Kancing Baju


KANCING BAJU

Oleh Widyaretna Buenastuti

 

“Ma, aku bisa ngancingin baju sendiri sekarang!” masih dalam balutan piyamanya,  senyum lebar dan wajah yang menyiratkan kegembiraan menghiasi wajah anakku yang saat itu baru beranjak 4 tahun ketika memamerkan keahlian barunya di pagi hari. Walau masih dengan susah payah ia berusaha memasukan anak kancing ke dalam lubang kancing melalui tangan-tangan mungilnya. Satu persatu ia buka kancing di baju piyamanya dan kemudian ia ulangi lagi. Hari itu, ia sama sekali tidak mau menggunakan kaos, ia lebih memilih untuk menggunakan baju berkancing untuk melatih keterampilan tangan-tangan mungilnya. Sebagai seorang ibu, kita pasti akan tersenyum melihat kelakuan anak-anak kita yang penuh dengan rasa keingintahuannya yang tinggi dan terus mencoba berlatih dan berlatih.

“Ma, kok aku jadi gak bisa ngancingin baju dengan tangan kiriku?” masih terngiang di telingaku ketika kata-kata itu diucapkan oleh suamiku beberapa tahun yang lalu.Tiba-tiba saja tangan kirinya menjadi lemas dan suamiku kesulitan mengkoordinasikan gerakan dan kekuatan jari jemarinya untuk mengkancingkan bajunya berangsur hilang. Rasa penasaran, bingung, berbagai pertanyaan di dalam benak bermunculan dan kemana harus mencari jawabannya adalah perasaan yang kita rasakan bersama saat itu. Saat dokter mengatakan bahwa yang dialaminya adalah  gejala serangan minor stroke, kepasrahan menerima takdir dan kekuatan untuk berjuang mengatasi “peringatan” itulah yang kami miliki.

Kedua momen yang masih lekat sekali dalam ingatanku. Kedua momen yang memberikan perasaan yang jauh berbeda, hanya karena sebuah benda yang sama, Kancing Baju. Saat mendengar anakku bisa mengkancingkan bajunya sendiri, aku tersenyum dan di saat lain saat suamiku tidak bisa mengkancingkan bajunya sendiri aku meneteskan air mata. Semua karena Kancing Baju. Benda kecil yang kadang ada dan kadang tiada dalam suatu baju dan mempunyai peranan yang beragam. Terkadang ia hanya ditempatkan sebagai suatu asesoris pemanis dari baju, terkadang ia memegang peranan penting dalam memastikan baju tertutup dengan rapi bagi pemakainya dan terkadang berfungsi sebagai keduanya.

Kancing Baju, benda-benda kecil yang menjadi bagian dalam kehidupan kita  dan seringkali kita tidak menyadari kehadirannya, bahkan bisa terlewat begitu saja dari pandangan kita yang terbatas ini. Kapan pertama kali kita bisa berjalan? Kapan pertama kalinya kita merasakan rasa pedas, manis pahit, asam? Kapan pertama kali kita bisa membaca dan menulis? Susah untuk mengingatnya kembali bukan? Namun yang bisa kita rasakan adalah rasa kesedihan dan kehilangan apabila keahlian yang telah kita miliki bertahun-tahun tiba-tiba tidak bisa kita lakukan.

Segala kemampuan yang kita miliki bertahun-tahun itu tumbuh dari latihan beratus-ratus kali? Tidak perlu kita bicara tentang para atlit yang bisa menjadi juara dalam bidangnya karena latihan rutin  yang mereka lakukan. Dalam keseharian kita pun, kita melatih diri kita terus untuk bertambah baik. Sama halnya dengan  anakku yang berlatih terus memahirkan jari-jari mungilnya mengkancingkan bajunya, begitu juga saat suamiku melatih kembali kemampuannya untuk menggunakan saraf-saraf motoriknya, semua harus melewati latihan di dalam hidup ini. Bukan hanya latihan tetapi juga keinginan kuat merupakan kunci untuk menjadi mahir dalam apapun yang kita lakukan.

Lihat bagaimana seorang bayi belajar merangkak, kemudian ia tumbuh dan belajar duduk, berdiri, melangkah satu persatu hingga bisa berlari. Pasti ada saat-saat mereka jatuh, terluka dan kemudian bangun kembali hingga mereka bisa berjalan, berlari, duduk dan tidur. Saat kita sakit, kita akan mengerti bagaimana nikmatnya sehat. Saat kita tidak bisa menikmati rasa makanan hanya karena satu titik di lidah kita terkena sariawan, kita berharap dan berdoa untuk dikembalikan lagi nikmatnya tanpa sariawan.

Kancing Baju mengingatkanku akan anugrah yang luar biasa yang telah diberikanNYA kepada manusia akan nikmat baik di kala senang dan sedih, di kala berdiri dan jatuh sekalipun, di kala sehat dan sakit. Semua diberikan kepada manusia sebagai ajang latihan. Tanpa ada ajang latihan, kita tidak akan bisa melatih diri ini untuk menjadi mahir tidak hanya jasmaniah tetapi juga spiritual melalui segala momen sekecil apapun. Semua itu karena kasih sayangNYA kepada kita yang ingin menjadikan diri manusia sebagai ciptaanNYA menjadi pribadi  yang lebih kuat dan lebih baik. Rasa bangga untuk pertama kali berhasil mengkancingkan baju mungkin sudah tidak kita rasakan lagi, jangan pernah menunggu segala kenikmatan ini dicabut atau dikurangi sedikitpun baru kita bersyukur. Jangan juga larut dalam kesedihan yang lama bila kita diberikan saat-saat harus jatuh dan terluka, karena semua pasti ada hikmahnya dan semua terjadi karena ijinNYA untuk kita senantiasa berlatih terus untuk menajamkan rasa sabar dan syukur kita atas segala hal yang kita terima selama kita hidup.  Nikmat mana lagi yang akan kita ingkari?

 

Friday, January 31, 2014

©WiDS 2014

6 thoughts on “Kancing Baju

  1. Tulisan yg bagus Mbak Wid…. Mengingatkan kita untuk memaknai arti kehidupan dan Rasa syukur atas berkat yg kita terima apapun itu bentuknya… Melakukan yg ter baik yg kita bisa lakukan dalam hal apapun dan menikmati setiap moment yg kita miliki…..

    • Terimakasih Tesa. Allah itu sll sayang sama kita dgn sgl sesuatu yg terjadi pada diri kita. Yang terkadang lucu, menyenangkan dan juga menyedihkan. Dan kalau gak ada tempat utk latihan kita gak akan jadi lbh baik. Life is beautiful in itself. Makanya..just SMILE…

  2. Alhamdulillah, Kamu telah mengajari pembaca dengan tulisan yang menggugah qolbu utk selalu INGAT kepada Kholiqnya. Teruskan dan I love the messages you deliver in this media and got the blessing from AAllah ta’ala.

    • Ridho dari orang tua adalah Ridho Allah. Thank you Dad for always supporting me. I know that you have been and will always be monitoring me even when we are far apart from each other. I can never repay to you for what you have done to me, even until the end of the world. Insya Allah, mjd anak yang sholehah to you is my wish to provide you the key to Allah’s Jannah. Amin ya robbal alamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s