Menunggu atau Menjemput


Menunggu atau Menjemput

Oleh Widyaretna Buenastuti

 

Masih di dalam pesawat menuju ke Jakarta setelah menunaikan ibadah haji, kurasakan ada dorongan yang kuat untuk mengunjungi kakak ibu yang tertua di Surabaya yang aku panggil dengan panggilan Bude. Kusampaikan kepada suamiku tentang keinginanku untuk mengunjungi budeku sebelum masa cuti ini habis dan saatnya harus kembali ke kantor dan kudapatkan restunya bahkan suamiku bersedia menemaniku.

Sesampai di rumah, kubuka internet dan kupersiapkan tiket perjalanan beserta akomodasi untuk ke Surabaya bersama suami. Walau rasa penatku belum pulih dan rasa rindu pada anak-anak di rumah masih belum terlepaskan, dorongan untuk pergi ke Surabaya sepertinya sangat kuat. Tiada yang kubisa ketahui dan kuraba kemana arah misi ini. Kenapa kalbu ini sedemikian kuat mendorongku untuk menjenguk budeku. Tak ada ekspektasi, tak ada persiapan dan aku pun tidak memberitahu bude akan rencana kunjungan ke rumahnya ini.

Hari menjelang maghrib ketika aku mengetuk pagar rumah budeku. Dalam usia yang sudah berada di kepala delapan, beliau ini menurutku adalah sosok wanita yang mandiri dan pemberani. Sudah hampir 40 tahun beliau ditinggal almarhum pakde dan semenjak anak-anaknya telah berkeluarga, beliau mengurus dirinya sendiri. Memasak, membersihkan rumah, mencuci dan pekerjaan rumah lainnya, semua beliau lakukan sendiri. Tidak ada asisten rumah tangga yang bekerja untuk beliau karena memang beliau merasa nyaman dengan kesendiriannya itu.

Kudengar langkah-langkah kecil yang mengarah ke pintu gerbang dan kulihat kelambu yang tersingkap dan bayangan sosok bude terlihat dari luar pagar tempatku berdiri. Ia mengintip di balik kisi-kisi jendela dan pelan-pelan bunyi anak kunci membuka pintu tamu. Terlihat seorang wanita yang sudah cukup berumur dengan rambutnya yang memutih namun langkah kakinya masih lincah menyambut kedatanganku.

“Eh, mbak, kowe soko ndi? Ene opo?” (mbak, kamu dari mana? Ada apa nih?). Nada senang dalam suaranya menyambut kedatanganku namun juga terlihat dari matanya beliau menyimpan banyak pertanyaan dalam benaknya. Karena aku memang jarang sekali datang mengunjungi beliau. Sudah sewajarnya lah orang tua bertanya-tanya, ada apa gerangan ponakannya yang tidak pernah datang ataupun menelpon beliau, kini berdiri di depan pagarnya tanpa kabar berita sebelumnya.

“Dari Jakarta, Bude. Saya memang pengen nengokin Bude aja. Apa Bude semua baik-baik saja?”

Pembicaraan pun kusambut dengan hangat dan kurangkul tubuhnya yang kecil namun berisi.

Baru kami duduk dan menata diri di ruang tamunya yang kecil nan apik, kudengar azan Maghrib berkumandang. Suamiku pun pamit untuk sholat maghrib di masjid. Sementara, aku pun langsung mengajak Bude untuk berjamaah bersama diriku untuk sholat maghrib di rumahnya. Disinilah kumulai pelan-pelan melihat dan mengerti maksud Allah kenapa mendorongku untuk mengunjungi Budeku. Dari mulai wudhu hingga sholat selesai, beliau dengan simak mengikuti semua tuntunan yang kusampaikan satu persatu, ibarat seorang anak kecil yang baru saja belajar cara wudhu dan sholat. Dengan hati-hati kubimbing beliau untuk mengikutiku melakukan setiap prosesi wudhu dan sholat.

Setelah sholat, rasa penasaranku berkecamuk di dalam benakku. Apa yang terjadi dengan budeku? Apa selama ini beliau belum mengenal cara-cara wudhu dan sholat? Apa tidak ada yang membimbing beliau? Aku memang belum mengenal Bude sama sekali. Informasi tentang Bude yang ada padaku hanyalah terbatas bahwa Bude adalah kakak ibuku. Beliau mempunyai 3 orang anak yang telah sukses dengan karirnya masing-masing dan tinggal sendiri-sendiri. Kami pun berbincang dan betapa terkejutnya diriku mendengar cerita yang tertutur dari bude perlahan-lahan:

“Mbak, Bude ini mau naik haji. Insya Allah tahun depan sama mbakyumu, tapi bude takut dan rasanya belum siap.”

Subhanallah…. Bulu kudukku merinding, hatiku bergetar dan mataku memanas serasa linangan air mata akan menetes. Oh inikah yang dimaksudkan oleh Allah dengan mendorong diriku untuk mengunjungi budeku? Ya Allah, Kau kirimkan keinginan pada diri ini untuk bersilaturahim kepada bude yang ternyata beliau sedang butuh dimantapkan hatinya untuk datang memenuhi panggilanMU ya Allah.

Budepun lanjut mengatakan, “Bude ini baru mengenal Islam 2 tahun yang lalu, dan rasanya sudah telat untuk mulai belajar lagi yah mbak?”

Masya Allah, jantungku terasa seperti berhenti sesaat. Kutertegun menatap wajah bude yang sudah penuh kerutan dalam balutan mukenanya. Kok bisa beliau baru mengenal Islam 2 tahun yang lalu, kubertanya dalam hati. Setelah berbincang-bincang ternyata, yang beliau maksud adalah beliau mulai tergerak untuk sholat dan berpuasa baru sejak 2 tahun yang lalu. Pelan-pelan kubantu beliau membuka mukenahnya dan melipatkannya. Masih di atas sajadah yang kuhamparkan untuk kami sholat maghrib berjamaah, kupeluknya dalam dekapanku dan kuciumi wajahnya. Sambil kubisikan, Labaikallahuma labaik, labaikalah syarikala-kala labaik.

Ya Allah, bila Engkau berkehendak untuk memberikan hidayahMU pada hambaMU, kapan saja dan mudah saja bagiMU. Tidak pandang usia, tidak pandang jenis kelamin, semua memang kuasaMU dan pilihanMU ya Allah. Kini kau bukakan pintu hati seorang hambaMU di usianya yang sepuh dan Kau panggil beliau untuk menghadap ke baitullahMU. Ya Allah mudahkan baginya untuk belajar mengenalMU dan mencintaiMU sebelum Engkau panggil ia menghadap kepadaMU untuk selama-lamanya.

“Alhamdulillah Bude, sekarang hati Bude dibukakan Allah untuk menerima hidayahNya. Insya Allah belum terlambat. Akan menjadi terlambat untuk belajar bila kita sudah tidur selamanya dan dikubur di dalam perut bumi, Bude.” Kujawab dengan perlahan sembari memegang kedua tangannya dan kupeluk beliau lagi.

Tak terasa air mata kami berdua menetes dan badan kami sama-sama bergetar. Dalam pelukan, derap degup jantung yang berirama bisa kurasakan . Kurasakan getaran badan Bude yang mengisyaratkan kekhawatiran namun juga keterbukaan untuk menerima ilmu-ilmu baru. Rasanya diri ini menjadi begitu dekat kepada budeku yang satu ini, seperti dengan ibuku sendiri. Entah bude menangis karena apa yang jelas hatiku bergetar dan semakin merasakan betapa kasih sayang Allah yang luar biasa pada hambaNYA.

Ya Allah, sesungguhnya ini adalah pelajaran bagiku dan betapa meruginya diri ini bila tidak bersyukur kepada Engkau atas segala nikmat yang telah Engkau berikan padaku. Engkau berikan kesempatan beribadah, berhaji dan menimba ilmu tentangMU di saat diri ini masih sanggup untuk melangkah dengan sigap, saat mata ini masih dapat melihat dengan jelas, saat gigi-gigi ini masih bisa mengunyah makanan dengan baik, saat kuping ini bisa mendengarkan lantunan- lantunan dzikir bahkan suara angin yang mendesis dan saat hati ini menerima hidayahMU dengan lapang. Kenikmatan-kenikmatan yang tiada dapat dihitung dan tiada dapat kubalaskan padaMU ya Allah.

Bahkan kini, Kau berikan kepadaku sebuah ladang amal untuk aku manfaatkan dengan baik. Ya Allah, kemana sajakah aku selama ini? Kerabat yang dekat dari diri ini ternyata masih ada yang membutuhkan bimbingan. Kemana sajakah aku selama ini? Sibuk dengan pekerjaan dan urusan diri sendiri. Ya Allah ampuni hamba ini yang masih banyak mengejar duniawi semata. Ampuni hamba yang masih belajar hanya untuk diri sendiri. Bimbing hamba ya Allah agar ilmu yang telah Kau bekali pada diriku bisa bermanfaat bagi hamba-hambaMU, terlebih lagi orang tua dan kerabat sebagaimana telah Engkau firmankan.

Sepulang dari kunjunganku itu, tiada hentinya air mata menetes merasakan kasih sayang Allah yang luar biasa padaku dan juga pada budeku. Kurenungkan pengalaman ini. Butuh 80an tahun untuk bude menunggu diberikan Hidayah oleh Allah dan menerima Hidayah itu. Insya Allah beliau diberikan kemudahan dalam belajar dan masih diberikan waktu untuk menunaikan ibadah hajinya. Sungguh, waktu itu terbatas dan tiada pernah berulang. Masih kah kita menunggu datangnya Hidayah atau lebih baik kita menjemput Hidayah itu?

 

©WiDS 2014December

www.wbuenastuti.com

12 thoughts on “Menunggu atau Menjemput

  1. Untuk kali ini tidak komentar ya.

    Hanya saja menyatakan sangat bangga dan bersyukur melihat aeorang sahabat tertempa zaman dan tumbuh kuat dan bijak secara konsisten seiring waktu. Sungguh Allah mempersiapkanmu dengan sangat baik Wids and sungguh tidak banyak orang yang ikhlas bersyukur terhadap tempaan ini as u did and will always do ….. Hampir seperti kekasih Allah yang paling disayang …….

    Really so proud i just couldnt say it in a decent wording ….. Big Huugs

    • Asdi, Jazakallahu khair barakallahu fik. Sungguh semua ini akan ada perhitungannya nanti. Saya berdoa semoga kita semua siap mempertanggung jawabkan dihadapanNya. Rasanya saya ini masih jauh dari kesiapan itu. Smg Allah memberikan RahmatNya pada kita semua di hari akhir nanti.

  2. Tulisan yg bagus mba widya..Membacanya seperti mengajak saya menelusuri hari2 kemarin, mempertanyakan kembali akan pemanfaatan hati dan fikiran ini dalam mensyukuri nikmat ALLAH SWT..menyadari kembali tentang banyaknya lahan yg belum tergarap, hanya karena alasan kesibukan duniawi yg tiada habisnya…terimakasih sudah menginspirasi ya mba wid…saya harus siapkan tiket menuju lahan garapan yg selama ini sudah terabaikan..

    • Alhamdulillahirobbil alamin. Saya doakan Mas Budi mendptkan kemudahan dalam mendapatkan “tiket” untuk memprioritaskan persiapan “masa depan” yg kekal abadi. Terima kasih sdh memberikan comment dan memotivasi saya utk berbagi cerita.

  3. Merinding baca tulisan ibu, Alhamdulillah tidak ada kata terlambat dalam mempelajari agama selama nafas ini masih ada. InsyaAllah, Allah akan memudahkan, memberikan kesehatan dan membimbing dalam ibadah Haji Budhenya Bu Widya.aamiin

  4. Astaghfirullah,,
    Smg diri ini bukan termasuk orang yg merugi,,yg membiarkan waktu berjalan begitu saja tanpa beramal shaleh,,
    Smg Bude nya Bu Wid senantiasa istiqomah😨😆
    Terima kasih untuk ceritanya yg menginspirasi ya Bu,,

    • Amin ya robbal alamin. Tika, sesungguhnya memang manusia ini gudangnya segala kealpaan, kekhilafan dan kesalahan. Oleh karenanya Allah itu Maha Pengasih, Penyayang dan Pengampun. Hanya kepadaNYA lah kita bisa berharap bantuanNYA dan bimbinganNYA.
      Terimakasih juga sudah selalu setia membaca dan memotivasi diriku berbagi cerita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s