Ketokan Pintu


Ketokan Pintu

Oleh Widyaretna Buenastuti

Dalam kehidupan kita di dunia, banyak kejadian-kejadian yang seringkali membuat hati was-was, trenyuh, bahagia dan bahkan perasaan yang bercampur aduk. Seperti halnya pada suatu sore, saat kami sedang bersantai di apartemen di tanah suci setelah menyelesaikan seluruh rangkaian kewajiban ibadah haji, tiba-tiba pintu apartemen kami digedor-gedor. Suara gedoran pintu yang cukup mengaggetkan. Obrolan yang tengah hangat mengulang kembali beberapa hikmah ibadah, tiba-tiba terhenti. Kutatap wajah teman-teman jamaahku dan semua menyiratkan ketakutan serta bertanya-tanya siapakah gerangan yang dengan begitu kasarnya menggedor pintu kamar kami. Karena pintu tidak kunjung kami buka, gedoran yang kedua kalinya pun bertambah keras. Layaknya gedoran seseorang yang sedang marah dan ingin melabrak seseorang diantara kami. Kamar yang berisi 3 orang perempuan ini pun mendadak sepi dan diliputi dengan rasa ketakutan. Kulihat kedua temanku saling merapat dan berpegangan tangan. Tapi tidak ada yang bergerak bangun untuk mengarah ke pintu.

Dengan mengucap Bismillahirohmanirahim, kuberanikan diri untuk mengarah ke pintu dan membukanya dengan pelan-pelan seraya kuintip terlebih dahulu.

Saat kuintip melalui celah pintu yang kubuka sedikit, aku melihat seorang wanita dalam hijab hitam yang tertutup rapat dan memakai cadar. Dari perawakannya aku mereka-reka bahwa ia adalah warga setempat. Terlintas di pikiranku ada apa gerangan dan apa maunya hingga ia menggedor pintu kamar dengan sekeras itu? Jangan-jangan ia ingin meminta-minta atau memeras kami.

Saat kubuka sedikit, ia bisa melihatku dan mengucapkan salam sembari memanggil 2 anak kecil yang rupanya berdiri di belakangnya sambil membawa satu nampah besar berisikan nasi mandi berserta lauk pauknya. Nasi khas arab yang dimasak dengan rempah-rempah khasnya. Subhanallah. Alhamdulillahirobil alamin. Hatiku pun seketika lega dan plong rasanya.

Rupanya warga setempat yang bertetangga dengan kami bermaksud menyampaikan kebahagiaan mereka dan menjalin silaturahim dengan kami. Pintu pun kubuka selebar-lebarnya dan mempersilahkan mereka masuk ke dalam apartemen kami. Wajah-wajah teman jemaahku pun yang sebelumnya pucat pasi telah berubah menjadi merah merona, terlebih lagi dengan melihat makanan yang berlimpah ruah. Setelah menyerahkan tampah nasi mandi pun mereka berpamitan untuk kembali, lagi pula kami pun tidak ada yang bisa berbahasa arab, semua komunikasi hanya menggunakan bahasa tubuh saja dan kata-kata yang sudah lazim kami gunakan dalam bahasa standard percakapan.

Ditengah keriangan teman sekamarku menikmati hadiah nasi mandi, rasa bersalah di hatiku menggerayangi secara luar biasa. Astaghfirullohaladzim. Malu rasanya. Aku tidak sanggup untuk memulai makan hadiah tersebut. Walaupun tak kuucapkan namun sudah sempat terlintas di dalam pikiranku akan kecurigaan pada tetangga yang rupanya berniat baik pada kami. Ampun ya Allah. Ampun, ku telah berburuk sangka pada hambaMU.

Perasaan bersalah ini pun bertambah lagi saat aku tengah berjalan di koridor dalam apartemen kami dan melihat sendiri cara orang arab mengetuk pintu. Istilah yang kupakai untuk menggedor pintu adalah sebenarnya budaya dari orang arab dalam mengetuk pintu. Seakan Allah ingin menunjukkan kepadaku saat itu juga bahwa memang begitulah adabnya mengetuk pintu bagi warga arab. Bukan tok tok tok tetapi dog dog dog. Astaghfirullohaladzim. Lagi-lagi membuatku beristighfar telah berburuk sangka terlebih dahulu dan Allah langsung memperlihatkannya di depan mataku.

Sebuah ketukan pintu yang bisa menyebabkan seseorang berburuk sangka pada sesama yang hanya karena ketidak tahuan dan kurangnya ilmuku. Namun, bukankah kita juga dianjurkan untuk senantiasa berhati-hati terlebih lagi sedang berada di perantauan, suatu tempat yang asing bagi kita? Benar. Penting bagi kita untuk waspada selalu, namun pada saat gedoran pintu di apartemenku dan saat kuintip melalui celah pintu, sudah terlintas sekelebat kecurigaan, dan inilah pikiran buruk terhadap sesama hamba Allah yang kusesali.

Gedoran pintu itupun mengingatkanku pada betapa banyaknya kecurigaan-kecurigaan yang menghinggapi diri ini dalam keseharian. Kubawa rasa bersalah akan kecurigaanku pada hamba Allah untuk membenamkan diri dalam tobatku. Allah kembali memberikan pelajaran berharga bagi diri ini. Tanpa diminta, ingatan akan betapa diri ini juga sering berburuk sangka terhadap orang-orang terdekat seakan muncul begitu saja. Bahkan terhadap pasangan kita yang kita cintai. Saat ia menanyakan dimana kita berada, sering kali kita berprasangka buruk bahwa ia tidak percaya dengan kita. Padahal karena cintanya, wajar sekali pasangan kita ingin mengetahui keberadaan kita. Bukankah diri kita juga akan tenang bila kita mengetahui keberadaan pasangan kita?

Pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya wajar saja, Sudah makan belum? Tadi makan siang di mana? Makan sama siapa? Nanti pulang jam berapa? Kenapa telphonenya gak diangkat? Dan tentunya banyak lagi pertanyaan-pertanyaan rutin yang bisa kita tanyakan setiap harinya dengan pasangan kita. Kenapa harus curiga? Apakah ada yang kita sembunyikan? Saat kita merubah mindset ke positif thinking bahwa itu adalah bahasa cinta, in syaa Allah jawaban yang keluar dari hati dan lisan kitapun akan indah.

Membayangkan hari-hari dimana suamiku menelpon untuk menanyakan kabar diriku saja saat itu memberikan rasa rindu yang luar biasa. Benar rasanya bahwa Husnuzan (Berprasangka Baik) lebih menyehatkan dari pada Suudzon (Berprasangka Buruk). Rasa rindu itu membuatku semakin membenamkan diri dalam tobatku pada Allah dan semakin kurasakan rangkulanNYA yang penuh dengan Kasih Sayang kepada hambaNYA yang tiada berdaya ini dan penuh dengan khilaf dan dosa. Astaghfirullohaladzim.

©WiDS Saturday, April 25, 2015

www.wbuenastuti.com

 

 

 

2 thoughts on “Ketokan Pintu

  1. Dear Bu Wid,,

    Hiks,, banyak istighfar untuk membersihkan hati n pikiran dr prasangka buruk,,
    Krn hati ini rentan dibolak balik,,
    Makasiy reminder nya Bu😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s