Sudah Lupa Tuh!


Sudah Lupa Tuh!

By Widyaretna Buenastuti

Kebanyakan dari kita mungkin masih ingat sebuah iklan di layar televisi untuk sebuah obat sakit kepala dengan slogan “Pusing? Sudah Lupa Tuh!”

Beberapa kejadian seringkali membuat kita gemas sendiri karena lupa. Suatu hari di dalam suatu pertemuan saya diperkenalkan oleh teman saya, “Wid perkenalkan ini Bapak Pramono (bukan nama sebenarnya), “ dan teman saya pun menyebutkan jabatan yang bersangkutan di dalam pemerintahan. Seperti biasa, saya pun dengan sigap mengeluarkan kartu nama dan memberikannya kepada Bapak Pramono untuk memperkenalkan diri. Namun, apa yang terjadi? Bapak Pramono mengambil kartu nama saya dan beliau mengatakan “Saya sebenarnya tidak perlu kartu nama ini, karena kita sebenarnya sudah bertukar pikiran melalui BBM.” Dengan muka tenang, beliau tersenyum memandang saya. Sudah pasti, muka saya merah padam dan langsung bereaksi menutup muka dan meminta maaf. Malu saudara-saudara kenapa saya bisa lupa. Teman saya yang memperkenalkan kami pun terheran-heran “Wid sudah kenal dengan Bapak Pramono sebelumnya?” Saya pun terselamatkan dengan acara yang sudah mulai di buka oleh MC dan kami pun cepat-cepat mengambil tempat duduk. Saya melihat BBM saya dan benar ternyata berbulan-bulan kita telah bertukar pikiran. Malu? Sudah pasti.

Lupa, satu kata yang menurut saya unik. Kejadian yang saya alami itu tentu saja akan membuat kita malu dan gemas terhadap diri kita sendiri. Cerita yang sering saya dengar selain lupa dengan nama orang adalah lupa memarkir kendaraannya. Ada yang harus memutar tempat parkir hingga berjam-jam untuk mencari lokasi parkirnya. Lupa menyimpan karcis parkir hingga harus seringkali kena denda berulang. Pasti kita senyam-senyum sendiri membaca ini karena mengingat kejadian-kejadian yang kita alami.

Kata Lupa juga seringkali digunakan untuk “mengeles” meminjam istilah anak jaman sekarang, untuk terhindar dari suatu tanggung jawab dan seringkali menjadi jawaban yang sangat cepat untuk di ucapkan. Kenapa belum mengerjakan PR nya? Lupa bu. Seorang murid yang menjawab dengan cepat ke gurunya. Kenapa kemarin gak datang ke meeting? Lupa. Atau mungkin yang sering dilakukan oleh para pengendara kendaraan bermotor bila ditilang polisi karena berbagai hal pelanggaran lalu lintas, “wah Lupa bawa SIM nya Pak, tadi ganti tas”, “…Lupa, Pak abis buru-buru jadi langsung belok..”, “Lupa pakai seatbelt lagi…tadi abis isi bensin..” dan alasan lainnya yang terkadang membuat kita geli sendiri.

Lupa secara sengaja atau tidak disengaja hanya bersangkutan lah yang tahu. Lupa bisa terjadi karena kita kurang perhatian terhadap sesuatu karena memang kita tidak menganggap hal yang penting untuk di ingat-ingat. Atau lupa karena penyakit hingga yang bersangkutan sudah memerlukan obat pengingat. Kita akan menjadi sangat prihatin bila salah satu keluarga kita sudah mulai pikun atau mengidap penyakit Alzheimer. Rata-rata kepikunan ini menyerang mereka-mereka yang sudah berusia lanjut. Teman saya bercerita bagaimana ibunya yang sudah berumur lupa jalan pulang kerumahnya setelah berkunjung kerumah anaknya dan tetap nekat pergi sendiri. Lupa seperti ini terkadang yang membuat repot sanak keluarga. Atau kita mempunyai orang tua yang bertanya berulang-ulang kali pertanyaan yang sama.

Apapun bentuk lupa yang kita alami atau yang dialami oleh sanak keluarga dan kerabat kita, sadarkah kita bahwa lupa merupakan suatu anugerah dari Allah Yang Maha Kuasa yang patut disyukuri? Lupa adalah salah satu kodrat alam sebagai pertanda bahwa semua yang ada di dunia ini terbatas dan ada batasnya.

Bayangkan bila kita tidak diberikan anugrah lupa. Segala kejadian semenjak kita lahir akan selalu kita ingat. Kenapa anak balita baru mempunyai daya ingat yang mulai kuat di saat dia berumur 2 tahun itupun secara bertahap dan hanya secuil kejadian yang dia ingat sampai dewasa. Coba saja bila kita tanyakan ke mereka di usia belasan tahun, ingat gak waktu ulang tahun pertama dirayakan dimana? Siapa saja yang datang? Mungkin dengan bantuan foto dan cerita dari orangtuanya, dia bisa menceritakan kembali. Tapi bukan berdasarkan ingatannya.

Kita sebagai manusia yang telah menjalani kehidupan hingga dewasa saat ini, tentunya mempunyai masa-masa yang ingin sekali kita lupakan untuk berbagai alasan. Biasanya kejadian yang memalukan, menyedihkan atau menyakitkan. Bayangkan bila kita tidak dianugrahkan dengan Lupa, apa saja yang kira-kira ada di ingatan kita ya?

Saya mengibaratkan ingatan kita sebagai suatu lemari yang akan penuh bila kita tidak membuang apapun dari dalamnya seiring baju baru yang masuk. Di dalam lemari itu ada berbagai kenangan yang direpresentasikan dari baju-baju yang kita simpan. Ada baju yang tidak pernah dipakai kembali tapi sayang untuk dibuang karena kita mempunyai kenangan khusus dari baju itu – ini adalah kenangan indah yang kita simpan. Ada juga baju yang sering kali kita pakai dan menjadi baju favorit – ini adalah ingatan yang kita pergunakan dalam keseharian kita. Ada baju yang dipakai hanya untuk acara atau kegiatan tertentu misal baju pesta atau baju renang – ini adalah ingatan kita yang kita pakai untuk keahlian tertentu yang diperlukan dalam pekerjaan kita. Mungkin juga ada baju yang belum pernah terpakai tapi memenuhi lemari kita – ini adalah ingatan dari bacaan-bacaan yang sudah masuk dalam otak kita namun belum terimplementasikan dalam keseharian kita. Dari sekian banyak baju, seyogyanya ada yang bisa kita sumbangkan atau kita keluarkan agar baju-baju baru dapat masuk dengan leluasa dan tidak kusut karena harus berdesak-desakan dalam tempat yang terbatas.

Untuk isi lemari, harus kita sortir secara aktif, tetapi kemampuan otak kita untuk menyimpan, mendaur ulang, atau mengingat kembali adalah anugrah Allah yang luar biasa. Anugrah Lupa merupakan kemampuan alamiah manusia untuk mendaur ulang ingatan kita dalam kehidupan ini sehingga kita dapat menjalani kehidupan ini dengan lebih tenang dan tidak terbebani dengan hal-hal yang tidak kita ingin ingat-ingat atau untuk memprioritaskan ingatan kita.

Banyak pelatihan-pelatihan yang tersedia dalam melatih ingatan termasuk tips-tips bagaimana kita mengingat orang-orang yang baru kita kenal agar kejadian seperti yang saya ceritakan di atas tidak terjadi. Itu merupakan pilihan kita untuk senantiasa memperbaiki diri selalu.

Masih penasaran bagaimana akhirnya saya mengatasi kekikukan dengan Bapak Pramono? Selesai acara, saya mohon maaf langsung “nyuwun sewu Pak, saya yang muda ini malah pelupa sekali. Terima kasih bapak masih mengingat saya dan memaafkan saya.” Demikian saya sampaikan kepada beliau. Ternyata, setelah kejadian itu, hubungan kerja kami tetap terjaga akrab dan tukar pikiran pun tetap berlanjut, Ini merupakan lupa yang membantu hubungan profesional. Suatu kenikmatan dari Allah lagi bukan?

Oleh karenanya, jangan sampai LUPA untuk bersyukur atas LUPA yang telah dianugerahkan pada kita sebelum kita diberi LUPA selamanya.

Tuesday, January 14, 2014
©WiDS2014
http://www.wbuenastuti.com

4 thoughts on “Sudah Lupa Tuh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s