Jangan ini dan Jangan itu


Jangan ini dan Jangan itu

Oleh Widyaretna Buenastuti

Rasa rindu pada rumah membuatku memilih untuk berjalan-jalan keluar dari hotel untuk melihat lingkungan sekitar di suatu sore yang kebetulan jadwalku masih kosong. Baru nanti jam 7 malam akan ada acara makan malam bersama. Kutemukan taman umum yang terletak tidak jauh dari hotel dan kulihat banyak anak-anak yang sedang menikmati ruang terbuka berlari ke sana dan kemari.

Melihat anak-anak yang berlarian dan bermain, hatiku semakin rindu pada anak-anakku padahal baru hitungan beberapa hari kutinggalkan untuk menjalankan tugas dari kantor. Kumencari tempat teduh untuk duduk disekitar taman dan menikmati suasana sore di alam terbuka yang jarang sekali kulakukan di Jakarta.

Mataku tertuju pada seorang ibu muda yang sedang menyuapi anaknya yang sepertinya baru bisa berjalan. Mungkin menjadi pemandangan yang biasa ada seorang ibu yang mengikuti sang anak berjalan kesana kemari sambil memegang mangkok makanan. Sama sekali bukan suatu cara menyuapi anak dalam kamusku tetapi sore itu yang membuatku tertarik untuk mengamati adalah interaksi anak dan ibu.

Sang ibu dengan sabar mengikuti kemanapun si anak berjalan namun cara menjaga sang anak penuh dengan instruksi instruksi.

“Jangan pegang daun itu nak, nanti dimarahin satpam.” Si anak berhenti memegang daun.
“Jangan kesana nak, nanti ada pak polisi.”Si anak pun balik arah.
“Jangan duduk di jalanan, nanti dimakan cacing.” Si anak pun berdiri.

Seandainya sore itu aku memegang kertas dan pulpen untuk mencatat instruksi apa saja yang disampaikan oleh si ibu pada anaknya, mungkin saja bisa berhalaman-halaman jadinya. Karena rasanya dalam 10 menit duduk mengamatinya saja, sudah banyak perintah dan instruksi dengan kata ‘Jangan’ ditambah lagi dengan bumbu-bumbu yang menakuti tapi tidak benar. , Dimarahin satpam, ada pak polisi, dimakan cacing… Dan seterusnya yang jelas tidak benar dan mengada-ngada.

Kebiasaan ini mungkin saja banyak terjadi di tengah masyarakat kita, karena ini bukan pertama kalinya aku mendengar. Hanya saja sore itu aku mempunyai waktu luang untuk mengamatinya.

Gemes dan geregetan bergelora dalam diriku. Kupanggil anaknya untuk jalan ke arahku. Kuarahkan senyum pada ibunya dengan berharap aku punya kesempatan untuk berbicara padanya. Alhamdulillah Allaah memberikan ijinNYA dan dalam percakapanku dengannya terceritakan bahwa ia pun merantau dan tidak ada sanak saudara di kota itu. Setelah menikah, sebagai istri prajurit ia siap mengikuti suami kemanapun ditempatkan. Pada dirinya sendiripun ia seperti banyak ketakutan- ketakutan sehingga ia pun mengeluarkannya tanpa ia sadari pada anaknya.
Astaghfirullohaladzim, betapa mungkin masih banyak para ibu muda yang butuh bimbingan dalam memulai berumah tangga, mendidik anak bahkan untuk mengurus dirinya sendiri.

Kucoba untuk berbagi pengalaman padanya tentang cara menyuapi anak, cara berbicara pada anak dan implikasi jangka panjangnya bila berulang-ulang sang anak diperdengarkan dengan kata ‘Jangan ini dan itu.’ Bisa membuat anak menjadi takut untuk mencoba walaupun berkata ‘Jangan’ tetap penting terutama dalam mengajarkan batasan dari Allaah.

Efek negatif dari berbohong akan lebih dahsyat lagi bila secara tidak sadar menanamkan pada anak sejak dini. Bila setiap menit seorang anak diperdengarkan dengan kebohongan, bukankah nantinya sang anak ada kemungkinan akan tumbuh dan menganggap bahwa bohong itu wajar atau lumrah. Seperti halnya seorang anak yang suka meniru ucapan orang dewasa saat ia mulai berbicara. Seperti halnya kita mengajarkan untuk memegang sendok ditangan kanan dan garpu di tangan kiri. Kebiasaan yang berulang- ulang akan tertanam menjadi suatu kegiatan yang akan dilakukan tanpa sadar dan otomatis menjadi suatu hal yang wajar.

Naudzubillahi min dzalik. Jangan sampai bangsa kita menjadi bangsa yang sudah takut berinovasi dan suka berbohong.

Ampun ya Allaah. Inikah yang menjadikan banyak pelaku memilih meniru dari pada berinovasi? Inikah yang menjadikan banyak kasus korupsi atau kasus pemalsuan di Indonesia?

Allaahu Akbar. Sepertinya diriku ini dibimbing oleh Allaah untuk keluar dari kamar hotel dan melihat langsung potret nyata di hadapanku bahwa masalah maraknya barang palsu yang aku perjuangkan untuk diberantas dan tidak dikonsumsi masyarakat selama ini juga berakar dari pola asuh dan pola didik. Tiba-tiba dada menjadi sesak, hati rasanya geram, gemas dan gairah berbuat sesuatu bercampur menjadi satu.

Paling tidak melalui curhatan dalam tulisan ini, akan banyak ibu-ibu muda yang terinspirasi dan para ayah yang ikhlas bekerja sama untuk belajar pola asuh anak, belajar berkomunikasi dengan anak dan belajar juga untuk menambah ilmunya sendiri untuk mendidik dan membangun generasi bangsa yang tidak takut berinovasi yang bertanggung jawab serta jujur dan amanah.

Ketika anak memegang daun, ajak untuk duduk dan mengamati sambil bercerita, “Itu namanya daun nak, ada klorofilnya, ini tempat pohon memasak makanannya dibantu sinar matahari… Dan seterusnya”.

Bukankah ini lebih melegakan dibandingkan dilarang dan dibohongin? Masih banyak pekerjaan rumah untuk kita bersama dalam menjadikan generasi masa depan yang lebih baik. Hanya dengan pertolongan Allaah dan ijinNYA lah semua perjuangan dan apapun yang kita cita-citakan akan tercapai dan semoga dapat menjadi amalan baik yang bermanfaat. Aamiin ya Robbal alamin.

Selamat hari Pahlawan, semoga apapun perjuangan kita, akan senantiasa mendapatkan Ridho Allaah.

@WiDS November 10, 2015

http://www.wbuenastuti.com

2 thoughts on “Jangan ini dan Jangan itu

  1. Masya ALLAH,, jd haus ilmu cara mendidik anak niy Bu,,
    Mengganti kata ‘jangan’ itu susah y Bu,,
    Kadang mau coba mengganti kata ‘jangan’ tp suka bingung ganti apa,,
    Alhasil keluar juga kata ‘jangan’😅
    Terima kasih sharingnya Bu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s