Hati yang Rapuh


Hati yang Rapuh

Oleh Widyaretna Buenastuti

Siapa yang pernah menginginkan untuk sakit atau berada dalam kesulitan, kegagalan atau kesedihan? Pastinya tidak ada manusia di dunia ini yang berdoa kepada Sang Maha Kuasa untuk diberikan sakit, atau diberikan kesulitan, diberikaan kegagalan atau jangan diberikan petunjuk dikala gelisah atau sedih. Hal ini mengusik saya ketika saya menyaksikan ada seorang pasien yang sedang di rumah sakit tiba-tiba marah kepada dokternya karena satu pertanyaan

“Apakah kakinya sudah bisa diangkat?’

Pertanyaan sederhana namun ternyata menggugah emosi sang pasien untuk meluapkan kemarahannya kepada sang dokter.

“Baru kemarin visit, sekarang udah tanya itu lagi, kalau kaki saya sudah bisa diangkat, saya sudah gak akan ada di rumah sakit ini!!”

Suara sang pasien menggelegar di seantero ruangan dan siapapun yang mendengar pasti akan kaget dengan luapan emosinya yang meledak tiba-tiba, apalagi sang dokter tua yang tengah bermaksud memeriksa sang pasien. Sang dokter tua dengan semangat mulia menyelesaikan tugasnya, masih berusaha untuk menanyakan kembali beberapa hal untuk mengetahui perkembangan sang pasien pada hari itu. Namun, arang telah patah, sang pasien semakin marah dan tidak mau lagi diperiksa oleh sang dokter tua itu.

“Siapa juga yang mau sakit begini, gak mungkin dalam satu hari langsung bisa ada perubahan!” demikian ia lanjutkan dengan muka yang masam, suara tegas dan mata menyorot tajam.

Secara bijaksana akhirnya sang dokter tua itupun menyudahi kunjungannya pada sang pasien. Rupanya sang pasien yang tengah menderita kelumpuhan pada saraf-saraf kakinya sedang dalam masa pemulihan dan dokter tua itu sebenarnya bukan dokter yang biasa menangani sang pasien. Sehingga sepertinya chemistry di antara keduanya belum terjalin dengan baik.

Sang pasien pastinya tidak ingin berada dalam keadaan tidak bisa berjalan, tidak pernah meminta untuk dikasih sakit. Dengan dia dirawat di rumah sakit, ada harapan untuk bisa dicarikan solusinya agar ditemukan penyebab penyakitnya sehingga bisa dicari pengobatan yang tepat. Seorang dokter yang telah bersekolah bertahun-tahun dan berpraktek lama diharapkan punya pengalaman yang cukup untuk mengetahui perkembangan dari penyakit seperti itu dan bagaimana mengatasinya. Namun sepertinya pemilihan kata-kata pertanyaan dari sang dokter pada saat itu dirasakan kurang tepat oleh sang pasien.

Sang dokterpun bermaksud baik dengan niat yang mulia mengunjungi paasiennya, ia hanya bertanya pertanyaan sederhana dan siapa tau ada perkembangan mukjizat dalam satu hari sudah bisa diangkat kakinya. Namun, betapa kagetnya ia, menerima luapan emosi amarah dari pasiennya.

Dengan menyaksikan kejadian itu, serasa saya diingatkan mengenai hati manusia yang bisa menjadi begitu rapuh dikala sedih, sakit, atau berada dalam kesusahan. Pertanyaan atau statement seseorang yang sebenarnya biasa saja bisa langsung memicu emosi. Bisa keluar dalam bentuk kemarahan atau tangisan atau semakin meratapi diri sendiri.

Dalam kita berinteraksi sesama manusia kita bisa berada di dua sisi. Kadang di posisi sang dokter dan kadang juga di posisi sang pasien. Dalam perjalanan waktu dan usia semakin bertambah ada beberapa pertanyaan yang mungkin terdengar wajar saja tetapi bisa menjadi pertanyaan-pertanyaan sensitif untuk saat-saat yang kurang tepat, misalnya

“Kerja dimana sekarang?” belum tentu ia punya pekerjaan tetap

“Anaknya berapa sekarang?” Mungkin ia sedang kesulitan untuk mendapatkan anak

“sudah berkeluarga atau belum?” ternyata masih single

“Hamil berapa bulan?” ternyata yang bersangkutan tidak sedang hamil.

Keadaan bisa menjadi kikuk dan canggung ketika yang bersangkutan bereaksi di luar dari ekspektasi kita yang bertanya. Terlebih lagi bila seseorang tengah berada dalam keadaan sakit, kesulitan atau gelisah. Atau kita berada di posisi sebagai yang ditanya dan tidak bisa mengendalikan emosi untuk marah ataupun menangis hanya karena satu pertanyaan sederhana saja.

Hati. Semua tergantung keadaan hati kita saat itu. Seandainya hati kita sedang senang dan bisa menerima keadaan bahwa kita sedang tidak punya pekerjaan atau belum dikaruniai anak atau belum mendapatkan pasangan, pastinya penerimaan atas pertanyaan-pertanyaan itu akan dianggap wajar saja. Namun, seseorang yang tengah sakit atau berada dalam kesulitan atau kesedihan hatinya menjadi rapuh. Hati yang sedang rapuh perlu perekat-perekat untuk mengembalikannya kepada keadaan yang bisa menerima dalam situasi apapun. Apa yang bisa mendamaikan hati kita? Doa.

Memang dalam doa yang kita panjatkan kepada Sang Maha Kuasa kita tidak pernah meminta diberikan sakit, diberikan kesulitan ataupun kesedihan. Dilain pihak kita pasti akan meminta hal-hal yang positif seperti diberikan kesehatan, kemudahan, kebahagiaan, kesuksesan dan seterusnya. Namun, adakalanya dalam kehidupan ini kita mengalami sakit, kesulitan, kegagalan dan kesedihan. Kenapa begitu? Karena tanpa kita sakit, kita tidak akan pernah tahu nikmatnya rasa sehat. Tanpa kita pernah kesulitan, kita tidak akan pernah tahu rasanya kemudahan. Tanpa kegagalan tidak akan indah rasanya kesuksesan. Tanpa kita pernah sedih, kita tidak akan pernah tahu rasanya bahagia.

Semua tidak lain tidak bukan, adalah ladang bagi kita untuk melatih kesabaran dan rasa syukur kita kepada apapun yang diberikan oleh Sang Maha Kuasa. Oleh karenanya tidak perlu larut dalam kesedihan dan kegelisahan. Jalani saja semua “latihan-latihan” yang tengah diberikan oleh Sang Maha Kuasa kepada kita. Ibarat kita sekolah, akan ada ilmu-ilmu yang harus kita terapkan dalam latihan-latihan dan ujian-ujian agar kita bisa lulus dan naik ke tingkat yang lebih tinggi. Kaget menerima soal yang susah, itu wajar! Tetapi kita harus berfikir dengan fikiran yang tenang dan hati yang jernih untuk bisa mengerjakan soal-soal tersebut agar kita bisa lulus dengan baik.

Kembali kepada sang pasien dan sang dokter, kita doakan semoga masing-masing bisa memetik hikmahnya dari kerapuhan sang hati dan saling memaafkan. Semoga sang pasien cepat pulih kembali dan sang dokter pun belajar untuk lebih memahami keadaan pasiennya.

Sebagai penonton episode sang pasien dan sang dokter, saya diingatkan akan janji Sang Maha Pencipta bahwa Dalam Setiap Kesulitan Pasti Ada Kemudahan. Suatu janji bila diresapi akan menyirami hati yang sedang rapuh dan gundah gulana. Tetaplah berdoa meminta yang positif dan senantiasa melatih diri untuk melewati semua “ladang latihan” dengan penuh kesabaran dan tiada pernah berhenti bersyukur dalam keadaan apapun. Hati yang Rapuh senantiasa terobati dengan Doa.

 

©WiDS Monday, May 12, 2014

www.wbuenastuti.com

10 thoughts on “Hati yang Rapuh

  1. Masih terus belajar niy Bu untuk selalu ikhlas,,sabar dan tawakal saat melewati ladang latihan dari ALLAH,,=)
    Terima kasih untuk selalu diingatkan Bu,,
    Tetep smangat menulis ya Bu ^-^

  2. Agak sulit memberi komentar karena memang pengamat akan selalu melontarkan prasangka penilaian pada kejadian di depan mata, dengan kacamata orang sehat pastinya. Tak terbayang pasca sakit sebenarnya yang terbayang adalah ketidakmampuan, ketakutan akan reaksi lingkungan terutamanya pasangan yang bisa jadi negatif atau positif. Itu adalah ketakutan yang jelas memperlambat healing process pasien.
    Disamping dokter memang harus normatif, karena dia pun menjaga hatinya agar tidak patah atau rapuh, reaksi pasien dihadapinya tiap hari tiap detik pada orang yang berbeda2. Jika sedikit hatinya terlibat yang ditakutkan putusannya menjadi bias.
    Tapi apapun itu my dearest bff
    Allah memperlihatkan kondisi2 tersebut depan mata kita spy kita senantiasa belajar, mengkaji, menganalisa, agar jika dalam waktu dekat hal2 tersebut benar terjadi pada kita, maka kita lebih siap dalam mengantisipasi, bereaksi dan semoga lebih proaktif agar kesembuhan pasien bisa dipercepat. Allah maha besar dengan memberi pada kita sedikit kisi2, sedikit contekan, sedikit contoh, sebelum kita benar diuji kenaikan kelas.
    So be strong my dearest friend….

    • Asdiani, my dearest bff, u nail it right to the heart of the issue. Mata penonton.akan punya perspektif tersendiri dr pd sang pelaku. Sepanjang para penonton bisa mengambil moral of the story in a positive way, maka ia seakan memberi nutrisi pada jiwa raganya. We are born to learn to be a better person, bukan? No reason not to be strong. Thank u for always being there for me, Asd!

  3. Hati yg rapuh pasti pernah dialami oleh setiap orang. Ujian & cobaan hanya datang atas ridho Allah SWT, kita tdk pernah tau kapan kita akan diuji. Yang harus kita yakini bahwa Allah Maha Tau yg Terbaik buat hamba-Nya, belajar menjadi lebih sabar, tawakal & ikhlas .
    Nice story wids 👍👍👍

    • Etta, seandainya manusia bisa bersyukur selalu saat kita menerima ujian, Insya Allah akan datang lebih banyak bekal persiapan diri untuk menghadapNYA saat waktunya dipanggil. Semoga istiqomah terus yah. Amin.
      Btw, maaf baru sempat liat comment dari Etta ini. jadi baru di balas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s