Hati dan Pohon Kelapa


“Hati dan Pohon Kelapa”

Oleh Widyaretna Buenastuti

Senangnya hatiku saat dikabarkan oleh sahabatku mendapatkan sebuah tiket gratis untuk menghadiri suatu seminar. Rasanya pas banget diri ini lagi haus akan ilmu sejak lulus dari bangku perkuliahan beberapa tahun yang lalu. Terlebih lagi saat membaca jadwal para pembicara dan ada sesi motivasi dari seorang inspirator yang aku telah ikuti beberapa kali dan selalu saja sesi dari beliau membuka mata dan pikiran ini dengan hal hal yang kecil namun sering terlewat begitu saja.

Hari Sabtu yang kunantikan pun tiba dan kulangkahkan kaki dengan semangat ke tempat seminar yang tertera di undangan. Matahari pun serasa mengiringi langkahku tanpa menyengatkan panasnya namun menyinari dengan lembutnya pagi itu. Kutunggu kereta di peron dengan hati yang ringan dan senang. Tak lama keretakupun tiba dan perjalanan tanpa kemacetan dan bebas hambatan pun membawaku dalam 15 menit sudah sampai ditujuan. Menyenangkan sekali.

Pukul delapan pagi, kulirik jamku, tetapi lingkungan kampus tempat seminar berlangsung pun sudah cukup ramai walau di hari Sabtu. Ternyata ada acara penerimaan mahasiswa baru. Kunikmati setapak demi setapak mencari gedung tempat seminarnya. Kampus yang menjadi tempatku kuliah beberapa tahun yang lalu sudah sangat berubah dan benar benar membuat ku pangling. Rasanya rindu kembali ke kampus…..

Setelah lumayan bertanya kepada beberapa satpam yang ada di sekitar kampus, akhirnya kudapati gedung yang rupanya masih baru dan lumayan besar. Alhamdulillah sampai juga di meja registrasi. Ternyata sudah banyak juga peserta yang rajin rajin untuk mengejar ilmu. Kupikir karena diriku gratis jadi semangat. Ternyata yang bayarpun juga semangat. Masya Allah.

Senangnya kembali ke kampus. Dari udara kampus, angin kampus yang terasa saat berjalan di lorong- lorongnya, aromanya, hingga melihat wajah adik adik kelas yang semangat dan berdedikasi untuk menyelenggarakan seminar dengan baik. Semakin membuatku semangat untuk memanfaatkan rejeki “gratis” yang kudapatkan.

Sesi demi sesi telah berjalan dan banyak pelajaran yang kudapat. Tapi sesi yang kutunggu tunggu adalah sesi kelima. Kubuka materi seminar yang ada di dalam seminar kit. Kok gak ada materinya? Ada keraguan di hatiku. Jangan jangan dibatalin karena ada sesuatu hal. Kutahu sang inspiratorku ini memang sibuknya luar biasa. Tapi tentunya bila dibatalkan akan ada pemberitahuan. Ini, gak ada beritanya.

“Dik, sesi yang kelima tentang karir ini gak ada materinya yah?” Penasaranku membuatku tak tahan untuk tidak bertanya ke panitia.

“Emang gak ada materinya kak.” Dijawab dengan singkat oleh adik panitia berseragam hitam hitam.

Semakin membuatku penasaran. Sang inspiratorku ini selalu punya kejutan kejutan yang sering kali gak terpikir olehku. Saat kumenikmati presentasi sesi keempat tiba tiba kulihat sosok yang kukenal memasuki ruangan. Alhamdulillah. Senangnya hatiku melihat beliau hadir dan sehat walafiat. Seperti biasa penampilannya selalu serasi dan menyamankan pandangan mata.

Sesi yang kutunggu pun dimulai. Saat nama beliau dipanggil dan kepanggung, ada papan tulis besar yang juga diangkut oleh panitia. Ckckck…. Pembicara lain pakai slides, beliau memilih pakai papan tulis. Untung bukan pakai papan kapur, kupikir. Pasti panitia akan kerepotan untuk mencari papan kapur.

Tak sabar aku menantikan apa yang akan beliau sampaikan dengan judul “Kejarlah karir setinggi tingginya!” Rasanya pas sekali dengan keadaanku saat ini yang baru saja dipromosikan dan tak sabar kunantikan tips apa lagi untuk bisa mencapai karir yang lebih tinggi lagi.

Setelah diperkenalkan dengan CV nya beliau yang Subhanallah banyak sekali kegiatan dan pencapaiannya, beliau pun memohon ijin untuk menyampaikan pemaparannya dengan pertama kali mengajukan pertanyaan ke sekitar 500an peserta seminar di auditorium itu.

“Mau seberapa tinggi karir yang dikejar?”
“Kalau sudah tercapai terus mau apa?”

Nah loh… Dua pertanyaan pembuka saja membuatku sudah tercengang. Serasa lidahku kelu dan otakku freeze membeku.

Dengan santai dan senyumannya yang meneduhkan, kemudian beliau memulai mengatakan, “apapun mulailah dengan hati. Dengan cinta. Sambil beliau menggambarkan bentuk Hati yang cukup besar di papan tulis. Saat kita mencintai sesuatu kita akan patuh dan ikhlas mengerjakannya.” Aku dengan sadar menganggukan kepalaku. Dan kulihat banyak juga yang bereaksi yang sama didepanku. “Do it with Love”.

“Apa dengan Cinta kita bisa mengejar karir? Karir yang bagaimana?”

Aduh, kenapa aku tetap kesulitan lagi menjawab pertanyaan pertanyaan itu dalam benakku. Satu auditorium pun tidak ada yang mengacungkan tangan dan berani menjawab saat pertanyaan itu dilemparkan. Mungkin semua sama terpakunya dengan diriku.

“Karir setinggi apapun tidak akan ada gunanya kalau hanya untuk diri sendiri. Karir sebagai apapun bila bermanfaat bagi orang lain akan membawa keberkahan luar biasa.”

Masya Allah, Quote yang sudah sering kudengar sebenarnya tetapi aku semakin tercengang bahwa di dalam Al Quran pun Allah telah berfirman dalam surat Al Isra ayat 7 . Beliau pun mengutip sepenggal ayat tersebut “berbuat baiklah yang sesungguhnya kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri…”

“Ibarat seperti pohon kelapa, semua bagian dari diri pohon kelapa itu bisa dimanfaatkan tidak hanya oleh manusia bahkan oleh hewan sekalipun. Batangnya, kelapanya, daunnya, bahkan daun keringnya atau sabut kelapanya semua bisa dimanfaatkan. Karirnya pohon kelapa itu ada di setiap manfaat yang dihasilkannya bagi makhluk hidup lainnya. Pohon kelapa aja bisa bermanfaat dan dapat berkah dari Allah, apalagi manusia?” Dengan suara yang cerdas, beliau pun membuat satu auditorium terkesima.

Masya Allah, benar juga. Lalu para hadirin pun diajak untuk berfikir apakah diri masing masing sudah memberikan manfaat bagi sekitarnya dalam profesi apapun yang sekarang ditekuninya. Baik sebagai direktur, ibu rumah tangga, office boy, atau pengangguran sekalipun.

Satu auditorium serasa hening dan 500an kepala seperti larut dalam fikiran masing masing, tidak terkecuali diriku yang langsung merasa bahwa yang kukejar selama ini hanyalah karir yang bertambah tinggi agar pendapatan juga meningkat. Bahkan terkadang untuk bersedekah saja aku pun masih berhitung, takut kekurangan. Karir yang meningkat agar bunyi jabatannya juga jadi tambah keren. Sedikit sekali kuberfikir bahwa yang kulakukan akan dihitung oleh Allah sebagai amalanku. Sebagai tabunganku di akhirat nanti. Betapa pendeknya visiku yang membatasi karir pada jabatan dunia. Padahal Allah pun sudah mengingatkan kita tentang silaunya dunia, tentang betapa dunia ini hanyalah sementara dan tiada yang kekal.**

Bisakah kuberkarir untuk akhirat?

Astaghfirullohaladzim… Kurasakan luar biasa colekan dari Allah melalui sesi yang memang kutunggu tunggu ini. Rasanya masih jauh diri ini untuk bisa berkarir setinggi tingginya tidak hanya di dunia bahkan untuk membangun karir di akhirat. Padahal banyak kemudahan untuk berkarir setinggi tingginya di akhirat dibandingkan di dunia, tapi telah kulalaikan.

“Do it with love.” Lakukan dengan hati, dengan cinta, cinta kepada Allah dan Rasulullah. Dan lakukan yang bermanfaat bagi sesama dan diri sendiri. Berulang kali disebutkan dalam penyampaiannya.

Sederhana sekali pemaparannya yang tidak membutuhkan slides berlembar lembar, namun gambar Hati dan Pohon Kelapa yang ada di papan tulis tertancap dalam ingatanku, bahkan membuatku terpacu untuk merubah diriku saat ini juga.

Masya Allah, nikmatnya rejeki yang diberikan Allah padaku,melalui kesehatan, tiket gratis, waktu yang luang dan masih banyak lagi nikmat yang kuterima dari Allah hingga kudapatkan ilmu yang bermanfaat di hari itu. Masihkah aku bersombong diri dan berhitung untung rugi pada Allah. Melalaikan kemudahan kemudahan berkarir di akhirat dan menggantinya dengan dunia. Astaghfirullohaladzim, ya Allah bimbing hamba menjadi insan yang bersyukur padaMU, insan yang bermanfaat. Tanpa pertolonganMU hamba tiada mampu menjalankannya. Ampuni hamba ya Allah. Bimbing hamba ya Allah. Berikan hamba kemudahan untuk mendapatakan karir yang Kau ridhoi di akhirat nanti.

*Ditulis seperti yang diceritakan Sahabatku.

**) QS Hud 11:15-16, Al Baqaroh 2:86, Al An’am 32, An Nisa 77, Al Qoshas 77, Al Israa’ 19

@WiDS, Senin, 24 Agustus 2015

http://www.wbuenastuti.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s