Sebuah Biografi


SEBUAH BIOGRAFI

Oleh Widyaretna Buenastuti

Suatu hari ketika saya membuka laman sebuah media sosial ada notifikasi bahwa tepat setahun yang lalu saya memposting suatu status atau foto. Kubuka dengan mereka-reka, kejadian apa yang terjadi setahun yang lalu yah? Jangankan setahun yang lalu, kalau disuruh mengingat kegiatan apa saja yang saya lakukan sejak pagi hari juga harus mengernyitkan dahi dulu dan mengurut-urut apa saja yang sudah kulakukan.

Jreng jreng, terbukalah halaman kegiatan setahun yang lalu, bahkan dua tahun yang lalu di tanggal yang sama. Astaghfirullohaladzim ini media sosial kok membuka tabir-tabir kehidupan yang sudah lalu yah? Kuberfikir lagi, apa pentingnya ada fitur flashback? Apa memang para pengguna medsos ini banyak yang menggunakan dan memanfaatkan fitur pembuka sejarah postingan?

Kuterhenyak dengan sebuah foto diriku bersama sahabatku yang terposting dalam warna baju hijau lumut yang senada. Ingatanku langsung teringat pada momen kubertemu dengannya di Bali dan walau sudah tengah malam pun,ia tetap menjemputku bersama suaminya untuk sekedar berkangen ria, menikmati secangkir kopi dan kudapan seadanya di sebuah warung sederhana.

Persahabatan ini bermula dari suami kami yang bekerja di perusahaan yang sama. Alhamdulillah setelah kami saling diperkenalkan, rasanya pembicaraan nyambung. Bahkan putri-putri kami pun juga bersahabat. Setiap ada kesempatan berkunjung ke Jakarta ataupun ke Bali, gak elok kalau gak saling ngobrol dan bertemu walau hanya sebentar.

Kulihat foto kami berdua yang terpampang di laman media sosial tersebut mensiratkan kerinduan yang terpancar dari sinar mata kami. Tak terasa air mataku menetes. Kutarik nafas dalam-dalam dan kurasakan sedikit berat di dadaku. Bibirku mengucapkan istighfar dan mendoakan sahabatku tersayang yang sangat disayang oleh Sang Maha Pencipta. Lekat dalam benakku wajah sahabatku yang selalu tersenyum dan positif menghadapi apapun. Setiap ada yang menanyakan apa kabarnya, ia selalu menjawab dengan semangat dan senyuman manisnya penuh kesabaran. Terngiang kata-katanya setiap ada yang bertanya, ia menjawab:

“Gak pernah lebih baik lagi.”

Dan bila ada yang menanyakan bagaimana perjuangannya dengan penyakit kankernya, ia pun menjawab:

“Hanya ada kanker di dalam tubuhku yang menjadi pengurang dosaku.”

Masya Allah. Dalam sakitnya yang bahkan seringkali seluruh tubuhnya kesakitan, ia tetap tersenyum. Ia mengajarkan kepadaku arti kesabaran menghadapi sakitnya. Padahal, seringkali saat kita baru terserang pusing sedikit saja atau sakit gigi, dunia serasa terhenti dan hilang semangat untuk melakukan apapun, bahkan hanya untuk tersenyum saja berat. Seakan-akan seluruh dunia harus tau kalau kita lagi pusing atau kita lagi sakit gigi.

Innalillahi wa innaillaihi rojiun.

Ya sahabatku telah dipanggil kembali oleh Sang Maha Pencipta tidak lama setelah kami bertemu dalam baju hijau lumut itu yang tiada kebetulan bisa sehati. Keindahan persahabatan kami sebenarnya bukan pada banyaknya kebersamaan waktu. Bukan. Tapi, masing-masing saling mengajarkan arti indahnya kehidupan yang telah diberikan oleh Sang Maha Pencipta.

Dan fitur yang disediakan oleh laman medsos itu seperti benar benar membuka sejarah diri yang telah lalu. Ada kalanya rasanya happy, tapi juga ada saatnya tidak happy. Seperti saat aku diingatkan kembali momen bersama sahabat tercinta yang telah beristirahat dengan tenang di sisi Allaah. Momen-momen yang tidak akan terulang dan tercetak sudah menjadi bagian dari sejarah hari-hari kita di dunia. Sedih dan senang adalah kehidupan dunia. Sahabatpun tidak akan ada yang abadi di dunia. Namun pelajaran dalam kebersamaan itulah yang menjadikan siapa diri kita yang kita bawa sampai liang lahat.

Ya Allaah, sebuah fitur dari media sosial buatan manusia saja bisa membangkitkan rasa yang campur aduk. Kubayangkan bagaimana nantinya kalau buku biografi kita yang ditulis oleh para malaikat akan dibuka kembali dihadapan kita? Gak tanggung-tanggung hanya setahun atau dua tahun. Buku biografi yang berisi seluruh kehidupan kita di dunia dan tiada satu amalan atau dosa yang terlewat!

Sanggupkah kita untuk melihatnya atau mendengar semua perkataan ataupun perbuatan yang dibuka kembali. Ibarat prestasi dalam raport saja, seringkali kita dag-dig-dug cemas akan angka prestasi yang tertulis. Apalagi kalau yang dibacakan adalah amalan dan dosa, bukan sekedar prestasi pelajaran. Rasanya menutup wajah dengan dua tangan ditambah bantal atau apapun untuk menahan malu dan rasa berdosa sudah gak sanggup lagi. Bulu kudukku pun berdiri, gak sanggup membayangkannya. Manusia mana di dunia ini yang bersih dari dosa? Dan apakah kita yakin kebaikan yang kita lakukan menjadi amalan baik?

Saat aku menulis ini pun, yakin super yakin kalau tidak akan ada amalan dan dosa yang kelewat dari catatan buku biografi kita yang sebenar-benarnya. Sebuah biografi yang bukan lagi ditulis oleh tangan manusia atau tinta bollpoint yang ada di dunia. Sebuah biografi yang tiada duanya sejagat raya.

Buku biografi sahabatku telah selesai, telah tamat. Semoga amalannya dalam mengajariku untuk bersabar dan bersyukur dalam setiap keadaan serta amalan-amalannya yang tak terhitung dalam persahabatan kita menjadi amalan baiknya yang mendapatkan Ridho Allaah untuk bisa mendapatkan kenikmatan SurgaNya kelak.

Sementara buku biografiku masih terus ditulis. Entah sampai kapan akan selesainya. Masih kah bisa kukejar agar amalan-amalan baik saja yang akan tertulis? Masih kah ada kesempatan agar dosa-dosa yang ada terampuni dan akan di write-off oleh Allah? Bilapun buku biografiku sudah dinyatakan selesai dan tamat, aku pun berharap tidak akan dipublish untuk umum. Dalam doaku selalu kuberharap dan kupanjatkan semoga Allah mengampuni dosa-dosaku, menghapusnya dan menutup aibku. Semoga masih ada kesempatan untuk mengukir prestasi hingga mendapatkan RidhoNya.

Ya Allaah hamba rasanya tidak kan sanggup untuk menghadapi panasnya api neraka dan hambapun rasanya belum layak mendapatkan SurgaMU. Hanya RidhoMU dan MaghfirohMU ya Allaah yang kukejar. Bimbinglah hamba ya Allaah dalam menyelesaikan buku biografiku agar tetap berada dalam hidayahMu dan mengukir akhir cerita yang baik. Amin ya Robbal alamin.

Walahualam bisawab.
CX718 CGK-HKG, 24 January 2016

http://www.wbuenastuti.com

 

Ps: Doaku untuk Sahabatku Poerbo Rini yang di rahmati Allaah.

2 thoughts on “Sebuah Biografi

  1. Tiap-tiap jalan hidup manusia adalah bacaan yang baik wids

    Untuk mengingatkan pada kita bahwa ada batas agar senantiasa memberi manfaat untuk kerabat dan lingkungan

    Mengapa harus membranding kehidupan lalu tidak baik? Toh jika yang dulu tidak ditempuh dengan jalan sedemikian pasti bukanlah wids yang sekarang yang berhadapan denganku

    Andai tiap-tiap orang mampu melihat biografi kerabatnya dengan transparan maka alangkah bijaksananya mereka setelahnya dalam menempuh hidup karena kaya akan warna-warni hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s