Bukan Aku


Bukan Aku

Oleh Widyaretna Buenastuti

 

Suatu hari sesampainya aku di rumah, gusar hatiku melihat ruang tengah berantakan dengan berserakan mainan ala anak-anak cowok, ada mobil-mobilan, pistol-pistolan beserta pelurunya dan berbagai perlengkapan ala perang lainnya . Kuucapkan salam dan tidak terdengar suara anak-anak yang menyambutku. Kuletakkan tas dan kubuka sepatuku perlahan sambil melihat sekeliling ruangan. Kutanya kepada ponakan yang kebetulan tinggal di rumah, kemana anak-anak. Rupanya mereka tengah ke masjid untuk sholat maghrib. Rasanya tangan sudah gatal saja ingin membereskan mainan yang berserakan, namun urung ku lakukan dan kucoba untuk menarik nafas menyabarkan diri dan membuat teh hangat untuk menenangkan diri. Mungkin mereka tadi terburu-buru untuk ke masjid karena sudah ada panggilan azan, sehingga tidak sempat untuk membereskannya terlebih dahulu.

Selagi aku menikmati teh hangat beraroma camomile, tidak lama terdengar suara ocehan anak-anak dan dentingan roda-roda sepeda mereka yang mulai memasuki garasi.

“Assalamualaikum”, mereka bersama-sama mengucapkannya seraya memasuki pintu rumah dan kujawab salam mereka “Waalaikumsalam…” kedua anak-anak ini usianya terpaut tiga tahun tetapi melihat tingginya mereka sering dikatakan kembar oleh orang-orang yang melihat mereka. Alhamdulillah kakak beradik ini sangat akrab satu dengan yang lainnya.

Seperti biasa mereka langsung berlomba-lomba untuk bercerita kepadaku tentang berbagai hal yang sudah mereka pendam seharian hingga seakan-akan tumpah ruah ceritanya yang seringkali tidak berurutan dan membuatku menjadi pendengar setia dan banyak mengajukan pertanyaan saja. Masa-masa ini adalah saat yang sangat berharga dan kurindukan selalu. Kudengarkan terus hingga mereka mulai bercerita dengan lebih perlahan-lahan, tanda bahwa excitement bertemu dengan ku sudah terlampiaskan. Lalu kulanjutkan dengan satu pertanyaan yang telah membuat aku gusar

“Ini siapa yang habis mainan tapi tidak di bereskan?”

Dan berlomba-lomba pun mereka menjawab „Bukan aku, Ma.“

Kutersenyum melihat polah bocah-bocah ini. Rasanya kalau kepenatan dari menembus kemacetan dan permasalahan di kantor aku turutin, mungkin jawaban itu akan bisa menyulutkan emosiku. Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan diri ini untuk berlatih kesabaran dan teh hangat telah menemaniku untuk bersabar. Kuajak anak-anak untuk membereskan mainan mereka „Kalau gitu kita bereskan bareng-bareng yah“ Alhamdulillah disambut dengan baik oleh mereka berdua tanpa banyak berargumen lagi.

Setelah membereskan mainan itu, anak-anak pun aku ajak untuk makan bersama dan kita kembali terlibat dalam pembicaraan seru. Di sela-sela pembicaraan, kusisipkan pembahasan tentang mainan tadi yang ditinggalkan berantakan dan jawaban mereka yang langsung mengatakan Bukan aku, Ma. Secara ringkas kucoba menjelaskan bahwa dengan menjawab „Bukan Aku“ tidak akan menyelesaikan masalah dan cenderung menyepelekan masalah di kala kita merasa tidak punya andil dan tidak berkepentingan. Mainan yang berantakan tidak akan bisa terbereskan tanpa ada tangan-tangan yang membereskannya. Seandainya semua menjawab bukan aku, apakah berarti mainan itu akan dibiarkan berserakan di lantai seperti itu? Apakah yang bertanggung jawab untuk membereskan adalah yang punya mainan atau yang bermain saja? Untuk memperjelas maksudku, kuberikan contoh

„Kalau saat bayaran sekolah, nanti mama bisa juga jawab, bukan mama yang sekolah jadi bukan tanggung jawab mama untuk membayar kan? Bukan mama juga yang pakai baju kalian jadi kalian sendiri yang harus mencuci baju kalian.“

Kulihat percikan di mata polos mereka yang mulai mengerti kemana arah pembicaraan itu. Kemudian mereka menjelaskan bahwa yang bermain tadi memang bukan mereka saja namun ada anak tetangga yang tadi main di rumah. Kemudian saat azan maghrib berkumandang, mereka tinggalkan untuk mengejar sholat di masjid. Hatiku pun lega karena Allah memberikan kepadaku kesabaran untuk mengetahui duduk perkaranya dan tidak menuduh mereka berbohong atau mencoba mengeles dan melepaskan tanggung jawab dari membereskan mainan. Mereka hanya menunda saja untuk membereskan namun jawaban mereka adalah spontanitas dari anak-anak yang belum bisa mengungkapkan secara tepat maksud yang ada di dalam benak mereka.

Kutersenyum sembari melihat anak-anak yang tengah membereskan meja makan dengan celotehan-celotehan mereka yang tiada hentinya. Kejadian yang kualami bersama anak-anak ini membuat aku bercermin dan merefleksikan kehidupan yang sesungguhnya kita hadapi. Dalam senyumku, azan yang berkumandang itu ibarat Allah memanggil kita menghadapNYA tetapi bagaimana bila kita dipanggil untuk selama-lamanya? Apakah kita akan sempat untuk membereskan segala urusan kita di dunia? Siapa yang akan membereskannya? Kapan akan dibereskannya? Di saat itulah kita bisa mengatakan „Bukan aku“. Karena memang kita sudah tidak mungkin lagi bisa membereskan „mainan“ kita kembali. Bahkan kita tidak akan bisa lagi mengurus badan kita sendiri. Benar, kita telah menjadi jenazah. Bahkan untuk mandi membersihkan diri pun akan dilakukan oleh orang lain untuk kita yang sudah tidak berdaya dan tidak lagi ada rasa malu.

Astaghfirullohaladzim. Bulu kuduku merinding sembari kulangkahkan kaki menuju kamarku. Allah memang selalu punya cara untuk mengingatkan hambaNYA. Kubuka lemari pakaianku untuk berganti baju dan kulihat sederetan baju-baju di dalam lemari. Bahkan baju-baju ini pun harus dibereskan oleh orang lain di saat diri ini tidak lagi bisa bernafas. Belum lagi barang-barang di kantor. Siapakah nanti yang akan membereskan barang-barang kita? Pernahkah kita memikirkan untuk membereskannya sebisa mungkin disaat kita masih hidup? Mungkin pernah terpikirkan tetapi belum sampai kita laksanakan. Lalu, bayangkan seperti mainan anak-anak yang berserakan di ruang tengah, bila orang lain yang mencoba membereskan namun tidak mengerti dimana dan bagaimana membereskannya apakah tidak akan tetap menjadi mainan yang terbengkalai? Apakah kita akan meninggalkan kepada para ahli waris kita yaitu orang-orang yang kita cintai dengan permasalahan yang berantakan atau „unfinished business“ tanpa clue bagaimana membereskannya?

Ya Allah, terima kasih banyak atas pelajaran berhargaMU kepadaku melalui mainan-mainan yang berserakan dan jawaban polos dari anak-anak „Bukan aku“. Kau bukakan mata dan hati ini untuk selalu siap menyambut kapanpun Engkau memanggil. Malam itupun kucoba untuk menuliskan „wasiat“ dalam buku kecil yang masih kosong. Dan saat itu pun aku semakin melihat dan terkesima dengan daftar urusan yang kutuliskan dalam berlembar-lembar halaman di buku kecil. Daftar yang berisi bukan permasalahan pembagian harta karena untuk harta Al Quran sudah mengaturnya. Daftar yang berisi urusan harian dan mungkin terlihat sederhana. Misal, siapa di kantorku yang harus dihubungi, adakah pinjaman-pinjaman barang yang belum dikembalikan kepada yang punya, bagaimana baju-baju akan disumbangkan, dan lain-lainnya. Kutersenyum melihat nama teman-teman yang tercantum untuk dihubungi nantinya oleh anak-anak atau siapapun yang akan membantu membereskan urusanku yang kutinggalkan, someday.

Mungkin ada sebagian kita yang berfikir, sudah lah nanti biarkan saja ada yang membereskan saat kita memang sudah tidak bisa membereskannya. Pendapat yang sah dan ini memang pilihan hidup setiap manusia. Bagiku, paling tidak buku kecil ini akan menjadi pedoman bagi anak-anakku atau siapapun untuk membereskan „mainan“ orang tuanya yang akan sudah tidak bisa ditanya lagi. Buku kecil yang bukan dimaksudkan untuk menjadi isi jawaban atas semua urusan tetapi hanya sebagai petunjuk saja ibarat sebuah peta. Malam itu, kuselesaikan buku kecilku dan berdoa semoga Allah akan selalu membantu segala urusan para hambaNYA di dunia ini agar tidak memberatkan bagi siapapun di akhirat nanti. Selamat merenungkannya kawan.

Tuesday, December 30, 2014

©WiDS www.wbuenastuti.com

PS: Tulisan ini kutuliskan saat berita tentang hilangnya pesawat Air Asia QZ8501 Surabaya-Singapore sejak 28 December 2014 masih dalam pencarian. Semoga Allah akan senantiasa membantu urusan-urusan yang belum terselesaikan oleh para hamba-hambaNYA. Wallahu a’lam, “Dan Allah Maha Tahu”.

 

 

12 thoughts on “Bukan Aku

  1. Subhanallah, Allahu Akbar….atas kehendak Allah Azza Wajalla Bu Wid bisa mendapatkan ide cerita yang bisa dikaitkan dengan Islam.
    Orang yang cerdas adalah orang yang selalu ingat kematian, benar gak Bu Wid.
    Lebih baik kita bersabar di dunia, karena kesabaran diakhirat tidak ada gunanya lagi.
    Allahu musta’an
    Barakallahu fiik

    • Allahuakbar…merinding yah Naomi. Gak selang berapa lama dari tulisan ini aku upload, berita kejelasan pencarian AA QZ8501 langsung tersiar. Hanya Allah yang bisa membereskan urusan2 kita dgn mudah. Ini bukti nyata yg lgsg dihadapkan pada kita bahwa hidup di dunia hanya sementara…

  2. AllahuAkbar, Allah pun sdg menunjukkan caraNya ‘membereskan’ urusan hambaNya,tulisan ini dibuat pada saat pesawaat air asia yg hilang belum ditemukan,tp selang beberapa jam kemudian sdh ditemukan,lihatlah bagaimana cara Allah ‘membereskannya’.

    • dan pengalaman Tiana sendiri yang dijawab oleh Allah dalam waktu yang tidak disangka-sangka. Berprasangka baik sama Allah dan percayalah bahwa Allah telah mengatur yang terbaik bagi kita dan akan membereskan urusan hambaNYA walaupun hambaNYA telah “nakal” kepadaNYA. walahua’lam bisawab.

    • Ternyata dalam surat Al Baqarah:180 bahwa kewajiban atas orang-orang yang bertakwa adalah berwasiat. Hanya kita selama ini mungkin menyepelekan firman Allah ini dan menunggu saat kita nanti menjelang ajal padahal kita tidak akan pernah tahu kapan ajal kita akan datang. Insya Allah kita saling mengingatkan yah.

  3. Sering kali kita tidak sadar betapa dalam kesibukan kita sehari-hari, kita menjadi sangat kekanak-kanakan. Renungan yang sangat dalam…thanks bu Widya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s