Dua Batu Bata


Dua Batu Bata

 Oleh Widyaretna Buenastuti

 

Hand phoneku bergetar terus ditengah-tengah acara kantor yang mengumumkan restrukturisasi perusahaan dan di siarkan secara langsung melalui teleconference ke seluruh kantor-kantor cabang di seluruh nusantara yang sedang aku pandu. Diantara puluhan pesan yang masuk semua menyuarakan pesan yang sama.

“Ibu, tolong penerjemahnya diganti, kami gak mengerti satu katapun.” Dari salah satu manager di Surabaya.

“Kami tidak mengerti, bu” pesan yang hampir sama dari kantor Medan.

“Suaranya pecah bu.”

Sebenarnya saya pun sudah gelisah karena penerjemah professional yang saat itu sedang bertugas menerjemahkan pesan-pesan dari Presiden Direktur kurang bisa mengartikulasikannya dengan baik. Padahal penerjemah ini diambil dari penerjemah yang sering dipakai oleh kedutaan – kedutaan asing dan CV nya pun sangat memukau. Di saat rehearsal pun semua urutan acara dan pelaksana acara termasuk sang penerjemah  berjalan dengan baik, lancar dan ia sanggup untuk menerjemahkan dengan baik. Namun, entah kenapa pada hari H, suaranya terdengar seperti orang yang sedang berkumur-kumur dan tidak jelas. Hingga saya beberapa kali memintanya untuk mengganti microphone yang ia pergunakan, dan menghentikannya beberapa kali sambil memberikan contoh cara memegang microphone demi suara yang bening dan lantang. Terjemahannya sendiri sebenarnya bagus dan ia bisa menangkap kata-perkata dengan baik, namun sepertinya saat itu kurang cocok bila pesan-pesan yang disampaikan di terjemahkan kata per kata. Itupun sudah di berikan contoh saat rehearsal dan saya pun memberikan contoh di saat itu juga untuk mengambil intisari dan menyampaikannya kembali kepada hadirin.

Setelah beberapa menit berlangsung dan tidak ada perubahan dari kualitas suara maupun terjemahannya  dengan sangat terpaksa dan tanpa bermaksud membuatnya malu, saya pun mengambil alih tugas menerjemahkan pidato-pidato yang disampaikan pada hari itu dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Keputusan cepat yang tidak menyamankan hati sebenarnya untuk memotong tugas seseorang di depan umum. Namun tujuan utama dari acara tersebut agar pesan yang disampaikan oleh para Direksi bisa di dengarkan dengan jelas ke seluruh penjuru nusantara penting untuk diselamatkan.

Keadaan yang tidak menyamankan sama sekali  baik untuk saya maupun untuk sang penerjemah. Tetapi setelah saya ambil alih, getaran hp saya pun berhenti dan ratusan wajah para hadirin yang  ada di ballroom pun menyiratkan kelegaan mereka. Paling tidak para hadirin menjadi nyaman dengan keputusan cepat yang harus di ambil tersebut.

Setelah saya menutup acara dan meletakan microphone pada tempatnya, kucari sang penerjemah yang ternyata berdiri di belakang ruangan sendiri dalam kegelapan. Pastinya ia merasa malu akan kegagalan yang telah ia lakukan dalam acara tersebut dan mungkin tidak hanya itu, rasa ketakutan akan klien yang pastinya akan marah kepadanya, sudah pasti menyelimutinya sejak microphonenya saya ambil alih.

Saat itu yang saya ingat akan sebuah cerita anak-anak yang pernah saya baca tentang dua pekerja pemasang batu bata yang sangat ketakutan saat pekerjaan mereka selesai memasang seluruh batu bata. Hanya karena ada dua batu bata yang terpasang tidak simetris sehingga dinding terlihat tidak rata dan seperti ada benjolan menonjol pada dinding yang dibangun.  Pada hari sang empunya rumah datang untuk melihat dinding yang telah ia pesankan untuk dibuatkan rata dan lurus, bulir-bulir keringat akan ketakutan untuk dimarahi dan tidak di bayar sudah memenuhi pemikiran kedua pekerja.

Sebelum sang empunya rumah berkata, dua pekerja itu sudah mengahampirinya dan mencium tangannya sambil bolak balik meminta maaf akan kecerobohan mereka.

“Maafkan kami pak yang tidak bisa membuat dinding ini sesuai dengan pesanan bapak, untuk rata dan lurus.”

Sang empunya rumah pun memandang lama sekali dinding yang baru di bangun. Ia memandang, menyentuhnya dan memutarinya berkali-kali. Tanpa mereka duga, wajah sang empunya rumah malah tersenyum.

“Terimakasih yah, benjolan menonjol karena dua batu bata itu justru menambah indah dinding ini. Coba kalian lihat dengan baik, tanpa ada benjolan menonjol di dinding tidak akan ada tanda yang unik untuk dinding rumah saya.”

Waktu saya membaca cerita anak-anak itu, yang saya ingat secara sederhana adalah keunikan yang Allah berikan untuk setiap manusia yang bisa berupa gigi gingsul atau adanya tompel, tanda lahir, tahi lalat dan lain sebagainya. Lihatlah badan kita sendiri dengan seksama, pasti ada titik-titik khas dan tanda-tanda yang menghiasinya. Manusia saja tidak ada yang bening mulus.

Kuhampiri sang penerjemah dengan senyumanku serta uluran tanganku, dan seperti dua pekerja batu bata itu, ia pun meminta maaf berulang kali dan menundukan kepalanya. Aku bisa merasakan aura kegelisahan, ketakutan dan malu yang campur aduk jadi satu. Terinspirasi dari sang empunya rumah, saya pun mengucapkan terima kasih kepadanya telah mempersiapkan diri dengan baik dan meluangkan waktunya untuk acara hari itu. Tawaranku untuk makan siang bersama ia tolak dengan halus dengan alasan masih ada kerjaan lain yang menunggu dan ia pun langsung pamit pergi.

 

Lalu apa maksud semua ini? Apakah kita harus selalu bertoleransi terhadap ketidaksempurnaan dari hasil suatu pekerjaan? Apakah kita tidak boleh melampiaskan kekesalan kita karena pekerjaan yang tidak sempurna? Bukan itu. Namun, cerita dua batu bata dan kejadian itu selalu mengingatkan saya tentang hal-hal yang sering kali berada di luar kendali dari kita sendiri. Persiapan dan rehearsal semua sudah dilakukan dengan baik, tetapi pada hari H, bisa saja terjadi hal-hal di luar dari ekspektasi yang kita harapkan. Pasti ada suatu pesan yang tersirat bila kita bisa melihatnya dengan lebih bening lagi.

Cerita dua batu bata itu menginspirasikan saya untuk melihat terjemahan yang amburadul seperti “benjolan menonjol” pada dinding. Rasa terima kasih saya kepada sang penerjemah menjadi lebih besar porsinya dibandingkan rasa marah akan ketidaksempurananya ia bekerja. Karena setelah kejadian tersebut, kepercayaan para Direksi kepada saya pun bertambah. Para hadirin pun menjadi lebih nyaman bila saya yang menerjemahkan. Bayangkan bila tidak ada kejadian penerjemah yang amburadul, maka terjemahan yang saya biasa lakukan tidak akan ada bandingannya dan akan terlihat normal-normal saja, sebagaimana mestinya. Dengan segala nikmat ini, apakah saya harus marah kepada sang penerjemah? Saya pikir tidak perlu. Justru saya berterima kasih, iba kepadanya dan berdoa semoga ia pun mendapatkan hikmah yang luar biasa dari kejadian ini. Dan saya bersyukur sekali mendengar bahwa ia belajar banyak dari kejadian tersebut dan bahkan sekarang order menerjemahkan juga semakin banyak. Dua batu bata telah mengajarkanku rasa syukur dari ketidaksempurnaan.

 

Saturday, February 8, 2014

©WiDS 2014

www.wbuenastuti.com

 

4 thoughts on “Dua Batu Bata

  1. Kadang diri yang khilaf ini suka kurang lihai melihat hikmah di setiap kejadian yang ALLAH berikan,,
    Terima kasih untuk slalu mengingatkan melalui cerita 2 yang Ibu tulis ya =)

  2. Indah, indah sekali uraianmu tentang dua batu, bukan dilihat dengan mata, tapi dengan nurani orang dengan mendalam, bahwa setiap keburukan atau kejelekan tentu ada kebaikan asal kita menyikapinya dengan hati yang ber Iman dan Ikhlas menghadapi setiap kejadian. Congratulations dan kalo hal demikian diterapkan dlm mendidik orang terutama anak-anak, akan tumbuh kebijakan yang sangat tinggi utk memperoleh Hidayah Allah bagi suksesnya pendidikan anak dan kelangsungan kehidupannya dgn ridho Allah.

    • Thank u Dad. As nothing in this world is perfect. Perfections only belongs to God. But that imperfections create the beauty of life…with imperfections we learn to appreciate things differently… In sha Allah our eyes and heart are open to forgive and be grateful.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s