Sarung Baru


Sarung Baru

Oleh Widyaretna Buenastuti

 

Suatu sore di bulan Romadhon, ku tengah menunggu mobilku menjemput di halte yang menjadi meeting point biasanya, kuperhatikan seorang anak laki-laki remaja dengan celana sebetis dan terlihat ada anting tertindik di kuping kirinya, tengah menunggu mobil yang sekiranya akan mengangkutnya untuk jalur 3 in 1. Dari penampilannya memang terlihat ia seperti tidak peduli akan dirinya atau mungkin juga tidak ada yang perduli akan penampilannya karena memang sehari-harinya ia hidup di jalanan. Tiba-tiba terbersit di hatiku untuk mengajaknya berbincang-bincang,

“Adik biasa mangkal jadi joki di sini yah?” kubuka percakapan dengannya.

“Iya kak.” Jawabnya dengan singkat dan matanya masih menerawang ke jalanan mencari mobil-mobil yang kira-kira berhenti untuk menggunakan jasanya.

Aku bukanlah pengguna joki karena menurutku mengangkut joki sama saja mensiasati aturan hukum yang berlaku. Namun, hari itu entah kenapa ada keinginan kuat untuk berbicara dengan anak ini dan terbersit untuk mengajaknya semobil bersamaku untuk ke masjid yang akan kulewati dalam perjalanan pulangku menuju rumah. Rute perjalanan pulangku selama bulan Romadhon memang biasanya mampir ke masjid yang kelewatan untuk buka puasa dan sholat maghrib sekalian, baru kemudian melanjutkan perjalanan pulang untuk sholat isya dan tharawih di masjid dekat kediamanku.

“Kalau gitu, gak usah cari mobil lagi, mau ikut dengan saya saja yah, kebetuan saya mau ke masjid Agung Al-Azhar untuk buka puasa dan sholat maghrib. Kamu puasa gak?”

“Nggak kak. Karena tadi gak bangun sahur.” Jawabnya dengan polos.

“Emangnya gak kuat kalau gak bangun sahur?” kucoba menggali lebih dalam lagi.

“Sebenarnya kuat sih kak. Saya tau, ini salah yah kak.” Dijawabnya kembali.

Subhanallah. Dalam perbincangan saya selanjutnya dengan si joki yang bernama Agus ini kutemukan kesadaran akan kebaikan dalam dirinya dan apa yang menjadi kewajibannya sebagai seorang pria muslimin yang diantaranya sholat lima waktu juga berpuasa di bulan Romadhon. Namun tidak ia jalankan dengan sungguh-sungguh dikarenakan lingkungan yang tidak mendukungnya. Dikeluarganya, dari pengakuannya, ia merupakan anak yatim yang hidup dari hasil kerja ibunya sebagai buruh cuci pakaian dari rumah ke rumah dan uang hasil ia menjadi joki setiap harinya. Putus sekolah dan merasa tidak mempunyai keahlian apapun untuk berani melakukan pekerjaan lainnya selain menjadi joki atau mengamen.

Kami telah tiba di pelataran masjid, dan kuajaknya untuk buka puasa dan sholat maghrib di dalam masjid. Tertegun diriku saat mendengar jawabannya:

“Malu kak, baju saya kotor dan gak bersih.” Lalu kami mencari penjual sarung di sekitar pelataran masjid. Setelah sarung di dapat, iapun masih merasa malu untuk menginjakan kaki ke dalam masjid karena ia masih merasa tidak bersih. Namun yang melegakan hati, ia berjanji untuk memakai sarungnya mulai besok subuh dan berusaha merubah dirinya untuk tidak meninggalkan sholat dan puasanya. Azan maghrib pun berkumandang dan kulihat punggung Agus mengarah keluar dari pelataran masjid.

Perlahan tetesan air mataku mengalir membasahi pipiku dan serasa hati ini tersayat akan pelajaran indah sore hari ini dari Allah Yang Maha Kuasa. Betapa beruntungnya diri ini yang dikaruniai dengan kenikmatan akan kemudahan untuk menjalankan kewajiban sholat lima waktu. Suatu kenikmatan yang biasanya terlewat begitu saja dan bahkan seringkali masih kulalaikan panggilannya saat azan telah berkumandang. Wudhu pun untuk mensucikan diri juga seringkali dilakukan cepat-cepat dan tidak dihayati setiap tetesan air yang mengalir di atas anggota tubuh yang disucikan.

Allah sengaja menggerakan hatiku untuk berbincang dengan Agus yang sesungguhnya memberikan pelajaran berharga bagi diri ini dan semoga juga buat Agus. Rupanya pertemuanku dengan Agus tidak lain tidak bukan untuk membuka mata hatiku betapa beruntungnya diri ini yang dimudahkan untuk beribadah. Untuk sholat lima waktu telah selalu tersedia baju yang bersih yang melekat dalam tubuh ini. Baju bersih yang siap sedia menutup aurat untukku bersujud dan bermunajat kepadaNYA. Sedangkan untuk Agus, ia merasa malu ketika kuajak untuk sholat maghrib berjamaah ke dalam masjid. Agus punya rasa malu ketika ditawarkan memasuki masjid. Apakah diri ini masih punya rasa malu itu atau bahkan seringkali diri ini merasa sombong karena tidak pernah punya pengalaman kesulitan mencari baju bersih untuk mendirikan sholat lima waktu.

Sore itu, kutersadar dan disadarkanNYA bahwa sesungguhnya kenikmatan berbaju bersih dan seluruh kenikmatan yang memudahkan kita beribadah datangnya dari Allah semata. Apa lagi yang bisa kita sombongkan? Masihkah kita tidak mensyukuri nikmat kemudahan beribadah ini dengan melalaikan panggilanNYA? Masihkah kita tidak menghayati ibadah kita dengan melakukan sholat secara cepat-cepat dan mengeluh ketika imam membaca surah yang panjang-panjang? Masihkah kita berusaha mensegerakan wudhu dengan sekedarnya saja? Masihkah kita tidak menikmati saat-saat panggilan sholat berkumandang dan hanya menjalankan yang diwajibkan saja? Kemudahan sudah diberikanNYA, kenapa tidak kita maksimalkan dengan khusyu dan rasa syukur? Mengapa kita masih berhitung untuk hanya mengerjakan yang diwajibkan saja?

Sehelai sarung baru untuk Agus, semoga menjadi awal baginya untuk memperbaiki diri dan mengatasi rasa malunya. Sehelai sarung baru untuk Agus, merupakan peringatan bagiku untuk senantiasa bersyukur akan setiap nikmat kemudahan beribadah, yang semua hanya bisa terwujud atas rahmat dan ridho Allah semata. Semoga kita selalu bisa melihat dengan hati jernih akan setiap nikmat yang diberikanNYA kepada kita untuk menjadi insan yang lebih baik setiap harinya.

 

@WiDS Sunday, July 6, 2014

www.wbuenastuti.com

4 thoughts on “Sarung Baru

  1. My dear bff, yang paling aku cemburui darimu adalah bagaimana engkau banyak mendapat pelajaran dan pencerahan dari kelembutan hati terhadap sesama, i wish i could be more like u wid……. Hugs and kisses, semoga ramadhan ini memberi banyak berkah dan pencerahan buat kita dan keluarga…..

  2. Subhanallah,, terima kasih yah bu sudah memberikan kisah yang menginspirasikan kembali, selalu mengingatkan kita akan sesuatu. semoga kita tetap istiqomah, sehat selalu untuk ibu dan keluarga

    • Dewi, semua ini akan ada perhitungannya nanti di akhirat. Semoga kita selalu belajar dari cerita-cerita dari Allah yang ada di sekitar kita. Terima kasih banyak atas doanya. Doa yang sama untuk Dewi sekeluarga. Maaf baru membalas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s