PARASUT


“PARASUT”

Oleh Widyaretna Buenastuti

Siapa yang tidak menikmati pertunjukan terjun parasut? Dari anak kecil hingga orang tua pun akan menikmatinya. Bahkan seringkali terjadi kemacetan karena para pengendara mobil memperlambat laju kendaraannya hanya demi melihat tontonan para penerjun payung yang berayun-ayun di udara menuju target tempat pendaratan dengan parasutnya.

Penemuan parasut pertama kali diberikan kepada Sebastien Lenormand yang memperkenalkan prinsip-prinsip cara bekerja parasut di tahun 1783 walau sebenarnya pada tahun 1452 – 1519, Leonardo Da Vinci telah menggambarkan sketsa dan berimajinasi bentuk parasut. Kata parachute  itu sendiri berasal dari kata para (Latin) berarti against atau berlawanan dan chute  French) yang berarti jatuh.  Digabungkan dalam bahasa Indonesia berarti “berlawanan dari jatuh”.  Namun yang menarik untuk saya sampaikan disini bukan dari betapa menakjubkannya cara bekerja dari parasut itu dan bagaimana para pemikir-pemikir jaman dahulu bisa sampai melahirkan ide membuat parasut ini beserta kegunaannya tetapi tulisan ini terlahir dari pembicaraan saya dengan beberapa teman saya tentang proses pemikiran.

Terkadang kita merasa tidak satu frekuensi dengan lawan bicara kita yang susah sekali untuk mengerti maksud dari pesan yang kita coba sampaikan. Mungkin bagi ibu-ibu yang sering berkecimpung dengan para ‘asistennya’ di rumah seringkali geram karena instruksi yang menurut para ibu itu sederhana tidak dikerjakan sesuai dengan kehendaknya. Hal yang sederhana misalnya membersihkan perangkat kayu harus menggunakan lap yang halus tapi karena tanpa pikir panjang dan mencari mudahnya saja para asisten akan mengambil segala lap yang ada saja tanpa berfikir panjang dampak dari lap yang asal saja dengan lap yang memang peruntukanya untuk perangkat kayu.

Jangankan dengan para asisten, mungkin dengan pasangan kita, sering kali kita ‘gak nyambung’ aja. Begitu istilah dalam bahasa gaul. Maksud hati ingin dipuji oleh pasangan dan memberikan suasana baru dalam rumah, sang istri dengan bersusah payah menata ulang tatanan rumah, tetapi terkadang pujian sang suami tidak sampai malah tidak ada komentarnya satu patah kata pun atau pujian yang irit sekali, hanya “bagus”.  Lalu dengan emosi karena sudah lelah bekerja seharian jawaban sang istri-pun menjadi ketus yang akhirnya terkadang memicu pertengkaran-pertengkaran dalam rumah tangga.

Di dunia pekerjaan pun seringkali kita dihadapkan kepada situasi yang menurut kita tidak menguntungkan. Misalnya perusahaan bergabung atau diakuisisi oleh perusahaan lain. Seringkali reaksi pertama para karyawan adalah keresahan. Wajar. Keresahan menandakan bahwa ada pertanggung jawaban terhadap kelangsungan periuk nasi di rumah masing-masing. Namun menjadi tidak wajar bila kita melakukan provokasi untuk langsung tidak menyetujui suatu tindakan korporasi tanpa terlebih dahulu mengetahui latar belakannya.

Karyawan high potential yang menurut manajemen telah ditanamkan investasi yang  cukup banyak, suatu ketika mengundurkan diri karena ia mendapat tawaran yang lebih baik ditempat lain. Perasaan kesal seringkali menghinggapi  dan terkadang menjadi emosi. Atau sebaliknya karyawan dipecat oleh perusahaan padahal menurut versi sang karyawan, selama bekerja segala dedikasi waktu dan energi sudah dikerahkan semaksimal mungkin demi kantor.

Kita sering menemukan orang-orang yang tidak dapat dikembangkan lebih jauh lagi dan rasanya terkadang membuat kita sendiri frustasi untuk berbicara dengan mereka. Terlebih lagi bila kita mencoba untuk memberikan ide-ide baru untuk memperbaiki kinerja yang sudah ada sehingga maksud hati yang tadinya membantu menjadi padam seketika karena langsung di tolak oleh lawan bicara kita.

Apakah karyawan yang sangat potensial berpindah tempat ke tempat yang lain merupakan hal yang buruk bagi kita sebagai bosnya? Apakah saat kita dipecat dari pekerjaan, dunia ini menjadi runtuh seketika? Apakah dengan adanya merger atau akuisisi, keadaan menjadi buruk?

Lalu apa kaitannya dengan parasut? Cukup sederhana sebenarnya, parasut itu akan bekerja kalau dia terbuka dan mengembang. Hal ini pun sebenarnya sama dengan proses pemikiran manusia. Bayangkan bila proses pemikiran manusia itu tertutup terus seperti parasut yang tidak pernah dipakai dan akan lusuh dan lapuk tersimpan di dalam tasnya. Kapan parasut akan bekerja? Kalau ia terbuka dengan lebarnya dan menjaga sang penerjun untuk sampai ke tempat tujuannya dengan selamat. Proses pemikiran yang “open mind” selayaknya seperti parasut  yang mengembang sudah dipastikan akan lebih baik dari pada proses pemikiran yang “closed mind”.   Open mind terhadap perubahan, open mind terhadap pemikiran-pemikiran baru,  open mind terhadap segala perkembangan yang ada karena sesungguhnya manusia sudah dikarunia oleh Sang Pencipta dengan kemampuan beradaptasi yang sungguh luar biasa dan kemampuan berfikir yang melebihi makhluk manapun di dunia ini.

Mungkin saja dengan kita dipecat, ada pintu lain yang terbuka bagi kita. Mungkin saja dengan berpindahnya karyawan yang kita sayangi ketempat lain merupakan kesempatan bagi kita untuk mencari penggantinya yang lebih sesuai dengan perubahan perusahaan atau kesempatan bagi kita untuk menerapkan sistim-sistim kerja yang lain yang tidak dapat kita terapkan di kala karyawan lama itu bekerja. Mungkin saja dengan mergernya perusahaan, seseorang bisa mendapatkan jodohnya dari karyawan perusahaan yang bergabung. Segala kemungkinan dapat terjadi.

Pemikiran-pemikiran ini hanya dapat terjadi bila kita mencoba untuk membuka cara pemikiran kita untuk lebih luas lagi dan tidak hanya tertutup pada hal-hal yang sudh menjadi rutin apalagi pemikiran-pemikiran statis dan cenderung negatif.

Jangan lah menjadi parasut yang tidak bekerja. Dia tidak mengembang dikala dibutuhkan oleh sang penerjun. Masih untung kalau sang penerjun masih punya parasut cadangan, bagaimana bila kedua parasut itu tidak bekerja? Akibatnya pasti akan fatal!

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita bisa melatih diri kita untuk senantiasa menjadi orang yang open mind. Berkata memang lebih mudah dari pada melakukannya. Namun, saya percaya bahwa kita semua dapat selalu melatih untuk membuka wawasan kita menjadi lebih luas dengan berbagai upaya. Upaya yang dilakukan pun harus berdasarkan kesenangannya. Orang ada yang lebih suka dengan membaca, dan ada yang lebih suka menonton tv atau mendengarkan orang bicara atau menulis. Lakukan apapun yang kita suka untuk melatih diri kita untuk selalu open mind. Dan yang terpenting jangan lah langsung mengambil kesimpulan dan bersikap apatis terlebih lagi negatif terhadap segala perubahan yang ada. Jadilah Parasut  yang Mengembang!!

©WiDS August 6, 2010

http://www.wbuenastuti.com

PS: Tulisan ini dibuat di tahun 2010 dan di publish di blog wbuenastuti.com January 2, 2014 di saat-saat Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang menjadi Parasut yang mengembang.

2 thoughts on “PARASUT

  1. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita bisa melatih diri kita untuk senantiasa menjadi orang yang open mind.?…. membiasakan diri dengan berpikir positif, dimulai ketika mulai membuka mata. Menerima perbedaan, dan menerima perubahan. Jangan tenggelam dalam comfort zone, soalnya comfort zone itu enak … angett… eh tau tau pas bangun, ternyata semua sudah berubah…. dah pernah ngerasain dan sekarang lagi nerima konsekuensinya (sedih… hiks)…

    Soooo…. parasut ya…. sebuah perumpamaan yg menarik, yg penting jangan jadi parasit. Parasut, seyogyanya adalah befungsi sebagai pengaman dari jatuh secara cepat dari ketinggian. Tp jatuh dari ketinggian, itu katanya membuat adreanalin kita mengalir, ada rasa deg2an gimanaaa gitu…. asal pastikan saja parasutnya akan berkembang hehe…

    Nyambung ga sama artikel diatas? kayaknya sih enggak ya hahaha… biar aja deh, namanya juga comment… 😀

    • Bertanya bagaimana menjadi orang yang open mind saja sudah awal membuka diri. Tempaan hidup bisa menjadikan seorang manusia itu bertambah pintar atau menjadikannya semakin terpuruk. semua akan kembali kepada pola pikir seseorang. Makanya Allah memberikan moment-moment dimana kita dipaksa untuk terjun payung dari ketinggian that we never know where we land and how we can survive. so always be prepared with your PARACHUTE!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s