GULA


GULA

Oleh Widyaretna Buenastuti

 

Dalam suatu pertemuan makan malam di sebuah restoran yang terletak di dalam sebuah hotel berbintang lima, aku meminta secangkir kopi sebagai penutup makan malam. Penyajian makanan pada malam itu cukup membuat saya terkesima. Karena cita rasa makanan hotel yang biasanya terkesan hambar dan kurang ‘miroso’ istilah dalam bahasa Jawa, tidak saya rasakan di restoran itu. Keterkesimaan saya belum usai, kali ini dari sajian gula untuk kopi yang disajikan dalam satu kotak yang terbuat dari perunggu dan di dalamnya ada 6 pilihan gula yang berbeda-beda.

Waktu kotak sajian gula itu dibuka, kami yang sedang berempat di meja langsung tertarik dengan sajiannya dan mencoba untuk menebak-nebak jenis gula yang tersaji. Ada yang berbentuk batu kristal berwarna putih, ini pasti yang dinamakan gula batu. Saya pun baru tahu kalau jenis gula batu tidak semua berwarna kristal putih, ada yang kuning ataupun merah. Kemudian disebelah sisi kristal putih ada yang berbentuk gumpalan-gumpalan berwarna coklat namun beraroma khas yang mengingatkan akan bumbu rujak. Ini tidak lain adalah gula jawa. Kemudian yang tidak asing adalah bentuk butiran-butiran putih. Sudah pasti ini gula putih biasa.Yang menjadi teka-teki bagi kami berempat saat itu adalah dua jenis butiran berwarna coklat kemerah-merahan yang saling berdampingan namun di sisi yang satu ada sebatang kayu kecil di dalamnya. Sebenarnya mudah saja untuk menjawab teka-teki gula apakah itu, dengan langsung saja mencicipinya. Tapi entah kenapa malam itu saya ingin saja bertanya kepada pelayan disitu:

“Mas, kenapa gula ini dipisahkan, apakah jenisnya berbeda? dan kenapa yang ini ada kayunya?”

Dengan wajah yang berusaha untuk melayani tetapi terlihat ia mengernyitkan dahinya. Dari situ saja, saya bisa membaca kalau sang pelayan, sebut saja Mas Eko, tidak tahu apa perbedaan dua gula tersebut.

“Mmmm…. Maaf bu, saya tidak tahu.” Akhirnya di jawab juga seperti dugaan saya. “tetapi sebentar bu, akan saya tanyakan ke atasan saya.” Wuah ternyata masih responsive dan berusaha membantu.

Sayapun akhirnya terlibat dengan percakapan yang seru di meja makan dan tidak berharap Mas Eko akan kembali kesaya dengan jawaban yang memuaskan.

Namun sebelum acara makan malam hampir selesai, rasa penasaran saya kembali muncul saat melihat kotak gula itu. Akhirnya, untuk menuntaskan rasa penasaran saya, kucicipi juga butiran-butiran gula cokelat itu dan ternyata yang satu gula merah atau brown sugar dan sebelahnya adalah cinnamon atau gula dengan kayu manis itu makanya diberi tanda dengan sebatang kayu manis. Terbersit dalam benak saya, kok bisa si Mas Eko tidak tahu menahu soal apa yang disajikan di restoran ini yah? Apa dia masih baru atau dia tidak pernah merasakannya?

Saya jadi teringat suatu cerita tentang penunggu kebun delima yang rajin dan jujur. Suatu hari ia diminta oleh tuannya untuk memetik buah delima yang manis dari kebunnya untuk dihidangkan kepada tamu agung yang akan datang bertamu.

“Fulan, besok kamu petik 1 keranjang penuh buah delima yang manis-manis, karena saya akan kedatangan tamu agung.” Sang pemilik kebun berujar.

Fulan tertegun dan terdiam saja memandangi tuannya tanpa beranjak. Kemudian sang Tuannya dengan terheran menanyakan kembali

“Fulan, kenapa kamu diam saja? Apakah ada instruksi saya yang kurang jelas?”

Akhirnya Fulan memberanikan diri untuk menjawab. Dengan kepala tertunduk dan suara yang halus ia bertutur

“Maaf Tuan. Saya memang sudah bekerja 15 tahun memelihara kebun Tuan tetapi saya tidak akan bisa menjalankan perintah Tuan yang sekarang untuk memetik buah delima yang manis-manis.”

Kata-kata sederhana tersebut keluar secara perlahan dari bibir Fulan dengan penuh kerendahan hatinya karena ia merasa tidak akan sanggup melaksanakan tugas memetik delima yang manis dan ini berarti ia tidak dapat memenuhi permintaan Tuannya.

Sang Tuan pun merasa aneh dan curiga. “Kenapa? Apa tidak ada lagi buah delima yang manis? Apa buah delimanya belum matang? Apa kau ingin berhenti?” Terdengar sekali dari nada bicara sang Tuan kalau ia tidak nyaman dengan jawaban Fulan.

Walau hati Fulan ketakutan dan merasa telah membuat majikannya gusar, ia mencoba untuk menguatkan diri untuk menjelaskan

“M..m…maaf Tuan, bukan maksud saya untuk tidak melaksanakan perintah Tuan. Tetapi saya takut tidak akan bisa melaksanakan tugas dengan baik karena saya tidak bisa memilih delima yang manis. Maaf Tuan, saya tidak tahu mana delima yang manis dan tidak.” Akhirnya dengan terbata-bata keluar juga kata-kata penjelasan dari Fulan.

“Astaghfirullohaladzim….jadi kamu selama ini apa tidak pernah makan buah delima bahkan yang jatuh pun?” Sang Tuan terkaget-kaget mendengar jawaban Fulan

“Tidak, Tuan. Kan saya ditugaskan untuk menjaga bukan untuk mencicipi,” Fulan menjawab dengan polosnya.

Bagaikan tersengat lebah, sang Tuan pun mendadak menjadi lemas mengingat kelalaiannya selama ini. Selama 15 tahun Fulan bekerja dengannya memang ia tidak pernah memberikan secara khusus delima-delima itu kepada Fulan. Sejak saat itupun akhirnya sang Tuan memberikan jatah kepada Fulan untuk menjadi “tester” dan memberikan sebidang tanahnya kepada Fulan sebagai buah kejujuran dan kesetiaannya selama ini. Sebuah amanah yang dijalankan dengan baik oleh Fulan yang membuahkan hadiah pada akhirnya.

Semoga sang pelayan di restoran tadi pun yang tidak mengetahui jenis butiran gula tersebut karena ia amanah tidak pernah mencobanya dan memang tidak pernah diperintahkan untuk mencobanya. Namun selayaknya bila kita di posisi sebagai Tuan pemilik kebun delima atau pemimpin dari restoran itu, sewajarnya untuk bisa memberikan sedikit “rasa” delima yang manis atau jenis-jenis gula yang berbeda.

Suatu sentilan halus melalui kotak gula yang mengingatkan saya akan nasihat dari orang tua saya, bahwa sedikit apapun rejeki yang kita punya akan lebih baik bila bisa dinikmati bersama. Ibarat masakan yang harumnya sampai ke rumah tetangga menjadi wajib untuk kita bagikan, walaupun hanya kuahnya saja yang kita kirimkan. Subhanallah. Ternyata suatu nasihat yang memang bermakna sangat dalam akan arti indahnya berbagi.

Terkadang kita lupa akan kehadiran orang-orang disekitar kita dan cenderung kita hanya membeli atau menyediakan makanan hanya untuk keperluan diri kita sendiri. Menikmati rejeki yang kita dapat hanya untuk keperluan kita sendiri. Pernahkah kita memikirkan membelikan makanan juga untuk supir taksi yang akan kita naiki dan akan mengantar kita hingga pulang ke rumah? Pernahkah kita merasakan nikmatnya berbagi rejeki dan melihat wajah-wajah yang tersenyum ikhlas dalam menerima sedikit rejeki yang kita bagikan?

Pertanyaan yang akan saya biarkan terbuka untuk kita bertanya kepada diri kita sendiri setiap harinya. Apakah kita sudah teringat untuk berbagi rejeki dengan orang-orang sekitar kita seperti GULA yang senantiasa tidak pernah dimakan sendiri oleh seekor semut?

 

©WiDS Monday, August 11, 2014

www.wbuenastuti.com

 

 

18 thoughts on “GULA

  1. jadi penasaran, apakah Eko kembali dengan informasi dari atasannya?

    saya pernah baca artikel yg menginformasikan meminum rebusan kayu manis bisa menurunkan kadar gula darah, jadi kayu manis yg disediakan berfungsi utk hal tsb

  2. Ada info tentang kayumanis yg bisa. menurunkan kadar gula darah caranya :
    1. Sediakan 3-4 batang kayu manis kering (perbatang sebesar telunjuk).
    2. Air putih biasa 1 liter (Dpt dijadikan 2,5 gelas)
    3. Kayu Manis direbus dgn air biasa sampai mendidih dan mengeluarkan warna merah, kecilkan apinya, rebusan lagi agak lama agar lebih merah airnya.
    4. Angkat dan tuangkan dlm gelas mnm hangat-hangat, Tdk perlu tambahan apa2-apa
    5. Rebusan dpt diulang dan ditambahkan air dgn menambahkan kayu manis 1 batang saja
    Bau awal rebusanya agak kuat tp wangi, rasanya seperti teh tawar.
    Konsumsi 2 x sehari (bangun tidur dan mau tidur) utk penderita yg agak tinggi, bila sdh turun, utk tetap mempertahankan / stabilisasi, cukup 1 gelas mau tidur (malam).

    Mudah2an bermanfaat bagi yg menderita diabetes.

  3. kalau atasannya konsisten tdk tahu, harus dibuat cerita bersambung. utk membahas “bekerja sepenuh hati” dg selalu berupaya memberikan added value disetiap pekerjaan yg kita lakukan, jangan menjadi robot yg bekerja sesuai SOP namun tdk pernah berusaha tahu apa makna. pekerjaannya,

    aku jadi teringat. cerita. tukang batu
    ada 2 tukang batu yg sedang bekerja membangun gedung yg megah,
    saat tukang batu yang pertama ditanya apa yg sedang dikerjakan, dia menjawab saya adalah tukang batu yg ditugaskan menyusun batu untuk membuat sebuah bangunan, hanya itu yg saya tahu, hal lainnya silahkan tanya mandor bangunan

    sementara tukang batu yg lain memberikan jawaban, saya sedang membangun rumah Tuhan utk beribadah, utk itu saya harus mengerjakan sebaik mungkin agar saat gedung megah ini berdiri nanti, saya bisa dg bangga berkata pada anak cucu saya bahwa saya ikut meletakkan batu-batu kokoh di dalamnya

  4. Tengah malam terbangun membaca blog ini. Rasanya seperti membaca renungan harian siraman rohani. Tinggal ditambahin ayat alkitab aja…Gbu Mbak Wid…terima kasih atas pencerahannya…

    • Sama2 Dia. Tulisan2 dalam blog ini mbak tulis dari inspirasi2 yg terjadi krn ijin Allah, yg smg akan masuk utk ajaran agama apapun walau pemahamanku memakai apa yg aku believe. Terima kasih yah sdh mampir membaca dan mengisi comment disini. Smg kita senantiasa slg mengingatkan.

  5. Jadi ingat kemarin di bandara Solo kebetulan belum dijemput aku iseng ke sebuah restauran dan memesan cemilan sambil menunggu.
    Asd : mbak aku pesan kentang goreng satu ya
    Pelayan : maaf bu di sini tidak ada kentang goreng …..
    Asd : (numb) loh mbak ini lo kan ada di menunya
    Pelayan : bukan bu itu french fries bukan kentang goreng (muka sumringah tanpa salah pakai senyum)
    Asd : …………………..

    Yang terbesit cuma satu masya allah ada apa dengan pendidikan dasar untuk masyarakat kita dan apa sedemikian rendahnya level dikdas padahal ini di kota besar yang levelnya setara bogor, bandung, malang……. Sister city untuk kota metropolis jakarta dan surabaya.
    Dan yang kedua adalah aku cukup menyesal kenapa tidak memilih profesi guru karena sungguh mendidik itu mulia sekali karena membuka cakrawala pikiran oranglain itu buatku amalan tertinggi.
    Dan yang ketiga lesson learnnya saat order kentang goreng datang, aku meminta “chilli souce” daripada “sambal botol” ke embak pelayan yang tidak mengerti apa2 itu

    • Hahaha…. lucu Asdi. Dan kenapa buatku cerita ini mjd lazim dan sering kita dengar? Bahkan di Jakarta loh. Pengalamanku gak ada jus jeruk adanya orange juice..atau gak ada sop buntut, tp kita punya oxtail soup yg enak kak… (nah loh?)… bisa jadi tulisan berikutnya nih.

  6. baca tanggapan ttg french fries jadi inget pas makan di GI
    saya minum nya teh hangat tawar ya mbak
    mbak2 : diam aja dengan mimik agak bingung
    saya : teh tawar mbak. ada kan
    mbak2 : ooowh… hot tea

  7. inspiratif , lucu jg mbak,,, yg perlu digaris bawahi itu “sedikit apapun rejeki yg kita punya akan lebih baik jika dinikmatibersama”
    Jadi inget waktu masih kecil dulu,dpt telur 1 butir drhajatan tetangga makannya dibagi buat 3 org.. Subhanallah nikmat rasanya..hehehe:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s