Kebaya Wisuda


Kebaya Wisuda

Oleh Widyaretna Buenastuti

Suatu hari agenda Girls Day Out adalah mencari baju kebaya untuk wisuda. Sejak putriku masih balita, selalu ada hari yang khusus bagi aku dan putriku untuk pergi berdua saja tanpa bapaknya ataupun adik-adiknya dan bahkan tidak pula dengan supir ataupun naik taksi.

“Harus hanya kita berdua,” kata putriku. Peraturan yang dia tentukan saat dia masih di bangku SD. “Nanti kalau aku udah bisa nyupir, gantian mama yang duduk jadi penumpang aja.” Masya Allah, saat itu aku tersenyum melihat gadis kecilku sudah berangan-angan kegiatan ini menjadi rutin antara ibu dan anak.

Setiba di lantai khusus kebaya sebuah mal, kami pun berpencar untuk mencari kebaya yang cocok bagi putriku. Kulihat dari kejauhan wajah putriku di antara lorong-lorong pilihan baju kebaya dewasa dengan berbagai corak, ukuran dan warna. Wajah gadisku yang terbalut dalam kerudung hitamnya, terlihat mulai memancarkan sinar kedewasaannya. Walau di mataku, tiada kan pernah lupa raut wajah polosnya saat ia bayi, saat ia berumur 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun dan hingga kini. Tangisannya, senyumanya, ngambeknya, manjanya, kadang sok taunya, semuanya masih lekat dan mungkin akan selalu terpatri di hati dan benakku. Gadis kecilku kini, telah perlahan menapak jenjang masa-masa dewasa. Kartu pelajarnya pun telah berubah menjadi Kartu Tanda Penduduk. Bahkan, iapun telah berhasil mendapatkan Surat Ijin Mengemudinya.

Mataku berlinang dan kuhela nafas dalam-dalam, rasanya memang seperti baru kemarin melahirkannya. Sekarang aku mulai bisa mengerti kenapa dulu, saat aku tumbuh seusia putriku, seringkali orang-orang tua yang lama tidak bertemu, mengucapkan “Kok sudah besar aja sih?” Dalam hatiku saat itu sedikit ada nada kesal dan ngebatin, ya jelas aja dong, kan kita tumbuh, masa harus stay menjadi anak2 terus? Kini aku tertawa geli sendiri, karena aku lah sekarang yang berada di posisi yang takjub melihat perkembangan anak-anak yang rasanya baru kemarin kutimang dan mungkin tak lama akan ada yang meminang.

“Ma, kenapa sih kok kalau kita lagi nyari baju yang kita butuh kok susah banget, padahal kalau lagi gak butuh kelihatannya banyak yang bagus?” Putriku sudah berdiri disampingku dengan wajah yang bingung dan suara manjanya membutuhkan bantuan.

“Memang hukumnya sudah begitu mbak,” kujawab sembari tanganku mensortir beberapa kebaya pilihan yang kiranya cocok di badan putriku dan sesuai yang ia butuhkan.

“Maksud mama?” Ia menunggu penjelasanku.

“Pilihan di dunia ini selalu tersedia beragam, tapi saat kita butuh, pilihan akan terseleksi karena kebutuhan kita lah yang mensortir dari semua keragaman itu.” Ada tiga kebaya dan dua kain yang sudah menjadi pilihanku. Kulanjutkan penjelasanku dan putriku terus mengiringiku sambil diam menyimak, “Analoginya, Allah telah menyediakan berbagai macam pilihan buah-buahan, sumber makanan tapi gak semua kita bisa makan karena kapasitas perut kita terbatas dan kebutuhan kita pun juga berbeda antara manusia yang satu dengan yang lain.”

“Ini coba dulu deh.” Kuberikan kebaya-kebaya beserta dua kain yang kiranya cocok untuk acara wisuda putriku yang akan diselenggarakan di lapangan basket di halaman sekolahnya pada siang hari dan di bawah tenda.

“Karena ditempat terbuka dan siang hari, jadi kemungkinan besar udaranya panas pada saat wisudamu. Nah, mbak butuh kebaya yang tidak panas kalau dipakai. Ini bahan-bahan kebaya yang mama pilihkan, insyaa Allah akan nyaman buat mbak pakai. Itu sudah satu pertimbangan mama memilihkan tiga baju ini diantara ratusan baju yang ada di lantai ini. Pertimbangan kedua, mama juga lihat ukuran yang mbak butuhkan dan sesuai dengan profil badan mbak. Mungkin dari ratusan sekarang tinggal puluhan. Kemudian warna yang mbak inginkan yang lembut, ini mama pilihkan merah muda, salem dan jingga muda. ”

Sambil berjalan ke ruang pas, ia mendengarkan penjelasanku dengan seksama. Wajahnya telah berubah dari kebingungan menjadi penuh harapan dengan tiga kebaya dan dua kain yang ia tenteng untuk dicoba.

Satu persatu ia coba dan di kombinasikan dengan kain-kain yang masuk dalam pilihan. Komentar-komentar kelebihan kekurangan kenyamanan antara yang satu dengan yang lain hingga pilihan yang sulit antara dua pasang baju yang ia suka, hingga ia harus menelpon bapaknya dan meminta pertimbangan bapaknya melalui video call. Setelah telpon ditutup, belum juga ia bisa memutuskan.

Hatiku sebenarnya sudah punya yang sreg, yang pas, namun kubiarkan padanya untuk memilih. Ini saatnya ia memilih kebaya untuk dirinya, kunasehati diriku sendiri. Kutahan untuk tidak mendominasinya seperti saat ia kecil dengan pilihan-pilihan baju versi aku untuknya. Sambil duduk di sofa di luar bilik ruang pas, kembali kuberikan saran.

“Pilih mana yang mbak paling nyaman diantara keduanya. Tidak sekedar untuk berpenampilan cantik tetapi apakah pakaian itu cukup menutup auratmu, dan jangan lupa tetap berdoa minta Allah mantapkan hatimu.” Iapun akhirnya menentukan pilihannya pada kebaya merah muda dengan kain yang serasi berwarna coklat dengan hiasan motif bunga merah muda.

Alhamdulillah, itu juga pilihanku dari awal. Pfiuh, lega juga. Sooner or later, ada beragam pilihan-pilhan lain dalam hidupnya yang ia harus menentukannya sendiri saat ia beranjak menjadi seorang perempuan dewasa. Pilihan-pilihan yang tidak semudah memilih kebaya, pilihan yang mungkin akan berakhir tidak sesuai harapannya. Pilihan yang mungkin membawa penyesalan. Biarlah ajang memilih kebaya ini menjadi ladang latihannya, ladangnya untuk belajar tentang kehidupan, sebelum ia melangkah dalam pilihan-pilihan hidup yang pastinya akan mendewasakannya.

Sebelum aku membayar harga kebaya dan kain yang sudah putriku pilih, kutanya padanya sekali lagi, “Bismillahirohmanirohim, mama bayar yah Nak?” Dengan mantap pun ia menjawab “Iya Ma, makasih yah. Bismillahirohmanirohim.” Sambil aku dipeluk dan diciumnya.

Kini wajahnya menyiratkan kepuasan dengan tas belanja berisi kebaya pilihannya di tangan kirinya dan tangan kanannya menggandeng tanganku, sembari berjalan mencari kedai kopi untuk duduk dan makan siang.

Acara Girls Day Out memang selalu indah dan sudah menjadi stress reliever tersendiri bagiku. Namun kali ini kurasakan jauh berbeda. Kebaya wisuda sepertinya mengantarkan pada suatu dialog untuk membimbing putriku dalam belajar menentukan pilihan-pilihan sebagai seorang yang telah dewasa. Kebaya wisuda juga menyadarkanku akan tahapan kehidupan yang baru aku masuki.

Putriku telah sampai pada tahapan memasuki usia dewasa, dan aku pun telah sampai pada jenjang mempunyai seorang putri yang bukan lagi seorang anak-anak. Kurasakan kerelaan dan keikhlasan mengantarkan anak menentukan pilihannya dan tidak mendominasinya dengan pilihanku. Ini sendiri merupakan latihan bagiku. Kebiasaanku yang membesarkannya dan memilihkan baju, makanan dan hal-hal lainnya harus disesuaikan dengan tahapannya. Kuresapi renungan yang penuh makna tanpa ada kata yang dapat menggambarkannya, karena kutahu akan banyak lagi episode-episode yang butuh rasa keikhlasan ini.
Terlebih dari itu, kebaya wisuda juga mengajarkanku bahwa sesungguhnya Allah lah yang Maha Mengetahui apa yang cocok dengan kebutuhan kita dan membantu mensortir pilihan-pilihan melalui berbagai potongan-potongan peristiwa, cobaan dan kejadian hingga kita terarah pada pilihan yang cocok dengan diri kita. Allah yang Menciptakan kita dan sudah pasti Allah yang Maha Mengetahui akan kebutuhan hambaNya.

Ya Allah, bimbinglah hamba terus dalam menjaga amanahMU agar ia tumbuh menjadi seorang muslimah yang membawa keberkahan bagi dirinya dan sekitarnya. Kumohonkan RidhoMu. Bimbinglah putriku yang juga amanahMU padaku dalam menentukan pilihan-pilihan kehidupannya. Aamin ya Robbal alamin.
http://www.wbuenastuti.com

Note: ditulis dalam perjalanan JKT-Menado, May 25, 2016

2 thoughts on “Kebaya Wisuda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s