Pulang Kampung Yuk!


Pulang Kampung Yuk!

Oleh Widyaretna Buenastuti

Pembukaan percakapan setelah masa lebaran usai biasanya di mulai dengan

“Mudik gak Pak kemarin?“

Dan beragamlah cerita tentang pengalaman mudik alias pulang kampungnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah berapa jam yang dihabiskan untuk berada di perjalanan. Pertemuan dengan keluarga yang sudah sekian lama tidak berjumpa dan cerita-cerita yang luar biasa dari pulang kampung. Fenomena “Pulang Kampung Masal“ di Indonesia ini memang luar biasa di saat-saat mudik untuk lebaran. Kemungkinan ini merupakan tradisi yang hanya ditemukan di Indonesia.

Bahkan cerita yang dari tahun ke tahun tentang kemacetan, keribetan, keruwetan dan segala hal yang harus ditempuh dengan penuh perjuangan untuk mencapai kampung halamannya pun bukanlah cerita yang tidak diketahui. Tetapi tetap semangat untuk pulang kampung mengalahkan semua kepenatan dan keribetan-keribetan yang harus di lalui. Tidak peduli mau menghabiskan sehari semalam di perjalanan yang seharusnya bisa di tempuh hanya dalam 10 jam. Belum lagi dengan biaya yang perlu dikeluarkan yang lebih besar dari hari biasanya.

Apa yang dikejar? Apa yang diidamkan untuk pulang kampung? Angan-angan dan cita-cita yang terkadang terdengar sederhana tetapi bermakna tersendiri untuk setiap insan-insan yang merindukannya.

Bertemu dengan orang tua di kampung halaman sudah pasti dikejar bagi mereka yang merantau. Makanan kesukaan khas daerah. Suasana lebaran dan sholat Eid di kampung yang berbeda dengan di kota. Tempat-tempat masa kecil yang menjadi tempat main dan punya kenangan tersendiri juga menjadi bagian tersendiri. Ada beribu-ribu alasan untuk pulang kampung. Bahkan aroma rumah di kampung pun menjadi suatu kerinduan tersendiri.

Sembari menikmati hujan sore di teras rumahku, kutersenyum merenungkan fenomena unik ini dan merefleksikan pada diri ini. Kalau ada yang bertanya kampungku dimana, aku selalu bingung menjawabnya dimana? Karena memang tidak pernah hidup di kampung kecuali tinggal di kampung Jakarta ini. Pengalamanku pulang kampung terbentuk karena mengikuti arus pulang kampung ke tempat keluarga suami yang berada di sebuah desa di Jawa Tengah. Itupun kurela dan kunikmati bersama keluarga untuk mengikuti arus mudik Pulang Kampung Masal walau menempuh segala keribetan yang biasa harus dilewati.

“Beep Beep“. Tiba-tiba ada suara notifikasi chat masuk di handphoneku dan kulihat pada layar, sebuah pesan tausyiah sore dari grup kajian yang aku ikuti:

Tiket Pulang Kampung bagi para Wanita

  1. Sholat 5 waktu
  2. Berpuasa di bulan Ramadhon
  3. Menjaga Kemaluan (perbuatan zina)
  4. Taat pada suami

Silahkan masuk ke pintu kampung surga manapun yang engkau kehendaki. (HR.Ahmad)

Astaghfirullohaladzim. Bener juga. Siapa bilang diri ini tidak punya kampung? Hatiku tiba-tiba tersentak, sepertinya Allah mendengar renunganku dalam batinku. Subhanallah. Bukankah suatu hari kita semua akan kembali ke kampung yang sama? Kampung Akhirat. Tatkala terompet sangkakala ditiupkan untuk pertama kalinya meruntuhkan dan memberhentikan semua yang berjalan di dunia ini? Kemudian kita dibangkitkan kembali dengan tiupan yang kedua untuk menghadap pada Allah Sang Maha Pencipta? Astaghfirullohaladzim. Akankah perasaan pulang ke Kampung Akhirat nanti akan seindah dan serindu saat kita pulang kampung di dunia? Mungkin yang ada adalah perasaan takut dan merinding saat memikirkannya. Bahkan mungkin tidak mau membayangkan atau meneruskan membaca ini.

Wajar. Fitrahnya manusia memang mencintai apa yang menyamankannya dan takut akan sesuatu yang masih dalam bayangannya apalagi bila diri ini masih merasa belum siap untuk menghadapinya. Membayangkan Kampung Akhirat memang ada Surga dan Neraka. Pesan yang masuk dalam handphoneku memberikan jalan untuk ke kampung Surga. Kampung yang dijanjikan oleh Allah bagi orang-orang yang beriman, senantiasa bersyukur dan bersabar. AllahuAkbar. Bukankah ini kampung yang sungguh indah? Masihkah kita menolak TiketNYA?

Sore yang syahdu dengan turunnya hujan yang membawa berkah semakin terasa masuk ke relung hati dan membuatku semakin tertunduk malu mengingat apakah bekalku sudah cukup untuk aku pulang ke kampung Surga? Bila di dunia ini saja aku rela dan ikhlas untuk pulang ke kampung yang tidak ada ikatan batinnya denganku, akankah aku bisa ikhlas juga menjalankan semua perintahNYA dan menjauhi laranganNYA demi mendapatkan kampung yang Maha Indahnya yang tiada ada tandingannya di dunia ini.

Bila diri ini bisa semangat menyiapkan diri dan bekal untuk pulang ke kampung suami, ikhlas dan rela melewati keribetan dan kemacetan berjam-jam untuk mencapai tujuan, kenapa tidak memulai semangat dan istiqomah untuk menyiapkan bekal untuk pulang ke kampung surga yang telah Allah janjikan?

Ya Allah, ampuni hamba ya Allah. Hamba seringkali masih sering mengomel, menggerutu akan keribetan diri ini menjaga aurat, menjaga sholat, menahan lapar di saat puasa, menjaga kehormatan dan terutama yang paling utama seringkali tidak mensyukuri anugerahMU atas suami yang telah Engkau pertemukan dalam kebaikan untukku. Ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, bimbinglah hambaMU selalu, jagalah hidayahMU ini dan berikanlah RahmatMU padaku dan keluargaku. Amin ya Robbal Alamin.

©WiDS Saturday, April 4, 2015

www.wbuenastuti.com

6 thoughts on “Pulang Kampung Yuk!

  1. Kampung akhirat y,,
    Memulai nya mudah,, tp istiqomahnya itu Bu yg sulit,,
    Tp bukan berarti ga mungkin ya Bu,,
    Smangat memperbaiki diri😄
    Terima kasih sharing nya Bu😙

  2. …sangat menyadarkan untuk selalu ingat kembali kejalan kampung akhirat, setelah tersesat belantara jalan kampung dunia yang hanya sekejap dan menyilaukan ini…thanks mbak Widya yg luarbiasa…semoga yang tersadarkan karena tulisan inspiratif ini menjadi hiasan pemandangan ladang amal yang indah di jalan menuju kampung akhirat..

    • Kak Ria, kata kata nya indah sekali. Rasanya memang jalan pulang kampung akhirat yang mungkin takut utk dirindukan karena tersilaukan dgn kampung kampung di dunia yg hanya tempat singgah. Semoga kita semua terjaga ke Istiqomahan kita menuju jalan pulang kampung ke akhirat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s