang melonjak adalah permasalahan kelangkaan asisten rumah tangga. Terlebih lagi di kota-kota besar yang ketergantungan terhadap pengasuh anak dan asisten rumah tangga cukup tinggi. Whatsapp dari Dinda hanya salah satu dari sekian ibu-ibu yang selalu pusing dengan mbaknya yang gak akan kerja lagi selepas lebaran. Di beberapa grup juga sudah membahas isu yang sama. Beginilah balada lebaran yang dialami sebagian besar rumah tangga di kota-kota besar di Indonesia.

Cerita dan alasan tidak kembalinya si mbak juga bermacam-macam, ada yang mau menikah, ada yang diminta orang tua untuk membantu di kampungnya aja, ada yang gak pakai alasan tapi ditunggu-tunggu lewat seminggu selepas lebaran gak ada kabar dan berbagai realita lainnya.

“Kalau dari biro jasa gak reliable mbak dan pasang tarifnya tinggi. Padahal si Rio dah cocok banget sama mbak Rantinya ini, sedih deh aku.” balasan Dinda berikutnya

“Loh kok sedih? Bukannya kamu harusnya ikut bahagia karena mbaknya Rio sudah menemukan jodohnya?”

Setau aku, mbaknya Rio ini sudah ikut dengan keluarga Dinda cukup lama, sejak Rio lahir hingga Rio menginjak usia 5 tahun. Wajar juga bila perpisahan ini akan menyedihkan.

Ada pause yang cukup lama di whatsapp kita. Entah Dinda kembali dengan kesibukannya atau gak bisa menjawab seterusnya. Akupun akhirnya meneruskan kerjaan membereskan rumah yang tidak pernah kepegang oleh tanganku di hari-hari kerja. Biasanya banyak kejutan-kejutan yang kutemukan dan selalu saja membuatku tersenyum atau menghela nafas panjang.

Ada sutil dari bahan teflon yang meleleh karena kena panas yang ternyata anakku bawa kesekolahnya untuk pelajaran memasak dan ditinggalkan di wajan penggorengan begitu saja.
Jumlah cangkir dan piring tatakannya gak sama karena beberapa pecah.
Jumlah sendok garpu berkurang dan gak seimbang. Entah pada kemana.
Ada beberapa bahan makanan yang ternyata udah basi karena hanya cita-cita aja saat aku membelinya mau bikin ini dan itu, tapi gak pernah punya waktu.

Gimana gak aku tersenyum dan menghela nafas panjang menemukan ini semua? Aku melihat ini sebagai hadiah bagi diriku yang jarang ke dapur. Dapat hadiah banyak kan? Mau marah atau kesel? Apakah akan merubah keadaan? Nggak juga, malah bikin suasana hati dan suasana dapur jadi gak nyaman kalau pakai marah-marah. Gak terasa aku berkutat membereskan dapur hingga hampir waktu Dzuhur tiba. Kutengok hpku yang tergeletak di meja makan dan ternyata sudah banyak pesan masuk dan ada beberapa dari Dinda.

“Gimana aku gak sedih mbak? Ini berarti kan aku harus cari ganti mbak lagi dan gak mudah cari orang baru yang cocok. Sementara Rio sudah terbiasa dengan mbak Rantinya dan buat aku juga sudah percaya karena Ranti orangnya apik, jadi Rio terurus dengan baik.”

Seru juga nih cara pikir Dinda. Kubaca berulang-ulang kata yang Dinda tuliskan di whatsappnya. Kucari elemen ikut bahagia dengan mbak Ranti yang akan menikah, tapi tidak kutemukan. Semua berisi kebutuhan Dinda dan kesulitan yang akan ia alami selepas Ranti menikah. Pantas saja Dinda menggunakan kata “stok” tadi di awal.

Astaghfirullohaladzim. Apakah kita memang menjadikan para mbak yang bekerja bersama kita sebagai suatu benda atau alat pelengkap operasional rumah tangga saja? Bukankah mereka banyak berjasa untuk membantu kelancaran rumah tangga kita saat kita tidak sanggup mengerjakannya sendiri, baik karena kita bekerja ataupun ada kesibukan lain di rumah?
Aku tidak menjawab whatsapp Dinda langsung. Aku ambil air wudhu dan sholat Dzuhur terlebih dahulu. Rasanya ada yang mengganjal di hati.

Masih di atas sajadahku, aku mencoba mencerna kembali pilihan kata yang digunakan Dinda. Pengalamanku berumah tangga sekian tahun, sudah banyak mbak yang come and go membantu kelancaran operasional rumah tanggaku. Masing-masing punya ceritanya sendiri-sendiri dari yang pamit baik-baik hingga yang pergi sambil bawa barang-barang yang bukan miliknya juga ada. Dari yang kerjanya apik hingga yang serabutan atau yang selalu menunggu perintah terlebih dahulu dan gak ada inisiatif. Semua punya kelebihan dan kekurangan yang sama dengan diri ini yang difitrahkan dengan ketidaksempurnaan.

Memang bila tidak ada mereka, aku pasti sudah harus ambil cuti dan mengatur sedemikian rupa agar anak-anak mempunyai baju yang bersih siap dipakai, makanan yang sudah matang dan siap di santap saat waktu makan tiba, rumah yang bersih dan terbebas dari debu sehingga nyaman bagi anak-anak dan yang menghuni. Dan menurutku pekerjaan rumah tangga itu tidak ada habisnya dan lebih melelahkan dari pada di kantor.

Jadi teringat, suatu hari aku mengambil seorang baby sitter dari yayasan dan dalam kontraknya tertulis bahwa tanggung jawab dia adalah mengurus bayiku. Saat ia berada di rumah dan hari pertama ia bekerja, selepas subuh aku lihat dia sudah mengepel lantai rumah dan aku bilang, mbak biar ibu saja nanti yang mengerjakan. Jawaban mbak Narti membuatku tercengang dan terharu.

“Gak apa apa ibu, ini juga bagian dari tugas saya. Kan kalau kakak nanti merangkak di lantai, sudah bersih.”

Masya Allah. Seorang Narti yang hanya lulusan SD bisa punya pemikiran yang sangat bijaksana. Inisiatifnya luar biasa. Beruntung Allah mempertemukan aku dengan Narti. Dan memang dia adalah karyawanku yang terbaik yang pernah bekerja denganku. Ia pun pamit mengundurkan diri karena menikah setelah kerja bersamaku selama 3 tahun.

Sebenarnya pembantu rumah tangga, gak berbeda dengan karyawan di kantor. Mereka mempunyai hak yang sama untuk menerima persyaratan bekerja dan mengundurkan diri atas pilihan mereka sendiri ataupun kita memberhentikan mereka saat kita merasa tidak cocok.

Perbedaan yang mendasar adalah urusan yang dikerjakan sangat pribadi sehingga urusan emosional akan sangat terpengaruh saat sang Mbak menyatakan akan berhenti apalagi bila tingkat ketergantungan kita sangat tinggi pada mereka. Tetapi mereka adalah orang-orang yang pernah berjasa dalam kehidupan kita. Mereka mungkin tiada pernah berharap tanda jasa atau kenaikan pangkat. Hanya kenaikan gaji pasti mereka harapkan.

Namun, memperlakukan mereka sebagai seorang hamba Allah yang dikirimkan untuk hadir di tengah keluarga kita seperti keluarga kita sendiri, in syaa Allah sudah merupakan penghargaan bagi mereka. Mengajarkan mereka dengan sabar apa yang kita harapkan dari mereka, juga bentuk penghargaan. Intinya bila kita ingin dihargai sebagai manusia, sudah selayaknya kita juga memanusiakan siapapun.
Aku menghela nafas dan perlahan kuketik jawabanku pada Dinda:

“Semua orang yang dihadirkan Allah disekitar kita adalah rejeki Allah pada kita. Saat mereka datang kita terima dengan doa agar mereka amanah dan saat mereka pergi pun seharusnya kita juga mendoakan mereka agar mendapatkan tempat yang lebih baik. Allah Maha Tahu apa yang kita butuhkan dan in syaa Allah kepergiannya akan diberikan ganti oleh Allah yang lebih baik, yang lebih cocok dengan kebutuhan kita. Bersyukur selalu pada Allah saja dan in syaa Allah semua akan dimudahkan.”

“Sampaikan salamku pada Ranti yah Din, selamat telah menemukan jodohnya dan semoga pernikahannya senantiasa membawa kebaikan bagi semua. Mohon maaf lahir dan batin.”

Nyess. Ada kelegaan dalam hatiku saat kuselesai mengetik pesanku untuk Dinda. Semoga pesanku yg tersirat dan tersurat sampai pada Dinda. Balada lebaran yang senantiasa mengajarkan kita untuk senantiasa bersabar dan bersyukur mendapatkan kemenangan yang sejati.

@WiDS 12 June 2016

http://www.wbuenastuti.com

PS: terimakasih untuk sahabat2ku di grup Komporer atas inspirasi cerita ini. Mohon maaf bila ada kesamaan nama pada karakter dalam cerita ini.

One thought on “Balada Lebaran

  1. Kita dan asisten rumah tangga memang saling membutuhkan.
    Hubungan yg baik akan menjalin silaturahmi yg bisa menciptakan rasa percaya satu sama lain.
    Semoga diri ini bs lebih menghargai keberadaan asisten rumah tangga di rumah.
    Makasiy reminder nya Bu Wid😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s