Siapa yang Sombong?


Siapa yang Sombong?

Oleh Widyaretna Buenastuti

 

Saat diriku hendak pulang dari kantor, handphoneku berdering. Kulihat nama Dinda di layar. Ada cerita apa lagi nih?

Assalamualaikum, kubuka percakapan dan dijawab oleh Dinda di ujung telepon. Seperti biasa tanpa basa-basi, Dinda langsung bercerita dengan semangatnya.

“Mbak, aku kemarin ketemu ibu Fulan di seminar. Tapi dia sombong deh.“ Dinda berceloteh di ujung telephone malam itu.

“Kenapa kamu bisa bilang ibu Fulan sombong, Din?“

“Gini mbak, Ibu Fulan kan jadi salah satu pembicara di seminar itu, trus pas coffee break, kita kebetulan bareng ke toilet. Masa dia gak nyapa aku. “

Kalimat Dinda yang terakhir itu membuat aku tertawa yang tidak bisa aku tahan lagi.

“Mbak kok, ketawa sih? Apa ada yang salah?” Dinda rupanya bingung dengan reaksiku mendengar ceritanya.

“Gimana mbak gak ketawa Din? Kamu itu lucu. Sekarang coba kita telaah yah. Karena ibu Fulan gak nyapa kamu, terus kamu mengecap beliau sombong? Kenapa gak kamu duluan aja yang nyapa beliau? Jadi yang sombong siapa? “

“Astaghfirullohaladzim. “ Aku dengar Dinda beristighfar di ujung telepon mendengar penjelasanku.

Pembicaraan dengan Dinda selalu memberikan kepada diriku keceriaan dan inspirasi yang luar biasa. Hal-hal yang sederhana kadang kala memberikan arti tersendiri ketika kita coba telaah dengan hati yang jernih. Situasi seperti yang dialami Dinda mungkin terjadi dekat dengan kita. Bahkan mungkin kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang suka langsung mengecap seseorang padahal kita lupa berinstrospeksi terhadap diri kita sendiri.

Hanya karena seseorang gak menyapa kita, lalu ia kita cap sebagai sombong. Padahal, mungkin saja seseorang seperti Ibu Fulan, lupa dengan wajah atau nama kita. Apa salahnya bila kita yang telah mengenal beliau untuk mendatanginya sambil menyampaikan lagi nama kita? Hal buruk apa atau hal memalukan apa yang kira-kira akan terjadi bila kita mendatangi beliau? Kemungkinannya ada dua yaitu dia ingat dengan kita atau dia memang benar-benar tidak ingat dengan kita. Iya kan?

Syukur Alhamdulillah bila yang bersangkutan masih mengenali kita, sehingga kita terselamatkan dari rasa malu bila situasi ini berada di lingkungan publik. Lalu bagaimana seandainya bila ia lupa dengan kita? Tidak ada salahnya bukan untuk memperkenalkan diri lagi dan membuka percakapan baru? Apalagi ibu Fulan habis bicara di seminar, mungkin bisa dicari topik yang baru ia bahas. Terlebih lagi bila hati kita diluruskan niatnya untuk menjalin silaturahim. Karena sebagaimana sabda Rasulullah Alaihi Wassalam “Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturahim niscaya umurnya akan diperpanjang, hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” (HR Bukhari).

Berbeda lagi situasi yang pernah di alami oleh temanku di kantor (sebut saja Ananda) yang bercerita bahwa ia dikatakan sombong oleh teman-temannya karena tidak pernah kumpul dengan teman-temannya yang pernah satu kantor dengannya dan kini sudah berkarir di kantor yang berbeda.

Suatu hari Ananda berkumpul kembali dengan teman-temannya untuk makan malam bersama. Memang Ananda sudah lama sekali tidak bertemu mereka. Berada di tengah mereka, Ananda bercerita bahwa ia merasa kikuk dan lebih banyak diam mendengarkan celotehan teman-temannya. Ananda merasakan banyak tertinggal cerita-cerita yang sepertinya mereka saling bisa menyahut, sementara tidak bagi Ananda. Rasanya ada jarak di antara mereka.

Hingga katanya, ditengah pembicaraan yang sedang hangat, tercetuslah pernyataan dari temannya

“Abis elo sombong sih Nda, gak pernah ngumpul sama kita lagi jadi banyak ketinggalan cerita!”

“Aduh mbak, aku terdiam dan bingung saat itu? Kok aku yang disalahin dan dicap sombong yah? Sementara tau juga nggak kalau mereka suka ngumpul. Aku sangka semua udah lama gak ngumpul karena sama-sama punya kesibukan masing-masing. “ Ananda menjelaskan padaku.

“Trus dari mana kamu tahu kalau mereka ternyata suka ngumpul Nda?“

“Aku gak sengaja diperlihatkan ada grup chatting mereka mbak, yang aku gak ada di dalamnya, “ Ananda menjelaskan.

Dan usut punya usut, ternyata memang mereka suka kumpul dan merasa sungkan untuk mengundang Ananda yang memang selain sudah berbeda kantor dengan yang lain juga waktunya seperti habis untuk keluarga dan pekerjaannya.

Fenomena yang lucu dan terkadang kita mungkin tidak menyadari mengucapkan seseorang itu sombong hanya karena ia tidak menyapa kita padahal mungkin ia lupa dengan kita, atau ia tidak pernah datang ke acara-acara yang kita adakan padahal kita yang lupa mengundang dia.

Astaghfirullohaladzim. Kuberistighfar merenungkan kedua kejadian itu dan merefleksikannya kembali kepada diri ini. Kiranya Allah mengirimkan kepadaku kedua cerita dari Dinda dan Ananda itu untuk mengingatkanku agar tidak mudah mengecap seseorang sombong atau berprasangka buruk pada seseorang dengan mudahnya. Sementara kita lupa untuk berinstrospeksi diri.

Jadi siapa yang sombong sebenarnya? In syaa Allah bukan kita dan semoga kita pun dijaga lisan dan batin kita untuk tidak dengan mudah mengecap orang lain sombong. Amin ya Robbal Alamin.

Sesungguhnya tiada manusia yang sempurna dan walaupun demikian bukanlah hak kita untuk memberikan suatu cap yang buruk bagi sesama makhluk ciptaanNYA.

©WiDS Ahad, 22 Maret 2015

www.wbuenastuti.com

4 thoughts on “Siapa yang Sombong?

  1. Ibuuuu,, senangnya dpt crita lg dlm waktu 3 hari aja😄
    Msh bljr jaga hati tuk ga mudah berprasangka buruk thdp hal2 yg spti itu,,
    Terima kasih reminder nya Bu😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s