Mewahnya Iman


"Beautiful Cloud" painted by Dewanti A Legowo (2012)

“Beautiful Cloud” painted by Dewanti A Legowo (2012)

Mewahnya Iman

 Oleh Widyaretna Buenastuti

Topik mencari jodoh selalu menjadi topik yang hangat untuk di bahas baik di kalangan para gadis maupun para jejaka. Pada suatu Sabtu sore yang diwarnai rintik hujan, rumahku mendapatkan berkah kedatangan tamu, seorang gadis manis yang rupanya ingin bertukar pikiran tentang seorang jejaka yang baru ia kenal dan telah menarik hatinya. Senang juga mendengarnya. Lalu ada apa sebenarnya?

“Abis bu, aku masih ragu, soalnya dia lebih muda dan aku kok merasa imannya dia masih di bawah aku, gimana dia bisa jadi imam aku?”

Aku langsung mengucap, “Astaghfirullohaladzim, sayang, coba istighfar yuk.” Kulihat wajahnya menyiratkan kebingungan saatku mengajaknya beristighfar.

Sebelum aku menjelaskan lebih lanjut, kutanyakan lebih dalam lagi, “Apa yang membuat kamu bisa bilang kalau imannya dia masih kurang?”

“Sholatnya masih bolong-bolong dan dia merokok bu.” Alhamdulillah ia menjawab dengan polos dan tanpa basa basi.

Dalam hatiku beristighfar dan takjub aja dengan parameter sholat yang masih bolong-bolong dan merokok menjadi suatu acuan bahwa seseorang imannya kurang dari pada orang lain. Apakah seseorang yang berpenampilan seperti santri dan berjenggot menandakan bahwa ia adalah ahli ibadah? Apakah seseorang yang sedang membaca Al Qur’an di masjid menandakan bahwa ia merupakan orang yang tawakal? Apakah memang pola pikir orang pada umumnya mendasarkan penilaian iman seseorang kepada suatu ritual yang terlihat secara kasat mata? Mungkin jawabanya Iya.

Kemungkinan besar penilaian akan iman seseorang terbawa dengan kebiasaan kita menilai seseorang dari penampilannya. Bukankah kita sering mendengar atau bahkan mengalaminya sendiri di boutique atau di toko-toko yang akan lebih memberikan pelayanan yang lebih manis kepada tamu yang terlihat berpenampilan ‘lebih mewah‘ dibandingkan dengan yang tidak. Simbol-simbol kemewahan yang ditandai dengan barang-barang yang melekat pada diri seseorang terkadang menjadi parameternya.

Lalu, apakah yang menjadi simbol-simbol kemewahan akan sebuah iman? Apakah kita bisa melihatnya? Kembali lagi pada pertanyaan, apakah dengan sholat yang masih bolong-bolong dan merokok merupakan pertanda iman yang lebih rendah dari pada yang rajin sholatnya dan tidak merokok? Astaghfirullohaladzim. Sebagaimana kuteringat akan kisah dalam Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Dari Nabi SAW (HR.MUSLIM No:4163) tentang seorang pelacur yang masuk surga karena memberikan tetesan-tetesan air pada seekor anjing.

Cerita yang mahsyur dari Hadits Muslim ini mengkisahkan bahwa seorang pelacur yang semasa hidupnya telah menghiasi hari-harinya dengan kegiatan maksiat, masih mendapatkan kessempatan untuk diterima tobatnya dan diampuni dosa-dosanya oleh Rabb Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang dan bahkan layak untuk masuk ke surgaNYA.

Berarti, “Who are we to judge others?“ Siapakah diri kita ini yang punya hak untuk menilai orang lain? Bahkan ada peribahasa yang terkenal “Don’t Judge the Book By Its Cover.” Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya. Apalagi kita akan menilai tingkat keimanan seseorang. Sampul buku aja tidak bisa jadi parameter penilaian, apalagi keimanan seseorang..

Bahkan Allah pun berfirman “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.” [Q.S Al-Hujurat: 12]

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah menyampaikan sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya :

“Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan) karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka janganlah ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan pertolongan/bantuan kepada saudaranya dan jangan merendahkannya. Takwa itu di sini, takwa itu di sini.” Beliau mengisyaratkan (menunjuk) ke arah dadanya. “Cukuplah seseorang dari kejelekan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke rupa kalian akan tetapi ia melihat ke hati-hati dan amalan kalian.”[HR. ِAl-Bukhari no. 6066 dan Muslim no. 6482]

Sungguh indah bukan, bahwa dalam firman Allah dan sabda Rasulullah telah menjaga manusia dari prasangka yang buruk dari orang lain bahkan untuk direndahkan dari orang lain? Bukankah ini suatu kenikmatan yang tidak pernah kita sadari? Siapa yang mau di nilai buruk oleh orang lain? Semoga kita pun menjaga pikiran dan lisan kita dari berprasangka buruk atau merendahkan hamba-hamba Allah.

Kembali kepada si nona manis yang duduk di hadapanku, diskusipun berlanjut, bukankah suatu keindahan tersendiri bila kita mendapatkan kesempatan untuk bersama-sama belajar untuk semakin meningkatkan ibadah kita kepada Sang Maha Pencipta? Sayapun mengajaknya berdiskusi dan membayangkan, bagaimana bila ia dipertemukan dengan santri yang Masya Allah, sholatnya sudah bagus, tidak merokok, baca Qur’annya juga bagus. Lalu, kesempatan kita untuk mengingatkannya tidak lagi diperlukan, padahal mengingatkan seseorang untuk sholat juga merupakan suatu amalan? Bukankah ini pertanda Allah memberikan ladang amal bagi kita yang bertemu dengan seseorang yang masih banyak kesempatan belajarnya?

Bukankah pertemuan kita di dunia ini dengan seseorang telah diatur oleh Allah Azza Wa Jalla? Seperti halnya saya pun diajarkan oleh Allah untuk senantiasa memurnikan hati untuk tidak berprasangka terhadap orang lain melalui saudariku yang berbaik hati mampir ke rumahku di malam ahad yang menenangkan hati.

Ya Allah, kumohonkan padaMU untuk menjaga hati ini untuk menjaga lisan bahkan pikiran dari menilai hamba-hambaMU dan berprasangka terhadap hamba-hambaMU. Sesungguhnya, tiada kuasa dari diri ini yang lebih baik dari hamba-hambaMU.Bimbinglah hamba selalu ya Allah. Semoga hanya di hadapanMUlah “kemewahan iman” hamba-hambaMU akan terlihat di hari perhitungan nanti. Walahua’lam bisawab.

©WiDS Sunday, February 8, 2015

www.wbuenastuti.com

5 thoughts on “Mewahnya Iman

    • Saya adalah orang yg solatnya masih bolong – bolong dan masih merokok saat itu.. lalu saya bertemu seorang wanita menuntut saya untuk lebih baik karna alloh.. akhirnya saya mimutuskan untuk berhenti merokok dan mulai Solat 5waktu walau slalu di ingatkan..
      In my life I Love you more..

  1. …beritau gadis cantik itu untuk menasehati si pemuda pujaannya utk tdk merokok dan membolongi shalatnya, jika gak berubah dalam tempo 1 bulan…tinggalkan…eh jgn lupa ya utk paralel juga : berdoa terus diberikan petunjuk dan jodoh yang baik…

    • Kak Ria. Insya Allah ybs mendptkan hidayah utk berubah krn Allah… semua terjadi agar kita pun belajar dan memperbaiki diri. Sesungguhnya diri ini pun lemah dan penuh khilaf. Hanya pada Allah lah kumohonkan ampunan dan menjaga agar tdk diselimuti dgn rasa Ujub.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s