Mau Cari Rumah?


"Home Sweet Home" painted by Dewanti A Legowo (2012)

“Home Sweet Home” painted by Dewanti A Legowo (2012)

Mau Cari Rumah?

Oleh Widyaretna Buenastuti

 

 

Hujan turun tiada hentinya di hari ahad. Suasana menjadi sendu dan syahdu. Godaan untuk menarik selimut dan melanjutkan bunga-bunga tidur sudah menggelayutiku sejak pagi. Namun, kulawan dan bangkit dari tempat tidur untuk menyambut berkah hari ahad yang diguyur hujan untuk melakukan kegiatan di rumah. Termasuk salah satunya berbagi cerita dengan sahabat-sahabatku di blog. Terutama saat diri ini tiba-tiba teringat dengan pengalaman yang cukup menggetarkan hati yang kualami.

Suatu hari kuterima tawaran untuk membeli property. Biasanya tawaran-tawaran yang datang sudah kutepis sejak awal. Hari itu, entah kenapa langkah kaki ini tertarik untuk mendekat ke maket yang terpajang di koridor sebuah mal di Jakarta. Kucoba untuk menanggapi presentasi dari sang agent. Setelah sang agent menjelaskan lokasi dan fasilitas-fasilitas yang di miliki oleh property tersebut, tibalah saatnya kubertanya. Pertanyaan pertamaku

“Apakah sudah mulai di bangun, mbak?” jawaban yang disampaikan sang agent sebenarnya wajar saja dan hampir semua property pun menawarkan hal yang sama, namun hari itu relung pojok hatiku terasa tersayat.

“Belum bu, lahanya baru kita siapkan dan peletakan batu pertamanya baru minggu depan.” Sepertinya ia melihat raut mukaku yang sedikit berubah. Kemudian ia lanjutkan,

“Tapi semua ijin sudah ada kok bu dan harganya masih murah bu kalau ibu kasih DP di minggu ini. Ini sudah banyak kavling yang terjual bu, jangan sampai kehabisan bu. Kita masih ada beberapa yang lokasinya bagus. ” Jawab sang agent dengan nada yang tenang dan menerapkan selling skillnya dengan persuasive sekali.

Aku menarik nafas dalam sekali karena rasanya Allah sedang menunjukan kepadaku akan sesuatu, karena rasanya hati ini tersayat dan tenggorokanku terasa tercekat. Tiba-tiba aku pun kesulitan untuk meneruskan percakapan dengan sang agent lagi. Dengan sopan dan perlahan kucoba untuk menutup pembicaraan dengan sang agent dan kulangkahkan kaki untuk menuju musholla terdekat dan mengambil air wudhu untuk merenungkan pesan-pesan Allah lebih dalam. Kenapa?

Di benakku timbul pemikiran dan pertanyaan-pertanyaan yang mengusik jiwaku. Pihak pengembang berani menjual property yang belum ia bangun dan para pembeli pun banyak yang sudah mempercayakan investasinya dengan memesan kavling-kavling yang belum dibangun. Bukankah ini membeli janji manusia? Janji yang baru saja terlihat dari gambar di brochure dan maket. Janji yang belum jelas perwujudannya di hadapan mata kita? Apa yang membuat kita bisa yakin dengan memberikan dan menanamkan investasi kita pada pengembang? Nama pengembang? Janji sang agent? Klausula-klausula perjanjian? Kalau semua masih ragu, lalu apa?

Astaghfirullohaladzim. Kuterduduk sendiri di musholla mal tersebut dan merenungkan pesan yang Allah baru saja coba mengingatkanku. Ya Allah, sungguh ruginya diri ini yang seringkali mengabaikan janjiMU ya Allah. Aku teringat janjiMU ya Allah bahwa Engkau akan membangunkan rumah di SurgaMU. Kenapa aku masih mengabaikan janjiMU ya Allah? Padahal mudah sekali melakukannya tetapi kenapa terasa berat untuk menambah sholat-sholat sunnah di antara sholat-sholat fardhuku?

Kuteringat akan hadits Rasulullah yang disampaikan oleh Ummu Habibah radiyallahu ‘anha:

“Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang sholat dua belas rakaat pada siang dan malam, maka akan dibangunkan baginya rumah di surga“. Ummu Habibah berkata: saya tidak pernah meninggalkan sholat sunnah rawatib semenjak mendengar hadits tersebut.” (HR. Muslim no. 728)

Hadits Ummu Habibah di atas menjelaskan bahwa jumlah sholat rawatib ada 12 rakaat dan penjelasan hadits 12 rakaat ini diriwayatkan oleh At-Tarmidzi dan An-Nasa’i, dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan dua belas (12) rakaat pada sholat sunnah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga, (yaitu): empat rakaat sebelum dzuhur, dan dua rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah maghrib, dan dua rakaat sesudah ‘isya, dan dua rakaat sebelum subuh“. (HR. At-Tarmidzi no. 414, An-Nasa’i no. 1794)

Kenapa menambah 12 rokaat sholat sunnah dari 17 rokaat sholat fardhu menjadi berat? Padahal ini adalah modal untuk dibangunkan rumah di SurgaNYA? Ini adalah janji dari Sang Zat Yang Maha Berkuasa dan Maha Mencukupi (Al-Jabar).

Masihkah kita berhitung dengan Allah untuk memberikan beberapa menit melaksanakan sholat sunnah dengan meeting yang kita tinggalkan? Atau lebih berat hati menunda janji untuk menelpon seseorang ketimbang menambah 2 rokaat lagi? Masihkah kita ragukan atau masihkkah kita abaikan janji Sang Maha Pencipta dibandingkan dengan janji dari pihak pengembang yang belum tentu janji itu terwujud? Astaghfirullohaladzim. Ampuni hamba ya Allah.

Ya Allah, berilah petunjuk kepadaku dan luruskanlah diriku. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk dan kelurusan kepadaMU.Semoga Engkau mudahkan diri ini untuk mulai “menabung” agar kulayak untuk mendapatkan RahmatMu dan Engkau bangunkan rumah di surgaMU. Walahu’alam bisawab.

©WiDS Sunday, February 1, 2015

www.wbuenastuti.com

 

9 thoughts on “Mau Cari Rumah?

    • Miss you too Mbak Iwit… inget kita berlomba lomba utk banyakin sholat sunnah di Mekkah Madinah ya mbak?… apalagi kita bergandengan tangan terus setiap thawaf, ke Rhaudah dan jalan2 cari cemilan sampai dikasih cadar… indahnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s