Nama Samaran


"Just simply White" painted by Dewanti A Legowo (2012)

“Just simply White” painted by Dewanti A Legowo (2012)

NAMA SAMARAN

Oleh Widyaretna Buenastuti

 

Ada beberapa gerai kopi atau makanan cepat saji yang mempunyai cara memanggil nama pelanggannya di kala pesanannya telah siap untuk diambil dari meja pesanan. Berawal dari perasaan kurang nyaman dengan nama yang dipanggil di tempat umum aku pun memberikan nama samaran. kepada barister yang menerima pesanan kami. Temanku, Vania, yang mendengar langsung memandangi diriku dan mengernyitkan dahinya. Walau tanpa berkata-kata kubisa baca raut wajahnya yang merasa aneh dengan nama samaran yang kugunakan. Sembari menunggu minuman dan makanan disiapkan kami pun mencari tempat duduk dan setibanya di tempat yang kami pilih, Vania rupanya sudah tidak tahan lagi untuk tertawa.

“Sejak kapan namamu diganti Dinda?“ dengan nada yang mengejek.

“Sejak tadi,“ kujawab saja sekenanya, sambil menata tas di bangku, tanpa menyimpan perasaan apapun.

Tak lama, barister pun memanggil nama kami yang menandakan pesanan sudah siap dan dapat di ambil di meja pengambilan pesanan. “Minuman atas nama Dinda dan Vania“ Bagi yang biasa datang ke restoran tersebut, teriakan barister tersebut tidak asing dan mungkin kita juga tidak memperhatikan panggilan-panggilan terhadap pengunjung yang lain. Namun, rupanya tidak hari itu.

Setelah mengambil pesanan kami masing-masing, kami pun menatanya di meja beserta laptop-laptop kami untuk mengerjakan beberapa pekerjaan bersama. Beberapa menit kemudian, tiba-tiba ada seorang pemuda berpakaian rapi yang datang menghampiri meja kami.

“Selamat sore mbak Dinda dan mbak Vania, boleh saya minta waktunya sebentar?“ sapanya dengan sopan dan bergaya layaknya ia telah mengenal kami berdua. Ia menarik kursi dan langsung meletakkan kopinya diatas meja kami dan duduk bersama kami seolah-olah teman lama yang kamipun mengenalnya.

Mata saya dan Vania pun langsung bertatapan heran, mau apa gerangan pemuda ini. Dengan melihat sekilas penampilannya yang rapi, gaya bicaranya tertata dan membawa beberapa lembaran materi promosi yang ia selipkan di organizer hitamnya, saya menebak kalau pemuda ini menghampiri kami karena bermaksud menawarkan sesuatu. Benar saja, ia mulai berceloteh mengenai program-program investasi yang baik saya maupun Vania tidak tertarik.

Perasaan tidak nyamanpun melingkupi kami berdua. Kaki-kaki kami pun saling bertendangan memberikan kode untuk “mengusir“ pemuda yang tak diundang ini dengan sopan. Dzikir meminta bantuan Allah untuk melindungi kami dan memberikan jalan bagi kami untuk bisa menghalau yang bersangkutan untuk pergi, kulantunkan di dalam hati. Bagaimanapun, bila kami menghardiknya secara brutal, pasti akan membuat ia malu dan bukankah suatu amalan untuk tidak membuat malu seseorang di depan umum walaupun ia telah membuat diri kami tidak nyaman?

“Wah, mas rasanya sudah kenal kita cukup lama yah, namun maaf yah mas, kami berdua sedang ada pekerjaan, kami tidak berminat untuk mendengarkan lebih lanjut dan kami kurang berkenan dengan kehadiran mas disini.“ dengan memasang wajah tersenyum namun nada bicaraku cukup tegas. Sang pemuda masih berusaha untuk beramah tamah yang sepertinya tidak menggubris peringatanku.

Tak ayal lagi, akupun berdiri dan mengatakan dengan nada yang sedikit agak kukeraskan agar petugas di kafe tersebut melihat kami,

“Terima kasih banyak, Mas Bobby, sampai kapan-kapan yah.“ Kubaca namanya dari gelas kopi yang ia pegang, dengan gaya tubuhku yang cukup tegas dan masih dengan berdiri kuberikan kode pada petugas di kafe tersebut. Sepertinya Mas Bobby ini mengerti gelagatku dan cepat-cepat ia ulurkan tangannya untuk berjabatan tangan dan kuberikan signal tangkupan tanganku di dada yang menandakan aku tidak bersalaman dengan lawan jenis.

Setelah Bobby pergi, entah namanya yang benar atau samaran, seperti halnya ia menyangka namaku Dinda, kulihat wajah Vania yang masih tertegun pucat.

“Gimana Van, masih mau terus kerja disini atau mau pindah tempat?“ kupegang tangan Vania yang dingin.

“Maaf yah, tadi aku mengejek dirimu yang pakai nama samaran, ternyata Allah langsung menunjukan bagaimana orang tak dikenal bisa menyalahgunakan nama kita,“ Vania menatap mataku dan terlihat ia masih berusaha menata hatinya yang rupanya terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi.

Vania pun bercerita bahwa tangannya yang dingin dan badannya yang gemetar bukan karena ketakutan kepada sang pemuda tadi namun betapa Allah langsung memperingatinya tentang hal yang mungkin saja terlihat sederhana. Ejekannya kepadaku rupanya langsung di jawab oleh Allah dengan mengirimkan seseorang yang langsung sok kenal dan sok dekat dengan memakai nama yang ia dengar dari panggilan barister terhadap kami berdua.

Bulu kuduku pun berdiri merinding merasakan betapa Allah melindungi hamba-hambaNYA dengan berbagai cara yang tidak pernah kita sangka-sangka. Seringkali kita tidak menyadari bahwa kejadian-kejadian yang kita alami merupakan bentuk perlindungan Allah kepada kita. Tadinya aku berfikir bahwa karena Allah memberikan kekuatan kepada diriku untuk menghadapi sang pemuda ini lah merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada kami berdua.

Namun, Vania ternyata melihat ‘kenikmatan’ lain yang tidak terlihat olehku. Hati Vania rupanya tersentil dengan sok kenal sok dekatnya si mas Bobby sebagai suatu peringatan Allah atas ejekannya kepadaku. Bukankah ini juga suatu bentuk perlindungan kepada hambaNya dari suatu ejekan yang untukku sebenarnya tidak berarti apa-apa dan tidak aku mintakan pertolonganNYA, namun, Allah tetap memberikannya. Bukankah Allah memang Maha Pengasih dan Penyayang dengan berbagai kenikmatan yang telah Allah berikan pada manusia tanpa kita memintanya? Nikmat mana lagi yang akan kita ingkari dan kita tidak akan pernah sanggup untuk menghitung nikmat Allah Azza Wa Jalla pada kita.

Astaghfirullohaladzim. Betapa diri ini penuh dengan kelalaian dan kekhilafan.

Semoga kita senantiasa tidak pernah lupa untuk meminta pertolongan Allah untuk berdzikir, bersyukur dan memperbaiki ibadah kita kepadaNYA sebagaimana Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam pernah memberikan wasiat kepada Mu’adz agar dia setelah shalat mengucapkan,

“AllaHumma a’innii ‘alaa dzikrika, wa syukrika wa husni ‘ibaadatika” yang artinya “Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah dengan baik kepada-Mu” (HR. Abu Dawud no. 1522, an Nasai III/53, Ahmad V/245 dan lainnya, dishahihkan oleh al Hakim dan disepakati oleh adz Dzahabi)

©WiDS Friday, February 6, 2015

www.wbuenastuti.com

 

 

 

9 thoughts on “Nama Samaran

  1. It’s amazing ! Maksimal hasil yang diharapkan adalah ikhtiar yg dilakukan …dengan denting dzikir dan doa mengiringinya …salam ya buat ‘Dinda dan Vania’ 🙂

    • Semoga kita selalu dalam lindungan dan Rahmat Allah Azza Wa Jalla yah Kak Ria. Hanya kepadaNYAlah kita memohon dan akan kembali… mari kita maksimalkan dzikir, bersyukur dan ibadah kita selama masih ada kesempatan. Amin.

  2. Semoga ALLAH senantiasa mengingatkan kita d saat khilaf y Bu,,
    Saya baru kmrn diingatkan ALLAH atas khilaf yg saya lakukan,,
    Jd ngena critanya,?
    Makasiy Bu😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s