Krim Anti Tua


Krim Anti Tua

Oleh

Widyaretna Buenastuti

 

Kuberjalan di lorong-lorong kios kosmetik di sebuah mal dan mencoba beberapa perawatan muka sembari membanding-bandingkan antara satu produk dengan produk lainnya. Menakjubkan! Betapa teknologi pun merambah dalam dunia kecantikan. Bagaimana suatu produk bisa membuat kulit kusam menjadi cerah kembali? Bagaimana lingkaran hitam mata bisa dipudarkan? Bahkan kantung mata pun karena kelelahan atau kurang tidur dapat disamarkan dengan bantuan kosmetik. Noda-noda hitam yang timbul di wajah bagi yang mulai menginjak usia 35an ke atas pun dapat pula disamarkan atau bahkan ada yang mengatakan bahwa produknya bisa mengurangi timbulnya flek hitam kembali atau bahkan mengurangi flek-flek hitam tersebut. Belum lagi tanda-tanda penuaan seperti keriput di wajah pun bisa dikurangi sehingga bisa terlihat awet muda. Wow. Sampai ada “krim anti tua” yang dari promosinya pun mengagumkan dengan harga yang juga luar biasa.

Menyenangkan sekali “adventureku” di antara kios-kios kosmetik di hari itu. Saat itu memang aku tergelitik untuk explorasi produk lain dari yang biasa kugunakan. Penjelajahanku mencari produk yang cocok untuk kulitku berbuah suatu pengalaman dan pengetahuan yang sangat menarik lebih dari sekedar olesan-olesan krim ini dan itu di kulit. Cara penyampaian kelebihan dan kehebatan produk-produk yang disampaikan oleh para pramuniaga di setiap konter pun membuatku terkesima. Krim anti tua tadi rasanya lumayan berguna tuh. Kuberpikir keras. Rasa menahan diri ini dari bujuk rayu godaan untuk membeli lebih dari yang kubutuhkan adalah rasa di sisi yang lainnya yang perlu diredam.

Ibarat menahan godaan untuk berbuka puasa di saat waktu buka puasa masih jauh tapi haus sudah melanda kerongkongan, sedangkan segelas air putih segar sudah tersedia di depan mata dan memanggil-manggil untuk diminum. Gimana tuh rasanya? Glek. Paling-paling kita menggigit bibir dan membasahinya sebagai kompensasi rasa haus sembari berharap kekuatan iman dan niat lah yang akan menjaga puasa kita.

Terbayang kan betapa atraktifnya rayuan-rayuan para pramuniaga cantik yang menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Akhirnya kudapat apa yang kubutuhkan. Merek baru? Bukan. Masih kembali ke produk yamg biasa kupakai. Susah untuk pindah ke lain merek walau mungkin ada yang lebih canggih. Termasuk kulupakan si krim anti tua yang menakjubkan. Selain karena pertimbangan ekonomi, kukuatkan imanku untuk tetap setia dengan yang kubutuhkan saja “wes toh, ora usah neko-neko” istilah ibuku kalau mengatakan gak usah macam-macam lah.

Dalam perjalanan pulang, kuputar radio dimobil yang ternyata sedang membahas mengenai penuaan dari sisi kesehatan. Betapa manusia tidak dapat menghindari hukum Allah bahwa semua manusia akan mengalami penuaan. Rambut yang mulai memutih. Gigi yang mulai tanggal. Mata mulai butuh bantuan kaca mata plus. Dengkul mulai ngilu. Perlahan, makanan ini itu harus dikurangin, tips untuk bangun pagi agar tetap segar dan gak berasa engsel-engsel persendian mulai berderik seperti pintu yang engselnya kurang pelumas, mulai didengarkan dan dipraktekan. Belum lagi penyakit-penyakit yang mulai datang menemani kehidupan bila sudah di atas empat puluhan.

Aku tersenyum sendiri dan merasa geli dengan beberapa kejadian sembari mendengarkan talk show di radio yang masih menemaniku di perjalanan pulang. Kuteringat suatu hari masuk ke kamar temanku di hotel dan yang kucium bau balsem dan ada yang isi tasnya tidak pernah ketinggalan “koyo”. Mungkin saat kita remaja, balsem dan koyo bukan lah yang akan kita pilih. Dan gak keren aja buat yang udah dandan cantik dan elegan tapi bau balsem atau koyo.

Matahari senja mulai turun dan langitpun memerah menyemburatkan sinar mentari yang akan hilang sebentar lagi. Kutertegun di tengah kemacetan, kala mobilku berhenti menunggu antrian lampu merah didepanku. Kupandang langit dihadapanku yang sungguh indah dengan gradasi warna biru ke merah dan jingga yang berpadu dengan indahnya, seakan menghibur diri ini di tengah ramainya lalu lintas disekitarku. Nyess….tiba-tiba ada rasa terharu dalam hatiku dan teringat akan satu ayat yang baru kubaca tadi malam.

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (Al Jathiya 45:13)

Kumatikan radio di mobilku seraya kudengar lantunan azan maghrib yang berkumandang dari masjid-masjid sekitar. sungguh luar biasa pelajaran yang Allah sampaikan kepada hamba-hambaNya bila saja kita mau menyimak dan berfikir.

Betapa indahnya masa-masa senja itu bila kita dapat menyemburatkan sinar-sinar yang temaram ke alam sekitar kita. Sinar yang tidak sakit di mata seperti teriknya sinar matahari di siang bolong. Sinar yang meneduhkan dan menyamankan bagi mata yang melihatnya. Masya Allah, kutarik nafas dalam-dalam dan kuhembuskan perlahan merasakan aliran darah dalam tubuhku serasa merinding. InspirasiMu sungguh luar biasa. KeajaibanMu sungguh membuatku merasakan kasih sayangMu yang tiada dapat kuhitung. Siklus matahari dari terbit hingga senja mempunyai masa-masanya sendiri.

Saat matahari terbit laksana bayi yang baru lahir memberikan harapan dan keceriaan bagi orang tuanya dan siapapun yang mengharapkannya. Kala beranjak siang hari, matahari seakan bekerja produktif memberikan sinarnya seperti manusia di usia produktif yang giat bekerja mengeluarkan segenap kemampuan untuk memberikan teriknya bagi alam sekitar. Kemudian saat senjapun matahari memberikan warna yang lain. Warna yang meneduhkan. Warna yang hangat.

Subhanallah…pesan Allaah pada hambaNYA sungguh jelas bagi yang mau membacanya. Setiap masa punya kelebihannya sendiri seperti terbitnya dan tenggelamnya matahari. Penuaan sudah hukum alam. Sudah hukum Allaah yang tiada dapat dihindarkan. Karena sesungguhnya dengan menua, ada rahmat Allaah di dalamnya. Adanya uban di rambut, terlihat mulai ada guratan keriput, flek-flek hitam di wajah, adanya persendian yang ngilu dan tanda-tanda penuaan lainnya, semua adalah anugerah yang harus disyukuri.

Apa jadinya bila teman-teman kita menua tetapi kita tidak? Pernah kah kita membayangkan usia kita ibarat berhenti di satu titik dan kita tidak menua? Ibarat karakter di film highlander yang tidak pernah tua. Bayangkan bila kita tidak akan pernah bertambah tua? Akankah kita sanggup melihat satu persatu teman-teman kita pergi meninggalkan dunia mendahului kita? Anak-anak kita bertambah dewasa sedangkan kita tetap tidak menua? Sanggupkah kita menghilangkan serpihan-serpihan sejarah yang kita lewati bersama dengan orang-orang yang hidup pada masa kita? Kemudian kita menyaksikan generasi demi generasi berganti sementara tampilan fisik kita masih muda namun sebenarnya usia kita sudah tua…Astaghfirullohaladzim….

Beep beep

Klakson-klakson dari mobil dan motor sekitarku membuyarkan renunganku karena lampu telah hijau sementara kendaraan di depanku tidak juga bergerak.

Tak hentinya kupanjatkan rasa syukur padaMu, ya Allah, atas sore yang indah dengan inspirasiMu. Kemacetanpun serasa tetap menyamankan hati dengan pesan-pesan yang Kau sampaikan padaku. Penuaan juga anugerahMu pada hambaMu. Segala krim anti tua dan teknologi yang lahir dari tangan dan pemikiran manusia tiada yang dapat menahan ketetapan yang telah Engkau gariskan.

Kupanjatkan rasa syukur atas setiap helai uban yang ada, garis-garis guratan yang bertambah di wajah dan semua masa yang telah terjadi dalam hidupku baik suka maupun duka. Ya Allah, bimbing hamba selalu agar senantiasa menjadi hamba yang mampu bersyukur atas segala nikmatMU termasuk atas semua penuaan alamiah yang Engkau anugerahkan padaku. Krim anti tua tiada kuperlukan, yang kubutuhkan hanyalah pertolongan dan rahmatMu agar hidup ini lebih berarti bagi sesama. Anugerahilah masa senjaku dengan sinar yang menyamankan sekitarku bukan menyusahkan layaknya sinar mentariMu yang sore itu Kau sajikan penuh dengan keindahan dihadapanku. Berikan diriku akhir yang indah chusnul khotimah  saat kutenggelam di ufuk langit menghadapMu ya Allah, ya Rabbku.

@WiDS September 7, 2015

http://www.wbuenastuti.com

 

 

3 thoughts on “Krim Anti Tua

  1. Ibuuuuu,, bisa aja menganalogikan masa tua dg waktu senja,,
    Menginspirasi saya bahwa masa tua itu bisa kita lihat sebagai masa yg indah, seindah senja😊
    Jadi tidak perlu berusaha menutupi tanda2 penuaan ya Bu,,
    Karena itu salah satu cara ALLAH mengingatkan hamba NYA akan fase hidup berikutnya,,
    Amin Allahumma Amin untuk doa Ibu di 2 kalimat terakhir😘
    Thank you for sharing Bu,,

  2. Kenapa mesti takut akan memjadi tua? Kenapa mesti takut menjadi tidak menarik?
    Menjadi tua itu mengejutkan, tetapi akan lebih mengejutkan saat kita mau meneliti hati kita? Sebenarnya sepanjang perjalanan waktu, seberapakah kita sudah menabung?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s