Kantong Plastik


Kantong Plastik
Oleh Widyaretna Buenastuti

Ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, saat berbelanja barang dan hendak membayar di kasir sebuah supermarket, sang kasir bertanya, apakah saya mau membeli kantong plastik atau menggunakan kardus yang gratis. Saat itu, tidak mungkin untuk tidak membeli kantong plastik dan membawa beberapa barang belanjaan dengan tas kerja saya, dan akhirnya saya membeli kantong plastik.

Kantong plastik tiba-tiba menjadi sangat berharga saat pemerintah menerapkan aturan bahwa kantong plastik dikenakan tarif. Untuk para pebisnis ketentuan baru ini melahirkan suatu opportunity bisnis dengan berbagai pilihan substitusi pengganti kantong plastik yang bisa dipergunakan oleh masyarakat untuk berbelanja, dari mulai kardus, tas daur ulang, atau tas belanja khusus yang praktis dan ditawarkan secara eksklusif.
Ini baru dari kantong plastik yang mungkin juga tidak kita perlukan sehari-hari. Keberadaannya cukup membantu tetapi juga tidak terlalu vital dalam kehidupan ini. Suatu benda buatan manusia yang diciptakan untuk membantu manusia membawa barang-barang perintilan dalam sekali angkut dan bisa dibuang setelah itu. Namun, eksploitasi dari penggunaan yang sangat berlebihan menjadikan kantong plastik yang tadinya sebagai alat bantu manusia menjadi ancaman terhadap lingkungan dikarenakan sifatnya yang tidak bisa terurai dengan sempurna kembali ke alam.

Dikala sesuatu hal yang tadinya gratis menjadi harus mengeluarkan duit untuk membayar, maka kita akan lebih perhatian. Pernahkah terfikirkan oleh kita, bila udara ini harus kita bayar kepada Allah? Astaghfirullohaladzim. Jangan sampai ya Allah. Rasanya gak akan kuat bila sekali hirup dikenakan satu sen saja, kita akan kehilangan nikmat hidup ini. Bayangkan saat kita sakit dan membutuhkan tabung oksigen. Saat itulah kita merasakan betapa kenikmatan menghirup udara merupakan suatu kenikmatan yang tiada terkira dan terlebih lagi fasilitas untuk menghirupnya saja kita tidak perlu membayar sepeser pun pada Allah yang menciptakan udara dan infrastruktur tubuh kita. Saking sudah menjadi kebiasaan sehari hari bernafas, kita dikarunia kenikmatan bernafas saja tidak kita sadari. Menyadari kita mempunyai hidung dengan saringan bulu-bulu di dalamnya yang telah di desain sedemikian rupa untuk menyaring udara masuk ke dalam paru-paru untuk kemudian disirkulasikan dalam aliran darah dan seterusnya hingga kita bisa beribadah dan beraktifitas terkadang kita take it for granted. Lalai dan lupa untuk berterima kasih atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Sang Maha Pencipta yang tiada akan pernah kita bisa hitung seluruh kenikmatan itu satu persatu.

Renungan ini membuat saya teringat sebuah cerita anak buta penghafal Quran yang mendapatkan hadiah sepasang mata, namun ia tolak. Ketika ditanya, kenapa ia menolak hadiah sepasang mata, bukankah dengan hadiah itu ia akan bisa melihat keindahan dunia? Jawabannya sungguh luar biasa.

“Butanya mata adalah dari Allah. Dan dalam gelapnya kebutaanku sesungguhnya aku diberikan nikmat untuk melihat keindahan Allah dalam kalam-kalam Allah yang terurai indah dalam Al Quran. Keindahan dunia hanyalah semu semata, keindahan surga yang lebih aku impikan dan harapkan. Segala puji hanya untuk Allah semata.”

Masya Allah. Betapa rasa syukurnya tiada berbatas. Penghafal Quran cilik yang menjadi inspiratorku itu bersyukur dengan segala keadaan yang diberikan Allah untuknya dan bahkan ia hadiahkan hari-harinya untuk Allah kembali.

Jleb. Rasanya ada yang seperti menusuk hati ini saat kupandang kantong plastik yang baru kubeli. Sebuah benda yang biasanya luput dari perhatianku namun kini dengan diterapkan harga, menjadi terasa kegunaannya. Di lain sisi, bocah cilik penghafal Quran tau sekali cara bersyukur dengan keterbatasannya. Sementara, apa yang sudah aku lakukan dengan semua panca indera yang sempurna ini?

Saat diberikan sakit tidak bisa berjalan, apakah kecenderungan kita bersyukur atau mengeluh? Paling mudah kita langsung mengeluh karena segala gerak gerik kita menjadi terbatas. Beberapa rencana yang sudah direncanakan jauh-jauh hari harus ditata ulang. Bahkan mungkin yang tadinya tidak pernah terpikir harus memakai kursi roda, jadi terpikirkan. Kemanakah rasa syukur kita atas hari-hari yang telah ditemani oleh dua kaki yang bisa berjalan dan berlari sebelumnya? Bukankah seharusnya kita menyebut Alhamdulillah? Dengan keterbatasan langkahnya kaki, mungkin kita pun dibatasi untuk tidak berpergian yang tidak perlu. Kita akan lebih memilih kemana kita akan melangkah. Bersyukur telah pernah menikmati kaki yang sempurna.

Bahkan perintahNYA untuk melaksanakan kewajiban sholat lima waktu pun sehari-hari, yang juga bukan untuk Allah, tetapi untuk kita hambaNYA yang sering lupa dan penuh dosa ini. Sholat merupakan nutrisi jiwa raga. Nikmatnya sholat memberikan waktu bagi diri ini untuk istirahat dari kegiatan apapun yang tengah kita lakukan sehingga persendian tubuhpun bernafas terkena air wudhu dan bergerak teratur dalam rukun-rukun sholat. Fikiran yang penuh dengan duniawi dikembalikan lagi untuk fokus pada Allah Ta’ala. Ya ampun untuk sholat saja sering kita menundanya atau melakukannya tetapi dengan terburu-buru.

Dan kini Allah seperti mencolek diriku untuk bersyukur terhadap nikmat yang senantiasa kita nikmati tanpa kita sadari pemberianNYA. Jangan sampai kenikmatan itu diambilNYA dan baru kita tersadar bahwa kita sudah diberikanNYA nikmat yang luar biasa selama ini. Jangan sampai kenikmatan bisa berjalan, bisa melihat, bisa berbicara dan segala-galanya kita sia-siakan untuk hal-hal yang tiada berguna dan tiada waktu untuk memuji Sang Maha Pencipta.

Jangan sampai ada rasa kehilangan saat sedikit saja atau bahkan semua diambilNYA kembali, padahal adalah hak Allah untuk mengambil apa yang telah ia berikan pada kita. Bisakah rasa kehilangan itu menjadi rasa bersyukur?

Astaghfirullohaladzim, Ya Allah bimbing hamba, ampuni hamba. Semoga diri ini senantiasa menjadi insan yang pandai bersyukur akan segala kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah dengan menaati perintahnya dan beribadah sesuai ajaran yang telah diberikanNya melalui Muhammad Rasulullah Sallalahu Alaihi Wassalam….

Walahua’lam Bisawab
©WiDS Rabu, 24 Februari 2016
http://www.wbuenastuti.com

2 thoughts on “Kantong Plastik

  1. MasyaALLAH Bu Wid,,hr minggu kmrn saya jg baru ke supermarket yg perlu bayar tp ga kepikiran sejauh ini.
    Terima kasih reminder nya Bu😘
    Saat baca paragraf tentang bernafas, saya langsung bernafas dalam2,,
    Sampai ga ngeh klo lg bernafas🙈

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s