Pijatan Cinta


Pijatan Cinta

Oleh Widyaretna Buenastuti

Kusambut Dinda dan suaminya yang baru pulang dari menunaikan ibadah haji tepat di depan pintu keluar bandara. Terlihat wajah Dinda yang sumringah bahagia dan aura sinarnya pun memancar dari dirinya. Lega rasanya melihat adikku ini yang begitu bahagianya telah selesai menunaikan kewajiban rukun islam sebagai seorang muslimah. Perjuangannya sungguh luar biasa.

3 bulan sebelum keberangkatan Dinda menunaikan ibadah haji, suaminya, Edo sempat di rawat di Rumah Sakit karena terkena stroke yang melumpuhkan tubuh bagian kirinya hingga ia harus menggunakan kursi roda. Namun, perlu aku akui kegigihan keduanya dan ketaqwaan keduanya sungguh luar biasa. Stroke yang menyerang Edo, tidak membuatnya menjadi gentar untuk melangkah dan menyambut panggilan Allaah untuk berhaji.

Kusaksikan sendiri persiapan yang dilakukan Edo dan Dinda luar biasa. Setiap hari selepas dari Rumah Sakit, Edo berusaha dengan gigih untuk sholat lima waktu dan sholat sunnah lainnya. Dari awal sholat dengan kursi roda, hingga pelan-pelan ia dapat berdiri menggunakan tongkatnya untuk membantunya berdiri. Kemudian ia pun berlatih berjalan perlahan-lahan menggunakan tongkat untuk melaksanakan sholat di masjid. Masya Allaah. Perjuangan yang tiada henti dan tiada kenal putus asa. Hingga saatnya mereka siap untuk berangkat ke Baitullah, Edo tidak mau membawa tongkatnya.

“Biar Allaah nanti yang bantu saya, mbak di sana. Doakan saja yah Mbak.” Demikian ia berkata saat aku tanyakan kenapa tidak membawa tongkatnya pada saat keberangkatan mereka. Kuteringat kata-kata Edo itu masih dengan jelas dalam benakku.

Jemputan mobil-mobil kami pun datang. Setelah koper-koper dimasukan di dalam salah satu mobil. Kami pun masuk ke dalam mobil yang telah kami siapkan. Dan karena yang menjemput lumayan banyak jadi kami bagi dua mobil untuk yang cowok dan yang cewek. Biar bisa girls talk dan boys talk masing-masing demikian istilahku. Aku sudah gak sabar ingin dengar cerita dari Dinda tentang pengalamannya selama di sana.

“Masmu gimana Din, selama disana?” kubuka saja langsung dengan pertanyaan saat kita telah duduk dengan posisi nyaman masing-masing. Karena terus terang, selama kepergian mereka, aku memikirkan keadaan Edo yang baru saja sembuh dari serangan stroke yang kesekian kalinya.

“Masya Allaah, mbak. Apa yang diucapkan Mas Edo waktu mau berangkat dikabulkan Allaah. Benar-benar selama di tanah suci, Mas Edo dibantu Allaah, kekuatannya dikembalikan seperti sedia kala saat Mas Edo masih SMA. Dia bisa jalan dengan kuat berkilo-kilo meter dan langkahnya pun cepat tidak ada terseok-seoknya sama sekali. Kemudian tangan kirinya pun kuat untuk mengangkat koper-koper. Pokoknya gak ada yang akan menyangka bahwa tiga bulan yang lalu Mas Edo baru terkena serangan stroke.”

Dinda bercerita dengan penuh semangat dan kulihat air mata rasa syukurnya pun berlinang tanpa bisa dibendung. Akupun bisa merasakan kedahsyatan mukjizat yang Allaah limpahkan kepada adik-adikku ini.

“Justru aku yang sempat jatuh sakit selama di sana. Badanku sempat panas tinggi dan lemas tidak bisa bergerak. Saat itu, Mas Edo rela menemaniku dan tidak ikut melempar jumroh. Mas Edo merawatku dengan penuh kesabaran mbak.“

Dinda berhenti berbicara, ia menghela nafas dalam dan sembari meneteskan air mata ia mencoba untuk melanjutkan ceritanya.

“Banyak doaku yang dikabulkan Allaah Mbak. Saat aku jatuh sakit setelah melaksanakan thawaf dan sai, kami diberikan kesempatan untuk berdua oleh jemaah lain. Melihat Mas Edo malam itu, aku merasakan hubungan kami serasa berbeda dan seperti semua dimulai dari nol kembali. Tatapan mata dan sentuhan tangan kami saat saling meminta maaf terasa hingga relung hati yang paling dalam. Syahdu sekali, mbak.“

Kutatap Dinda dalam bercerita dan tangan kami pun berpegangan merasakan kesyahduan yang merambat dari Dinda pada diriku. Ya Allaah, kurindukan suamiku yang ada di mobil belakang yang mengikuti mobil kami. Kupanjatkan doa untuknya, semoga ia merasakan kerinduan padanya yang kurasakan.

“Sejak Mas Edo terkena stroke yang pertama kali beberapa tahun silam hingga hari ini, sering kali aku berharap dan berdoa seandainya kubisa merasakan kembali pelukan kedua tangan Mas Edo. Tak kusangka Allaah mengabulkan doaku itu saat di tanah suci.“

Dinda pun melanjutkan “Masya Allaah. Rasanya bahagia tak terkatakan mbak, walau hanya beberapa hari saja Allaah mengembalikan semua kekuatan Mas Edo. Pijatan jari-jari Mas Edo pada punggungku terasa luar biasa nikmatnya karena sisi kiri dan kanan tekanannya bisa sama, Mbak. Mungkin terdengar biasa saja yah mbak. Tapi buat aku yang bertahun-tahun merasakan satu sisi saja dari mas Edo yang normal, merupakan suatu hadiah luar biasa. Pijatan Cinta dari Allaah sungguh luar biasa rasanya. ”

Bulu kuduku kurasakan merinding dan air mataku pun menetes perlahan mendengarkan nikmat rejeki yang dilimpahkan kepada Dinda dan Edo. Allahuakbar. Allah sungguh Maha Besar. Hanya atas ijin Allaah lah semua dapat terjadi. Kelumpuhan Edo karena stroke juga atas ijin Allaah itu terjadi. Dikembalikannya kekuatan selama di tanah suci agar hambaNYA bisa melaksanakan ibadah haji dengan sempurna juga atas ijinNYA.

“Sekarang, apa sudah normal semua Din?” kutanyakan kepada Dinda.

“Alhamdulillah nggak mbak. Bagian kiri Mas Edo kembali lemah lagi secara perlahan saat kami sudah di Madinah. Kami memaknainya bahwa ini semua adalah hadiah Allaah yang menjaga Mas Edo dengan membatasi kembali kekuatannya, Mbak.“

Subhanallah adikku ini bertambah dewasa sekali sepulang dari hajinya. Semoga istiqomah dan terjaga kemabrurannya hingga akhir hayat.Sesuatu yang pernah ada dan diberikan oleh Allaah, terkadang kita tidak menyadarinya sebagai suatu rahmat dari Allaah. Seringkali kita lupa mensyukurinya  hingga kenikmatan itu diambilNYA kembali barulah kita merasakan kehilangan.

Ya Allaah, terima kasih ya Allaah, Engkau tunjukan kembali kepadaku betapa Maha Agungnya Engkau, dan betapa kecilnya diri ini yang tiada artinya apa-apa tanpa Kuasa dariMU. Terima kasih ya Allaah atas peringatanMU yang Engkau sampaikan melalui cerita ini. HambaMU seringkali lupa akan asalnya kehebatan diri. HambaMU seringkali sombong dan lupa bersyukur padaMU. Sesungguhnya tiada keberhasilan, tiada kesuksesan yang dapat diraih tanpa ijin dariMU ya Allaah.

Rindu pada suamiku yang berada di mobil belakang tetap kurasakan tetapi ada kerinduan yang lebih hebat lagi. Rindu akan beribadah ke tanah suci. Rindu bermunajat pada Allaah di rumahNYA. Allaahuakbar, semoga akan ada kesempatan lagi bagi kami untuk pergi beribadah ke Baitullah, ya Allaah. Ijinkan kami ya Allaah. Obati kerinduan kami pada Baitullah. Kabulkan doa-doa kami ya Allaah.

@WiDS Sabtu, 14 November 2015

www.wbuenastuti.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s