Juice Mangga di Madinah


wpid-20141014_175817.jpgJuice Mangga di Madinah

Oleh Widyaretna Buenastuti

Aku kesal, aku malu, aku marah dan aku pun menangis…..

Saat makan siang tiba, rasanya aku tidak terima ketika pelayan di restoran hotel tempat aku menginap di Madinah melarang aku untuk mengambil makanan dari sisi makanan prasmanan sebelah kiri dari pintu masuk restaurant. Makanan prasmanan di sisi kiri tersebut di tata dengan pilihan makanan ala Eropa lengkap dengan pilihan buah-buahan, minuman juice mangga yang segar dan pilihan keju yang bervariasi. Melainkan, sang pelayan restoran mengarahkan aku untuk ke arah prasmanan di sebelah kanan yang di khususkan untuk jamaah asal Indonesia. Menu di sisi kanan berisi makanan ala Indonesia dengan nasi putih, nasi goreng dan pilihan daging-daging yang di balado, ayam bersantan dan sayuran tumis. Pilihan buah yang tersedia tidak sebanyak di sisi kiri, tetapi tersedia pisang, jeruk dan apel. Tidak ada juice mangga yang aku rasakan saat sarapan di pagi hari yang rasanya lain dari yang pernah kurasakan sebelumnya. Juice mangga yang segar dari buah asli dan pekat dengan butiran-butiran mangga yang masih terasa manisnya saat menyentuh lidah dan membasahi kerongkongan. Belum lagi pilihan keju yang selalu menjadi favoritku. Pilihan makanan ala Indonesia di sisi kanan restoran sebenarnya tidak kalah sedapnya, tapi saat itu rasanya hasrat makanku sedang tidak berselera masakan ala Indonesia dan ingin ke sisi kiri terutama karena ada juice mangga yang segar.

Kekesalan diriku bertambah karena pihak travel memberi tahu bahwa paket yang aku pilih membolehkan aku untuk bebas memilih makanan untuk sisi kiri maupun kanan. Dengan bermodalkan informasi inilah, sebelum masuk waktu makan, sudah kubayangkan pilihan makanan yang akan aku santap pada siang hari itu, sepulang dari menjalani beberapa ritual ibadah di masjid Nabawi. Dengan digiringnya aku oleh petugas restoran untuk hanya bisa mengambil makanan dari sisi kanan restoran tersebut, maka angan-angan santapan yang telah ada di benakku serta merta melayang berterbangan ke udara dan rasa ingin makan pun hilang seketika. Kuhanya bisa menatap pada tabung juice mangga yang terlihat dari tempatku duduk. Entah apa yang merasuki diriku saat itu.

Astaghfirullohaladzim, kucoba untuk menahan semua rasa kesal, malu, marah ini dengan berzikir dan tak terasa air mataku menetes. Suamiku yang tidak tega melihat istrinya menangis, berusaha menghibur dengan menawarkan beberapa pilihan makanan yang terhidangkan. Aku tidak dapat berkata-kata kecuali menggelengkan kepalaku. Rasanya saat itu, hilang sudah nafsu makanku. Tenggorokan rasanya tertutup, dada terasa sesak dan hanya bisa menangis dan bersabar. Bibirku hanya berzikir dan memohon untuk diberikan ketenangan.

Setelah menenangkan diri, aku minta diantarkan suamiku untuk kembali ke masjid Nabawi sambil menunggu waktu Ashar tiba. Hebatnya, perut yang tidak terisi dengan makanan apa pun tidak terasa lapar sama sekali. Sepertinya rasa lapar telah tergantikan dengan kenyangnya rasa kecewa, malu dan marah. Sungguh, kala itu aku sama sekali tidak bisa untuk tidak menahan rasa kecewa, rasa malu dan rasa marah itu. Kubersyukur ditemani suamiku yang dengan sabar berusaha menghibur dengan tanpa banyak berkata-kata, ia hanya memberikan belaian-belaian lembutnya pada tanganku yang menenangkan diriku dan membantuku untuk terus berzikir memohon ampun pada Allah Azza wa Jala.

Kami berdua pun melangkahkan kaki untuk kembali ke masjid Nabawi yang berjarak hanya dua blok. Suamiku merangkulku dan menggandeng tanganku dengan lembut. Tiada kata-kata yang ia keluarkan tetapi aku tahu kalau dia berusaha menenangkan diriku dengan bahasa tubuhnya. Kami pun terus melangkahkan kaki bersama sambil berzikir dan tetesan air mataku pun masih terasa menetes membasahi pipiku. Hingga langkah kaki kami sampai pada pintu masuk wanita tempat kami harus berpisah karena suamiku harus melewati pintu masuk khusus pria yang berada di sisi lain dari masjid Nabawi.

Sebelum kami berpisah, suamiku pun menatap diriku dan mengangkat daguku untuk ditengadahkan mengarah ke wajahnya. Kutatap matanya dari balik kaca mata hitamku yang juga sudah berkeringat dengan tetesan air mataku, dan menyimak nasihat suamiku:

„Sayang, sabar yah, mohon ampun sama Allah, Insya Allah sabarnya cinta akan digantikan dengan yang lebih baik. Sampai kita bertemu lagi nanti setelah Ashar yah. Jangan menangis terus sayang, selamat bermesraan dengan Allah.“ Dengan lembut ia katakan sambil mengusap air mata di pipiku dan memberi kecupan di dahiku. Kami pun berpisah.

Subhanallah. Air mataku bukannya berhenti tetapi semakin menetes, tetapi kali ini bukan lagi karena kecewa dan malu atas makanan tadi, tetapi hatiku tersentuh dan terharu. Allah telah menggantikan makan siangku, juice manggaku dengan yang lebih baik seketika. Kata-kata indah dari suamiku yang masih terngiang-ngiang terasa menjadi asupan untuk jiwaku yang sedang bergejolak. Kutatap mata suamiku saat ia mengatakannya, yang terasa adalah keteduhan dan ketenangan dari kesabaran dan kasih sayangnya yang ia curahkan kepadaku hingga ke relung hatiku. Ya Allah, aku mohon ampun telah lalainya diri ini, lemahnya diri ini dari kemampuan untuk menahan hawa nafsu marah dan kecewa hanya karena persoalan makanan. Bahkan suamiku pun menjadi terikut dengan nafsuku dan ia pun tidak dapat menikmati makan siangnya dengan baik. Ya Allah, betapa aku ini telah berlaku dzalim terhadap diriku dan suamiku.

Kubertobat dan kucurahkan luapan hatiku kepada Allah saat Ashar. Kunikmati setiap gerakan sholatku saat itu. Kurenungkan nikmat-nikmat yang telah kuterima dimulai dari bangun pagi. Astaghfirulohaladzim, sungguh betapa tidak tahunya diri ini yang masih meratapi dan masih marah hanya karena tidak dapat merasakan segelas juice mangga segar atau pilihan keju yang lezat. Kubersyukur atas nikmat yang ternyata lebih besar di karuniakan kepadaku. Diriku ini telah berhasil dilingkupi godaan sekejap saja dan terbawa kepada amarah dan kekecewaan. Bersyukur diri ini didampingi suamiku yang menentramkan hatiku.

Langit senja yang semakin memerah menyambutku saat kulangkahkan kaki keluar dari pintu masjid dan kulihat wajah yang teduh dari suamiku telah menungguku di tempat „rendezvouz“ kami. Subhanallah. Alhamdulillah. Kami pun menikmati sore dengan secangkir teh susu dan sepotong roti yang terasa lezat dan indah karena hati ini telah tersiramkan dengan kesejukan kasih sayang Allah lewat suamiku yang menentramkan hati.

Kubersyukur sekali suamiku menjalankan peran sebagai belahan jiwaku yang menentramkan hati. Padahal bisa saja ia juga marah kepadaku karena kelakuanku yang tidak dapat menahan nafsu saat itu dan membuat dia menjadi tidak makan siang juga. Dan ia berhak melakukan itu. Tetapi bukan itu yang menjadi pilihannya untuk dilakukannya. Suamiku memilih untuk menjadi penenang bagi diriku melalui kelembutanya dan kesabarannya yang ternyata lebih dahsyat menenangkan diri ini.

Terkadang, kita akan tersulut emosinya bila ada orang yang membuat kita kecewa dan marah. Mungkin kita pernah mengalami mobil tertabrak, langsung emosi menguasai diri kita dan luapan kemarahan langsung di curahkan kepada penabrak. Perangkat piring gelas pecah di rumah oleh anak kita, tanpa bisa kita tahan emosi langsung meluapkan emosi kepada anak yang tidak hati-hati.

Suamiku memberikan suri tauladan bahwa kelembutan juga bisa menyelesaikan masalah dan bahkan lebih damai dan indah. Seperti halnya contoh yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau dicaci maki oleh seorang wanita tua buta di pasar, namun dengan kesabarannya Nabi Muhammad SAW tetap menyuapi wanita tua buta itu dengan sabar hingga Nabi tiada. Pada akhirnya sang wanita tua buta itu pun menyebut dua kalimat syahadat.

Sesungguhnya kenikmatan „juice mangga“ yang sebenarnya telah kita terima dan telah diberikan Allah, asalkan kita mau melihat dan membaca sekitar kita dengan penuh rasa syukur. Ibarat kita marah dan menangisi kehilangan sepeser koin padahal segunung emas menjulang telah ada di dalam gengaman kita. Astaghfirullahaladzim semoga kita senantiasa terjaga dari rasa kekurangan ini untuk menjaga hati tetap bersabar dan beryukur dengan penuh kerendahan hati atas segala nikmat yang tiada kan pernah dapat kita hitung.

Saturday, December 20, 2014

©WiDS http://www.wbuenastuti.com

Ilustrasi foto: “Langit Senja di atas Nabawi” by Widya Buenastuti (Samsung Note3) October 2014

6 thoughts on “Juice Mangga di Madinah

  1. Terkadang diri ini memang lebih mudah untuk meratapi yg tidak dimiliki drpd mensyukuri apa yg telah dimiliki.
    Terima kasih sharing nya Bu,,
    Smg kita mjd hamba yg snantiasa bersyukur atas nikmat yg ALLAH berikan,,
    Foto langit senjanya bagus Bu

  2. Sabar diawal kejadian emang susah ya Bu Wid, mudah2an kita menjadi org2 yg sabarNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya namanya sabar adalah ketika di awal musibah.” (HR. Bukhari, no. 1283). Terima kasih ya Bu sudah berbagi, Barakallhu fiik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s