Kata – Kata


Aliran sungai Kaligesing, Purworejo

Aliran sungai Kaligesing, Purworejo, captured by Wbuenastuti 2014

Kata-Kata

Oleh Widyaretna Buenastuti

Suatu hari dalam perjalanan kembali ke rumahku setelah kami menjemput anak teman suami dari sekolahnya, mobil yang kami kendarai dipepet oleh motor secara tidak sopan. Teman suamiku yang memegang kemudi terkaget dan secara spontan langsung mengucap

“Wooo….. itu pasti ngambil SIM nya di kelurahan! Gak tau sopan santun banget sih!” dengan nada yang agak keras seperti layaknya kala kita terkaget-kaget.

Alhamdulillah tidak terserempet dan kami pun melaju kembali di tengah suasana lalu lintas yang sebenarnya tidak terlalu padat. Jalan yang hanya cukup untuk dua kendaraan berlawanan arah menjadi agak sempit karena sedang ada galian kabel di pinggir jalan. Motor-motor pun banyak yang melewati sisi kanan dari mobil untuk menghindari terkena tanah-tanah galian di pinggir jalan. Dan motor yang mengagetkan temanku itu, memang mengambil jarak sangat tipis ketika dia memotong jalan di depan mobil yang tengah kami kendarai sehingga terpaksa teman suamiku harus mengerem mendadak. Dalam mobil itu, kebetulan ada kami ber empat. Saya berdua dengan suami, teman suami yang berada di belakang kemudi bersama anaknya yang berumur 6 tahun yang baru kami jemput, sebut saja Ananda.

Tibalah kami di rumah dan kami lanjutkan perbincangan seru kami tentang berbagai hal di meja makan. Tiba-tiba Ananda bertanya kepada ayahnya dengan satu pertanyaan yang cukup membuat kami menjadi terdiam seketika:

“Ayah, emangnya kelurahan ngeluarin SIM juga yah? Warnanya sama nggak dengan SIM yang dari polisi?”

Polos dan Kocak kan? Kami tersenyum tetapi hati kami tersentil. Siapa yang tidak tersentil dan terkagum-kagum dengan kritisnya seorang anak. Rupanya dalam diamnya Ananda, kejadian di mobil saat menjemputnya terekam dengan baik dan masih menggusarkannya hingga timbul pertanyaan yang diutarakannya selang beberapa lama setelah peristiwanya berlalu.

Akhirnya ayahnya Ananda menerangkan bahwa ia tidak bersungguh-sungguh mengucapkan umpatan tersebut waktu di mobil tadi. Kami pun meluruskan pemahaman Ananda bahwa SIM tidak dikeluarkan oleh Kelurahan. Walau Ananda mengangguk dan matanya menyiratkan bahwa ia mencoba mengerti penjelasan kami, tetapi kejadian yang ia lihat dan ia dengar tentunya terpatri dalam benaknya.

Peristiwa yang hampir sama, kala suatu waktu ponakan saya yang saat itu baru berumur 4 tahun tiba-tiba ia mengulang kata-kata “becek lu – becek lu”. Dengan lafal yang masih cadel, saya pikir dia bicara becek karena hujan tetapi ternyata cara penyampaiannya bukan mengarah ke becek alias basah tetapi lebih ke nada mengumpat. Saya memutar rekaman di kepala saya, kemana dia hari itu dan bersama siapa saja dia bergaul seharian. Ternyata supir yang bersama dia suka mengucap “Brengsek Lu”. Wuaduh. Perlu ada pembelajaran dan brainstorming kembali nih. Termasuk „pembelajaran“ ke bapak supir.

Seringkali komentar anak-anak membuat kita tertawa, trenyuh dan tersentil. Berhentikah sampai disitu? Dalam hati kita mungkin akan menjawab, jangan dong. Terus bagaimana kita harus bertindak? Kan kita seringkali gak nyadar kelakuan kita dan nggak nyadar kalau ada anak-anak disekitar kita. So, when can we be ourselves? Kapan kita bisa menjadi diri kita sendiri?

“Cape dong kalau kita harus “pretending” depan anak-anak setiap hari. Secara anak-anak memang sudah diciptakan dan ditakdirkan sebagai imitator sejati.” Teringat kata-kata temanku saat kita bicara tentang topik “mawas diri depan anak-anak“ sebagai lanjutan dari „sentilan” Ananda. Untungnya saat itu kita ditemani kopi yang beraroma semerbak dan ditemani dengan kudapan tradisional di atas meja. Jadi pembicaraan pun menjadi ringan tapi berbobot juga.

Selang beberapa tahun setelah pembicaraan yang masih kuingat itu, dalam suatu perjalanan liburan bersama anak-anak, aku terkejut dengan anakku yang terbangun tengah malam. Ia terbangun seperti terkaget dan langsung meloncat berdiri di pinggir tempat tidur sambil mengucapkan „Astagfirullohaladzim“. Spontanitas yang benar-benar spontan karena ia terbangun dari tidurnya yang lelap dan mengucapkan istighfar kepada Sang Maha Pencipta. Akupun tersenyum melihatnya. Ternyata anakku merasakan mau mengompol dan celananya sudah basah sedikit. Tetapi yang lebih membuatku bahagia adalah karena kespontanannya terarah pada kata-kata memuji asma Allah Azza Wa Jala.

Akankah kita menyia-nyiakan harta berharga yang Allah titipkan kepada kita dengan perkataan-perkataan yang tidak membawa keberkahan dan hanya akan merusak akhlak anak-anak yang juga adalah generasi penerus kita? Ini baru segelintir bagian dari kehidupan kita yang senantiasa di awasi oleh anak-anak kita dan tanpa diminta mereka menjadikan kita sebagai panutan mereka. Belum lagi kita bicara dan mengamati bagaimana anak-anak yang teraddicted dengan “Selfie”, mungkin kita sebagai orang tuanya juga mencontohkan bagaimana berSelfie sejak mereka kecil. Saya tidak mengatakan selfie ini kegiatan buruk, ini hanya contoh lain saja dari bagaimana anak-anak itu merupakan imitator sejati yang berada di sekitar kita. Lihat dari cara anak-anak balita berdiri, terkadang mirip dengan gaya bapaknya atau ibunya . Cara mereka berjalan. Cara mereka duduk. Cara mereka makan bahkan tidur. Indah kan? Kok bisa mirip yah?

Anak memang anugerah dan juga cobaan bagaimana kita bisa belajar tentang kehidupan yang seringkali kitapun tersentil dengan bercermin dari mereka. Dianugerahkan anak dalam kehidupan atau ketitipan anak untuk di asuh merupakan suatu konsekuensi hidup yang sangat panjang amalannya. Anak menjadi baik atau tidak, semua tergantung dari panutan yang berada di sekitar mereka yang mempengaruhi kehidupan mereka. Bila anak berbuat salah, jangan salahkan anak semata, lihatlah kembali kediri kita sendiri. Apakah kita sudah mencontohkan yang baik? Apakah kita sudah menjadi panutan yang memang pantas untuk jadi panutan? Saya sendiri menyadari masih banyak kekurangannya dan masih harus banyak belajar memperbaiki diri. Hal ini yang saya selalu mohonkan kepada Allah untuk senantiasa dibimbing dan diberi peringatan (yang halus aja, jangan keras – keras ya Allah) agar bisa mendidik anak-anak dengan baik dan membekali mereka untuk bisa selamat dalam kebaikan dunia akhirat mulai dengan Kata-kata memuji sang Maha Pencipta.

Tulisan ini saya buat dalam perjalanan liburan akhir tahun bersama keluarga yang semua dilakukan secara spontanitas tanpa jadwal dan reservasi. Dan kejadian anakku yang terbangun di malam hari itu adalah saat kami di penginapan di Cirebon – semua menjadi inspirasi tulisan ini. Terimakasih teman-temanku yang sudah menyempatkan membaca cerita ini dan semoga akhir tahun 2014 ini menjadi refleksi kita untuk bisa menjadi diri yang lebih baik di hari-hari mendatang dan untuk mempersiapkan generasi muda kita menjadi generasi yang lebih baik dimulai dari „Kata-Kata“ yang kita pergunakan setiap hari.

Saturday, December 27, 2014

@WiDS www.wbuenastuti.com

Ilustrasi foto adalah Kali di Kaligesing, Purworejo tempat yang selalu dirindukan oleh anak-anak saat mereka liburan. Aliran air dan panoramanya indah terpelihara ibarat alam pun berzikir mengumandangkan kata-kata yang indah memuji Sang Maha Penciptanya. Captured by wbuenastuti 2014 with Note 3.

 

8 thoughts on “Kata – Kata

  1. Asiiiiiiikkk,, dpt oleh2 pertama dari Ibu=)
    Kadang kalau lg ketemu keponakan yg msh balita, saya berbicara dengan gaya cadel,,
    Eh malah diingetin sama bundanya,, spy ga ngomong cadel d dpn anak2 biar mereka terbiasa mendengar bahasa Indonesia yg benar ^-^,,
    Terima kasih sharingnya Bu, ,

  2. idealnya sopir antar jemput anak sekolah memang sebaiknya selevel guru yang penuh perhatian, punya kapasitas willpower dan self control yang melebihi rata2; jalanan boleh macet menggila, tapi di dalam mobil tetap riang gembira, jam pertama sekolah berlangsung di mobil dengan penuh suka ria.
    faktanya, masih jarang sopir antar jemput yang seperti ini, pihak sekolah juga sepertinya kurang aware; mobil antar jemput jadi ugal2an dikejar waktu dengan sopir (yang besar kemungkinan) judes penuh caci maki. juga terjadi pada antar jemput ojek yang memacu motor tanpa memperhatikan rambu2. #duh
    btw, nice sharing bu wid….

  3. Seringkali anak itu sungguh mengejutkan dengan kemampuan mereka menguasai sesuatu entah itu baik ataupun buruk.. tetapi yg lebih mengejutkan, banyak orang tua sontak mengatakan: “siapa yg ajarin!” Kalau anak melakukan menguasai kebiasaan buruk. Padahal kita sbg orangtua bertanggung jawab atas lingkungan dan gaya, serta cara belajar anak2 kita.. thanks bu Wid.. udah ingetin tugas dan tanggungjawab saya sbg orangtua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s