Hampanya Arofah


“Hampanya Arofah”

oleh Widyaretna Buenastuti

Dalam perjalanan bersama putriku, tercetus suatu pernyataan darinya:
“Mama kok hebat sih bisa tau jalan jalan kecil dan hafal arah arahnya.”  Kutersenyum dan menjawab “Alhamdulillah mbak, ingatan mama ini semua karena karunia Allah, yg sebenarnya mama gak hebat kok tanpa bantuan Allah. Manusia itu sebenarnya sangat kecil dan tidak berdaya tanpa kuasa Allah.” Kulanjutkan pernyataan ini dengan sebuah cerita yang kualami sendiri sewaktu berada di padang Arofah. Padang yang menjadi tempat berkumpulnya seluruh umat muslimin untuk menjalankan wukuf sebagai salah satu prosesi haji dan tempat yang mustajab untuk memanjatkan segala doa dan tobat kepada Allah.

Rasa syukur dan bahagianya diri ini bisa berada di padang Arofah bersama suami tercinta bukan kepalang. Sembari menunggu waktu doa yang mustajab yaitu setelah zuhur hingga matahari terbenam, saya mempersiapkan diri dengan doa doa yang hendak saya panjatkan. Ibarat anak kecil yang akan bertemu orang tuanya yang sudah menjanjikan apapun yang diminta Insya Allah akan dikabulkan, jadi daftar panjang doapun sudah ku persiapkan termasuk titipan2 doa dari sahabat dan kerabat. Waktu sholat dhuha pun mulai masuk dan saya pun mengajak teman jamaah untuk ambil air wudhu ke Toilet yang tak jauh dari tenda rombongan kami.
Kucari suamiku di tenda pria, namun tidak kutemukan. “Ah, aku kan hanya mau ke toilet yg dekat saja dan sebentar.” Batinku dalam hati.

Ternyata toilet yang kudatangi bersama 2 orang temanku lumayan ramai antriannya dan sembari berbincang bincang dalam antrian dengan jamaah lain, kebetulan giliran saya menjadi yang terakhir. Teman temanku sudah selesai dan siap untuk kembali ke tenda. Sementara saya harus menunggu dua ibu-ibu sepuh yang berada di depan saya.
“Silahkan mbak, duluan saja nanti saya kembali ke tenda sendiri.” Selesai urusanku dari toilet, kulangkahkan kaki keluar dari pelatarannya. Entah apa yang terjadi, tiba tiba ada kehampaan yang kurasakan dalam diri ini. Seolah-olah ada kekuatan yang menarik ingatanku dan yang kurasakan hanya kehampaan. Kubertanya pada diriku sendiri “Aku dimana yah ini?” Masya Allah tiada pernah kurasakan perasaan hampa ini, semua tenda-tenda dalam batas pandangan mataku terlihat sama dan tidak ada yang kukenali sebagai tendaku. Yang kulihat hanya orang-orang berpakaian putih-putih dalam ihram, semua tampaknya sama. Beberapa detik kutertegun didepan toilet dan rasanya benar-benar blank, kosong dan hampa.

Kucoba melangkahkan kaki menyusuri jalan-jalan setapak di luar dari toilet hingga ke penghujung lorong namun ingatanku seperti hilang tak berbekas. Kumendengar sayup-sayup dari tenda-tenda yang kulewati, lantunan Labbaikkalahuma labaik… aku datang memenuhi PanggilanMU ya Allah. Bibirkupun ikut menyenandungkan lantunan ini, “ya aku datang memenuhi panggilanMU ya Allah, tapi dimanakah aku berada” dan secara perlahan kehampaan dalam diri ini mulai terasa diisi. Kuteringat bahwa aku sedang berada di padang Arofah untuk melaksanakan wukuf haji. Wukuf secara harfiah berarti mengasingkan diri. Keinginan kuatku untuk  melakukan wukuf di arofah bukan untuk merasakan terasing juga dari diri sendiri. Ya Allah, hamba mohon ampun sembari terus ku lantunkan Labaikkalahuma labaik….

Beberapa kali aku mondar mandir di depan toilet hingga beberapa jalan telah kutelusuri namun tak juga ada tenda yang kukenal sebagai tenda jamaahku. Perlahan-lahan aku mulai teringat bahwa aku di arofah bersama suamiku. Ya Allah, aku memenuhi panggilanMU untuk berada di padang arofah ini, namun bila Kau ambil ingatanku, betapa meruginya aku. Ijinkan aku untuk mengingat kembali, bertobat kepadaMU, memohon kepadaMU dan bertemu dengan suamiku kembali. Ya Allah hamba mohon ampun atas segala kesombongan hamba. Engkaulah penolong ku dan hanya padaMU lah ku bergantung.

Doa dan dzikir terus kupanjatkan dan tiada hentinya lidah dan bibir ini bergumam menyebut nama Allah. Panas yang terik di padang arofah itu tidak kuhiraukan bahkan tidak bisa kurasakan, dan pelan-pelan kumencoba kembali lagi ke toilet yang menjadi titik awal. Sekali lagi kumelangkah dan melangkah ke satu arah yang kuyakini adalah jalan pulang ke tenda. Namun rasanya menjauh dan semakin asing bagiku. Kumpulan tenda-tenda mulai berkurang dan mulai terlihat jeruji-jeruji pagar yang berbatas dengan jalanan besar. Sudah pasti aku tersesat. Ini bukan jalan pulang ke tenda tapi jalan pulang ke arah entah berantah yang kutak tahu aku berada dimana.

Kubalikan badanku dan hendak kembali ke toilet lagi. Air mataku mulai menetes. Peluh keringatpun kurasakan mulai menetes. Kali itu kurasakan melangkah tanpa arah dan tanpa alat bantu apapun. Tidak ada hp. Tidak ada GPS. Yang kupunya hanya ingatanku pada ALLAH. Diri ini yakin bahwa Allah akan membantuku, hanya saja aku ini tengah diuji sebentar sebelum saat-saat mustajab untuk segala doa dikabulkan mulai dibukaNYA. Panasnya pagi itu dan kebingungan dalam diri ini membuat badanku bereaksi dengan getaran yang dapat kurasakan ibarat orang Parkinson. Kulihat jari jemariku yang bergetar dan badan mulai mengeluarkan keringat dingin. Semakin kecil kurasakan diri ini. Semakin tidak berdaya tanpa bantuanMU ya ALLAH.

Dalam langkahku kembali menuju toilet, mataku tiba-tiba melihat sepasang suami istri yang tengah duduk berdua membaca doa di bawah pohon yang rindang. Aku mendekati mereka dan duduk di samping mereka. Dengan suara yang terbata-bata keluar dari bibirku, kucoba menjelaskan bahwa diri ini tersesat dan maksud hati meminjam handphonenya untuk menelpon suamiku. Alhamdulillah dengan kemurahan hati mereka yang ternyata jamaah dari Aceh, langsung sang bapak memberikan handphonenya padaku. Senangnya bisa memegang handphone. Sebuah handphone yang sangat standard bukan smartphone canggih seperti yang kumiliki. Namun aku yakin alat ini bisa membantuku untuk berkomunikasi dengan suamiku. Kulihat tuts-tuts angka yang berbaris di gengamanku. Kehampaan masih saja menyelimutiku. Nomer handphone suamiku tidak kuingat. Astaghfirullohaladzim. Ya Allah, ampun ampun dan beribu ampun. Ingatan ini hanya bisa kembali atas ijinMU. Kuberserahdiri padaMU ya Allah.
Baru kurasakan tanganku gemeteran tergagap gagap dengan handphone yang tidak biasa kupegang. Pelan-pelan kutekan tuts tuts handphone dengan nomor yang terlintas di benakku dan kutunggu beberapa saat, tidak diangkat. Mungkin karena nomernya tidak dikenal jadi suamiku tidak mengangkat. Kukirimkan sms dan ternyata tidak bisa terkirim. Masya Allah, “nomor yang anda tekan kurang lengkap” pesan dari voicemail. Lagi-lagi diri ini lupa. Bahkan nomer handphone suamiku tercinta yang sudah berpuluh puluh tahun telah lekat dalam ingatan juga hilang seketika. Perlahan lahan kucoba beristighfar dan mengingat kembali. Kukirimkan sms ke nomer yang berbeda yang seingatku nomer lama yang ia miliki. Dengan memohon pada Allah agar suamiku tergerak hatinya untuk mengangkat handphonenya atau paling tidak mengkhawatirkan keberadaan diriku. Pasrah dan tawakallah yang kupunya saat itu.

Sementara di tenda, suamiku bertanya pada salah satu ibu jamaah serombongan dengan nada isyarat di batas hijab, apa istrinya lagi tidur? Dan sang ibu pun menjawab dengan anggukan. Tanpa pikir panjang, iapun merebahkan diri untuk beristirahat sejenak. Handphone pun ia letakkan dan di taruh dalam nada getar untuk tidak mengganggu jamaah lain yang tengah khusyuk beribadah.

Brrr… brrr… handphonenya bergetar. “Nanti saja lah aku lihat, lagi mau rebahan dulu” batin suamiku ketika ia merasakan getaran handphonenya. “Beep” suara sms masuk.
Dalam padang Arofah yang demikian luasnya, ada jamaah-jamaah yang diberikan tenda-tenda oleh penyelenggara haji disamping masih terbuka bagi mereka yang hendak berkumpul di lapangan yang luas. Tenda yang disediakan bagi rombongan kami alhamdulillah terdiri dari tenda sederhana dengan bambu bambu sebagai penyagak tanpa AC dan beralaskan kasur-kasur tipis. Dalam suhu udara arab yang lumayan panas, Alhamdulillah lokasi tenda kami yang bernaung di bawah pohon pun masih memberikan keteduhan bagi kami yang menempatinya.

Sepertinya Allah mengusik ketenangan suamiku dengan bunyi beep sms yang masuk ke handphonenya dan menggerakan hatinya untuk mengintip handphonenya.
“Cinta, ini mama tersesat, tolong telepon ke nomor ini.” Terbaca dalam layarnya.

Dengan seketika mata yang ngantuk dan rasa ingin merebahkan diri pun, mendadak hilang, terasa segar katanya dan langsung ia tekan “call” ke nomor sms yang masuk itu.
Senangnya hatiku melihat nomor telepon suamiku memanggil handphone yang tengah kugenggam, serasa ada angin yang bertiup menghalau panasnya padang pasir. Akhirnya kami sepakat untuk bertemu di “toilet pangkalanku” dan ternyata…. belum sempat kumelangkah menuju ke toilet yang ada di depan mata, sosok suamiku yang kuharapkan sudah muncul di depan mata. Ternyata jarak dari tempat aku menelpon dengan tendaku hanya kira kira 100 meter. Masya Allah. … ternyata aku tersesat masih dalam kisaran seputar tendaku juga.

Astaghfirullohaladzim. Mohon ampun ya Allah. Rasanya seperti keahlianku selama ini akan arah dan membaca peta termasuk ingatan akan nomor telepon dicabut seketika dari diriku ini. Keahlianku yang selama ini telah melanglang buana ke berbagai negara di dunia bahkan hingga passport hilang pun masih mampu menemukan jalan kembali rasanya bukanlah suatu kehebatan yang berarti dibandingkan dengan kekuasaan Allah yang mengujiku dan menyelamatkanku dari tersesat di padang Arofah. Baru satu kenikmatan saja yang dicabut rasanya sudah hilang tak tentu arah. Sungguh kecil dan tiada daya rasanya diri ini dan kurasakan begitu akbar dan megahnya kuasa Allah yang melingkupi semesta alam raya ini.

Tetesan air mataku tak dapat kubendung lagi saat berada dipelukan suamiku. Subhanallah. Alhamdulillah. Ya Allah terimakasih dan segenap syukur kupanjatkan padaMU atas ujianMU padaku. Sesungguhnya hanya padaMU ku berlindung dan padaMU ku bergantung. Semoga hamba tiada kan lelah memujiMU sebagaimana Engkau akan terus mengujiku hingga Kau memanggilku kembali ke pangkuanMU.

Nasehatku kepada putriku pun berlanjut “Jadi yang hebat itu Allah, mbak. Semoga kita selalu terjaga iman kita dan terjaga hidayah yang diberikanNYA pada kita. Mudah bagi Allah untuk mencabut satu kenikmatan yang telah diberikan kepada kita, tapi dampaknya luar biasa bagi manusia yang sesungguhnya lemah ini. Masihkah kita menyombongkan diri ini bahwa diri kita hebat?”

©WiDS 2014
http://www.wbuenastuti.com

14 thoughts on “Hampanya Arofah

  1. Seandainya aku mempunyai kesempatan ke arafah my bff.

    Sepertinya Allah masih lebih menetapkan aku untuk mencuci diri di sini dahulu bersama anak-anak. Jika satu saat nanti aku sampai, pun aku masih ada cemburu karena tidak mungkin tersasar dan texting : “cinta pls find me, i am lost”, buatku sangat indah. Selamat datang kembali di bumi Jakarta my bff………

    • Asdi, mudah bagi Allah utk merubah ketetapanNYA apalagi yg msh dlm asumsi kita. Memohon dan memohon saja padaNya, sesungguhnya Allah senang dgn rintihan dan doa hambaNYA. Smg Asdi and kids sll terjaga iman dan hidayahNYA.

  2. Baca tulisan ini rasanya aku ada disana mbak..kebayang gimana perasaan mbak widya dan ada rasa jealous bisa berdua ama suami menikmati ibadah ditanah haram.. doakan aku ya mbak yg terbaij menurut Allah.. aamiin Allahuma aamiin

    • Mbak Iwit, insyaAllah doa2ku utk mbak Iwit diijabahNYA. Rasanya setiap pojokan mekkah dan madinah selalu ada mbak… Allah masih menyimpan Hadiah NYA yg terbaik utk mbak. Jgn pernah berhenti memohon, bersabar dan bersyukur yah. I love you!

  3. Akhirnyaaaaa postingan pertama stlh Ibu selesai ibadah Haji datang juga,,😄
    Selalu mensyukuri segala nikmat sebelum ALLAH mengambil apa yg menjadi milikNYA,,
    Terima kasih untuk oleh2 ceritanya Bu😘

    • Tika, Alhamdulillahirobbil alamin selalu teringat sama Tika yg gak bosen2 nagih cerita. Makanya begitu sampai di rumah lgsg di posting takut gak sempat lagi. Smg ceritanya bermanfaat utk kita sll memuji Allah. Dan bersyukur atas setiap nikmat dan juga UJIANNYA. …

  4. Gak terasa menetes air mata baca tulisan cerita ini, pertama karena larut dalam cerita seolah sy sendiri merasakan penderitaan lupa tsb, kedua karena kagum Akan kebahagian bu haji dapat menunaikan rukun Islam ke 5 bersama suami tercinta di usia yg muda dan mapan, ketiga , ke empat dan seterusnya lupa apa yg harus dituliskan…

  5. Subhanalloh, memang ada fenomena2 spt itu terjadi di mana pun berada. Dan saya menemukan beberapa kejadian2 spt itu ketika saya bertugas sbg TKHI dulu. Kejadian spt itu tergantung sudut pandang dlm menyikapinya. Bisa dianggap sbg situasi yg membuat panik seseorang, namun bisa pula dirssakan sbg trip yg ‘menyenangkan’.

    • Allah selalu punya cara utk mengingatkan akan keHebatanNya dan ketidakberdayaan hambaNya dgn cara “bercanda yang serius”…*boleh kan saya pinjam istilahnya dok? Smg kita sll bisa melihat setiap kejadian sbg bentuk kasih sayangNya yg indah. Amin ya robbal alamin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s