Indah Pada Saatnya


Indah Pada Saatnya

Oleh Widyaretna Buenastuti

Hari keberangkatan menuju seminar yang berada di Jogja  akhirnya datang juga dan misi tambahan yang harus kubawa selain belajar tentang materi seminar juga mengundang beberapa nara sumber di seminar itu untuk menjadi pembicara di suatu acara yang digelar oleh perusahaanku sebulan mendatang.

Pembukaan seminar berlangsung dengan hikmat dan sang MC pun membawa acara berjalan sesuai daftar susunan acara. Setelah sambutan-sambutan yang membuka seminar, waktu rehat pertama pun tiba. Ini lah waktu yang sudah kutunggu-tunggu untuk mulai memperkenalkan diriku kepada beberapa nara sumber yang hendak kuundang menjadi pembicara. Dua nara sumber telah berhasil kudapatkan dan kumohonkan kesediaan mereka sembari mencocokan jadwal untuk bertemu di Jakarta. Tinggal 1 lagi.

Waktu rehat tinggal 3 menit lagi selesai, mataku mencarinya. Ternyata sosok Pak Adi Kuncoro, sebut saja namanya demikian,  rupanya tengah berbincang dengan beberapa orang di dekat panggung. Akupun melangkahkan kaki mendekati kerumunan tersebut. Dalam kesempatan yang memungkinkan, kuberikan kartu namaku kehadapannya. Beliau mengucapkan terima kasih tetapi kartu namaku tidak dilihatnya dan langsung masuk ke dalam kantong di kemeja depannya sembari beliau melanjutkan menjawab beberapa pertanyaan dari peserta lainnya yang berada dalam lingkaran pembicaraan itu.

‘Oops dia sama sekali belum melihat namaku.’ Demikian ku berfikir dan mencari strategi berikutnya. Mungkin tadi bukan waktu yang tepat. Ku bertekad untuk mencoba lagi di saat makan siang.

Saat makan siangpun tiba dan para pembicara memasuki ruang makan siang tersendiri yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Rupanya mereka sekaligus ada press conference. Semakin tipis lah kesempatanku untuk dapat memperkenalkan diriku kepada Pak Adi Kuncoro saat makan siang. Tapi semangat untuk terus berusaha belum pupus. Aku masih mencari kesempatan-kesempatan lainnya.  Sayangnya hari itu aku pun harus mengejar pesawat ke Bali pada malam hari untuk suatu acara lain. Berarti aku hanya punya waktu hingga jam 4 sore sebelum seminar itu berakhir, demikian batinku.

Sembari menunggu sesi setelah makan siang, aku memasuki ruang auditorium dan mendapati ruangan yang masih kosong. Tak disangka, rupanya kulihat Pak Adi pun memasuki ruangan auditorium.

Hmm… kesempatan emas nih, kupikir.  Kulangkahkan kaki ke arahnya dan kuperkenalkan diriku dengan memberikan lagi kartu namaku yang kedua kalinya sembari menyebutkan nama dan menyampaikan maksud untuk mengundangnya ke perusahaanku. Namun, reaksinya membuatku kembali terkesima.

“Terimakasih, mbak silahkan berbicara dengan sekertaris saya yah.” Sembari beliau berikan kartu namaku kepada sekertarisnya yang berada di sebelahnya. Takjub, tertegun dan tiba-tiba saja saya Speechless.  Akhirnya saya sampaikan maksud saya mengundang Pak Adi  kepada sekertarisnya yang ditanggapi dengan hanya basa-basi juga oleh sekertarisnya. Wah, saya pikir ini masih belum kena sasaran.

Sombong? Gaya pejabat? atau Gaya birokrat? Sering kali pemikiran kita akan langsung cepat menilai dan memberikan cap seperti itu. Untung saat itu yang masuk dalam pikiranku hanya fokus bagaimana ingin mendapatkan perhatian Pak Adi sebelum diri ini pergi meninggalkan seminar ini. Karena sepertinya kalau lewat sekertarisnya misi saya mengundang Pak Adi tidak akan saya dapatkan.

Sembari mendengarkan sesi setelah makan siang di mana salah satunya Pak Adi yang menjadi nara sumbernya, saya mencatat beberapa hal penting yang menjadi perhatian Pak Adi dalam beberapa slide yang beliau paparkan. Sesi kedua ini sepertinya akan selesai jam 4 dan saya harus sudah beranjak ke bandara. Waktu yang sempit dan misi yang belum tercapai membuat hati ini berdebar dan mengingatkanku untuk berdoa kepada Sang Pemilik Waktu dan Hasil Akhir.

Teringat akan pesan bapaku setiap aku menginginkan sesuatu: “Bila Allah mengijinkan terjadi maka akan terjadi, tetapi bila tidak, pasti ada sesuatu yang lebih baik yang dipersiapkan untuk kita, yang penting kita sudah berusaha. “

Jam tanganku sudah menunjukan jam 3.45. berarti aku hanya punya waktu 15 menit lagi untuk berusaha memperkenalkan diriku kepada Pak Adi sebelum beranjak ke bandara. Saat itulah Pak Adi turun dari panggung dan duduk di barisan terdepan untuk menunggu sesi pembicara berikutnya.  Apa yang harus kulakukan? Pilihanku saat itu adalah, pergi ke bandara langsung atau tetap nekat ke depan ruangan auditorium dan memperkenalkan diri untuk ketiga kalinya. Bergejolak pemikiran-pemikiran dalam kepalaku. Auditorium yang dipadati sekitar 500an orang pastinya akan melihat diriku kalau aku berjalan kedepan dan berbicara dengan Pak Adi.

Bagaimana kalau Pak Adi akan menolak ku sekali lagi?

Bagaimana bila Pak Adi memanggil satpam untuk  menggiringku keluar karena Pak Adi tidak berkenan menerimaku yang tiba-tiba menyelonong ke depan?

Apa yang akan orang-orang katakan bila melihat saya berjalan di lorong kedepan?

Apa kira-kira pilihanku?

Benar sekali, kutepis semua keraguan dalam benakku, dan akupun nekat berjalan ke barisan terdepan dan menghampiri Pak Adi beserta kedua tas gembolanku yang cukup berat. Kebetulan kulihat momentum yang tepat saat sesi pembicara-pembicara mulai naik ke atas dan moderator belum membuka sesi yang baru. Kuhampiri beliau yang tengah duduk sendirian.

“Pak Adi, selamat sore, saya tertarik dengan slide yang Bapak gambarkan sebagai suatu “tip of the iceberg” dari permasalahan kesehatan, tapi mohon maaf bila saya tidak bisa mengikuti sesi berikutnya karena saya harus pamit untuk ke bandara sebentar lagi.” Dengan gaya percaya diri dan tetap sopan saya sampaikan dengan senyum kepada beliau, sambil saya menyerahkan kartu nama ketiga kepada beliau. (Kalau dipikir-pikir, emang nekat caraku memperkenalkan diri yah?)

Wajahnya tertegun dan senyum kepadaku. Kali ini kartu namaku di bacanya dengan seksama. Sembari ia memperhatikan diriku yang sudah membawa tas dan siap pergi, kemudian ia mengatakan:

“Mbak apa masih punya waktu 5 menit? Mari duduk sebelah saya dan kita bicara sebentar.”

Subhanallah. Suatu kenekatan yang memberikan hasil yang melegakan. Singkat cerita kami berdiskusi sebentar dan beliau pun tertarik untuk berbicara di kantorku dan meminta saya untuk bertemu dengannya di Jakarta.

Peristiwa 3 kartu nama itu menginspirasikanku akan pentingnya “momentum” atau waktu yang tepat. Kartu nama pertama kuberikan saat Pak Adi tengah berada di kerumunan dengan perhatian beliau pada pertanyaan peserta lainnya. Kartu nama kedua kuserahkan saat konsentrasi Pak Adi tengah mempersiapkan diri untuk naik ke mimbar dan memberikan paparannya sehingga beliau menyerahkannya kepada sekertarisnya. Justru beliau menghormatiku dengan mendelegasikannya kepada sekertarisnya, sehingga urusanku ada yang menanganinya saat beliau harus melaksanakan tugasnya ke panggung dan bukannya beliau sombong.  Untung saya tidak patah asa dan tetap berfikiran positif pada saat itu.

Kartu nama ketiga kuserahkan pada waktu yang tepat sehingga menarik perhatian Pak Adi. Momentum yang sempit karena terbatas oleh jam pesawat ke Bali dan misi yang belum tercapai membuat penyerahan kartu nama ketiga itu menjadi indah. Karena saya pun dipaksa berfikir oleh keadaan, bagaimana cara yang kreatif untuk menyampaikan ke beliau suatu pendapat yang kiranya akan menarik perhatiannya. Sebagai seorang pakar, tentunya akan senang bila pendapatnya diperhatikan dan didiskusikan. Hal itulah yang menjadi pendekatan kreatifku dengan mencari pointers-pointers dari paparannya untuk menjadi topic pembuka pembicaraan.

3 kartu nama dalam 1 hari yang akhirnya membawa kepada persahabatan professional.  Proses perkenalan dengan Pak Adi tidak hanya mengajarkan kepada saya hal-hal yang perlu saya ketahui tentang dunia kesehatan namun juga bagaimana kegigihan, positive thinking dan niat tulus akan membawa hasil yang maksimal yang diijinkan oleh Sang Pemilik Hasil Akhir, Allah Sang Maha Kuasa. Hingga tulisan ini saya buat, saya belum sempat bercerita kepada Pak Adi proses saya memperkenalkan diri ini kepadanya. Mungkin suatu hari, bila ada kesempatan bertemunya lagi, karena sekarang beliau tengah menikmati masa pensiunnya.

“Semua ada saatnya dan akan indah pada saatnya tiba.”

Saturday, March 1, 2014

©WiDS

www.wbuenastuti.com

10 thoughts on “Indah Pada Saatnya

  1. Nice story Widya..jd inget kalo aku lg berusaha memperkenalkan diri ke customer2ku..Masih kalah jauh dgn kegigihan kamu…mesti banyak belajar dari kamu nih..selamat ya tulisan2nya makin lama makin menarik say…

  2. Cant believe this comment written in mecca to you wid.

    Presistent and consistency is a small lil thing that suprise me these day here in a different way like what u xperienced

    Pada saat sudah umroh dua kali, dilaksanakan tiap kali smua debrondongs insisting untuk mendekati dan memegang kabah dan berdoa di multadzam, maqam ibrahim berkali2 sampai akhirnya tadi aku panggil dan mempertanyakan why, why and why… Karena aku selalu mengajarkan bahwa jangan membawa harapan sedemikian tinggi hingga harus mengkultuskan tempat2 di mekkah karena intinya allah akan memberikan apa yang kita butuhkan dan akan diberikan pada waktunya setelah kita menunjukkan usaha dan doa yang baik

    Yang membuat aku shock dan speachless adalah jawaban masing2 yang hampir seragam :

    kita tidak berdoa apa2 untuk diri sendiri ummie, toh kita apa2 harus berusaha,
    kita hanya berdoa supaya dosa abbie diampuni di tempat2 terbaik ini karena abbie sudah tidak bisa lagi beramal dan menutup dosanya dan hanya kita yang bisa menolong….. Itu saja, Kalo buat diri sendiri mah nggak lah buat apa..

    Those simple things suprised me becaused came from small teenager ages of debrondongs

    -Alhamdulillah-

    • Sahabatku Asdiani, aku terharu dan menangis membaca ur comment. Subhanallah. Allah menitipkan anak2 yg sholeh yg mengerti makna Cinta Allah padamu. Penghibur hati dan Pelipur Lara.
      Abbie nya pasti sll tersenyum melihat debrondongs yg menjadi dewasa karena keadaan tetapi tetap menyimpan sifat anak2 mereka.
      Life is a beautiful journey. Dgn persistency and consistency yg aku pelajari adalah semua hasil akhir bukan milik kita but Milik dan Kuasa Nya we just need to keep trying for good cause.
      Terimakasih sdh sharing this beautiful comment from Mecca.
      -Alhamdulillah-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s