Minder dan Warisan


Minder dan Warisan

oleh Widyaretna Buenastuti

Pertemuan dengan teman senantiasa melahirkan ide-ide untuk tulisan-tulisan saya yang senantiasa ingin saya bagi dengan para pembaca setia blog Wbuenastuti ini. Menarik ungkapan teman saya yang mengatakan bahwa ia minder dengan badannya yang gemuk sehingga membuat dirinya tidak percaya diri untuk melakukan berbagai hal. Di mata saya, temanku ini sama sekali tidak gemuk. Ia mempunyai postur dada yang bidang dan besar saja. Sama sekali tidak gemuk menurutku. Lagipula kalaupun gemuk, so what? Saya katakan padanya. Dia hanya menatap saya dan mengatakan, ”I know it’s a stupid thought, tapi bagaimana saya bisa melepaskan fikiran ini menggelayuti saya terus?”

Kemudian kita beralih ke pembicaraan yang semakin asyik dengan mencoba untuk menguraikan lagi perjalanan hidupnya hingga tujuan hidupnya. Sampailah pada pertanyaan, “What do you want to left behind when you die?” (Apa yang kamu mau tinggalkan pada waktu kamu meninggal?) Terdiam dan tertegun ia menatapku. Belum pernah saya pikirkan, demikian jawabnya.

Renungkan orang-orang hebat yang pernah ada di dunia ini, seperti Nelson Mandela, Mother Theresa, Dalai Lama atau orang tua kita, atau orang-orang yang pernah kita kenal ataupun tidak kita kenal. Cerita apa yang tertinggal saat orang mengenang mereka? Bukankah kita akan sangat senang bila bisa bercerita tentang kenangan indah yang mereka tinggalkan. Bahkan ada teman saya semasa kuliah yang telah tiada. Bila saya sebut namanya di tengah teman-teman seangkatan, semua teman akan mengingatnya dengan senyumannya yang indah karena selalu menghiasi setiap pertemuan kita dengannya dan almarhum selalu menjadi perekat teman-teman seangkatan. Ia adalah orang yang sangat perhatian karena ia lah satu-satunya teman di antara 200an teman seangkatan yang selalu tidak pernah lupa mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke teman-temannya satu persatu semasa hidupnya. Subhanallah, kita doakan kenangan-kenangan akan kebaikan almarhum itu menjadi amal solehnya.

Padahal satu hal yang pasti di dunia ini adalah kematian itu sendiri. Seringkali masalah kematian ini juga menjadi topik yang tabu untuk dibicarakan, terlebih lagi dengan orang-orang terdekat kita. Semua ini sebenarnya karena kita tidak senang melihat teman bicara kita untuk bersedih ketika topik kematian itu dibahas. Sebuah rasa kehilangan tidak akan menyamankan hati siapapun. Tetapi bukan berarti bahwa kematian yang tidak dibicarakan lantas tidak pula dipersiapkan, bukan?

Saat kita anak-anak atau masih dalam bangku sekolah, kita sering ditanyakan mengenai cita-cita. Jawaban akan pertanyaan ini masih seputar profesi yang akan digeluti dalam dunia kerja selepas dari masa sekolah. Cita-cita terpopuler pilihan anak-anak biasanya menjadi pilot, dokter, pengusaha dan lain sebagainya. Kemudian tahap kedua kehidupan manusia adalah “When Life Begins at 40”. Sesungguhnya statement ini sangat dalam artinya. Inilah saat manusia seyogyanya merumuskan kembali cita-citanya yang bukan lagi untuk mengejar profesi namun lebih kepada menyongsong datangnya masa tutup usia. Tetapi bukan berarti sebelum usia 40 tidak bisa di mulai, saya mengambil usia ini karena statement yang sudah mendunia itu dan merenungkan artinya.

Saat manusia berusia 40, biasanya mulai memasuki tahap kemapanan dalam hal pekerjaan, karir dan jaringan perkenalan yang semakin luas. Namun di lain sisi juga mulai mengalami masa-masa lebih mengenal penyakit-penyakit yang sudah mulai datang. Mulai mendengar kabar-kabar dari teman-teman seumuran yang dipanggil ke pangkuanNYA terlebih dahulu. Sebenarnya inilah tahap dimulainya kehidupan di level selanjutnya dan apakah pernah kita memikirkan untuk menuliskan apa yang akan kita tinggalkan untuk orang-orang yang kita cintai terlepas dari materi yang kita miliki.

Kembali kepada pertanyaan di atas, cerita apa yang akan kita tinggalkan untuk dikenang? Atau warisan apa yang akan kita berikan kepada dunia yang akan kita tinggalkan ini?

Saat kita mulai memikirkan warisan imateriil dan menjadikan ini sebagai cita-cita tutup usia, maka kita akan takjub dengan pemikiran-pemikiran lainnya yang akan berkembang dalam diri kita untuk melakukan berbagai hal selama di dunia ini demi mencapai cita-cita tutup usia itu dan memberikan warisan yang terbaik. Coba renungkan sesaat, cita-cita tutup usia atau warisan apa yang akan kita tinggalkan paling tidak untuk anak-anak atau orang-orang yang kita sayangi. Tuliskan dalam secarik kertas dan persiapkan langkah-langkah menuju kesana. Masukan dalam resolusi-resolusi kita.

Betapa rasanya banyak hal yang bisa kita lakukan dalam usia yang diberikanNYA yang belum tentu akan cukup untuk mencapai cita-cita tutup usia dan mempersiapkan “warisan”. Setiap kita berulang tahun akan berasa bahwa waktu untuk mewujudkan cita-cita tutup usia dan warisan itu semakin sempit. Langkah-langkah untuk ke arah pencapaian cita-cita tutup usia akan menyadarkan kita bahwa minder karena penampilan yang gemuk atau kurus sesungguhnya tidak ada artinya lagi. Karena yang lebih penting adalah, bagaimana diri kita ini bisa bermanfaat bagi orang-orang sekitar kita. “Its not about your look, its about how you meant to others.”

Thursday, January 9, 2014
©WiDS 2014
http://www.wbuenastuti.com

8 thoughts on “Minder dan Warisan

  1. Its funny how universe works ya mbak. We met and you told me about your blog and voilà! I’m reading it and weep! It’s a beautifully written. So, keep on writing mbak! Looking forward to your next writings 🙂

    • Ninit. It was a blessing to have d opportunity to know you. I believe that everything happen in this world have been written and we just have no knowledge about it. Thats why my motto of SMILE : See Miracle In Life Everyday have brought me with meeting many friends and appreciating d gift of each day… Thank you so much for offering to share the plug although I didnt use it anyway, Instead I got a better way of spending my lunch time today…not with my gadget or my book…but to get to know a wonderful person like you… again, Thank You!!

  2. Owkay since the comment is requested :

    Lukisannya beyond her age wid. remarkable. Langsung terbaca sesuatu, Allah menciptakan kita secara individual dan mempertanggungjawabkan segala sesuatunya individually, as a mother as a being terhadap keluarga dan lingkungan, adalah solitary. Adanya kaitan anak, suami, pekerjaan, keluarga hanya cabang2 yang memberi warna pada pohon ini dan pada sekitarnya.

    Sebagaimana kita, pohon itu semakin dalam akar menembus tanah, maka mampu memperlihatkan kokohnya secara visual dan cabang2 yang indah serta mewarnai sekitarnya sebagai landmarks… semakin kita kokoh dan dalam mempelajari hidup maka aura keindahan akan terpendar dengan sendirinya, orang lain tidak akan peduli lagi pada bentuk ataupun kosmetik dari pohon ini karena keindahannya langsung serta merta terlihat in a glimpse.

    so i wrap up your writing wid. Kadang aku salut bagaimana satu bentuk simple beautiful drawing made by your luvly daughter can directly represent your writing.

    • Dear Asdi, My daughter’s painting and my writing are two greatest gift that Allah has given them to us… the connection between them is an individual interpretation. Ur beautiful life has added the flavour and the colour to it. Thank u for ur lovely notes and beautiful friendship…. A legacy that is so precious….

  3. Dalam salah satu adegan terakhir film Saving private ryan, Sang ryan bilang didepan kuburan temannya lalu dia bilang ke keluarganya, “tolong bilang kepada nya (almarhum) bahwa saya menjalani sisa hidup dengan baik” (tidak sisa sia…)…. Karena teman2 nya meninggal hanya untuk menyelamatkan si ryan ini.. “ingin dikenal sebagai apa anda ketika meninggal”… apakah sebagai orang yang brengsek yang suka menyakiti orang lain, apakah sebagai koruptor yang menghabiskan uang rakyat, apakah menjadi seorang yang penuh kasih dan sayang terhadap keluarga, apakah menjadi pahlwan di mata keluarga, negara dll…
    Tidak ada yg lebih indah bila kita diceritakan oleh cucu kita sebagai orang yang berguna untuk orang lain… ayah saya dengan bangga, menceritakan bahwa perancang jembatan di kalimantan dan perintis ilmu geodesi di itb adalah ayahnya, kakek saya… begitu melekat dan diceritakan dengan mata yg berbinar2, cerita itu berulang2 sampai saya hapal…. begitu juga saya menceritakan ayah saya sebagai seorang pahlawan, kepada anak saya… dan saya pun berharap anak saya akan menceritakan apa yang saya lakukan sekarang ini dengan penuh kebanggaan…
    So apakah kita akan menghancurkan bahan cerita ini kepada cucu kita?… apakah anda akan rela dikenang sebagai “koruptor” dalam kasus hambalang, kasus bank century,…. “nak, dulu nenek adalah bekas putri indonesia, sayang dia lalu dipenjara karena korupsi..
    Sanggupkah anda??….
    So I cannot agree more with this beautiful story and writing…. so should I remember you as wids the writer? wids the “jail” person… or… wids…. yg???….. hehehe

    Salam,

    • Dear Reza man with eyeglasses, (namanya gonta ganti terus) kalau wids dikenal jahil gak apa2 asal jgn masuk “jail” aja…
      Tulisan tulisanku memang mengambil dr cerita2 teman2 dan yg sy alami sendiri…tp juga belum tentu I am perfect. Saya manusia biasa yg memang di takdirkan juga berbuat salah. Dan in sha Allah kita bisa belajar dr kesalahan2. Terus bagaimanya sy inginkan utk dikenang? Its up to u… sy berharap generasi2 muda penerus kita akan tumbuh mjd generasi yg bisa memberikan warna dan karya yg lbh baik pada dunia ini. Paling tdk utk Indonesia kita. Semoga kita bs membuat blog ini mjd warisan bagi siapa saja… this blog its not about me. Its about us.

  4. Marvelous wid… after the years perpisahan kita.. banyak yg berubah ya dalam hidup, cara memandang hidup yg semuanya Insya Allah mendewasakan kita. Tulisan Widya mengingatkan-ku ke salah satu untaian tausyiah yg nanjeb-jleb di hatiku, always.. “Orang-orang yang akhlaknya baik akan berada di dekat Rasulullah kelak di akhirat” so, simple aja jurus mengisi hidup… berakhlak baik saja! yg lain-lain ga perlu dipusingin… sounds like lips service ya wid, gampang ngomongnya. padahal termehek-mehek juga menjalaninyaa…
    looking for your next inspiration and dea’s painting… emuach

    • Dear Ia, “Berakhlak baik”… sederhana yg tidak sederhana dan butuh latihan utk menjaga konsistensi. Kalau mudah, maka Allah tdk akan mengutus banyak nabi dan sampai ada AL Quran. Semua ini terjadi krn IjinNya agar manusia belajar dari itu semua utk mjd org yg lbh baik dan bisa berada dekat Rasulullah. Jgn pernah berhenti dan lelah utk mencoba. Trimakasih Ia sdh menginspirasi mll aksi nyata berbagi dgn anak2 yg butuh kasih sayang. Dan terimakasih sdh membaca dan menulis komentar. Jgn bosan yah. Sy belajar byk dari Ia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s