Ada Apa Dengan Cacing?


Ada Apa Dengan Cacing?

Oleh Widyaretna Buenastuti

 

Kutengah berada dalam kendaraanku yang membawaku untuk menghadiri sebuah rapat yang terjadwal jam 10 pagi. Tiba-tiba ada pesan masuk di layar handphoneku yang mengabarkan bahwa rapat diundur setelah makan siang di tempat yang sama. Waduh. Kalau harus kembali ke kantor akan banyak waktu yang terbuang. Sementara saat itu sudah jam 9.45, timing yang sangat cantik sekali untuk memberikan kabar mengenai jadwal meeting yang diundur. Hanya 15 menit sebelum jadwalnya. Semua serba tanggung untuk kembali ke kantor.

Saat itu juga kulihat ada masjid di ujung jalan dan hatiku tergerak untuk mampir sebentar. Rupanya sedang ada kajian, pantas saja banyak mobil yang terparkir di luar. Kupikir, apa salahnya meeting yang tertunda diganti dengan mengikuti kajian di masjid. Kulangkahkan kaki memasuki pelataran masjid dan mengambil tempat yang dekat dengan pintu masuk.

Baru kuletakkan tasku dan hendak merapikan dudukku, kutersentak ketika kudengar sang Ustadz mengatakan, “Apakah pernah terpikirkan bahwa para ibu-ibu menjaga kulit mulusnya dipersiapkan untuk makanan cacing-cacing tanah nanti di dalam liang kubur?”

“jleb!” pinjam istilah anak jaman sekarang. Saat itu, rasanya hati ini langsung di tusuk tepat kena sasaran. Bukannya Ge-eR karena kulit mulus. Tapi tidak pernah terpikir aja kalau kulit ini akan jadi makanan cacing saat kita nanti dikuburkan. Bener juga kupikir, rajin-rajin luluran nanti juga akan jadi makanan cacing. Cari lotion yang wangi dan repot cari sunblock supaya gak hitam, akhirnya akan buat cacing tanah.

Hmmm, aku pun mencerna pernyataan ustadz tersebut, apa sebaiknya tidak usah merawat tubuh dan tidak perlu repot-repot memperhatikan penampilan? Tetapi kalau tidak dirawat tubuh ini kemudian kulit menjadi kusam, bukankah juga kewajiban kita untuk menghargai dan menjaga anugerah dari Sang Maha Pencipta? Mempertahankan kulit mulus ini juga untuk menyenangkan suami. Sementara alasan justifikasi untuk merawat kulit dan tubuh tetap berputar dalam benakku.

Kajian masih berlanjut dan aku pun tertarik untuk mendengarkan terusannya. Sang Ustadz rupanya tengah menyentil beberapa kebiasaan-kebiasaaan dari masyarakat yang lebih memperhatikan kebutuhan raganya nya saja ketimbang kebutuhan sang jiwa. Padahal dalam penyebutan kata Jiwa ditempatkan di awal baru kata Raga-nya hingga kita sering menyebut sehat „Jiwa-Raga“.

Beliau mengatakan para wanita suka sekali dengan memoles-moles mukanya dengan bedak dan berbagai peralatan make up hingga menghabiskan jutaan rupiah padahal ada air wudhu yang menyegarkan dan akan memberikan sinar pada wajah. Air wudhu tidak sampai menghabiskan berjuta-juta rupiah tapi banyak saja alasannya untuk menunda atau tidak mengambil air wudhu dan terkadang ada yang beralasan nanti make-upnya rusak, nanti eyelinernya menetes, pokoknya sayang make upnya. Berjam-jam berdandan mengeriting atau meluruskan rambutnya rela dilakukan, padahal menutupnya saja dengan jilbab akan terpecahkan masalah ”bad hair day“. Belum lagi yang membentuk otot-otot perut di fitnes center yang bisa dilakonin sampai hitungan puluhan kali, tetapi sholat yang hanya 17 rakaat sehari saja beratnya ampun-ampun.

Lega hatiku saat sang ustadz mengatakan bahwa boleh-boleh saja menjaga kemulusan kulit bila memang di niatkan semata-mata untuk ibadah kepada Allah. Misalnya diminta oleh suami atau untuk menjaga kebersihan kulitnya demi kesehatan. Namun, beliau mengatakan bahwa harus ada keseimbangan antara mempercantik kulit luar dengan mempercantik Jiwa yang di dalam.

Beberapa contoh disebutkan lagi oleh sang ustadz dan suasana kajian pun menjadi hangat dengan tawa para hadirin karena sepertinya menyadari akan ironisnya kenyataan yang ada di tengah masyarakat atau mungkin juga ada yang tersentil dan mungkin mentertawakan dirinya sendiri. Hadirin yang lain tertawa, sementara kerongkonganku  terasa kering dan seakan menjadi susah menelan.

Astaghfirullohaladzim. Ya Allah, Kenapa kujadikan jadwal meeting lebih sakral ketimbang waktu-waktu sholat? Kenapa langkah kaki sepertinya lebih mudah untuk pergi ke mall dari pada ke majelis-majelis taklim. Kenapa diri ini senantiasa menyempurnakan kerjaan lebih penting ketimbang menyempurnakan sholat atau bacaan Quran? Tanya kenapa dan kenapa lagi yang membuatku semakin tertunduk dan malu rasanya untuk mengangkat wajahku. Bertambah lagi sang Ustadz pun menyampaikan ayat-ayat dari Quran yang menggambarkan kehidupan dunia yang sementara dan hanya sebagai permainan belaka yang membuat manusia menjadi lalai dan lupa untuk mempersiapkan diri ke alam yang kekal.

Keberadaanku di tengah-tengah majelis taklim serasa menjadi terisolasi, bulu kudukku berdiri, mengingat bagaimana sampai diri ini berada di tengah majelis taklim itu. Betapa cara Allah mengingatkanku dengan lembutnya dan terasa penuh rangkulan Kasih SayangNYA, sungguh indah. Apakah ini sebuah kebetulan untuk menghadirkan diriku ke dalam kajian ini? Siapa yang mengatur rapat yang akan aku hadiri menjadi tertunda? Aku percaya bahwa semua yang terjadi sudah di aturNYA bahkan tidak ada sehelai daunpun yang jatuh tanpa ijinNYA. Pagi itu seakan-akan aku sedang berjalan-jalan dan dirangkulNYA untuk memikirkan dan merenungkan sebuah pertanyaan ”Masihkah kau hanya mempersiapkan diri untuk menjadi makanan cacing-cacing tanah saja, bagaimana amalan untuk akhiratmu agar api neraka tidak bisa menyentuhmu?“

©WiDS Thursday, January 15, 2015

www.wbuenastuti.com

6 thoughts on “Ada Apa Dengan Cacing?

  1. JLEBB…! Kawatirnya.. saya bs seperti puisi yg sejak SD tdk pernah tuntas saya hafalkan: “Menyesal.. pagiku hilang sudah melayang, hari mudaku sudah pergi.. kini petang datang membayang batang usiaku sudah tinggi.. “

  2. Ternyata ini toh jwbnnya,,
    Jauh bgt dr tebakan saya Bu=)
    Jiwa Raga ya Bu,, bukan raga jiwa=(
    Smg diri ini tau mana yg prioritas,dan tidak mengindahkan yg sementara dibanding yg kekal,,
    Terima kasih reminder nya Bu Widya😘

  3. kita tidak.terhubung secara kebetulan. tmks utk tulisannya. mbak lebih baik dr aku dg punya blog ini dan berbagi cerita melalui tulisan.

    seperti kata imam al as.: ikatlah ilmu dengan menuliskannya.

    semangat mbak dg renungan dan kecermatanmu ‘membaca’ kearifan2 dr keseharian yg terlihat dan dijalani.

    tabik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s