Mohon Ijin


Mohon Ijin
Oleh Widyaretna Buenastuti

Selagi kunikmati perasaan syahdu berdzikir setelah Maghrib dan menunggu Isya, tiba-tiba anak bungsuku yang saat kutulis cerita ini, masih duduk di kelas 3 SD, datang bersimpuh dihadapanku.Dengan suara yang ia lembutkan dan bahasa tubuh yang penuh kehati-hatian, ia menuturkan permohonannya padaku:

“Ma, aku mau minta ijin,” dengan wajahnya yang polos dan menatapku dengan seksama untuk mengutarakan maksud kedatangannya kehadapanku.

Wah, ada apa ini, tiba-tiba ia begitu sopan dan santun sekali bahasanya. Dengan lembut aku pun menjawabnya. “Ijin apa Nak?”

Sepertinya dia berfikir bagaimana caranya mengungkapkan keinginannya supaya aku memberikan ijin kepadanya. Dalam benakku, ini pasti permintaan yang ia tahu bahwa mamanya akan sulit untuk memberikan ijin, makanya ia sangat berhati-hati mencari waktu dan berbicara padaku. Kutunggu dengan sabar, sampai ia siap untuk menyampaikan permohonannya.

Perlahan, ia lebih dekatkan dirinya padaku dan kami duduk bersama di atas sajadah yang masih terbentang. Kupegang tangannya sambil memastikan bahwa apapun yang ia mohonkan kita bisa bicarakan bersama. Kami pun saling berpandangan sembari saling memegang tangan dengan mesranya. Ia mulai menarik nafas dan dengan suara lembutnya ia sampaikan dengan santun,

“Ini Ma, maaf yah Ma, aku mau minta ijin untuk kuliah di Mekkah,”

Subhanallah… siapa yang tidak tergetar mendengar permohonan ijin ini? Kutatap matanya yang polos dan kutemukan ketulusan permohonannya. Dengan sopan dan santun ia sampaikan kepadaku, karena ia tahu bahwa mungkin mamanya akan sulit melepaskan dirinya untuk kuliah jauh melewati benua dan samudera. Padahal, perjalanannya untuk sampai ke jenjang perkuliahan masih 9 tahun lagi. Seketika kurasakan ada tetesan air mata menetes dari ujung mataku dan tiada kata-kata yang dapat kukatakan. Speechless. Benar-benar speechless kecuali memuji Allah dan Allah lagi. Kuraih tubuhnya yang kecil dan kupeluk erat sembari kucium kepalanya dengan penuh kelembutan. Subhanallah. Ya Allah, Engkau menitipkan anak yang demikian berharganya dan akhlak yang indah ini padaku. Ya Allah, inikah jawaban atas doa-doaku yang kupanjatkan di BaitullahMU?

Memang saat diriku berada di Mekkah, aku terkagum-kagum dengan pengetahuan mutthowif yang membimbing kami. Ia masih duduk di semester 5 di Jamaah Islamiyah Madinah namun hafalan hadits dan Qurannya luar biasa. Kami pun sempat bertemu dengan rekan-rekan seperkuliahannya yang beberapa kali sempat bertemu di ruang makan dan masjid. Akhlak mereka pun sangat santun tanpa menanggalkan kewibawaan mereka. Suamiku pun menyempatkan untuk mengunjungi kampusnya saat kami berada di Madinah dan melalui foto-foto yang diperlihatkan kepadaku. Kekagumanku kualihkan dalam doa permohonan kepada Allah agar dimudahkan bagi anak-anakku untuk bisa menimba ilmu yang membekali mereka untuk ke akhirat dan tidak sekedar ilmu duniawi saja.

Bayangkan, di saat kebanyakan anak-anak seusianya mungkin bercita-cita mau menjadi pengusaha, ataupun dokter ataupun pilot, kini hadir di hadapanku anak bungsuku menyampaikan cita-citanya untuk melanjutkan kuliah di Mekkah. Masih dalam pelukanku, kujawab dengan lembut dan penuh keikhlasan tanpa ada rasa berat sekalipun, “Boleh, sayang. Insya Allah cita-citamu yang luhur dan tulus ini akan dimudahkan dan diridhoi Allah.”

Wajah anakku langsung menyiratkan kelegaan yang luar biasa dan senyumnya pun merekah disertai mata yang berbinar-binar. Ia peluk aku dengan erat seraya mengucapkan “Terima kasih ya, Ma” dan diciuminya diriku berulang-ulang kali.

Penasaran diriku ini kenapa sampai ia sepertinya berhasrat sekali untuk kuliah di Mekkah. Apa karena kami sempat bercerita tentang perjalanan haji kami selama di Mekkah. Atau karena ia diceritakan sesuatu oleh gurunya. Kutanyakan langsung kepadanya dan subhanallah, takjubku kembali dibuatnya

“Mama boleh tau gak sayang, kenapa adek ingin sekali kuliah di Mekkah?”

“Aku takut Ma. Jangan sampai nanti di hari kiamat, amalku belum cukup Ma. “

Subhanallah. Anak bungsuku kembali menggetarkan diriku dengan jawabannya yang takut akan hari akhir. Tetapi ini belum seberapa dengan jawabannya selanjutnya…

“Aku mau masuk surga, Ma. Supaya nanti aku bisa menjadi anak sholeh dan membantu mama papa untuk masuk surga bareng aku, Ma. “

Amin ya robbal alamin. Subhanallah. Semakin deras lah air mataku membasahi pipiku penuh rasa syukur dan ketakjuban yang luar biasa. Ia peluk aku kembali. Tak lama, terdengar azan Isya berkumandang, tanpa banyak berkata-kata, iapun langsung mencium tanganku untuk pamit sholat ke masjid menyambut panggilan Allah.

Sungguh, keindahan dan kesyahduan Maghrib yang luar biasa. Akupun tidak bisa berkata-kata lagi, hanya senyumanku mengiringinya pergi meninggalkan diriku dan akupun langsung bersujud memuji Allah dan Allah lagi, tiada henti.

Subhanallah, Isya ku malam itu sungguh indah dan syahdu sekali. Selesai sholat, kumerenung di atas hamparan sajadahku yang masih terbentang. Anak bungsuku sudah tumbuh rasa takutnya kepada Allah dan ia takut kalau amalnya belum cukup bila ia dipanggil nanti oleh Sang Maha Pencipta dan tidak berhenti dengan rasa takutnya tetapi ia pun telah memikirkan persiapan dirinya sejak dini. Bagaimana dengan diri ini? Sampai dimanakah amalan-amalanku ini? Sampai dimanakah persiapan diri ini untuk menghadapi hari akhir? Malu rasanya. Takut membayangkan ketidak siapan diri ini menghadapNYA nanti. Takut membayangkan kedahsyatan hari akhir dimana tidak ada seorangpun yang dapat berbuat apa-apa dan tidak kan ada yang datang saling menolong. Bahkan ibu yang menyusui saja akan melepaskan anaknya tanpa ia sadari.

Kututup wajahku dan teringat kembali keindahan-keindahan duniawi yang kunikmati bahkan kupelihara. Kuabaikan panggilan azan karena rasa sungkan untuk meninggalkan meeting. Kubuka dan larut dalam facebook dan social media lainnya, sementara membuka Quran hanya kalau ada jadwal ngaji. Kudahulukan bertemu teman-teman dari pada menjenguk orangtuaku. Inikah tabunganku untuk akhirat? Sudah cukupkah amalanku dan tabunganku untuk di hari akhir nanti? Persiapan apa yang sudah kulakukan?

Ya, Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, ampuni hamba ini yang masih tersilaukan dengan keindahan duniawi yang sementara ini. Bimbing hamba ya Allah untuk senantiasa meluruskan niat dan cita-cita untuk menggapai surgaMu. Sebagaimana Kau kirimkan contoh nyata dari malaikat kecilMU padaku. Melalui kepolosannya Kau ingatkan aku kembali, Kau bawa aku kembali dalam rangkulan cintaMU padaku. Jagalah hidayahMU ini padaku ya Allah. Bimbing hamba ya Allah dalam mendidik anak-anak titipanMU untuk meraih cita-cita mereka menggapai surgaMU. Kabulkan lah permohonan mulia mereka, ya Allah.

Kumohon ijin padaMU ya Allah, agar setiap langkah, lisan, karya dan nafasku siap beramal karenaMU ya Allah dan dengan ijinMU pula semua yang kulakukan bisa Kau terima menjadi peringan azab di akhirat nanti. Tanpa ijinMU kutakkan sanggup melaksanakannya. Tanpa ijinMU kutakkan sanggup menjaga hidayahMU. Hanya atas ijinMU dan RahmatMU semua amalan akan dapat membawaku menggapai surgaMU. Amin ya robbal alamin.

Saturday, December 6, 2014
©WiDS  http://www.wbuenastuti.com

PS: tulisan ini kudedikasikan kepada ananda bungsuku tercinta yang selalu menyadarkanku akan indahnya Cinta Allah. Terimakasih anakku. Semoga cita-citamu dikabulkan Allah Subhanallahu Wa Taala.

16 thoughts on “Mohon Ijin

  1. Tersindir Bu dengan kalimat:
    ‘Ku dahulukan bertemu teman2 drpd menjenguk orang tua ku’😦
    Terima kasih untuk kembali mengingatkan ya Bu,,
    Smg bs menjadi anak sholehah yg bs membawa orang tua ke Surga ALLAH,,
    Amin,,

    • Subhanallah. tidak bermaksud menyindir siapa-siapa. itu adalah refleksi diri yang masih banyak kekurangannya juga. Semoga kita senantiasa masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri. Amin ya robbal alamin. Terima kasih Tika for being the first commentator. 🙂

  2. Subhanallah. masyaallah. Allahuakbar. Semoga anak2 kita di berikan Pola fikir seperti itu. itulah Generasi Pola yg di perlukan oleh generasi kita. ada hadist mengatakan Bila ingin kebahagian dunia maka Railah kebahagian Akhirat.

  3. subhanallah, adik dio itu emg suka bikin “merinding” dg gaya bicaranya yg polos itu. Rany kadang terkesima dg kepedulian anak seumuran dia.
    Mudah2 an dek dio selalu istiqomah dg keimanannya, dan dimudahkan utk menggapai cita2nya. aamiin 🙂

  4. Subhanallah…terharu lagi baca tulisan dikau Wid…Makasih ya Alloh, Engkau mengirimkan Widya menjadi Teman baikku…dan Semoga Engkau mengabulkan doa2 kami semua Amiiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s