Ruang Tunggu


Ruang Tunggu

Oleh Widyaretna Buenastuti

Nomer di layar ruang tunggu menunjukan angka 23, sementara kartu di tanganku tercetak angka 49. Berapa lama lagi giliranku untuk bisa diperiksa oleh dokter. Padahal badan rasanya sudah gak karuan. Sebenarnya aku sudah diingatkan kalau antriannya akan panjang. Tapi karena dokter ini merupakan dokter saraf terkenal di Jakarta atas rekomendasi kerabat, maka kucoba untuk memeriksakan diri padanya. Tidak ada rasa sakit yang nyaman bagi siapapun dan yang kuinginkan saat itu hanyalah kesembuhan. Makanya bener banget Hadits Rasulullah yang mengatakan ada dua hal yang manusia seringkali lupa akan nikmat yang sudah diberikan Allah yaitu kesehatan dan waktu luang. Baru inget nikmatnya sehat di kala sakit dan baru ingat nikmat waktu luang di kala sibuk.
Kucoba alihkan fokusku ke sekeliling ruang tunggu dan mencoba untuk tidak menggubris pusing yang membuat mual dan rasanya lantai bergoyang bak berada di atas kapal di tengah laut. Kuperhatikan di sebelah kananku duduk seorang ibu yang usianya sepertinya menginjak usia 60an tahun. Ada tongkat di sampingnya dan ia pun memegang tiket yang aku gak bisa melihat nomernya berapa. Sepertinya ia tidak sendirian. Tidak seperti diriku yang rasanya setiap sakit harus berusaha sendiri cari pengobatan. Pusingku sama sekali gak menghadirkan semangat untuk berbasa basi dengan siapapun. Cukup dzikir membasahi lisanku dan kutempelkan kepalaku pada dinding yang berada di kiriku.

Baru nomer 33 dalam dua jam. 10 nomer dalam 2 jam. Secara matematis berarti paling tidak satu pasien menghabiskan 12 menit. Hmm…. Bisa 2 jam berikutnya nih baru nomer aku dipanggil. Sebentar lagi masuk waktu maghrib. Kebetulan aku lagi libur sholat jadi gak perlu cari Mushollah. Tapi memang menunggu itu sangat membosankan.

“Nak, ibu boleh titip pegang nomer ibu dulu? Ibu mau sholat maghrib.” Ibu di sebelahku mencolekku dan kulihat nomernya beliau, angka 55. Subhanallah, beliau berarti akan lebih lama menunggu dari aku.

“Boleh Bu. Ibu mau ke musholla sama siapa?” Pusingku mendadak tidak kuhiraukan karena kulihat dengan susah payah si Ibu berusaha bangun dari tempat duduk dengan tongkatnya, dan terlihat kesakitan.

“Sendiri aja, tadi anak ibu harus kembali ke kantor lagi.” Dengan tersenyum sang ibu menjawabku ringan saja dan tanpa ada nada sedih karena sendirian.

“Saya antar yah Ibu?” Kucoba menawarkan diri mendampinginya. Entah kekuatanku mendadak pulih dan lantai ruang tunggu berubah menjadi stabil, tidak bergoyang lagi.

Pertama ia mencoba menolak tawaranku karena ia khawatir nanti saat aku dipanggil, aku tidak ada dan akan diloncati oleh nomer berikutnya. Masya Allah baik hatinya ibu ini yang masih memikirkan orang lain. Kuyakinkan dirinya dengan berbicara dengan suster jaga di ruang tunggu itu untuk mengawasi nomer kami berdua karena kami hendak ke mushollah terlebih dahulu.

Betapa leganya kami, karena suster pun menyampaikan bahwa Pak dokter akan break untuk sholat maghrib juga, sehingga tidak perlu khawatir dengan nomer antrian.

Aku tawarkan tanganku untuk menjadi tumpuan beliau agar membantunya untuk berjalan. Dalam perjalanan yang cukup pelan, kita bisa berbincang-bincang dan aku menjadi paham kalau sang Ibu menderita saraf yang terjepit di pinggul kirinya. Namanya Ibu Aminah dan beliau sudah tinggal sendiri sejak setahun yang lalu. Putrinya yang tadi mengantar beliau baru pindah kantor dan nanti akan menjemput ibunya lagi. Tapi satu hal yang menancap di hatiku adalah kesabaran beliau yang luar biasa dalam menghadapi sakitnya.

“Sakitnya ibu ini ringan, mbak. Hanya saraf yang kejepit. Allah lagi mengingatkan Ibu untuk lebih bersabar dalam berbagai hal. Sabar berjalan. Sabar berdiri. Sabar untuk sholat. Ibu memang masih kurang sabar mbak. Ibu justru bersyukur Allah kasih ibu sakit yang ibu bisa hadapi begini. Banyak yang gak bisa jalan atau kakinya harus di amputasi.”

Jleb. Rasanya aku disindir secara halus dengan mendengar kata-kata sang Ibu barusan. Umurku yang jauh lebih muda dan hanya dikasih pusing sedikit saja sudah mengeluh terus. Meratapi kenapa sendirian dan gak ada yang antar. Menghitung-hitung setiap menit untuk mencapai nomer antrianku dan rasanya keluhanku masih banyak lagi. Berharap seisi dunia pun tahu kalau aku lagi sakit. Sampai pasang status segala dengan foto nomer antrian di taruh di media sosial. Astaghfirullohaladzim.

“Lagipula mbak, setiap kita sakit di dunia, in syaa Allah menjadi pengurang dosa kita nanti di akhirat loh. Jadi gak ada alasan untuk kita bersedih karena dalam sakit kita ada kasih sayang Allah juga.” Sang ibu melanjutkan menasihatiku seperti aku ini anaknya. Padahal kita baru kenalan.

Tak terasa kami pun sampai di Mushollah di dalam rumah sakit itu yang sudah ramai dengan orang yang hendak menunaikan sholat maghrib. Kembali kita berada di antrian untuk mengambil air wudhu. Aku pun mencari bangku untuk membantu ibu mengambil air wudhu sembari duduk. Petugas musholla yang melihat kami pun langsung menghampiri dan memberikan isyarat, bahwa iapun sudah menyediakan tempat untuk sholat buat Ibu. Masya Allah, kesabaran sang ibu dan pasrahnya menerima semua keadaan baginya dijawab oleh Allah dengan kemudahan-kemudahan yang terus berdatangan.

Wajah sang Ibu pun bersinar terbasahi air wudhunya. Ia pun tersenyum sejuk sekali. Luar biasa wajahnya seperti menyembuhkan pusingku seketika. Rasanya aku sudah mendapatkan obat pusingku yang mujarab.

Sembari menunggu sang Ibu sholat, aku mengambil buku tafsir Quran yang ada di rak buku dan kubuka secara acak saja. Mataku langsung tertuju pada ayat 80-81 dari Surat Ash Shuara (26) yang berisi tentang doa Nabi Ibrahim pada Allah:

“Dan apabila aku sakit, Rabbku lah yang menyembuhkanku. Dan Yang akan mematikanku kemudian akan menghidupkanku (kembali).”

Ampun ya Allah. Rupanya Engkau menyadarkanku dan membimbingku untuk senantiasa bersyukur dengan caraMU yang selalu membuatku terhenyak dan tak kan sanggup ku berkata-kata lagi. Astaghfirullahu wa atubu illaih. Aku mohon ampun dan bertobat padamu Ya Allah.

Allah memberiku sakit dan juga menyembuhkanku sebelum aku bertemu dengan dokter tanpa kusadari. Bahkan Allah mempertemukan aku dengan seorang hambanya yang layak untuk aku jadikan panutan di ruang tunggu. Ampun ya Allah. Ampun. Mataku berlinang antara bersyukur dan menyesal.

Kulihat sang Ibu pun sudah selesai dari sholatnya dan kami pun kembali ke ruang tunggu dokter lagi. Kali ini menunggu menjadi tak terasa lamanya, karena kami pun ngobrol dan tertawa sambil berpegangan tangan. Konsultasi dengan dokterku pun menjadi ringan dan Alhamdulillah hanya disuruh istirahat, olahraga teratur, banyak minum air putih dan dibekali resep seperlunya.

Aku berpamitan pulang pada Ibu Aminah yang telah ditemani putrinya. Kupeluknya dengan penuh hormat layaknya ibuku sendiri. Langkahku ringan, hatikupun adem dan pusingkupun terobati. Bahagianya diri ini disembuhkan Allah melalui silaturahim dan cerita inspirasi-inspirasi dari seorang Ibu yang luar biasa. Allahuakbar. Semoga diri ini menjadi lebih baik dalam latihan kesabaran menghadapi sakit, menghadapi cobaan dalam bentuk apapun. Ya Allah bimbing hambaMu selalu. Hanya Ridho Allah yang kuharapkan selalu.

@WiDS 06 June 2016

http://www.wbuenastuti.com

2 thoughts on “Ruang Tunggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s