Motor dan Sepatu Boot


Motor dan Sepatu Boot

Oleh Widyaretna Buenastuti

 

Dalam suatu pertemuan keluarga yang diselenggarakan di rumah kerabat, tiba-tiba ada diskusi yang hangat di suatu pojok teras. Sekelompok pemuda yang sebaya sedang ramai dan antusias membicarakan sesuatu. Usut punya usut ternyata sedang ada pembahasan tentang masuknya motor terbaru yang punya kemampuan dan fitur lainnya yang cukup membuat para pecinta motor menjadi jatuh cinta.

Sambil mengantarkan cemilan kucoba mencari tahu apa yang membuat mereka tertarik. Ternyata salah satu dari mereka bekerja di perusahaan yang mengimpor motor tersebut dan sedang ada program discount yang cukup menarik. Rupanya, tidak hanya mereka membicarakan mengenai kemampuan dari motor keluaran terbaru tersebut, bahkan transaksi pun terjadi. Sudah ada yang tertarik untuk membelinya.

Lain pemuda, lain pula para gadis. Kalau di lingkungan para gadis atau ibu-ibu, tentunya bukan motor yang jadi bahan pembicaraan yang seru, akan tetapi obyek yang seringkali juga kadang tidak masuk akal, yaitu tas bermerek atau sepatu bermerek desain dari perancang terkenal. Ditambah lagi bila merek tersebut akan mengeluarkan edisi yang terbatas dalam waktu yang singkat, atau ada periode discount. Bukan suatu hal yang aneh bila transaksipun bisa terjadi saat itu juga. Padahal harga sebuah tas atau sepatu bermerek itu pun bisa berjuta-juta.

Sembari kupandang sekeliling ruangan, mataku tertuju pada suamiku yang sedang berbincang dengan kakak iparku. Mereka berdua terlihat sama sekali tidak tertarik untuk nimbrung ke “geng pemuda pecinta motor” itu. Sambil menawarkan cemilan ke mereka berdua, kulontarkan pertanyaan kepada kakak iparku:

“Mas, gak tertarik untuk beli motor baru?”

Kakak iparku menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, tetapi yang membuatku takjub adalah jawaban berikutnya ketika kutanya, kenapa ia tidak tertarik.

“Aku gak butuh dek. Cukup dengan motorku yang sekarang, lagipula aku lebih bisa tenang. Kalau masuk waktu sholat, parkir di masjid atau di manapun, aku gak perlu was-was dengan barangku termasuk si motorku itu dan sholatku bisa lebih khusyu. “

Nyessss serasa diri ini tersiram air es dingin yang membuat lidahku kaku tidak bisa berkata apa-apa dan hati ini tersentil akan jawaban yang mendahulukan Allah dalam orientasi membeli barang. Kakak iparku yang seorang pengajar memang mempunyai motor yang setahuku dibelinya juga bukan dari barang baru. Motornya pun juga bukan yang punya kemampuan yang spesial. Katanya cukuplah motor itu bermanfaat untuk mengantarkannya bekerja dan beribadah. Kesahajaannya memang patut untuk dijadikan panutan.

Astaghfirullohaladzim, sebelum pembicaraan itu, tidak terlintas dalam pikiranku kekhusyu’an sholat bisa menjadi salah satu kriteria untuk membeli suatu barang. Benar juga apa yang disampaikan kakak iparku. Tidak ada yang kebetulan. Allah mengirimkan pesan padaku dengan sangat jelas.

Jadi teringat sepatu boot yang kupunya di rumah yang terkadang membuatku jadi menunda untuk sholat hanya karena susah untuk membukanya. Atau baju yang bagus tetapi sulit untuk berwudhu. Astaghfirullohaladzim. Tak henti-hentinya aku merasakan tersentil oleh pernyataan sederhana dari kakak iparku yang memang sangat bersahaja.

Kadangkala motif kita membeli barang hanya karena sedang trend, atau mumpung discount, atau lucu aja tapi belum tau buat apa, atau alasan-alasan lainnya yang hanya semata-mata mengejar duniawinya saja bukan karena untuk memudahkan kita beribadah. Bukan karena kebutuhan untuk beribadah kepada Allah Sang Pemberi Rejeki. Kupandangi tas dan sepatuku dari kejauhan dan mengingatnya kembali, apa alasanku untuk membeli barang-barang itu?

Kini, sepenggal kalimat itu senantiasa terngiang-ngiang di dalam benakku. Nanti sholatku khusyu‘ tidak kalau aku beli barang itu? Atau nanti ibadahku terhalang tidak dengan membeli barang itu? Akankah barang-barang ini memberatkan hisabku nanti di akhirat? Apakah barang ini memang kubutuhkan atau tidak?

Ya Allah, sungguh indah cara Engkau mengingatkan diriku. Ampuni hamba ya Allah yang masih seringkali silau dengan gemerlapnya dunia, padahal tiada yang abadi di dunia ini. Bimbing hamba ya Allah agar senantiasa ingat kepadaMU dan bertawakal kepadaMU. Hanya padaMU. Amin ya Robbal alamin.

 

©WiDS Jakarta, Ahad, 29 Maret 2015

www.wbuenastuti.com

4 thoughts on “Motor dan Sepatu Boot

  1. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin ya Bu,, snantiasa diingatkan oleh ALLAH dengan cara NYA dan diberi kejernihan hati untuk menangkap pesan itu,,
    Terima kasih untuk membagi cerita ini Bu😘

  2. Allah sudah memperingatkan manusia untuk tidak hidup mewah. Itu tertera dalam untaian ayat-ayat indahnya melalui surah At-Takatsur (Q.S.102:1) bahwa hidup bermegah-megah hanya akan melalaikan kita. Hidup di era modern ini banyak godaannya, terlebih kita kaum hawa. Moga2 Allah SWT selalu menjaga kita dari sifat-sifat yang menyesatkan ya, Wid… Nice post 🙂

    • Amin Ya Robbal Alamin… Bahkan sahabat2 nabi saja bisa menangis krn banyak harta sementara kita terkadang sedih krn merasa gak punya harta… Astaghfirullohaladzim… Smg kita bisa sll memperbaiki diri yah Dewi. Thx sharingnya yah say.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s