Mandi Pagi


Mandi Pagi

Oleh Widyaretna Buenastuti

Gemiricik air terdengar dari kamar mandi di sebelah kamar tidurku. Kulirik jam meja yang ada di sebelah nakas, jam masih menunjukan pukul 3 pagi. Hari masih gelap gulita. Baru kuteringat ibu mertuaku sedang menginap di rumah dan itu pasti beliau yang bangun dini hari untuk mandi dan sholat malam.

Cuplikan ingatan akan kebiasaan almarhumah ibunda mertuaku kembali terputar dalam benakku saat kumenyimak cerita sahabat baikku tentang kakeknya yang baru saja tutup usia.

“Masya Allaah mbak, kakek meninggal dalam keadaan bersih dan siap menghadap Sang Maha Kuasa.” Sahabatku membuka cerita saat aku bertakziah dan bertemu dirinya.
Sembari kami duduk bersama beberapa sahabat, ia melanjutkan ceritanya tentang bagaimana proses sang Kakek tercinta pulang menghadap Sang Maha Pencipta.

“Setiap hari memang beliau bangun jam 3 pagi dan mandi kemudian berwudhu dan melaksanakan sholat malam kemudian ke masjid. Tiada yang berbeda, hanya rasanya pagi itu kata kakak, kakek terlihat rapi, ganteng bersinar dan wangi sekali. “

“Kakakku yang paling syok tuh mbak, karena kakaklah yg terakhir berjumpa beliau dan berbincang dengan beliau.”

Kakak cerita bahwa, ia sempat bertanya pada Kakek,
“Kek, cakep dan wangi banget sih?”

Dan jawaban Kakek saat itu
“Iya dong, kan mau ketemu Allaah.” Setelah mengucapkan salam, kakek pun berlalu untuk keluar rumah dan jalan menuju masjid yang memang hanya beberapa langkah dari rumah.

“Kemudian tiba-tiba rumah kami diketok dan kami mendapatkan kabar bahwa Kakek meninggal di dalam masjid sebelum azan subuh berkumandang. Innalillahi wa innaillaihi rojiun…. Kakek benar-benar mau ketemu Allaah di rumah Allaah.”

Terlihat wajah wajah yang terkesima, takjub dan tiada dapat berkata lain kecuali Subhanallah…. Bila Allaah memanggil hambaNya untuk pulang, tiada yang dapat menghalangi ataupun menundanya.

“Kakek memang sudah siap mau bertemu Allaah mbak dan jasad beliau pun sudah bersih. Kami ikhlas namun masih kaget saja. “ tutur sahabatku dengan mata yang masih sembab berlinang namun senyum bahagia terpancar menyiratkan keikhlasan akan kepergian sang kakek tercinta.

Tak terbendung tetesan air mata terharu mendengarkan proses berpulangnya seorang hamba Allaah. Betapa nikmatnya bisa berpulang bertemu dengan Allaah dalam keadaan yang bersih dan wangi kemudian menghembuskan nafas terakhir tanpa sakit dan menyusahkan. Terlebih lagi beliau dipilihkan Allaah untuk berakhir juga di rumah Allaah. Bukankah ini suatu kenikmatan tersendiri dalam suatu cerita akhir kehidupan seorang hamba Allaah?

Astaghfirullohaladzim, cerita apakah yang telah disiapkan oleh Allaah untuk diri ini saat waktunya untuk berpulang kepadaNYA. Bulu kudukku berdiri membayangkan saat-saat sakaratul maut yang entah kapan akan menjemputku. Sanggupkah diri ini? Sampai dimanakah tabungan amalku?

Mungkinkah diri ini nantinya berakhir dalam keadaan yang bersih dan baik? Rasanya kok masih jauh? Betapa diri ini masih banyak harus berbenah diri. Langsung flashback mengingat kebiasaan sehari-hari. Dibandingkan dengan sang Kakek atau ibunda mertuaku yang mandi jam tiga pagi, aku masih memilih untuk melewatkan acara mandi pagi dan ambil air wudhu saja, lalu pakai mukenah di atas baju tidurku dan sholat malam.

Glek, kerongkonganku terasa tercekat. Kenapa untuk ketemu sama Allaah malah tampil biasa aja yah? Padahal kalau mau berangkat ke kantor atau ke pesta atau mau ketemu teman atau pokoknya acara apapun seringkali aku menghabiskan waktu berjam jam untuk berhias diri. Gonta ganti baju mencari yang pantas untuk dipakai. Belum lagi mematutkan keserasian dengan bolak balik bercermin. Kemudian memilih asesoris sampai sepatu pun semua diperhatikan sampai detil dan harus matching.

Lalu saat mau sholat, saat waktu-waktu istimewa yang disediakan Allaah untuk kita berkomunikasi dengan Sang Maha Pencipta, sering kali kita menyiapkan diri sekedarnya. Berwudhu tanpa ilmu dan hanya membasahi bagian tubuh yang harus terkena air wudhu tanpa menyempurnakannya. Kok rasanya ada yang timpang yah?

Kutertunduk malu dan beristighfar. Betapa diri ini rasanya seperti gak tau diri sekali. Menghadap kepada sang Khalik malah dilakukan dengan seadanya, sementara ketemu manusia yang tidak memberikan apa-apa, malah berdandan up to the max!! Pokoknya harus dandan yang paling oke. Padahal segala rejeki dan nikmatNYA yang tak terhitung senantiasa Allaah curahkan pada kita dan tanpa kita minta sekalipun sudah disediakanNYA.

Kuterdiam merenung dan rasa rindu pada almarhumah ibunda mertuaku tercinta menyelip dalam relung hatiku. Kebiasaan-kebiasaan beliau saat tinggal bersamaku adalah warisan amalan yang tak ternilai harganya dan satu persatu kupelajari justru di saat beliau telah tiada.

Sungguh setiap cerita kematian itu mengajarkan ilmu dan pesan Allaah kepada kita yang mau berfikir dan mengamalkannya. Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang senantiasa memperbaiki diri karena Allaah Subhanallahu wa Ta’ala.

@WiDS November 08, 2015
http://www.wbuenastuti.com

2 thoughts on “Mandi Pagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s