Hanya Bertamu


Hanya Bertamu

Oleh Widyaretna Buenastuti

Di hari minggu yang cerah selagi saya menikmati sarapan pagi ditemani dengan secangkir teh dan koran, tiba-tiba saya diberitahu oleh anak saya kalau ada tamu satu keluarga yang mencari saya di teras rumah. Kubergegas membenahi diri untuk menyambut siapakah gerangan tamuku di hari Minggu pagi itu. Saat kutemui dan kusambut sepasang suami istri dan anaknya berumur sekitar 4 tahun, hatiku serasa bahagia dan lega sekali. Suatu kunjungan yang tidak disangka-sangka dan membawa ingatanku pada beberapa tahun yang silam.

Dalam perjalanan bisnis sepulang dari Kuala Lumpur menuju Jakarta, saya merasa penasaran dengan seorang gadis yang duduk di pesawat di samping saya. Yang membuat saya penasaran karena bahasa tubuh sang gadis ini terlihat bergemetar dan berkeringat. Wajahnya selalu ditundukan dengan rambut yang menutupinya sehingga agak susah bagi siapapun untuk dapat melihat ke wajahnya. Ia hanya membawa satu tas kecil yang mungkin berisi pakaiannya dan tas wanita. Ketika pramugari menawarkan hidangan, ia menolaknya. Lalu saat itulah saya menerangkan bahwa dia harus makan dan benar saja, tangannya dingin sekali ketika saya pegang. Terbukalah kesempatan bagi saya untuk bertanya lebih lanjut apakah ia sakit atau butuh pertolongan, sebut saja namanya Sumi.

Singkat cerita, ternyata Mbak Sumi melarikan diri dari tindakan majikan yang menyiksanya dan ia berlindung kepada Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur dan akhirnya ia dibantu untuk pulang ke Jakarta. Sembari kami menyantap makanan di pesawat, mbak Sumi pun bercerita bagaimana kehidupan yang ia alami selama di perantauan. Kerja beberapa tahun, tidak banyak hasil yang ia bisa bawa pulang. Ia pun sempat berbaik hati memperlihatkan uang yang ia bawa yang tidak seberapa dalam bungkusan saputangannya. Namun saat itu yang ia pikirkan adalah keselamatan dirinya dan cita-cita bisa berkumpul kembali dengan keluarganya yang ia harapkan terwujud.

Terbayang betapa sulitnya ia harus melewati hari-harinya di perantauan. Semenjak bangun pagi, ia berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan menyiapkan keperluan majikannya. Ia memasak, mencuci, menyetrikakan pakaian, membersihkan rumah di saat semua masih tertidur dan berusaha melakukannya dengan baik. Tiada terima kasih yang diucapkan, yang ada hanyalah kecacatan dari pekerjaan yang ia lakukan dan berbuntut pada pukulan-pukulan yang tidak semestinya. Tangisan dan rintihan adalah temannya setiap hari. Ia tidak dapat menghubungi keluarganya. Semua identitas dirinya tidak ia pegang. Hanya ketakutan yang menyelimuti dirinya bertahun-tahun. Hingga ia memberanikan diri untuk kabur dari rumah majikanya dan mencari pertolongan. Bermodalkan luka-luka bekas pukulan dan bekas-bekas kulit melepuh, akhirnya ia bisa meyakinkan bahwa ia layak ditolong dan dipulangkan ke Indonesia.

Setibanya kami di bandara di Cengkareng, saya pun diperlihatkan di depan mata saya tentang lika-liku yang harus dilewati oleh para tenaga kerja Indonesia yang baru pulang dari perantauan. Perlakuan terhadap pahlawan devisa negara, jauh dari kelayakan seorang pahlawan yang dihormati. Termasuk perlakuan yang harus dilewati oleh Mbak Sumi. Saat di antrian imigrasi, karena satu dan lain hal, Mbak Sumi diminta untuk ke ruangan tertutup dan 15 menit kemudian ia baru keluar dari ruangan itu. Entah datang dari mana, Mbak Sumi langsung di datangi oleh beberapa pria yang mencoba untuk bertanya kepadanya. Saya kemudian memanggilnya untuk ikut dengan saya. Salah seorang pria bertubuh besar dan berkulit gelap langsung menghampiri saya, dengan suara berat dan gaya yang kasar ia membentak saya:

“Ibu, mau dibawa kemana dia? dia tidak seharusnya ada di sini tempatnya.”

“Dia bersama saya dan dia berhak berada disini!” saya katakan dengan tegas. Walau sebenarnya hati saya bergetar dan bergemuruh antara takut, marah dan kesal. Beberapa pria yang berada di ruangan ambil barang pun mencoba untuk mendekati kami. Mbak Sumi  langsung di tarik dengan kasar oleh salah satu dari mereka dan sembari menunjuk ke arah lain ia mengatakan “Kau kan TKI, setor dulu sana!” Badan kecil mbak Sumi pun kembali bergetar dan matanya kulihat mulai menangis. Tanpa berkata-kata, saya tarik kembali tangan Mbak Sumi dan membisikan padanya “Tenang, Allah bersama kita.” Entah kekuatan dari mana, tanpa berkata apa-apa hanya tatapan mata saya yang menyiratkan kepada mereka semua di situ untuk jangan mencoba mendekat.  Subhanallah, tidak ada yang kemudian meneruskan mengikuti kami. Setelah mengambil bagasi saya, kami pun berjalan keluar. Ternyata episode perjuangan belum berhenti. Di saat saya mengurus mobil jemputan, Mbak Sumi yang sedang memegang troli saya, kembali didekati oleh seorang pria. Langsung saya tanya “Ada perlu apa, Pak?” tanpa ia berani melihat ke saya, ia terlihat menyampaikan sesuatu kepada Mbak Sumi, yang membuat Mbak Sumi kembali bergemetar. Saya hampiri dan mencoba untuk tau lebih lanjut apa urusan bapak itu. Kembali saya tanyakan untuk kedua dan ketiga kalinya “Ada perlu apa?” ia tidak menjawab dan akhirnya berlalu.  Rasa marah, gemas dan prihatin terhadap kenyataan di depan mata masih menggelora saat saya menulis ini. Hanya bisa berharap akan adanya perbaikan dan tumbuhnya rasa saling menghormati sesama bangsa Indonesia.

Tersenyum saya mendengar celotehan anaknya Mbak Sumi yang sangat tinggi keingintahuannya. Serasa ada magnet yang sudah menempel antara saya dengan Aziz, sebut saja demikian. Setelah beberapa menit ia memasuki rumahku, Aziz loncat ke pangkuanku dan bertanya segala hal. Celotehan-celotehan anak yang cerdas yang haus akan ilmu. Bahagia dan lega rasanya melihat kehadiran Aziz saat itu. Seandainya tidak ada keberanian yang ditiupkan oleh Allah kepada mbak Sumi, tidak akan aku dengar celotehan-celotehan Aziz seperti saat mereka bertamu.

Aziz dengan semangatnya bercerita bagaimana perjalanan dari Sukabumi hingga ke Jakarta. Ada bebek, ada mobil, ada truk dan terus-terus-terus. Rupanya kunjungan itulah pertama kali Aziz di bawa orang tuanya untuk pergi keluar desanya. Suatu kunjungan yang istimewa tidak hanya bagi Aziz tetapi juga bagi saya yang masih diberikan kesempatan bertemu lagi dengan Mbak Sumi. Tidak ada wajah kelelahan. Hanya wajah keceriaan mereka bisa bertemu denganku. Saya sangat menikmati cerita-cerita perjalanan hidup Mbak Sumi dan suaminya yang berusaha membangun keluarga mereka penuh dengan ikhtiar tiada lelah dan keikhlasan menerima segala rejeki yang datang. Karena bagi mereka kepulangan Mbak Sumi ke Indonesia merupakan suatu rejeki yang luar biasa dan hanya atas kuasa Allah lah semua itu dapat terjadi. Kesederhanaan ini lah yang membawa mereka hingga menginjakan kaki ke rumahku hanya untuk bertamu tanpa agenda lainnya. Merekapun langsung pulang ke Sukabumi kembali setelah mencukupkan diri bertemu denganku.

Hanya bertamu tanpa ada agenda lain. Hanya bertamu yang membuat hatiku terteteskan embun melihat kecerdasan di mata Aziz, kebahagiaan dan kemesraan hubungan mbak Sumi dan suaminya. Ketulusan dan kesederhanaan Mbak Sumi berserta keluarganya yang istimewa dalam kunjungan singkatnya menginspirasikan kepadaku berbagai hal. Mereka mencontohkan kepada kita arti saling menghormati sesama manusia melalui silaturahim yang dijaga tanpa ada agenda lainnya. Hanya bertamu. Mampukah kita menjadikan diri kita menjadi manusia-manusia yang istimewa menjaga silaturahmi dan kehangatan di muka bumi ini dengan ketulusan dan kesederhanaan tanpa agenda lain?

Saturday, January 25, 2014
©WiDS 2014
http://www.wbuenastuti.com

16 thoughts on “Hanya Bertamu

    • Iya… itulah fenomena yang ada. Terkadang kita menyapa atau bertamu dengan orang kalau ada perlu untuk minta tolong sesuatu sama orang itu. Sapa aja dengan tulus gak mesti nunggu ada perlu sesuatu atau hari2 tertentu kan?

  1. Nice story wids,
    miris bgt kalo denger cerita2 mereka & cukup byk kejadian spt ini, harusnya perlindungan bagi merekA sdh harga mati & mjd tg jwb penyenggara & pemeeintah, jgn hanya mengambil keuntumgan dari keringat para TKI

    • Etta, “MIRIS”, satu kata yang kurasakan saat itu, juga di saat mendengar atau membaca kejadian2 yang hampir sama. My heart is bleeding, My lips are sealed, just Action to save them from inappropriate treatment, will give solution. I am glad to listen to my heart and take action then. makasih Etta for your comment.

  2. Sangat menyentuh, dan menginspirasi. Sayang.. percakapan budir dengan oknum bandara tatkala budir membela mba sumi tidak tertulis disini. Padahal itu mengandung energi dan kualitas iman seseorang. Teringat guru ngaji kampung saya yg mengupas sebuah hadis, “apabila kita melihat kemunkaran, maka rubahlah dgn tanganmu, jika tidak sanggup.. maka dgn lisan, jika tdk sanggup.. maka dgn hati, itulah selemah2nya iman”.

    btw, saya msh penasaran siapa yg mengetuk pintu toilet.. :d

    • Penjaga toilet, memang perdebatan yang cukup bisa membuat saya bergetar membela mbak Sumi yang ditarik dengan kasar untuk jauh dari saya saat itu dan saya merebutnya kembali dari mereka dan membawa mbak Sumi ikut pulang dengan saya. Kekuatan itu hanya datang dari ALLAH. nanti saya edit yah. terima kasih masukannya.

      Saya juga masih penasaran dengan siapa sih penjaga toilet ini?

  3. Lebih lengkap wids 👍
    Dan aq baru tau dari tulisan ini kalo mereka ternyata ditindas spt itu di Bandara di negara mereka sendiri, dimana rasa kemanusiaannya yah #damn

    baca ini aja udh menaikan adrenalin, gmn menyaksilan di depan mata langsung spt Widya
    🙏

    • Mbak Tika, menyedihkan yah? Mbak Sumi ini anak yang baik dan Allah selalu melindungi dirinya. Semoga sekarang sudah ada perbaikan, itu terjadi beberapa tahun yang silam. Makasih banyak sudah bersedia membaca tulisan saya dan memberikan komentar. ini merupakan motivasi bagi saya untuk selalu berbagi. This blog is not about me, but its about us.

  4. saya tidak percaya segala sesuatu terjadi di dunia ini, karena kebetulan belaka.
    everything happened for one or other reasons.
    mbak wid, mungkin Allah memperlihatkan semua hal yang menimpa sumi, untuk berbuat lebih lagi bagi para TKI yg teraniaya dan terzhalimi di bandara.
    I don’t know what the right actions are would be for sure, but you gotta do something for them.
    anyway, nice reads. keep on writing yaa..

    • Tempe goreng tepung,…mmm kok tau sih this is my favourite food!! Gara2 ibuku ngidam ini waktu hamil diriku dan susah banget dapetin di Buenos Aires. Loh kok jadi cerita tempe.
      Absolutely agree bhw everything happens for a reason. Dont ask what and why just follow ur heart.Which I did. Walau kalau dipikir2 agak nekat juga. Anak kecil mau lawan bapak2 tinggi besar gerombolan. Tapi ternyata mrk ciut dan pergi hanya dgn “Tatapan Wasabi”…istilah yg aku dpt dr temanku sbg ciri khas tatapanku.
      Appreciate ur comment. Jgn bosan utk ksh feedback dan saran yah. Insya Allah dan mhn doanya agar saya dpt inspirasi terus utk menulis.

  5. Sebagai penikmat tulisan Mbak Widya… Aku selalu mendapat inspirasi untuk melakukan bayak hal untuk dapat ditiru. Aku ikut deg2kan saat membaca ceritamu Mbak… Begitu heroik. Tuhan memakai dirimu untuk membantu TKI itu… GBU Mbak Widya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s