I Refuse to Grow Up


“I Refuse to Grow Up”

Oleh Widyaretna Buenastuti

Kaget juga ada teman yang mengingatkan kepada saya bahwa saya pernah punya pin dengan tulisan I Refuse to Grow Up pada jaket hijau kebanggaan saya di masa-masa SMP. Menurutnya karena pin itu jugalah yang mengakibatkan banyak teman-teman yang ragu untuk mencoba mengenali saya lebih dekat selain juga karena ayah saya saat itu terkenal sangat protektif terhadap putrinya ini.

Sama sekali saya tidak ingat bila tidak diingatkan. Di usia SMP  para remaja masih berada dalam masa-masa pencarian jati diri. Saat itu, yang terpikir oleh saya adalah tampilan pin-pin yang lucu-lucu. Sehingga tanpa pikir panjang akan dampak psikologis terhadap para pembacanya atau teman-teman, saya hanya memakai dan menyematkannya saja pada jaket saya. Pin yang terpasangpun tidak hanya satu. Di jaman saya SMP, jaket dengan berbagai pin memang sedang trend. Kebetulan Pin dengan tulisan I Refuse to Grow Up ini berwarna background ungu yang merupakan warna favorit saya dan tulisannya berwarna kuning yang sangat kontrast dengan latar belakangnya. Entah kemana pin itu sekarang.

Dengan sekarang saya berkecimpung di dunia komunikasi dalam pekerjaan saya, memang segala atribut yang dipergunakan oleh seseorang seringkali dimaknai sebagai suatu STATEMENT dari yang bersangkutan. Paling tidak bisa menggambarkan kepribadian dari yang bersangkutan. Masih lekat pastinya baru-baru ini ada seorang pejabat yang ramai dibicarakan di jejaring sosial media yang membedah semua barang yang ia pakai sehari-hari dari mulai dandanan rambut, jam, baju kerudung, sepatu, tas bahkan hingga yang tidak terlihat oleh mata misalnya parfumnya yang juga tidak luput dari pengamatan publik. Hingga semua asessoris bermerek tersebut pun di tandai dengan harga-harga yang cukup mewah. Persepsi yang ditangkap oleh publik adalah ia pejabat yang makmur dan menyenangi barang-barang mewah. Lalu, apakah statement dari yang bersangkutan sama dengan persepsi tersebut? Walahualam karena saya tidak bisa mengkonfirmasinya. Tetapi persepsi yang timbul di publik tidak timbul dengan sendirinya. Kemudian cerita bergulir bahwa sang pejabat menjadi tersangka korupsi dan persepsi kemudian berkembang bahwa kemakmurannya dikarenakan hasil korupsi, itu sudah berada di luar dari batas penampilan.

Kemudian saya amati di berita-berita tentang hari pertama pelaksanaan Instruksi Gubernur DKI Nomor 150 Tahun 2013 pada tanggal 3 Januari 2014 yang mewajibkan seluruh pejabat dan pegawai negeri sipil Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak menggunakan kendaraan pribadi atau dinas untuk bertugas. Dalam foto-foto yang ditampilkan oleh media, terlihat Gubernur DKI, Pak Jokowi yang bersepeda ke kantornya menggunakan kaos berwarna merah dan bertuliskan DKI 1 di dadanya. Pilihan warna merah bisa diasosiasikan dengan partai yang menjadi pendorong kiprah Pak Jokowi dan nomor DKI 1 layaknya menggantikan plat mobilnya bapak gubernur. Persepsi yang lebih lekat adalah bahwa bapak Jokowi konsisten dengan peraturan yang ia keluarkan dan memberikan contoh kepada masyarakat bahwa ia pun tidak segan-segan mengendarai sepedanya. Apakah ini statement beliau juga? Gaya beliau menjawab yang singkat kemungkinan akan menjawab “Ya”. Tapi walahualam. Silahkan ditanyakan langsung.

Tentunya masih banyak lagi bila kita amati figur-figur publik yang penampilannya tidak akan bisa lepas dari lahirnya suatu persepsi terlepas apakah yang bersangkutan secara sadar berniat mengirimkan suatu pesan sebagai statementnya melalui penampilan atau tidak. Sebagai figur publik sudah pasti setiap barang dan elemen sekecil apapun yang menempel di tubuh mereka termasuk kegiatan mereka pasti tidak akan luput dari pengamatan masyarakat. Namun bagaimana dengan warga negara yang bukan figur publik baik di pemerintahan ataupun selebriti, apakah ada efeknya?

Pelajaran yang saya tarik adalah siapapun diri kita merupakan suatu produk yang juga dapat memberikan pesan-pesan kepada siapapun kita berinteraksi melalui atribut-atribut yang kita pakai, kita kendarai dan tentunya didukung dengan pola dan tingkah laku kita akan melahirkan persepsi bagi siapapun yang melihat diri kita. Karena kita adalah individu-individu yang mempunyai selera, visi dan misi masing-masing. Berbeda dengan bayi dan anak-anak.

Seringkali kita melihat anak-anak yang berdandan agak diluar mainstream, biasanya komentar yang keluar –Siapa sih orang tuanya? Karena biasanya anak-anak belum mempunyai kemandirian dalam memilih pakaian mereka ataupun atribut-atribut yang mereka pakai. Kepolosan mereka pelan-pelan akan terkikis dengan bagaimana mereka dibesarkan. Hal inilah yang terjadi pada anak-anak remaja yang seringkali masih suka bereksperimen dengan bergonta ganti penampilan. Ada yang menyesuaikan dengan penyanyi kesukaannya atau mengikuti teman-temannya, atau gaya orang tuanya. Masih banyak kiblat-kiblat referensi yang dijadikan oleh para remaja sebagai pencarian jati diri dan style apa yang akan membuat mereka nyaman memakainya dan mengatakan inilah saya.

Sungguh saya terkejut dan terheran-heran bahwa sebuah pin yang sudah tidak saya ingat dan pada saat memakainya pun tidak ada kepikiran mencoba untuk menjadikannya sebagai suatu statement pribadi, ternyata berdampak psikologis terhadap teman saya sendiri beberapa puluhan tahun yang lalu. Bagaimana seandainya memang saya menolak untuk tumbuh menjadi dewasa? Atau pernahkah anda berfikiran untuk tidak menjadi dewasa?Pertanyaan – pertanyaan ini menjadi renungan saya berikutnya. Semoga bisa menjadi bahan tulisan berikutnya.

Sementara untuk penutup tulisan ini, jati diri manusia yang sesungguhnya tidak terbatas pada atribut yang dipergunakan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana orang lain merasakan manfaat keberadaan kita bagi mereka di dunia ini. Ingatan seorang teman akan kata-kata di sebuah pin pun bisa terkikis dengan wujud hidup nyata yang ia lihat beberapa tahun kemudian.

Friday, January 3, 2014 5:45 PM

©WiDS 2014

www.wbuenastuti.com

7 thoughts on “I Refuse to Grow Up

  1. Refuse to grow up adalah suatu kalimat yang terus terang bikin “stunning” ketika mencernanya, bayangan sebuah pembangkangan terhadap takdir tuhan untuk tua dan meninggal. Ini juga bisa didapat dari inspirasi cerita para elf dan tentunya peter pan dan negeri antah berantahnya…. Kenapa kita selalu ingin tetap muda / anak2… ??? Anak anak adalah masa mendasar dari kehidupan manuisia, anak anak tidak memikirkan tanggung jawab, memikirkan masa depan, memikirkan yang berat, yg berat2 itu adalah bagian orang tua. Anak2 dibiarkan lepas tanggung jawabnya sampai masa yang ditentukan… ini menjadi suatu “taman permen” buat kita.

    Agak susah lepas dari masa kanak kanak ini karena uniknya sekarang ini para orang tua malah bermain dengan mainan anak2 yang tentunya, harga dan kualitasnya lebih dari jamannya…

    Airsoft gun, pesawat remote kontrol, koleksi action figure dan mainan2 mahal yang sepertinya malah anak kecil tidak menikmatinya, dimainkan oleh para orang tua karena rasa nostalgia pada masa itu…

    tidak ada yang salah pada mereka hanya saja tentu penekanannya adalah, kita boleh saja masih berjiwa anak anak didlaam diri, tapi dalam bersikap, berpikir dan bekerja, kita haru menjadi orang dewasa. Karena itulah ada istilah antara “Boy” dan “Man”….

    Menjadi tua adalah takdir, menjadi dewasa adalah pilihan… bersikap dewasa adalah suatu tanggung jawab kita terhadap arti dewasa itu sendiri. NIkmatilah sisa2 dunia anak2 kita… karena indah dah tanpa beban tapi bersikaplah dewasa, karena itu yang membedakan antara “boy dan Man” itu….

    —- 0 ——-

    • Dear Coach P, sepertinya sdh merenungkan kata2 Refuse to grow up cukup dalam juga. Tulisan saya kali ini belum menyentuh ke pembahasan arti kata itu sendiri sebenarnya. But anyway, I got ur point and agree with u bhw menjadi dewasa adalah pilihan dan bisa di switch on and off juga tgtg kebutuhan. Makanya kata Refuse yg dipakai krn ada penolakan. Ada action memilih utk tdk menjadi dewasa.
      Kita renungkan utk jadi bagan tulisan berikutnya yah. Terimakasih atas sharingnya.

  2. Tulisan mbak Widya kali ini membuat ku. Jd berfikir ttg masa lalu dan masa yg akan datang. Masa lalu ttg masa dimana smu dulu, ttg pencarian jati diri dan seperti apa aku skrg. Dan masa depan. Adalah anak2ku… Karena sejatinya anak adalah tetap seorang anak dan membutuhkan orang tua yg dapat dijadikan panutan. Untuk memenjadi org tua yg benar dan asik itu gampang2 susah. Setidaknya dasar hidup yg dapat ku ajarkan ke ank2ku adalah Tulus dan jujur dalam hidup. Tulisan Mbak Widya membuat ku terjaga menjadi org tua dan melakukan intropeksi diri. Makasi…. Misss u alot

    • Terimakasih Tesa atas waktunya untuk menyempatkan diri membaca tulisan2ku dan merenungkannya. Semoga bermanfaat yah. Menjadi orang tua adalah bagian dr hidup yg tdk hanya kita pilih tp jg dipercaya oleh YMK utk mendidik TitipanNYA. Selamat belajar tanpa batas dan jgn pernah berhenti bersyukur. Miss u too.

  3. “refuse to grow up”mengingatkan akan anak saya, dikala merasa nyaman dg sesuatu,,,seakan tidak mau kehilangan moment tsb… “ade pengen SD terus abis enak maen aja,, pelajarannya ga susah,,” seakan dia menolak untuk grow up,,, dg gaya komunikasi yg simple,,, mereka mengekspresikan perasaan,,,
    kenyataannya masih banyak org yg takut perubahan, walaupun perubahan tsb memberikan kebaikan pd akhirnya,,, terkadang saya juga bukan takut, namun lebih kepada banyak pertimbangan, dan jalan keluarnya Komunikasi dg Allah adalah solusinya … 👍❤️

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s