Kemana Perginya?


Dimensi Cinta di akhir tahun  by Dewanti Aisyah Legowo 31 Dec 2014

Dimensi Cinta di akhir tahun by Dewanti Aisyah Legowo 31 Dec 2014

“Kemana Perginya?”

Oleh Widyaretna Buenastuti

Pada suatu weekend, saya sedang menikmati sebuah buku yang belum sempat saya selesaikan. Saya membacanya di dalam kamar tidur saya sejak siang hari. Setelah selesai pun saya keluar dari kamar dan mendapati rumah sepi, seakan seisi rumah tidak ada. Tidak ada celotehan anak-anak. Rumahpun terlihat masih rapi dan tidak ada mainan yang berserakan. Padahal seingat saya, tidak ada yang pamit pada saya. Kemana perginya isi rumah ini? Saya coba tengok ke garasi tempat anak-anak biasa memarkirkan sepeda mereka. Kosong. Kala itu pukul 4 sore dan saya berasumsi memang mereka berkeliling mengendarai sepeda mereka keliling komplek. Sementara saya dapati suami saya tengah berkutik dengan koleksi sepeda tuanya di teras rumah dan putri saya sedang asyik melukis di kamarnya. Pantas hening.

Kupikir, sore-sore seperti itu paling nikmat bila ada kudapan dan teh hangat. Dua andalanku untuk menikmati suasana sore di rumah dan untuk menenangkan pikiran yaitu pisang goreng dan teh hangat tambah 2 gelas es teh manis buat anak-anak yang nanti habis main sepeda. Selesai kubuat, aku ajak suami dan putriku untuk menikmatinya di teras rumah sembari menunggu dua anak cowok yang pastinya akan kembali dan meramaikan rumah dengan celotehan mereka kembali.

Benar saja, saat saya tengah menghirup teh hangat dari cangkirku, suara mereka dari ujung jalan sudah mulai terdengar. Suara-suara yang memberikan ketenangan di hati dan kelegaan bagi diri ini. Alhamdulillah. Dalam hirupan teh hangatku, kupanjatkan rasa terimakasihku kepada Sang Maha Pencipta yang memberikan kenikmatan untuk masih bisa mendengar suara mereka kembali.

Wajah merekapun terlihat bahagia kala melihat kami bertiga sedang bercengkerama di depan teras rumah dan terlebih lagi mata mereka berbinar-binar melihat ada pisang goreng dan es teh manis yang telah disiapkan untuk mereka. Kulihat mereka terburu-buru memarkir sepeda mereka dan mencuci tangan mereka, kemudian bergabung di teras rumah. Mereka datang kepadaku dan setelah mencium tanganku dan ayahnya, tidak ayal lagi tangan-tangan kecil mereka langsung menyambar pisang goreng dari piring depanku.

„Duduk nak kalau makan dan baca doa terlebih dahulu“ kuingatkan mereka yang sangat bersemangat menikmati pisang goreng hangat yang tersedia, masih sambil berdiri. Setiap gigitan dinikmati mereka seperti mereka tidak pernah menyantap pisang goreng sebelumnya. Kutersenyum melihat mereka duduk bersila di teras dengan peluh-peluh keringat yang masih terlihat di wajah mereka dan menyantap pisang goreng serta es teh manis yang menyegarkan. Kubersyukur anak-anak masih mau menikmati beberapa jam dalam hari mereka untuk bergerak dan tidak hanya duduk di depan komputer atau memegang tab mereka.

Hati ini sebenarnya sudah bergejolak untuk membuka percakapan namun kubiarkan mereka menikmati kudapan mereka. Pelan-pelan dengan nada yang lembut kubuka percakapan dengan menatap wajah-wajah mereka,

„Tau nggak kalau mama tadi kehilangan kalian loh? Kemana perginya anak-anak sholehnya mama? Kenapa kalian tadi tidak pamit sama mama, padahal mama kan ada di rumah?“

„Oh iya, Ma kita lupa. Tadi kita udah dipanggil sama Dodo. Maaf yah, Ma.“ Jawaban spontan langsung diwakilkan oleh si bungsu yang memang lebih expresif dibandingkan kakaknya. Sadar akan lupanya mereka berpamitan denganku, keduanya langsung berdiri dan memeluk diriku sebagai pertanda mereka meminta maaf. Rasanya bahagianya bisa memeluk mereka kembali.

„Ma, maafkan papa juga yah kalau papa lupa menyampaikan ke mama, kalau mereka main sepeda.“ Suamiku pun langsung tersadar bahwa ada satu anggota keluarganya yang tidak terupdate dengan acara main sepeda sore itu.

Dalam hatiku, kubersyukur masih bisa bertemu mereka lagi walaupun mereka lupa untuk berpamitan denganku dan walaupun hanya untuk bermain sepeda di dalam komplek saja. Mungkin hal ini terdengar sangat sepele (sederhana) tapi tidak pernah sepele bagiku. Perasaan ini begitu tergores saat membaca sebuah berita bahwa pembantu rumah tangga tidak pernah tahu kemana majikannya pergi karena memang sudah menjadi kebiasaan kalau majikannya pergi tidak memberitahu kemana ia akan pergi. Akhirnya sampai muncul menjadi berita di media dan sang pembantu pun terkaget-kaget saat mengetahui bahwa majikannya telah tiada.

Apa rasanya bila diri ini tidak sempat berpamitan atau di pamitkan oleh anggota keluarga kita dan kita tidak akan pernah kembali lagi? Atau kita tidak pernah dapat bertemu anggota keluarga kita lagi yang tidak sempat berpamitan?

Ya Allah, rasanya diri ini sudah merasakan kehilangan walau tidak dipamitkan oleh anak-anak yang hanya bermain di dalam lingkungan komplek saja. Bagaimana dengan para keluarga yang ditinggalkan seorang ayah atau suami atau istri untuk bertugas namun tidak kembali lagi dan belum sempat untuk berpamitan dan meminta maaf? Astaghfirullohaladzim. Masih terbayang berapa banyak anggota keluarga yang berpamitan untuk berlibur dan ternyata tidak akan pernah pulang kembali ke rumah? Rasa kehilangan yang tiada kan pernah terobati dan kehampaan yang luar biasa bila kiranya kata pamit tidak sempat terucapkan.

Semoga penanaman budaya berpamitan dari kecil kepada anak-anak menjadikan mereka menjadi anak-anak yang saling menghormati kepada siapapun. Budaya yang mungkin terlihat sederhana namun bila kita simak, merupakan budaya yang perlu pembiasaan dan sangat berarti. Seni berpamitan pun tidak sembarangan. Penting bagi orang yang di rumah untuk tahu kemana kita akan pergi. Hal ini untuk menjaga agar bila diperlukan, orang rumah faham keberadaan kita.

Azan maghrib pun berkumandang dan semua langsung bubar untuk siap-siap pergi ke masjid. Ayahnya dan the boys langsung bergegas dan berpamitan pada diriku untuk berangkat ke masjid. Bahagianya bisa memeluk mereka saat mereka berpamitan. Kali ini aku tahu kemana mereka perginya.

Terimakasih ya Allah atas rasa sedih akan kehilangan dan rasa senang akan kebersamaan. Sesungguhnya hanya Engkaulah yang mengijinkan semua ini terjadi. Kemana perginya? Semoga kami senantiasa pergi dan kembali dengan menyebut namaMU, Allah Azza Wa Jala.

Friday, January 2, 2015

©WiDS www.wbuenastuti.com

PS: Tulisan ini dibuat saat pencarian korban AA QZ 8501 SBY-SIN 28 Dec 2014 memasuki hari ke 6. My deepest condolence to the families. Innalillahi wa innailahi rojiun.

5 thoughts on “Kemana Perginya?

  1. Bu Wiiiidd,, Terima kasih reminder nyaaa,, Kadang memang suka ga pamit sama orang rumah karena beranggapan perginya cuma sebentar dan deket,, Padahal kan kita ga tau ya akan bertemu lg atau ga=(
    Artikel Bu Wid slalu buat berkaca2 niy,, bahaya baca di tempat umum #),,
    Terus semangat menulis y Bu=)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s