Shaf Teristimewa


SHAF TERISTIMEWA

Oleh Widyaretna Buenastuti

Ketika diriku tiba di rumah duka, keranda jenazah tengah di gotong keluar rumah untuk dibawa ke masjid untuk di sholati. Iringan keluarga dan kerabat yang berjalan berbaris dalam suasana duka seakan mengirimkan sinyal-sinyal kehilangan sekaligus kepasrahan akan taqdir Allah yang tiada satu manusia pun di dunia yang dapat menundanya bila panggilan berpulang itu telah ditetapkanNYA. Pagi itu, awan pun seperti memayungi rombongan yang berjalan mengiringi jenazah.

Sayangnya hari itu, diriku berhalangan untuk sholat, sehingga kumenunggu dipelataran masjid sembari bersalam salaman dengan kerabat-kerabat yang tengah mengantarkan jenazah hingga ke masjid. Kuambil tempat yang nyaman di pelataran masjid, sembari mencari posisi yang bisa melihat prosesi mensholati jenazah. Alhamdulillah, banyak juga yang tengah bersiap diri untuk ikut sholat jenazah. Masjid yang berukuran tidak terlalu besar di dalam komplek perumahan itu hampir setengahnya diisi dengan shaf-shaf para kerabat handai taulan yang ikut mensholati jenazah.

Beep beep

Nada handphoneku tanda pesan masuk berbunyi. Kubuka perlahan dan terlihat ada pesan yang masuk berupa kajian islami hari itu. Kubuka perlahan dan seketika bulu kudukku berdiri membacanya. “Saudaraku, sudahkah engkau memilih orang-orang yang akan berdiri kelak mengisi shaf-shafmu, dibelakang jenazahmu ketika kamu disholatkan?”

Astaghfirullohaladzim…. Kutakpercaya dengan pesan yang masuk di handphoneku. Serasa ada yang mencolekku saat kududuk terdiam di pelataran Masjid pagi itu dan tengah menunggu prosesi sholat jenazah. Nyesss…. merinding. Kuangkat kepalaku melihat ke langit, awan tidak bergerak, kutengok ke kanan dan ke kiri melihat sekelilingku, siapakah yang mencolekku, tiada yang berubah semua yang didalam masjid pun masih menunggu prosesi sholat jenazah untuk dimulai. Bahkan daun daun pepohonan pun seakan berhenti bergerak. Sekelilingku tiba tiba saja terasa hening, ibarat tombol mute telah ditekan. Yang bisa kudengar adalah gejolak gejolak benakku yang mencoba mencerna pesan pesan dari Allah.

Allahu Akbar.

Kudengar imam pun memulai takbirnya. Seiring dengan takbir pertama sholat jenazah di mulai, kuterhenyak. Bagaimana bisa kita memilih orang orang yang akan mensholati jenazah kita saat kita pun sudah tiada berdaya terbungkus kain kafan dan terbujur kaku di dalam keranda yang berada di depan imam? Kuperhatikan dengan seksama, kerabat dan handai taulan yang sedang berbaris di shaf-shaf sholat jenazah di dalam masjid.

Benar juga pertanyaan itu. Bisakah kita memilih? Siapa yang akan mensholati kita saat kita meninggal nanti? Kulihat satu persatu wajah wajah jamaah sholat jenazah saat itu. Wajah-wajah yang kukenal berdiri di shaf-shaf itu adalah orang–orang terdekat almarhumah. Orang-orang yang mengenal beliau dengan baik. Orang-orang yang mungkin pernah almarhumah bantu. Aku tidak mengenal semuanya. Namun yang kukenal adalah pribadi almarhumah yang sangat keibuan, mandiri, dermawan dan rajin beribadah. Beliau adalah budeku tercinta yang telah mengayomi diriku dan mendidikku saat aku duduk di bangku SMA dan jauh dari orangtuaku.

Astaghfirullohaladzim … Tak hentinya kulafadzkan dalam hati zikir memohon ampunan pada Allah, kurasakan alam yang seakan ikut pula mensholati kepergian almarhumah budeku tercinta. Kutundukan kepalaku membaca lanjutan pesan yang masuk dalam handphoneku:

Rosulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lantas dishalatkan (shalat jenazah) oleh 40 orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun melainkan Allah akan memperkenankan syafa’at (do’a) mereka untuknya.” (HR. Muslim no. 948)

Tidaklah kita ingin orang-orang sholeh, mendoakan disampingmu, ketika anda wafat? Lalu mentalqinkanmu, lalu memandikanmu, mengkafankanmu, menyolatkanmu, mengantarkan dan menurunkan jenazahmu ke liang lahat sesuai sunnah Rosulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam?

Kemudian setelah itu mereka menengadahkan kedua tangan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memintakan ampunan kepadamu. Tidak pernahkah engkau membayangkan betapa indahnya ini?

Ketahuilah ketika anda wafat, orang yang bersedih adalah orang orang yang mengenal anda. Ketahuilah ketika anda wafat, orang yang menangis adalah orang yang mengenal anda….

Subhannallah…kubaca berulang lagi kata-kata yang tertera di handphoneku… Kulihat kembali wajah-wajah yang hadir mengiringi jenazah budeku. Bahkan di tengah para pengantar hadir pula adik-adik ipar beliau dari Jawa Tengah yang pernah beliau ayomi semasa hidupnya. Mereka hadir tanpa direncanakan untuk mensholati almarhumah. Mereka datang awalnya hanya untuk menjenguk. Namun kuasa Allah mengatur sedemikian rupa hingga kedatangan mereka akhirnya mengantarkan dan mensholati almarhumah. Subhanallah. kalau bukan karena Kasih Sayang Allah yang mengumpulkan orang-orang yang almarhumah mungkin kehendaki, tiadalah mungkin terjadi.
Almarhumah budeku tercinta dikelilingi oleh sebagian besar sanak saudara yang semasa hidup beliau pernah tinggal bersama beliau. Mereka yang pernah dibantu beliau. Termasuk diri ini. Inilah shaf shaf pilihan dari almarhumah yang beliau pilih dari amal membantu sesama, merangkul sanak saudara, membesarkan anak semata wayangnya dengan penuh kesabaran, setia pada almarhum suaminya yang telah puluhan tahun berpulang terlebih dahulu dan senantiasa istiqomah dalam ibadahnya. Ya Allah ampuni beliau dan berikan RahmatMu akan SurgaMU bagi almarhumah.

Ya Allah, kutersadar dan kuterhenyak, atas semua perkenalan di dunia ini, atas semua silaturahim yang kita rawat selama kita di dunia, atas semua amal baik pada sesama adalah semata mata untuk diri kita sendiri. Inikah yang Kau firmankan, bahwa semua amal kebaikan akan berbalik untuk diri kita? Karena sesungguhnya kitalah yang membutuhkan pertolongan itu. Terlebih saat diri ini telah terbujur kaku, tiada lagi yang dapat kita lakukan. Hanya amal ibadah kita lah yang membantu kita.

Dalam diamku, semakin kutertunduk dan meneteskan air mataku. Ya Allah bila nanti saat diri ini tiba Kau panggil menghadapMU, akankah jiwa raga ini diiringi oleh orang-orang yang mengenalku? Ataukah aku berpulang padaMU dengan tanpa ada yang mengantarkanku? Ya Allah akankah diri ini layak untuk dimintakan ampunan oleh saudara-saudaraku? Akankah ada yang mensholati aku? Siapakah yang akan hadir membantu jenazahku hingga ke liang kubur?

Apakah anak-anakku? Apakah sanak saudaraku? Apakah teman-teman kantorku? Ataukah teman-teman sekolahku? Ataukah teman-teman pengajianku? Akankah mereka ikhlas datang membantu jenazahku? Akankah mereka mendoakanku dalam sholat jenazah untuk diri ini? Walahualam bisawab.

Ya Allah hanya Engkaulah yang mempunyai kuasa mengetahui yang ghaib. Tak kuasa kubayangkan. Bahkan terlintas pun tidak, siapa saja yang akan mensholatiku? Rasanya takut untuk memikirkannya bahkan berharap pun tak kuasa kulakukan. Tapi kusadari waktu itu akan pasti datangnya. Bimbing hamba selalu ya Allah dalam memilih shaf shaf teristimewa. Mudahkan langkahku ya Allah dalam menggapai syafaatMU. Ampun ya Allah. Aamiin ya Robbal alamin…
@WiDS Ahad, 19 July 2015

http://www.wbuenastuti.com

6 thoughts on “Shaf Teristimewa

  1. I hope when the time come i already prepared all the closest one to be ready and i do hope when the time come those around me ikhlas, only by then i knew i chosed my path wisely and only by then i could say alhamdulillahi rabbil alamin as i finished my time here.

  2. SubhanALLAH,,
    Ga terpikir itu sebelumnya Bu,,
    Bahwa qt bs ‘memilih’ siapa2 yg akan berada d shaf terdepan saat qt wafat nanti,,
    MasyaALLAH,, smg msh ada waktu untuk terus memperbaiki diri hingga tiba waktunya diri ini dipanggil oleh MU,,
    Terima kasih reminder nya Bu☺

    • Masih banyak yang kita gak terfikirkan… Alhamdulillah diriku pas “dicolek” sama Allah saat itu, jadi bisa lahir tulisan ini.
      Sekarang kalau kita takziah kejarlah waktu mensholati jenazah yah…spy yg meninggal dpt syafaat, kita pun dapat 1 qirot yg sebesar gunung uhud…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s