Jangan Ala Kadarnya


"Kebersamaan" captured by Martono's Lens (11 January 2015)

“Kebersamaan” captured by Martono’s Lens (11 January 2015)

 

Jangan Ala Kadarnya

Oleh Widyaretna Buenastuti

Pembicaraan makan siang bersama rekan-rekan kantor seringkali memberikan ide cerita-cerita inspiratif, sebagaimana siang itu di tengah-tengah pembahasan persiapan pernikahan salah satu rekan kerja kami, tak terhindarkan saya menyaksikan scene berikut:

“Halo, iya nih lagi makan siang. Oh, iya. Nanti aja yah. Yuk daagh.“ Dinda menutup telepon yang baru saja ia terima. Sebuah pembicaraan singkat dan dengan nada yang terputus-putus dan datar.

Iseng saja kulangsung tebak dan tanyakan ke Dinda “Dari suami yah Din?”

“Iya, mbak.” Jawabnya singkat, seperti biasa saja.

Tidak lama berselang, telpon Dinda berdering lagi dan ia pun mengangkatnya,

“Halo, selamat siang dok. Oh iya dok. Apa ada yang bisa saya bantu? Gak apa-apa dok…” dengan nada yang lebih lembut dari pada telpon sebelumnya dan berusaha mengajak berdialog dengan sang penelpon. Kemudian iapun beranjak meninggalkan meja sebentar, mungkin karena suara kami yang sedang penuh riuh riang bercerita dan tertawa menyaingi suara di seberang telepon.

Lima menit kemudian ia kembali ke meja makan dan meneruskan kembali makan siangnya yang terhenti karena telepon.

“Dari dokter penting yah Din?” kutanya kembali kepada Dinda.

“Ia mbak, itu dokter yang kita minta jadi pembicara di acara besok.“ Dijawabnya dengan wajah yang tersenyum seakan-akan permasalahan pekerjaan yang ia bicarakan dengan si dokter tersebut membawa keceriaan tersendiri baginya. Berbeda sekali dengan wajah Dinda saat ia selesai menerima telepon yang pertama dari suaminya.

Lucu yah, bagaimana dunia ini terbolak balik. Kubatin dalam diriku. Apakah kalau dengan suami atau istri lazimnnya bagi para pasangan berbicara datar dan tidak lebih dari 1 menit. Sedangkan untuk urusan pekerjaan dan bahkan itu dengan orang lain bisa berdialog dan rela menghabiskan waktu lebih lama terlebih lagi sampai-sampai meninggalkan makanan yang sedang di santap? Astaghfirullohaladzim. Bukankah suami itu lebih berhak untuk mendapatkan kenyamanan dari kata-kata manis dan senyuman istrinya? Pikiranku dan perasaanku gelisah melihat scene yang baru saja kusaksikan sendiri.

Apakah kita termasuk yang sering menerapkan konsep terbalik ini? Kalau dengan suami atau istri, bicara sekedarnya saja nanti toh ketemu juga di rumah. Tapi apakah iya sampai di rumah ada waktu? Seringkali bukannya setiba di rumah, energi yang tersedia sudah tinggal sisa sisanya saja. Terlebih lagi setelah menembus kemacetan atau kesibukan kantor yang luar biasa. Akhirnya tidak juga sempat ngobrol dan langsung merebahkan diri di sofa, pegang remote control tv hingga tertidur di depan tv. Atau langsung masuk kamar dan tidur. Atau bahkan masih sibuk membuka gadgetnya dan meneruskan chat dengan teman-teman atau kembali membalas e-mail yang masih menumpuk. Pagi hari kita terbangun dengan tergesa-gesa untuk menuju ke tempat kerja, takut terlambat untuk meeting dan di dalam pikiran sudah banyak TO DO List yang berhubungan dengan kerjaan. Sarapan pun terkadang di mobil atau menundanya hingga sampai di kantor. Kembali lagi ke pertanyaan, apakah benar ada waktu setibanya di rumah? Kapan sempat ngobrol sama pasangan kita? Dandan yang rapi dan wangi untuk siapa? Energi yang prima di pagi hari untuk siapa? Coba saja dihitung dalam sehari seberapa lama kita menyempatkan bercengkerama dengan pasangan kita? Terbatas sekali, bukan? Menyedihkan yah, kalau kenyataannya seperti gambaran di atas?

Bayangkan, niat baik sang suami yang menanyakan pada Dinda sudah makan siang atau belum hanya dijawab dengan sepatah kata “Iya nih lagi makan siang” titik. Dan mungkin sang suami menanyakan sesuatu tapi dijawab singkat,” Oh iya, nanti aja yah.” Bukankah akan lebih indah bila terjadi dialog dengan suami seperti ketika menerima telepon dari dokter penting itu?

Seandainya pembicaraan dengan suami juga diciptakan dialog dengan menanyakan kembali, “Iya nih, lagi makan siang sama teman-teman di kantor, kalau sayang gimana? Apa sudah makan siang juga? Semoga makan siangnya menyehatkan yah sayang. Sudah sholat belum?…..” dan seterusnya dan seterusnya yang menanyakan keadaan pasangan kita selanjutnya. Bahkan bisa diisi dengan saling mendoakan satu sama lain. Saling memuji dan memanggil dengan kata-kata penuh cinta. Subhanallah. Bukankah dunia ini akan terasa lebih indah dan pernikahan yang dijalani juga menjadi lebih menentramkan hati? Sebagaimana tadi Dinda menanyakan kepada sang dokter, “Apakah ada yang bisa saya bantu?” dan bahkan makanan yang tengah disantapnya saja rela ia tinggalkan selama menerima telepon dari sang dokter.

Mengerti kan kenapa saya bilang lucu? Dengan suami atau istri yang terikat dalam suatu janji pernikahan yang suci dihadapan Allah, kita hanya berbicara Ala Kadarnya saja, sedangkan dengan orang lain, seringkali bisa lebih bermanis-manis ria dan berusaha menyenangkannya. Yang sering lagi terjadi, kadang dengan bos bisa lebih takut dan sungkan untuk menghentikannya berbicara dari pada menerima telepon yang masuk dari pasangan kita. Padahal kalau kita mengembalikan kepada fitrahnya, siapakah yang seharusnya mendapatkan tempat yang prioritas? Suami atau bos kita?

Bila dalam kehidupan kita, cerita-cerita di atas rasanya sangat akrab terjadi dengan diri kita, bukankah ada baiknya kita merubahnya untuk menempatkan pasangan kita sebagai yang utama dibandingkan dengan yang lain? Bukankah kita berniat mengarungi kehidupan rumah tangga untuk mencari ketentraman hati, kebahagiaan jiwa raga dan in syaa Allah bisa bersama-sama hingga mendapatkan ridhoNYA untuk menggapai SurgaNYA?

In syaa Allah masih ada waktu untuk memperbaikinya dan memang dibutuhkan kerjasama kedua belah pihak, tidak hanya dari istri atau suaminya saja. Mari memulai dengan merubah diri kita lebih dahulu dan menjadi contoh yang baik, semoga pasangan kita pun akan membalas kebaikan dan menghargai diri kita yang berusaha untuk lebih baik ini dengan perlakuan yang baik juga. Yang terpenting dan menjadi satu kesatuan adalah mengiringi perubahan diri dengan berdoa kepada Allah agar senantiasa dibantu untuk istiqomah menjaga keromantisan rumah tangga dan memohon kepada Allah untuk dapat membantu pasangan kitapun untuk berubah kearah yang lebih baik.

Pasangan kita lebih berhak mendapatkan keromantisan dan prioritas atas senyuman, kata-kata manis, perlakuan baik dan segalanya yang lebih baik dibandingkan orang lain. Jangan sebaliknya. Jangan berikan Ala Kadarnya kepada pasangan kita karena yang merasakan kenikmatan dan keindahan keromantisan itu sesungguhnya akan kembali kepada diri kita juga.Buang gengsi yang masih ada.

Rasanya selama diriku menumpahkan isi kepala dan hati dalam tulisan ini, bayangan suamiku tercinta senantiasa tersenyum padaku dengan indahnya. Terimakasih ya Allah atas inspirasi dariMU dan membimbingku selama ini menjaga keromantisan dalam berumah tangga bersama seorang imam yang telah Engkau pilihkan untukku.Semoga kami dapat senantiasa beriring bersama mencintai karenaMU ya Allah. Alhamdulillahirobbil alamin.

©WiDS Saturday, February 28, 2015

www.wbuenastuti.com

 

16 thoughts on “Jangan Ala Kadarnya

  1. Inspirational as always mbak..😍
    Makes you think doesn’t it?
    God bless us and our spouses. 😌
    Semoga akan selalu bisa saling menjaga dan prioritaskan satu sama lain.

  2. …spechless…tidak bisa berkata-kata, #aku banget …..semoga dapat memperbaiki diri dan membalas kesalahan-kesalahan itu dengan banyak kebaikan untuk orang-orang yang kita sayangi…thanks for reminder…

  3. Assalamualaikum wr wb.
    Widya… Aku baru aja baca loh, tulisan ini. Subhanallah… Mskpn aku masih ditakdirkan sendiri & belum ada pasangan, bisa aku bayangkan banyak pasangan yang spt diceritakan itu. Duuh… Berat juga ya untuk bisa menghargai keberadaan pasangan… Yang juga lebih berat buat aku pribadi, punya pasangan yang tulus care & ridho dengan kekuranganku… Tp inilah ujian hidup yaa….
    Semoga kita selalu diberi kekuatan iman & kesabaran dalam menjalani semua ujian Allah SWT, aamiin…. 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s