Langit Terbuka


(Fiction)

Langit Terbuka

oleh Widyaretna Buenastuti

Rasanya aku telah berlari cukup lama. Lari dari kenyataan bahwa hidupku berantakan semenjak kutahu bahwa calon suamiku membatalkan pernikahan sehari sebelum akad nikah. Menyebalkan, memalukan dan kulangsung membencinya.

“Kenapa kamu yang harus malu?” Sahabatku bertanya. Saat aku mengurung diriku di kamar dan sama sekali nggak mau bertemu dengan siapapun juga selama berhari-hari.

Hatiku pun seperti mati saja saat melihat orang tuaku membereskan semua urusan tanpa mengganggu diriku.

“Pernikahan yang gagal itu cobaan. Bila kita bisa mengambil hikmahnya dan bukan untuk disesali berkepanjangan akan selalu ada kebaikan. Ada hadits yang mengajarkan, jika Allah menginginkan kebaikan kepada seseorang, Allah akan memberinya cobaan.”

Bapakku berusaha menanamkan pemahaman ini berulang kali. Diriku gagal paham dan gak menemukan arti dari nasihat beliau. Saat itu, hatiku serasa tertutup. Otakku serasa membeku. Mukaku serasa tertutup awan tebal dan mataku sudah sulit terbuka untuk melihat keindahan apapun.

Seminggu setelah batalnya pernikahanku, pilihanku adalah kembali ke kantor atau berhenti bekerja. Susah bagiku untuk bisa kembali bekerja di kantor. Semua kenangan Mas Riswan seakan lekat dan susah untuk melupakannya. Bagaimanapun ada tanggung jawab di kantor yang harus aku selesaikan. Akhirnya kupaksa juga diriku untuk bekerja kembali ke kantor.
Berbulan-bulan kualihkan hidupku dengan kesibukan bekerja dan travelling sendiri kemanapun aku mau. Prestasiku di kantor luar biasa menanjak dan di saat yang sama banyak juga para pria yang mencoba melamarku. Kepedihan yang telah menghiasi hidupku seakan-akan mempatrikan suatu keraguan akan komitmen dari seorang pria. Ketakutan akan menanggung malu menghantuiku selalu. Kutampilkan diri sebagai wanita sukses mandiri yang tidak membutuhkan bantuan siapapun.

Hingga aku terjebak saat mobilku tiba-tiba berhenti di tengah jalan dan berada di tengah kemacetan tanpa bisa kunyalakan mesinnya lagi saat pulang dari kantor. Panik dan bingung. Gak pernah mobilku mogok sebelumnya. Bunyi klakson sudah mulai terdengar. Kulangsung pasang lampu hazard. Tiba-tiba, jendelaku diketuk dari luar. Ada seorang pria yang dengan nada isyarat, ia meminta perseneling mobil di taruh di netral dan ia akan dorong mobil kepinggir.

Setibanya dipinggir, tanpa banyak bicara ia memberikan isyarat untuk aku membuka kap mesin mobilku. Dari penampilannya sepertinya ia seorang pekerja kantoran dengan kemeja putih lengan panjang yang sudah ia singsingkan di atas siku. Wajahnya putih, hidung mancung, alis yang lebat dan sedikit jenggot yang rapi menghiasi wajahnya. Badannya pun tegap dan cukup atletis. Entah apa yang ia coba lakukan dengan mesin mobilku, aku hanya bisa berdiri disamping mobilku sambil mengamati dia mengutak atik mesin mobil.

“Coba mbak hidupkan lagi mobilnya.” Sambil menghela nafas panjang ia menyuruhku menghidupkan mesin mobil.
Hidup! Alhamdulillah. Ia tutup kap mesin mobilku dan merapikan dirinya. Kulihat peluh di wajahnya dan kutawarkan satu botol air mineral padanya sembari mengucapkan terima kasih.

Tanpa basa basi, ia tersenyum dan menyambut botol air mineral dari tanganku sembari juga mengucapkan terima kasih. Senyumannya tulus dan menyejukan sekali. Hatiku tergetar. Mataku tak kuasa memandangnya. Kuarahkan mataku kebawah dan kulihat sepatunya yang rapi dan celananya berada di atas mata kakinya.

“Mbak, mobilnya gak ada yang rusak sebenarnya, tapi besok dibawa ke bengkel aja yah untuk diperiksa ulang. Sekarang mbak hati-hati yah, Assalamualaikum.” Sembari ia memberikan isyarat untuk aku masuk ke dalam mobil, mengantarkan aku sampai masuk dan duduk rapi di dalam mobil dan menutup pintuku kemudian menyuruhku melanjutkan perjalanan.

Aku terkesima! dan hanya menjawab “waalaikumsalam” Suaranya berat, penuh wibawa dan menenangkan hati. Aku sudah seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Aku menuruti semua isyarat dan instruksinya tanpa ada rasa ingin mengelak dan mengucapkan kata apapun. Hingga di tengah perjalanan aku tersadar bahwa aku tidak tau siapa nama pria yang menolongku itu. Entah kenapa, kesejukan saja yang menyelimuti hatiku.

Rasa penasaran terus menggelayutiku sepanjang perjalanan pulang. Wajahnya dan gerak geriknya terus terbayang di benakku. Alhamdulillah aku sampai rumah dengan selamat.

Kurebahkan diri di tempat tidur tanpa berganti baju kerjaku terlebih dahulu. Kasurku serasa merengkuhku. Serasa hati ini tersiram oleh air es yang dingin. Hmmm…. Ada juga makhluk pria yang singgah di hidupku yang tidak kukenal tapi menolongku tanpa pamrih. Kupandang ke atas. Langit-langit di kamarku sepertinya ingin bercerita banyak dan mengingatkanku bahwa masih ada langit di atas langit.

Tanpa kusadari, tiba-tiba aku mendengar suara ibuku yang sudah berdiri di pintu kamarku dengan masih memakai mukenanya. “Assalamualaikum Cantik, besok mau ikut sahur gak?” Akupun bangkit dari tempat tidurku dengan penuh keringanan dan rasanya ingin tersenyum saja.

“Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh.” Tanpa berfikir panjang aku mengangguk dan menghampiri ibuku. Kucium tangan, dahinya dan kupeluk beliau.

Astaghfirullohaladzim…. Sampai-sampai aku tidak menyadari besok memasuki bulan Ramadhan. Berarti sudah setahun sejak batalnya pernikahanku. Ya Allah apa yang telah aku perbuat selama ini ke orang tuaku? Padahal bapak ibuku juga menanggung luar biasa beban berat yang harus meminta maaf ke sejumlah kerabat. Menyelesaikan biaya-biaya yang tetap harus di bayar. Kurasakan rasa bersalah yang memuncak.

Dalam pelukan ibuku aku merasakan kenyamanan luar biasa dan tak terasa air mata ku menetes. Kali ini bukan air mata sakit hati. Tapi air mata penuh rasa bersyukur dan hasrat bertobat. Ibuku mengelus kepalaku dengan lembutnya dan mencium dahiku dengan penuh penghayatan.

“Ambil air wudhu sana, sholatlah dan mengadu lah sama Allah. Kamu udah lama jauh dari Allah. Kesempatan bertobat yah sayang, memasuki bulan Ramadhan.” Nasehat ibuku selalu sederhana tapi mengena sekali. Tanpa banyak bertanya, sepertinya ibuku bisa memahami apa yang putrinya rasakan. Ya Allah seharusnya aku bersyukur akan semua nikmat. Seharusnya aku berbahagia, Kau titipkan diriku pada seorang wanita yang luar biasa kesabarannya. Kemana saja aku selama ini?
Kulangkahkan kaki untuk mengambil peralatan sholat dari dalam lemari. Lipatannya rapi dan membekas layaknya baju-baju yang tidak pernah keluar dari lemari. Astaghfirullohaladzim. Entah sudah berapa kali kuucapkan. Kucium mukena yang bau kapur barus dan kuletakan bersama sajadah untuk menungguku mengambil air wudhu. Air wudhu serasa sejuk menghapuskan segala lelah dan penat. Badanku segar kembali. Sajadahku pun terbentang dan kuhayati rakaat demi rakaat. Dalam sholatku, aku menangis dan menyesal. Aku bersujud cukup lama. Air mataku membasahi mukenah dan sajadahku. Sholat pertamaku setelah sekian lama kutinggalkan, terasa syahdu dan seisi kamarku seperti ikut bersinar. Marhaban ya Ramadhan Mubarok.

Malam semakin larut dan mata pun mulai terhinggap rasa kantuk. Ibarat diriku lelah setelah berlari dan berpergian jauh, kini sepertinya adalah saat bagiku pulang kembali ke rumah. Allahuakbar. Sungguh luar biasa cara Allah mengingatkan diriku pada kasih sayangNYA. Kuteruskan membaca kalam-kalam Allah dalam Al Quran. Serasa diriku berdialog. Kurasakan langit yang tiada berbatas. Kurasakan kesyahduan malam Ramadhan. Kunikmati setiap huruf yang kulafalkan keluar dari bibirku. Masih di atas sajadahku. Rangkulan Allah padaku menidurkanku.

-bersambung-

@WiDS June 5, 2016

http://www.wbuenastuti.com

3 thoughts on “Langit Terbuka

  1. Huwaaaa sekarang Ibu buat cerita bersambung yaaaa,,
    Iiiissshhh berarti harus cepet keluarin cerita berikutnya,,
    Jgn kelamaan y Bu,, biar penasarannya ga lama2,,
    Dtunggu lanjutan critanya soon😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s