PINTU


Pintu

Oleh Widyaretna Buenastuti

Ditengah-tengah saya memperhatikan presentasi, handphone saya bergetar karena ada telepon masuk. Ternyata dari rumah. Rupanya anakku yang paling kecil menelpon.

“Assalamualaikum Mama,” sapanya membuka percakapan

“Waalaikumsalam, sayang, ada apa nak?” kusapanya kembali

“Kenapa pintu sepatu tidak boleh ditutup?” rupanya pembicaraan pagi hari saat sarapan masih mengganggu pikirannya hingga ia harus menelpon diriku. Kami mempunyai tempat sepatu dan koran-koran bekas di bawah tangga. Tempat penyimpanan ini disebut ‘ruang sepatu’ oleh kami di rumah. Saat sarapan, ia berusaha menutup pintu ruang sepatu dan saya hanya mengatakan “jangan ditutup, nak,” sambil saya berlalu ke mobil untuk berangkat ke kantor.

Menjawab pertanyaannya, saya jelaskan kondisi ruangan yang tidak mempunyai jendela dan kelembaban udara yang tinggi untuk di Jakarta dapat menyebabkan sepatu-sepatu tersebut berjamur. Oleh karenanya dengan dibiarkan pintu terbuka, maka sepatu-sepatu yang tersimpan di dalamnya akan mendapatkan sirkulasi udara dan terjaga dari kerusakan yang lebih cepat.

Ternyata jawaban saya ini menimbulkan pertanyaan polos berikutnya yang membuat saya cukup tercengang dan tertawa, “Kalau gitu, kenapa harus ada pintu?”

Suatu pertanyaan yang sangat tepat dan berdasarkan logika yang cukup membuatku memutar otak untuk berfikir lebih keras mencari jawaban yang kiranya bisa ia terima. Dengan lembut saya coba jelaskan:

“Pintunya masih diperlukan nak, supaya kalau ruangan itu perlu ditutup untuk tidak terlihat sepatu-sepatunya, masih bisa kita tutup.”

Sepertinya ia bisa menerima jawabanku karena ia mengucapkan salam sambil tidak lupa berterima kasih dan menutup teleponnya.

Subhanallah. Betapa di siang hari aku diingatkan akan arti sebuah pintu. Kupegang gagang pintu menuju ruang rapatku kembali dan bergetar hatiku memahami isyarat yang dikirimkan olehNYA padaku di siang hari itu.

Kuteringat akan seorang teman yang bercerita di suatu ruang tunggu dokter kebidanan, tiba-tiba ia menerima suatu kekuatan untuk bertanya kepada seorang wanita muda yang tengah duduk agak jauh darinya. Kekuatan itu seperti menuntunya untuk melangkah menuju wanita muda yang tidak ia kenal dan lidahnya serasa telah siap melontarkan suatu pertanyaan yang ia yakin tidak akan mudah di terima oleh yang bersangkutan. Namun, ia sama sekali tiada kuasa untuk menahan dirinya untuk tidak bergerak ke arah wanita muda yang cantik dengan rambutnya hitam terurai sepundak.

“Mbak, maaf yah, mbak akan lebih cantik deh kalau pakai jilbab, kenapa sih gak mulai pakai jilbab.” Akhirnya pertanyaan itupun terlontar.

Benar saja, sang wanita muda yang tengah asyik bermain gadgetnya langsung melotot dan memandang dengan sinis kepada temanku yang bertanya.

“Ngurusin gue amet sih. Ntar gue gak cantik kalau pakai jilbab,“ dijawabnya dengan ketus dan kembali lagi ia bermain dengan gadgetnya.

Temanku akhirnya kembali ke tempat duduknya. Baru ia meletakan punggungnya pada sandaran kursi, ia kembali merasakan kekuatan diluar kendali dirinya yang mendorongnya untuk melontarkan pertanyaan lanjutan kepada wanita muda itu. Ia bercerita kepadaku bahwa kekuatan itu tidak bisa ia tahan padahal ia tahu bahwa pasti sang wanita muda itu akan berlaku ketus kembali. Namun, tiba-tiba kakinya telah melangkah mendekati tempat duduk si wanita muda.

“Mbak, nanti kalau ditanya sama Malaikat, kenapa mbak gak pakai jilbab, mbak mau jawab apa?”

Benar saja, sang wanita muda itu pun melotot dan meninggikan suaranya.

“Eh, urusan amat sih sama penampilan gue! Malaikat gak akan tanya-tanya seperti elo yang resek ngurusin urusan orang! Pergi sana!”

Dengan kasar dan suara yang lantang ia menjawab. Hal ini membuat seluruh mata pasien yang berada di ruang tunggu dokter itupun mengarah kepada mereka. Kebetulan sekali nama temanku dipanggil untuk masuk ke ruang periksa hingga tidak terjadi pembicaraan lebih lanjut. “Pfiuh, save by the bell.” Gumamnya.

Saat temanku keluar dari ruang periksa, ruang tunggu pasien yang tadinya ia tinggalkan dalam keadaan hening, berubah menjadi ramai dan banyak orang yang lalu lalang seperti baru saja ada kejadian menggemparkan. Isak tangis terdengar dan petugas-petugas rumah sakit berusaha membantu seseorang yang terlihat terkapar di lantai.

Innalillahi wa innailaihi rojiun, temanku menceritakan bahwa wanita muda yang ia tanya berulangkali lah yang tengah membutuhkan pertolongan dan tengah terkapar di lantai. Proses pertolongan berlangsung cepat namun, belum sempat badan sang wanita di angkat ke atas tempat tidur yang sudah disiapkan, ajalnya telah lebih dahulu di ambil oleh Sang Maha Kuasa.

Bulu kudukku merinding mendengar cerita temanku. Rupanya dorongan kuat yang menggerakan temanku untuk melangkahkan kaki dan bertanya kepada sang wanita muda itu merupakan ketukan dari Allah ke pintu hatinya. Ketukan yang halus dan bisa disampaikan dengan berbagai cara atau melalui siapapun. Cerita ini kuibaratkan sebagai suatu gambaran dari banyaknya alasan yang sering dikemukakan oleh siapapun untuk kebaikan, seringkali jawabannya “nanti saya nunggu saat yang tepat” atau “saya belum dapat hidayah”.

Nasihat kebaikan itu telah datang depan pintu hatinya, tetapi bila kita tidak mau membukakan diri terhadap ‘tamu hidayah’ itu, maka tidak akan pernah sampai kedalam hatinya. Mau kapan dibuka pintu hatinya? Apa hanya karena takut tidak cantik sehingga pintu hatinya masih tertutup?

Astaghfirullohaladzim…Tiada yang pernah tahu kapan kematian kita akan sampai, yang kita tahu bahwa kematian itu pasti datangnya. Semua akan terlambat bila kematian menjemput bahkan untuk menyesalpun tidak akan ada lagi kesempatan. Semoga akan selalu ada kesempatan bagi kita untuk bertobat dan memperbaiki diri hingga ajal menjemput kita dalam keadaan akhir yang baik. Amin.

Semoga kita senantiasa terjaga keramahan hati ini untuk bisa membukakan pintu hati bagi ilmu-ilmu dan nasihat yang membawa kebaikan dan senantiasa juga terjaga kewaspadaan dalam menutup pintu hati bagi kemudharatan.

 

©WiDS Tuesday, August 5, 2014

www.wbuenastuti.com

 

8 thoughts on “PINTU

  1. Waktu kecil saya sering bertanya tetapi tidak berani saya tanyakan pada guru ngaji atau guru sekolah, paling kepada teman teman dan menjadi renungan saya, sekarang saya mau tanyakan kepada Mbak, seandainya mbak hidup pada jaman nabi Muhammad lahir apakah mbak akan mengakui kenabian ya, atau seandainya mbak dilahirkan dari keluarga non muslim apakah mbak akan beragama Islam?
    Paman nabi pun, Abu Tholib meninggal dengan tidak mengucapkan dua kalimat syahadat, teman teman non muslim apakah mereka tidak mengetahui kebenaran Islam sehingga akan masuk neraka, padahal mereka makhluk berpikir
    Renungan saya untuk menjawab pertanyaan sejak kecil tsb, adalah Hidayah, Allah lah yg membukakan pintu hati untuk menerima kebenaran Islam.
    Hidayah itu adalah pintu yg dibuka Allah.

    • Ki Bandi, walaupun kita terlahir dalam keluarga islam belum tentu kita akan paham arti islam itu. Proses saya mengenal agama ini juga cukup berliku tetapi rasa penasaran sayalah yang mencari menggapai dan mencoba merangkul semua tanda2 kebesaranNYA dan saya bersyukur akhirnya saya bisa nyaman menerima hidayah ajaran islam sbg penuntun hidupku. InsyaAllah diri ini bisa terus terjaga keimanan dan bertambah baik dalam mengenal sang Rabb Maha Pencipta hingga ajal menjemput.

  2. Akan tiba hari mulut dikunci
    Kata tak ada lagi
    Akan tiba masa tak ada suara
    Dari mulut kita

    Berkata tangan kita
    Tentang apa yang dilakukannya
    Berkata kaki kita
    Kemana saja dia melangkahnya
    Tidak tahu kita bila harinya
    Tanggung jawab tiba….
    (sebagian lirik syair lagu “ketika tangan dan kaki berkata” Chrisye)

    Merinding saat membaca postingan ibu, teringat lirik lagu chrisye di atas, yang setiap saya dengar tak terasa air mata kadang mengalir tak dapat dibendung, teringat diri yang jauuh dari sempurna.
    Terima kasih telah diingatkan,,,sesungguhnya tiap tiap yang berjiwa akan merasakan mati,,

    • Selama hayat masih dikandung badan tandanya kita punya kesempatan utk berinvestasi dlm kebaikan dan menjalankan apa yg sdh dituntun oleh Allah dan Rasul. Smg investasi kita cukup utk bisa mdptkan RahmatNYA agar kita bisa menikmati SurgaNYA…. walau diri ini merasa gak layak utk merasakan surgaNYA tp juga gak sanggup utk ke NerakaNYA… hanya bisa memohon Rahmat Nya lah semua nafas dan hidup ini. …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s