Mau Bantu Nggak?


wpid-2014-12-13-17.52.39.jpg.jpegMau Bantu Nggak?

Oleh Widyaretna Buenastuti

Saat temanku yang kebetulan seorang expatriate meminta tolong untuk dicarikan tempat penitipan buat hewan piaraannya karena manajemen apartemennya memintanya untuk mengeluarkan binatang piaraanya dalam waktu 1 minggu, satu nama yang langsung kuingat adalah Fulan. Temanku yang sangat penyayang binatang dan sepengetahuanku ia mempunyai rumah yang cukup luas untuk menampung binatang-binatang yang ia pelihara. Sejauh yang aku kenal, kebaikan hatinya pada binatang tidak di ragukan lagi. Fulan tidak sungkan-sungkan sampai tidak tidur atau mengeluarkan biaya yang besar untuk menyelamatkan seekor kucing kampung yang ia temukan di pinggir jalan dalam keadaan yang tidak terawat dan jalannya terpincang-pincang seperti telah terlindas kendaraan bermotor. Akupun menyampaikan kepada temanku bahwa semoga Fulan akan dapat menerima penitipan binatang piaraannya untuk sementara waktu.

Sungguh terkejut diriku dengan reaksi Fulan, ketika aku menelponnya

„Kok dia nggak mikirin waktu nyari apartemen, kenapa pilih apartemen yang itu, seharusnya dia pertimbangkan juga kalau punya binatang piaraan?“ satu kalimat yang membuatku tersentak kaget yang disampaikan dengan nada sedikit agak keras. Mungkin Fulan sedang mengalami kesulitan atau ada sesuatu yang tengah mengganjal hatinya. Terdengar sepertinya Fulan kurang berkenan dengan penjelasanku mengenai alasan kenapa temanku mencari penitipan untuk hewan piaraanya.

„Maaf, Fulan mungkin Fulan kurang berkenan untuk ketitipan, tapi karena Fulan sudah berkecimpung dengan hewan piaraan tentunya aku pikir lebih faham dengan dunia hewan piaraan, makanya nama Fulan yang pertama aku ingat. Apa ada tempat yang layak yang Fulan tau yang bisa jadi tempat penitipan?”

Pembicaraan kemudian berlanjut dengan Fulan yang langsung menanyakan kenapa tidak cari apartemen lain saja dan kenapa tidak begini dan kenapa tidak begitu. Tentunya pertanyaan-pertanyaan itu memang tidak ditujukan kepadaku dan aku pun tidak akan bisa menjawabnya. Temanku yang expatriate ini belum lama tinggal di Jakarta dan belum mempunyai teman yang ia kenal bisa dititipin dengan hewan piaraannya. Sangat wajar jika ia butuh bantuanku untuk menghubungi teman-temanku yang aku kenal kiranya bisa membantu.

Menerima pertanyaan yang bertubi-tubi dari Fulan di ujung telphone, aku tersenyum dan menghela nafas. Ujian kesabaran, aku mengatakan kepada diriku sendiri. Alhamdulillah saat itu hati dan fikiranku sedang dalam keadaan nyaman dan bisa lebih lapang menjawab pertanyaan Fulan.

„Maaf Fulan, aku gak bisa jawab pertanyaan-pertanyaanmu, tapi saat ini ada seorang teman yang meminta tolong dan kalau Fulan bisa bantu akan lebih mudah saya menyampaikannya tetapi kalau tidak, ya tidak apa-apa. Maaf yah saya sudah mengganggu.“

Kututup pembicaraan kami dengan hangat sebagaimana aku membukanya. Namun, pembicaraan yang cukup membuatku tidak nyaman itu membuatku kembali merenungkannya. Sikap Fulan yang menanyakan bertubi-tubi kenapa tidak begini dan tidak begitu, kurefleksikan sebagai perwujudan kasih sayang nya Fulan terhadap binatang yang sangat luar biasa dan melihat sesuatu dari pengalaman dirinya sendiri dalam menyayangi hewan piaraannya. Fulan sempat menceritakan kalau ia mau pergi liburan bagaimana ia mengatur agar hewan piaraannya terawat dengan baik di rumahnya dan berharap teman expatriatku untuk lebih bisa bertanggung jawab terhadap hewan piaraannya saat ia hendak bersenang-senang berlibur bersama keluarganya. Fulan lupa bahwa dengan temanku menghubungi diriku adalah suatu bentuk pertanggung jawabannya kepada hewan piaraannya.

Kecenderungan manusia yang menganggap apa yang berhasil diterapkan pada dirinya bisa dijadikan standard parameter untuk diikuti oleh orang lain, merupakan hal yang wajar dan manusiawi. Mungkin tanpa kita sadari kitapun sering begitu. Mendengar cerita seseorang tentang anaknya yang tidak mau makan, langsung kita akan teringat pengalaman kita bagaimana tips dan tricknya untuk membuat anak mau makan. Wajar. Tidak ada yang salah dalam hal itu. Terlebih lagi apabila yang di ajak berbincang memang bisa menerima dan mau mencoba tips dan tricks tersebut. Yang membuatku terkaget-kaget dengan reaksi Fulan adalah ketika ia bertubi-tubi menanyakan kenapa begini dan begitu.

„Kenapa dia tidak begini, kan seharusnya…..“

Dalam keseharian kita, terkadang tanpa kita sadari juga sering melontarkan nada yang hampir sama.

„Kenapa ambil jalan yang sini, kan seharusnya tadi lewat jalan yang itu, biar gak kena macet seperti ini deh.“

„Kenapa kamu gak terima lamaran si A, kenapa terima lamaran si B, seharusnya……“

Kenapa tidak begini, kenapa tidak begitu…. Sebuah pertanyaan yang jawabannya juga absurd karena kita tidak tahu apakah pilihan yang begini dan begitu juga akan lebih baik dengan yang kita pilih sekarang? Apalagi dilanjutkan „Seharusnya…“ siapa yang mengharuskan? Apakah yang seharusnya menurut kita itu lebih baik? Apakah situasinya dalam keadaan yang sama? Apakah yang berhasil untuk diri ini juga akan bisa berhasil untuk orang lain? Siapa yang membuat suatu asa menjadi berhasil atau tidak? Siapa yang dapat memberikan kelancaran perjalanan?

Astaghfirullohaladzim. We would never know where will our choices lead us into. Kita gak akan pernah tahu kemana atau kearah mana pilihan yang telah kita ambil akan mengarahkan langkah kehidupan kita selanjutnya. Karena memang manusia ditakdirkan penuh dengan keterbatasan.

Sedikit tersentil diri ini karena pertanyaan-pertanyaan dari Fulan. Ternyata tidak nyaman kalau kita ditanya dengan nada ceramah seperti Fulan lakukan padaku, apalagi saat kita butuh bantuan. Sampai-sampai dalam hati saya bergumam, “Mau bantuin nggak sih sebenarnya?” Semoga diri ini tidak tergoda untuk berlaku yang sama kepada teman-temanku saat mereka membutuhkan pertolongan. Berbeda sekali ketika saya menelpon teman yang lain, yang hanya bertanya seperlunya dan langsung mencarikan solusinya. Walaupun pada akhirnya belum tentu memberikan jalan keluar, tetapi paling tidak cukup memberikan rasa kenyamanan bahwa ada teman yang siap membantu.

Sering kali kita lupa bahwa keberhasilan yang kita lakukan dengan cara yang kita pilih, belum tentu menghasilkan akhir yang sama bila diterapkan oleh orang lain. Saran yang kita sampaikan kepada teman bisa jadi memberikan inspirasi saja, tetapi setiap individu sudah di anugerahi oleh Allah dengan jalannya masing-masing. Apalagi kalau ada teman yang sedang memohon pertolongan kita, kita ulurkan tangan bila kita memang bisa membantu atau kita katakan tidak sanggup bila memang tidak memungkinkan membantu rasanya akan sangat meringankannya. Semoga kita senantiasa siap membantu sesuai dengan kemampuan kita masing-masing dan terjaga keikhlasan hati ini dalam membantu sesama karena pada akhirnya hanya pada Allah lah kita bertumpu dan memohon kemudahan untuk membantu.

Alhamdulillahirobbil alamin, Allah memudahkan jalan untuk mendapatkan penitipan bagi hewan piaraan temanku, dan bahkan saya mendapat rejeki teman baru dengan yang punya penitipan. Rasanya seperti sudah kenal lama padahal baru pertelpon saja. Semoga berkah buat semua.

Saturday, December 13, 2014
©WiDS 2014 http://www.wbuenastuti.com

Illustrasi: “Kura-kura Ceria” by Dewanti A Legowo saat usianya 4 tahun.

16 thoughts on “Mau Bantu Nggak?

  1. • Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang maknanya, “Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang kesulitan maka Allâh Azza wa Jalla memberi kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat.”

  2. Jeng wid..senangnya baca tulisan dikau lagi di weekend ini..Betul bgt ya kita sering mudah meng Judge orang..Pdhl kita tidak berada di posisi mereka..kita tidak tau yg sbnr nya terjadi…Makasih ya utk selalu mengingatkan kita menjadi orang2 yg baik dan lebih baik lagi…#peluk widyaaa…#

  3. We would never know where will our choices lead into means Qadarallah. Allah ingin mengistiqomahkan mba mll sdkt tantangan dlm menolong dan mperkenalkan org baru ini ke mba dgn caraNya. Trnyata masya Allah hikmahnya ya mba.. pesan yg sederhana tp sgt bermakna bhw Allah sll tahu yg terbaik bg kita. Barakallahu fiik mba Wid..

    • Subhanallah. .. bener banget Donna… kalau gak krn si Fulan maka tdk akan ada cerita ini. Dan pertemuanku dgn teman baruku ini jg jadinya gak seindah sekarang. Harus merasakan sakit sebelum sehat, sedih sebelum senang… agar kita tdk pernah lupa utk bersabar dan bersyukur.. Wa fik barakallahu Donna.

  4. We would never know where will our choices lead into means Qadarallah. Allah ingin mengistiqomahkan mba mll sdkt tantangan dlm menolong dan mperkenalkan org baru ini dgn caraNya. Trnyata masya Allah hikmahnya ya mba.. pesan yg sederhana tp sgt bermakna bhw Allah sll tahu yg terbaik bg kita. Barakallahu fiik mba Wid..

  5. Saya juga sering menemui pola pikir orang-orang seperti itu. Datang pertama bukannya membahas solve the problem, api dipadamkan terlebih dulu … eh, kok malah minta membahas hal-ihwal tentang ‘penyebab’-nya lebih dulu.
    Tampaknya ada perbedaan, bagaimana sesorang menentukan skala prioritas. Mana yang harusnya lebih dulu dilakukan.
    Tulian bu Widya, selalu menarik untuk kita jadi ikut nimbrung berkomentar.

    • Tidak semua orang beruntung untuk dapat ilmu “memadamkan api”. Bersyukur bila bisa bersabar menghadapi orang2 spt itu apalagi yg dijadikan pekerjaan spt yang dokter Danardi lakukan. Trimakasih Dok dah nimbrung kasih komentar.

  6. Mendenar kan teman yg sedang tertimpa masalah dan membantu semampunya, ,
    Selalu ada jalan untuk mendapatkan pahala ya Bu, ,
    Terima kasih untuk ceritanya Bu
    😘😘😘😘😘😘😘😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s