Handuk Basah


imageHanduk Basah

Oleh Widyaretna Buenastuti

Dinda membuka pintu rumahnya dengan wajah yang tidak sesumringah biasanya. Aku sangat kenal dengan tabiat Dinda yang sangat ekspresif. Dalam hatiku sudah membatin, pasti ada yang membuat Dinda kesal di pagi hari yang cerah ini.

“Kenapa sih Din, kok pagi-pagi sudah wajahnya ditekuk begitu? Ada tamu datang harusnya kasih senyuman dong. Kan senyum itu sedekah.”

“Siapa yang gak kesel mbak?” Dinda membuka curhatannya tanpa ia berusaha merubah raut wajahnya. Karena ia sudah menganggap diriku bukan orang lain jadi ia merasa bisa menjadi dirinya sendiri.

Tanpa saya pancing, Dinda pun langsung menyerocos, “Abis mas itu susah banget deh merubah kebiasaannya mbak. Handuk basah abis mandi di taruh aja di atas kasur. Padahal kan tinggal melangkah sedikit lagi ke jemuran sudah bisa. Trus baju kotor juga dilepas begitu saja, kenapa gak dipungut dan taruh di laundry bag? Huuuhhh banyak deh mbak, capek nih harus tiap hari cerewetin dia melulu. Kita kan nikah udah hitungan tahun, masih aja dia gak mau berubah.“

Astaghfirullohaladzim, ternyata perkara handuk basah toh yang membuat Dinda uring-uringan pagi itu saat aku bertamu ke rumahnya. Kuperhatikan rumah yang mungil dan asri ini sungguh tenang dan nyaman. Namun kalau hati sedang tidak nyaman, segala suasana jadi serba salah.

“Sekarang masmu kemana?“

“Pergi mbak, ke bengkel. Kan dia emang kerjaannya kalau hari Sabtu begitu. Heran deh kenapa sih rajin banget ke bengkel ngurusin vespa bututnya itu.“ Kembali Dinda nyerocos lagi.

Sementara mendengarkan alunan suara nada Dinda yang masih nyerocos terus, benak saya jadi teringat suamiku tercinta di rumah dan rasa kangen pun sudah menghinggapiku.

Sambil aku membuka kue pukis yang kubawa di meja makan, ku ajak Dinda yang tengah membereskan rumahnya untuk duduk sebentar.

“Din, sini deh, kita makan pukis ini yuk sambil tarik nafas dulu biar wajah manis senyumu itu bisa kembali mbak nikmatin.“

Alhamdulillah Dinda pun menurut dan menemaniku di meja makan. Kulihat wajah Dinda yang masih emosi dan lelah.

“Din, inget gak waktu suamiku di rawat di rumah sakit cukup lama?“ Kumulai membuka percakapan dengan ringan sambil menikmati teh hangat dan kue pukis. Dinda mengangguk.

“Setelah beberapa hari menunggunya di rumah sakit, mbak minta ijin mas untuk pulang dan tidur di kasur rumah untuk memulihkan tenaga. Alhamdulillah, mas mengijinkan saat itu. Rupanya keputusanku untuk istirahat di rumah menjadi cerita tersendiri yang berdampak hingga saat ini.“

Dinda mendengarkan dengan seksama.

Kulanjutkan. “Pagi saat mbak terbangun di rumah, rasanya tidak ada semangat pagi, ada yang hampa. Rumah seakan sunyi senyap dan seperti semuanya terhenti saat mbak tinggalkan secara mendadak untuk ke rumah sakit beberapa hari sebelumnya. Kasur yang lebar terasa semakin lebar. Bahkan saat itu subuhpun terlewat, mungkin karena mbak terlalu letih. Lagipula biasanya ada kecupan di kening yang membangunkan untuk sholat atau berpamitan untuk ke Masjid, pagi itu tidak ada. Kutatap sekeliling ruangan kamar dan kulihat handuknya masih bertengger di atas jemuran handuk seperti saat kita tinggalkan sebelum membawanya ke emergency. Tidak ada baju kotor yang tergeletak. Benar-benar hampa rasanya.“

Matakupun berlinang saat menceritakannya lagi.

“Tetesan-tetesan airmata merindukan keriangan di pagi hari yang dihiasi dengan handuk basah yang tergeletak di atas kasur atau pun baju-baju kotor yang tidak masuk di dalam laundry bag menyelimutiku. Ironis, handuk basah yang menjadi sumber pertengkaran saat ia sehat, kala itu kurindukannya. Kuhanya bisa mengambil handuknya dan mencium aroma yang tertinggal di handuk itu sambil mendoakan kesembuhannya. “

Kulihat Dinda mulai berubah wajahnya dan matanya berlinang. Ia pun pamit untuk menelpon suaminya dan kudengarkan pembicaraan yang romantis penuh dengan kata maaf dan rindu.

Astaghfirullohaladzim, sering kali kita tidak menyadari bahwa hal-hal yang kita benci saat ini suatu hari akan kita rindukan. Terlebih dengan orang-orang yang terdekat dengan kita. Saat kita merubah pandangan kita dengan mencintai seseorang karena Allah semata, in syaa Allah yang kita lihat akan hanya ada keindahan atas ciptaan Allah semata. Melihat hal-hal yang kita benci atau tidak sesuai standard kita dan membayangkan saat ia tidak ada akan kita rindukan, membuat diri ini menjadi ikhlas dan semakin mencintainya apa adanya.

Kuberpamitan dengan Dinda untuk bertemu dengan Cintaku kembali di rumah dan bersyukur, kami masih diberikan kesempatan untuk belajar saling mencintai karena Allah semata. Keinginanku untuk merubah dirinya ternyata tidak perlu bersusah payah, karena perubahan itu berawal dari diri kita sendiri. Dia pun ternyata bersyukur atas tutup pasta gigi atau alat kosmetikku yang tidak pernah tertutup rapat olehku. Nobody is perfect. In syaa Allah keikhlasan saling menerima dan memaafkan akan membawa pada ketentraman hati yang selalu menambah hangat rumah tangga dan semakin menemukan arti cinta apa adanya.

Wednesday, March 18, 2015

www.wbuenastuti.com

NB: Semoga usia yang diberikan Allah padamu diisi dengan amalan-amalan untuk bekal akhirat yah Sayang. Ukhibukafillah.

5 thoughts on “Handuk Basah

  1. Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh Bu Widya,,
    Bahaya niy baca cerita Ibu di tempat umum,, harus pakai kacamata kuda biar kalau berlinang air mata ga repot hehe,,
    ‘Ikhlas dan mencintai apa adanya’,,
    Kalau kita meminta pasangan mengubah kebiasaannya untuk kebaikan, apakah berarti kita tidak mencintai apa adanya Bu?

    • Mencintai apa adanya yg aku maksud adalah saling mencintai krn Allah Ta’ala yg ikhlas merubah dirinya bukan krn diminta terus menerus tp krn kesadarannya sendiri…. In syaa Allah mencintainya apa adanya krn Allah akan membaqa ketentraman hati

  2. Terharu membacanyaaaa mbak Widya.. jadi teringat suami yg 3 bln sekali pulang…. hiks2.. ditunggu cerita yang lainnyaaaa… tp dari semua cerita mbak Widya adalah saat menjadi heroik untuk membantu tkw.. menjadi inspiransi.. utk berbuat hal2 baik.. misss u alot mbak Wid… muah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s