Mau Makan Apa?


Mau Makan Apa?
Oleh Widyaretna Buenastuti
“Bu, mau masak apa hari ini?” Pertanyaan rutin pagi hari untuk menentukan menu santapan di rumah. Pertanyaan yang senantiasa cukup memutar otakku setiap pagi hari agar anak-anak berhasrat makan dan mudah menyiapkannya. Siasat punya siasat, seringkali kulemparkan kembali pertanyaan ini kepada anak-anak. Biasanya it works dan mereka selalu antusias menghabiskannya.
Urusan menu makanan di rumah beres, tapi ini belum selesai sampai disitu. Sesampai di kantor, pertanyaan yang hampir sama pun aku terima,

“Bu, mau makan siang apa hari ini?“ Yang biasa ditanyakan oleh office boy atau sekretarisku dikantor sebelum waktu makan siang.
Wuaduh, pertanyaan yang selalu susah untuk menentukan pilihan. Lebih susah dari pada menjawab pertanyaan dari bosku. Setiap pertanyaan yang sama ini ditanyakan di hadapanku, sebelum menjawabnya, aku seringkali menyadari diriku menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan untuk membuatku tenang memikirkan, makanan apa yang kuinginkan untuk diriku.
Terbayang dalam keseharian kita, pilihan-pilihan selalu kita harus hadapi. Urusan menu masakan di rumah, urusan pilihan makan siang hanyalah 2 pilihan diantara ribuan atau mungkin jutaan pilihan yang bergejolak di dalam benak kita, sejak kita tersadar bangun hingga kita memejamkan mata untuk mengistirahatkan badan kembali. Bangun sekarang atau tarik selimut lagi? Setelah bangun, mau olahraga atau langsung mandi? Pilih baju yang hijau atau hitam? Dan seterusnya, dan seterusnya hingga kita memejamkan mata untuk tidur kembali di malam hari. Selalu ada pilihan dalam setiap detik yang kita lewati dalam kehidupan kita. Tidak berhenti dalam sehari tetapi seumur hidup kita, selama kesadaran masih diberikan Allah kepada kita. Apapun keadaannya, kita harus memilih. Pilih makan siang apa yah? Pilih baju yang warna apa yah?

Sampai-sampai, suatu hari saat saya ingin menyantap makan siang saya di pantry, saya memperhatikan setiap saya bertemu si Fulan, pilihan makan siangnya selalu nasi goreng telor. Waktu saya tanya, apa gak bosan makan dengan menu yang sama setiap hari?

“Malas mikir bu, yang penting saya makan.” Hmmm… jawaban yang menarik, jawaban yang membuatku cukup tergelitik untuk mencernanya.

Bukankah makan merupakan suatu kebutuhan dasar manusia? Dari mulai seorang bayi terlahir ke dunia, ia harus mendapatkan asupan yang cukup dan bergizi untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya? Namun jawaban, …yang penting saya makan… rasanya janggal di hati.

Kalau semua pilihan yang kita buat hanya di dasari, yang penting saya makan, yang penting saya pakai baju, yang penting saya bekerja, yang penting saya sudah menyapa dan yang penting lain-lainnya, apa jadinya dengan pilihan itu? Apa jadinya dengan perasaan kita setelah memilihnya?

Bukankah kita menjadikan pilihan itu menjadi suatu formalitas belaka untuk memenuhi kebutuhan diri? Apakah pilihan itu menjadi berkesan buat diri kita? Pernah tidak memilih sesuatu karena kita merasa bersemangat untuk memilihnya dan berantusias untuk memilihnya? Pernah bukan? Bayangkan rasa yang membuat kita menjadi semangat untuk memilihnya dan akan mencoba melakukannya bila ada kesempatan pertama untuk mendapatkannya atau melakukannya.
Seperti saat kita menghadapi atau membayangkan makanan favorit kita. Nasi pecel madiun atau nasi putih hangat dengan tempe goreng yang baru mentas dari penggorengan ditambah kecap dan sambal tomat sudah bisa membuat hasratku untuk menyantapnya walau dalam bayangan semata. Atau aroma rendang yang terbayang di dalam benak hingga membuat rindu akan rendang buatan mamak, temanku yang asli Padang bercerita.

Pilihan menu makan yang menggairahkan hasrat dan menumbuhkan selera akan memacu diri untuk berusaha mendapatkannya dan tidak sekedar hanya untuk mengisi perut belaka atau yang penting makan. Namun ada kecintaan, kerinduan terhadap menu makanan yang kita inginkan atau idamkan. Memakannya pun tidak sekedar yang penting makan, tapi ada makan dengan penuh gairah.

Selagi kutuliskan rasa-rasa yang kucerna ini, kudengar lantunan adzan Zuhur berkumandang seakan memenuhi ruang langit-langit yang luas. Pilihanku, meneruskan tulisan ini atau memenuhi panggilan Allah? Kutarik nafasku kembali dengan mendalam. Merasakan inspirasi yang mengalir di dalam benakku. Rasa semangat untuk memenuhi panggilan Allah menggelora dan serasa seluruh alam pun mengumandangkan tasbih akan keagungan Allah dalam lantunan adzan itu. Kututup laptopku dan bergegas mengambil air wudhu untuk sholat.

Sholat Zuhur ku kali itu sungguh luar biasa. Kurasakan ada bayangan akan keindahan semesta alam yang tiada kata dapat menggambarkannya. Kuresapi setiap doa dan gerakan dalam sholatku dengan khusyu‘. Semakin kuresapi hingga akhir dari sholatku dan kurenungi inspirasi dari Allah yang dikirimkanNYA padaku siang itu, kumenundukan kepala kembali dalam sujudku di atas sajadahku.

Masya Allah. Nyessss…..Luar biasa sekali ilham yang coba ditunjukan Allah kepadaku siang itu. Berawal dari pertanyaan menu makanan hingga ke sebuah jawaban yang menggelitik, “yang penting makan“. Astagfirullohaladzim… jangan sampai aku pun menjawab, yang penting sholat, yang penting puasa, yang penting sudah sedekah. Apa iya ibadah kita ini bisa dijawab dengan kata-kata ini. Seakan semua hanya formalitas belaka. Seakan kewajiban telah dipenuhi dan cukup sudah tugas ibadah tertunaikan.

Jangan. Jangan sampai diri ini menjadikan ibadah hanya formalitas. Rasa nikmat bergairah saat menunaikan ibadah sholat Zuhur yang baru saja kulaksanakan adalah karena ingin kugapai RahmatMU ya Allah. Perintah menunaikan sholat yang telah Kau firmankan kepada Rasulullah Sallalahu alaihi wasalam dan juga nabi-nabi MU yang lain adalah semua karena Kasih SayangMU kepada hambaMU, Ya Rahmannir Rahim. Engkau menyediakan waktu khusus bagi hambaMU untuk dapat berkomunikasi langsung kepadaMU, walaupun Engkau tetap menyediakan setiap waktu untuk mendengarkan doa-doa hambaMU. Ampuni hambaMU ya Allah yang tiada luput dari kesalahan dan kelalaian. Semoga semua yang kulakukan mengikuti perintahMU dan Rasulullah adalah karena keinginan jiwa dan kesadaran diri untuk menjadi hambaMU yang mendapatan Cinta dan RahmatMU dengan penuh rasa syukur atas segala nikmatMU, bukan sekedar formalitas saja. Bimbing hambaMU ya Allah. Amin ya Robbal alamin.

©WiDS Saturday, June 13, 2015

http://www.wbuenastuti.com

4 thoughts on “Mau Makan Apa?

  1. Subhanallah…terima kasih untuk cerita paginya bu…kisah yang membuat saya tersadar kembali, bahwa semua perjalanan ini direncanakan dan terjadi bukan “Asal”..tetapi semuanya ada tujuan..Allah Maha Baik dengan semua rencananya…..Amiin

    • Ciptaan Allah tiada yg sia sia Sebagaimana tertulis dlm QS Al Baqarah 2:26-29 dan ayat2 lainnya yg bertaburan bahwa tdk ada yg Asal diciptakanNYA. Semoga kita senantiasa dibimbingNYA dan terjaga hati ini utk mensyukuri segala Kasih SayangNYA melalui ibadah kita yg tidak asal asal an. Terimaksih pak Andri atas sharing komentarnya.

  2. Huwaaaa,, booster sblm ramadhan niy,,.
    Tema nya pas untuk buat target Ramadhan,,
    Biar target ramadhan nya ga cm ‘yg penting’ dan formalitas,,
    Terima kasih reminder nya Bu😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s