Sepatu Kaca


imageSepatu Kaca

Oleh Widyaretna Buenastuti

Tiba-tiba aku terinspirasi saja dengan sepatu kaca. Langsung teringat dengan cerita dongeng anak-anak yang sangat terkenal, bukan? Suatu dongeng yang menceritakan gara-gara sepatu kaca, seorang upik abu kemudian bisa menjadi pilihan untuk dipersunting oleh pangeran dan kemudian tinggal di istana. Dalam benakku kubertanya, mungkinkah itu terjadi di dunia nyata dalam bentuk yang berbeda? Kenapa yang dipilih didalam dongeng itu sepatu kaca yang jadi penentu?

Jadi teringat saat diriku berada di Masjidil Haram. Suatu hari saat hendak sholat Dzuhur, wudhuku batal dan mengharuskan diriku untuk mengambil air wudhu kembali yang kebetulan tempat wudhu terdekat dari “women section“ ada di pelataran Masjid. Kupikir untuk memudahkan mengambil air wudhu kucopot kaus kaki terlebih dahulu di dalam masjid dan kupikir bajuku yang panjang akan menutupi kakiku ini saat berjalan. Namun ternyata, pikiran-pikiranku itu mendatangkan suatu kejadian tersendiri.

Saat kulangkahkan kaki keluar dari masjid menuju tempat wudhu, saat itu juga hatiku terasa tersayat dan ada rasa bersalah yang luar biasa. Serasa beberapa pasang mata para pria yang berada di sekitar pelataran masjid memperhatikan diriku yang tengah berjalan menuju tempat wudhu. Kaki-kakiku yang tanpa kaus kaki serasa menarik mata-mata para pria untuk memperhatikanku. Astaghfirullohaladziim. Rasanya diri ini berjalan telanjang.Tidak pernah kurasakan perasaan ini sebelum-sebelumnya. Padahal selama ini di tanah air aku pun juga tidak pernah memakai kaus kaki karena sedikit tidak nyaman menggunakannya dan bukankah hal yang lazim untuk tidak memakai kaus kaki. Tapi hari itu, rasanya lain sekali. Sedih, takut dan malu semua bercampur di setiap ayunan langkah kaki ini melangkah. Rasanya menyesal sekali kenapa kaus kaki kulepaskan di dalam masjid hanya untuk memudahkan diri ini mengambil air wudhu tapi ternyata menjadikan bagian dari tubuh ini terekspos untuk dinikmati oleh pasang-pasang mata yang tidak berhak untuk melihatnya.

Saat kukembali ke dalam masjid, tak terasa air mata penyesalan menetes dan tertutupi oleh tetesan air wudhu yang sengaja kubiarkan mengalir di wajahku. Namun, rupanya temanku tetap bisa melihat raut wajahku yang sepertinya sedang tidak nyaman dan mengundangnya untuk bertanya

“Kenapa menangis, apa ada yang gangguin tadi?“

“Nggak. Sepertinya tadi aku baru di ingatkan oleh Allah dengan cara yang halus sekali dan rasanya malu karena aku gak pakai kaus kaki tadi keluar dari sini.“

Wajah temanku terlihat seperti bertanya-tanya dan benar saja iapun bertanya lebih lanjut, “kenapa harus merasa malu?“

Tiba-tiba dari bibirku meluncur jawaban “Kan kaki itu juga aurat yang harus ditutupi.“

Deg, Astaghfirullohaladzim. Seakan kutersadar mendengarkan jawabanku sendiri yang kuyakini bahwa bimbingan Allah pada diri ini sungguh luar biasa. Teringat aku dengan bunyi firman Allah dalam surat An-Nur:31 “Katakanlah kepada wanita yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya (wajah dan telapak tangannya).” Sama sekali tidak disebutkan kaki adalah bagian yang biasa nampak, bukan? Bahkan ayat inipun berlanjut pada kalimat terakhirnya dengan kata-kata berikut: “Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.“

Perasaan sedih, malu dan rasa bersalah dari mana lagi kalau bukan Allah yang menggetarkan hatiku? Bukankah ini bentuk kasih sayang Allah kepadaku yang membimbingku untuk menyempurnakan hijabku? Siapa yang gak trenyuh dan menangis dengan begitu disayangnya diri ini oleh Allah? Dan pembicaraanpun terputus dengan terdengar dikumandangkannya azan dzuhur.

Pengalaman berjalan serasa bertelanjang kaki itu pun membawaku dalam suatu perenungan dan semakin mengerti kenapa sepatu di buat cantik-cantik. Kenapa kaki perlu juga di dandanin? Karena kaki wanita pun bisa menarik perhatian siapa pun yang melihatnya terlebih lagi dengan dihiasi dengan sepatu-sepatu cantik. Pantas saja ada cerita sepatu kaca yang bahkan bisa mendapatkan jodoh dan perubahan status dari seseorang upik abu menjadi seorang putri.

Coba deh kita renungkan, sepatu kaca yang diceritakan dalam dongeng itu sampai dibuat sayembara dan dijaga sedemikian ketatnya seperti barang berharga. Bukankah cerita ini ibarat kita juga menjaga aurat kita untuk tertutupi seperti barang berharga? Dan apa ganjarannya bila kita menjaga aurat kita? Bukankah ayat itu mengatakan “supaya kamu beruntung?” Keuntungan apa lagi dari Allah selain mendapatkan RahmatNYA? Rahmat dari Allah untuk diampuni dosa kita, Rahmat dari Allah untuk bisa masuk Surga dan bahkan Rahmat dari Allah untuk apapun yang tidak pernah kita bisa bayangkan.

Sepatu kaca memang identik dengan dongeng, tetapi firman Allah dan janji Allah bagi siapa saja yang mentaatinya sudah terjamin. Tak perlu sepatu kaca, ada yang lebih baik. Semoga selembar kaus kaki yang menutupi kaki-kaki ku, yang menyempurnakan hijabku, akan membawa diri ini mendapatkan RahmatMU dan RidhoMU. Ya Allah kumohon bimbinganMU untuk menjaga hati dan hidayah ini agar senantiasa istiqomah. Amin ya robbal alamin.

©WiDS Sunday, February 22, 2015

www.wbuenastuti.com

 

4 thoughts on “Sepatu Kaca

  1. Ternyata ada yg lbh indah dibalik cerita sepatu kaca yg terkenal itu=)
    Terima kasih ceritanya Bu,,
    Smg qt termasuk org yg istiqomah menjaga hidayah yg telah ALLAH berikan,,
    Amin,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s